Waktu Dengung Formulasi Sabine

Salah satu formulasi perhitungan waktu dengung yang paling banyak digunakan para desainer ruangan adalah rumusan waktu dengung (reverberation time) yang diformulasikan oleh Sabine. Dalam formulasi yang diturunkan berdasarkan percobaan empiris, Sabine menyatakan bahwa waktu dengung (T60) berbanding lurus dengan Volume Ruangan (V) dan berbanding terbalik dengan Luas Permukaan Ruangan (S) dan rata-rata Koefisien Absorpsi permukaan ruangan (alpha). Formulasi ini sampai saat ini masih sering digunakan orang, terutama di dalam proses awal desain dan penentuan material finishing ruangan, sesuai dengan fungsi ruangannya.

Formula Sabine: T60 = 0,161 V / S.alpha

Beberapa hal yang seringkali dilupakan dalam aplikasi formula ini adalah:

1. T60 adalah fungsi frekuensi, karena Koefisien Absorpsi (Alpha) adalah fungsi frekuensi.

2. Formula ini dibuat dengan asumsi, seluruh permukaan ruang memiliki probabilitas yang sama untuk didatangi energi suara.

3. Formula ini disusun dengan asumsi Medan Suara Ruangan bersifat Diffuse.

4. Formula ini hanya “berlaku” dengan baik apabila rata-rata Alpha < 0,3 dan perbedaan Alpha antar material penyusun partisi tidak terlalu besar. Untuk harga Alpha rata-rata > 0,3, formula ini akan memberikan kesalahan T60 > 6%.

5. Harga T60 yang dihasilkan dengan formula ini adalah harga rata-rata saja,sehingga tidak menunjukkan kondisi di setiap titik dalam ruangan.

note: Formulasi Sabine ini kemudian disempurnakan oleh Norris-Errying.

(T60 = -0,161 V/S.ln(1-Alpha)

Posted in Akustika Ruangan Tagged , , ,

FSTC vs STC

Salah satu parameter akustik yang banyak dikenal di kalangan desainer ruangan adalah Sound Transmission Class or STC. Parameter ini merupakan angka tunggal yang digunakan untuk menunjukkan kinerja insulasi akustik dari material penyusun ruangan. Secara khusus digunakan untuk menyatakan kinerja suatu partisi atau dinding ruangan. Harga STC ditentukan secara grafis dengan cara membandingkan kurva rugi transmisi suara atau sound transmission loss (STL) dengan kurva standard STC. STL partisi atau dinding terpasang dapat diukur dengan mengacu pada standard ASTM E 336, sedangkan harga STC nya dapat dihitung berdasarkan standard ASTM E 416.
Harga STC secara umum menunjukkan kondisi kinerja optimal dari sebuah partisi atau dinding, karena didapatkan melalui pengukuran STL di laboratorium. Dalam kondisi riil, setelah partisi atau dinding tersebut dipasang di dalam ruangan, harga STC tersebut sulit sekali dicapai. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama yaitu kebocoran (leakage) energi suara dan Adanya flanking path di ruangan. Kebocoran energi suara ini bisa disebabkan oleh komponen-komponen dalam sistem partisi atau dinding itu sendiri (kualitas pemasangan, sambungan antar bagian, dsb) maupun oleh sistem-sistem yang lain (pintu, jendela atau partisi/dinding yang lain). Sedangkan flanking adalah perambatan energi suara lewat jalur selain menembus dinding, misalnya melewati langit-langit ruangan atau bukaan di bagian dinding yang lain. Sebagai akibatnya, kinerja insulasi ruangan (atau terkadang disebut juga kinerja isolasi antar ruang) seringkali dinyatakan dengan besaran Field Sound Transmission Class (FSTC) yang menunjukkan kinerja rugi transmisi partisi atau dinding dalam kondisi terpasang dalam ruangan.
FSTC merupakan sebuah ukuran kinerja isolasi antar ruang yang dipengaruhi oleh bising latar belakang, volume ruangan, koefisien absorpsi bahan penyusun interior ruangan, luas permukaan dalam ruangan dan karakteristik spektral sumber suara yang dibunyikan dalam ruangan. Harga FSTC suatu partisi atau dinding pada umumnya 5 – 7 skala lebih rendah dari harga STC nya. Dua buah partisi atau dinding yang memiliki harga FSTC yang setara mungkin saja memiliki karakteristik akustik yang berbeda, misalnya sebuah partisi/dinding beton setebal 20 sm dengan FSTC 50 akan bekerja lebih baik dibandingkan dengan partisi/dinding dari dry wall (double gypsum atau double hardwood sistem) ber-FSTC 50 juga, apabila digunakan dalam ruangan yang difungsikan untuk kegiatan yang melibatkan suara dengan frekuensi rendah (bass), misalnya untuk kegiatan musik.
Secara umum, nilai STC maupun FSTC berkaitan dengan persepsi manusia terhadap suara yang didengarkan dalam konteks antar ruang. Semakin besar nilai STC maupun FSTC, menunjukkan kinerja partisi/dinding yang semakin baik dalam mengisolasi ruangannya dari aktifitas akustik di ruangan yang berbatasan. Sebuah partisi atau dinding yang permukaannya terdiri dari berbagai jenis material, nilai STC atau FSTC nya cenderung ditentukan oleh STC yang paling rendah dari material penyusun. (itu sebabnya, celah pada partisi akan membuat harga STC atau FSTC turun drastis). Beberapa contoh berikut (sumber International Building Code IBC) dapat digambarkan untuk memberikan gambaran efektifitas kinerja partisi/dinding secara subyektif terkait dengan nilai STC (FSTC).

STC 26-30 (FSTC 20-22) :  Most sentences clearly understood
30-35 (25-27) :  Many phrases and some sentences understood without straining to hear
35-40 (30-32) : Individual words and occasional phrases clearly heard and understood
42-45 (35-37) :  Medium loud speech clearly audible, occasional words understood
47-50 (40-42) :  Loud speech audible, music easily heard
52-55 (45-47) :  Loud speech audible by straining to hear; music normally can be heard and may be disturbing
57-60 (50-52) :  Loud speech essentially inaudible; music can be heard faintly but bass notes disturbing
62-65 (55-60) :  Music heard faintly, bass notes “thump”; power woodworking equipment clearly audible
70- 60 : Music still heard very faintly if played loud.
75+ 65+ : Effectively blocks most air-borne noise sources

Posted in Akustika Ruangan Tagged , ,

Identifikasi Karakteristik Akustik Suara Pengucap termanipulasi Aktif: Studi kasus Penyulih Suara (dubber)

Salah satu upaya bangsa Indonesia untuk bangkit kembali adalah dengan pemberantasan korupsi. Adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebagai lembaga negara yang mempunyai tugas khusus dalam mengungkap kasus-kasus korupsi di Indonesia. Salah satu bahan bukti awal adalah sadapan hasil dari pembicaraan seseorang dengan pihak lain yang dapat dicurigai sebagai bagian proses komunikasi yang berhubungan dengan tindak korupsi. Untuk keperluan forensik, sampel suara ucap dari beberapa rekaman sadapan harus dibandingkan dengan sampel suara dari tersangka tersebut yang direkam selama proses penyidikan. Hasil dari analisa sekumpulan sampel suara ucap harus memberikan kesimpulan apakah suara ucap itu dari sumber subjek yang sama atau tidak. Secara scientific produksi suara dapat dianalogikan dengan model source-filter, dimana laring sebagai sumber suara (source) dan supralaryngeal vocal tract sebagai filter akustik. Dengan model source-filter bahwa produksi suara ucap manusia digambarkan bahwa suara ucap manusia berasal dari suatu sumber suara yang melewati filter akustik. Sumber suara ini memiliki frekuensi yang disebut dengan frekuensi fundamental atau pitch. Sedangkan filter akustiknya memiliki frekuensi-frekuensi resonansi yang disebut dengan formant.

Satu tantangan dalam proses forensik, adalah seringkali tersangka tidak kooperatif dalam pengambilan sampel suara ucap selama proses penyidikan, sehingga diperlukan satu sistem identifikasi suara ucap yang dikembangkan untuk keperluan forensik. Satu pendekatan yang digunakan untuk estimasi sumber suara adalah berdasarkan ekstraksi ciri akustik dari suara ucap yang berbasis pada pitch dan/atau formant. Untuk keperluan identifikasi secara otomatis, perlu suatu sistem klasifikasi berbasis statistik untuk membuat suatu keputusan dari ciri akustik dari beragam sample suara ucap yang diproses.

Proses identifikasi akan semakin kompleks pada saat terjadi manipulasi/penyamaran (disguissing) suara dari subyek/tersangka akibat adanya modifikasi pada proses produksi suara baik yang terjadi pada bagian source dan atau filter. Modifikasi ini dapat terjadi secara pasif akibat perubahan keadaan emosi dari subyek misalnya dalam kondisi tertekan secara kejiwaan maupun mengalami gangguan kesehatan yang berhubungan dengan organ-organ pengucapan sehingga yang bersangkutan tidak dapat melakukan produksi suara-ucap secara normal. Modifikasi juga dapat terjadi secara aktif bila subyek dengan secara sengaja merubah warna suara maupun gaya bicara dari kebiasaan sehari-hari. Teknik yang bisa digunakan untuk jenis modifikasi yang terakhir ini salah satunya adalah voicing yaitu suatu teknik memanipulasi suara dengan phonation yang menyebabkan terjadinya perubahan frekuensi dasar(pitch) dari suara yang diucapkan pada waktu (timing) tertentu. Hal ini terjadi karena adanya modifikasi kekakuan dari glottis sehingga terjadi perubahan dari volume aliran udara (airstream) yang mengalir ke daerah vocal tract yang selanjutnya menghasilkan warna suara (tone) yang berbeda. Sementara itu, perubahan gaya bicara pada umumnya dilakukan dengan melakukan perubahan dalam penekanan (stressing) pengucapan pada suku kata tertentu, memperpanjang-memperpendek panjang ucapan,perubahan bentuk bibir, dll., sehingga berpengaruh pada intonasi ucapan.

Penelitian ini difokuskan untuk memperbanyak data base suara termanipulasi aktif, yang pada penelitian terdahulu telah digunakan pemain teater, dalang wayang golek, dan dalang wayang kulit, serta penyanyi tenor dan sopran. Pada penelitian kali ini, studi kasus akan menggunakan subjek suara penyulih suara (dubber), sebagai bentuk pengembangan lanjut dari sistem indentifikasi suara pengucap dengan suara yang termanipulasi aktif, dimana pengucap mampu memodifikasi suaranya dengan rentang yang cukup lebar, dan mampu merubah ciri khasnya. Dari tiap sampel suara, akan dilakukan ekstraksi ciri akustik untuk mendapatkan ciri akustik pitch dan Formant. Untuk deteksi dari ciri akustik pitch , akan dibandingkan metode yang berdasarkan frekuensi domain dan time-frekuensi domain. Tiga jenis formant yaitu dikenal dengan F1, F2 dan F3 yang biasa digunakan untuk ekstraksi ciri akustik dengan metode Linear Predictive Coding. Pada sistem klasifikasi ciri akustik, akan dilakukan pendekatan likelihood ratio, untuk mendeteksi besarnya rentang frekuensi suara termanipulasi aktif, khususnya untuk profesi Penyulih Suara (dubber).

Posted in Suara Ucapan

Synopsis: Akustik Perkantoran Tapak Terbuka (Acoustics of Open-plan Offices)

Latar belakang masalah
Seiiring dengan semakin mahalnya energi fosil di dunia, konsep pembangunan gedung perkantoran di Indonesia, sebagaimana halnya dibelahan dunia yang lain, semakin banyak yang mengacu pada konsep bangunan hijau (green building). Ini berarti, pemanfaatan energi terbarukan seperti energi matahari, dalam kaitannya dengan energi pencahayaan misalnya, semakin banyak dijadikan pertimbangan utama di dalam desain selubung bangunan. Sebagai salah satu akibatnya, ruangan kerja dibuat mendekati perimeter selubung bangunan, dan bertipe tapak-terbuka (open-plan), agar supaya cahaya matahari semakin banyak masuk ke dalam ruangan. Dengan demikian pemakaian energi fosil untuk pencahayaan ruangan bisa dikurangi.
Konsep Perkantoran Tapak-terbuka (Open-plan Offices), yang secara umum dikategorikan dengan tidak adanya dinding dan partisi, pertama kali diperkenalkan oleh 2 orang produsen furnitur Jerman Barat, Eberhard dan Wolfgang Schnelle[1]. Para inovator ini percaya bahwa konsep ini memiliki banyak keuntungan dari sisi managerial, ekonomi dan kondisi kerja, misalnya terciptanya kondisi komunikasi yang lebih baik antara bagian, penghematan ruang karena tidak memerlukan koridor, dan lingkungan kerja yang lebih[2, 1, 4].
Masalah yang sering ditemui terkait dengan kenyamanan berkomunikasi dalam konsep kantor tapak-terbuka adalah gangguan secara aural akibat interferensi bunyi dan kebisingan, hilangnya privasi dalam berkomunikasi, dan seringnya interupsi oleh rekan kerja [4]. Beberapa peneilitian menunjukkan bahwa gangguan ini dapat memberikan efek psikologis pada para pekerja, terutama bagi mereka yang sebelumnya telah terbiasa bekerja di lingkungan tertutup atau semi tertutup.
Akibat penggunaan pembatas ruang kerja (‘working space’) yang bersifat semi-terbuka, beberapa penelitian di US [2, 5] menunjukkan kebisingan diakibatkan oleh suara percakapan antar pekerja merupakan gangguan akustik ruang yang paling signifikan. Hal ini ditemui terutama di perkantoran yang memberikan jasa pelayanan ke konsumen entah melalui percakapan langsung atau media komunikasi elektronik. Sumber kebisingan lain berkaitan dengan peralatan elektronik yang mendukung aktivitas kerja diantaranya dering telepon, komputer, mesin fax, mesin fotokopi maupun printer.
Problem akustik yang lain akibat layout ruangan adalah tidak terpenuhinya privasi dalam percakapan (speech privacy). Interferensi bunyi merupakan penyebab utama gangguan ini. Tidak adanya dinding penghalang (barriers free) menyebabnya gelombang suara dengan mudah dapat berpropagasi secara bebas ke seluruh sudut ruangan. Gangguan ditunjukkan dengan sulitnya memahami suara percakapan yang mengandung informasi penting akibat adanya gangguan suara percakapan lain yang lebih jernih, lebih keras, mudah ditangkap dan mendominasi zona pendengaran. Atenuasi (penyerapan) dan peredaman suara hanya di layani oleh material-material partisi dengan ketinggian terbatas sementara peran langit-langit sebagai penyerap suara menjadi sangat berkurang karena refleksi bunyi tidak mampu mencapai pembatas ruang tersebut.
Dengan adanya gangguan-gangguan akustik tersebut diatas, konsep perkantoran tapak-terbuka dinilai kurang tepat untuk mendukung efektifitas kerja, walaupun dari sisi perancangan arsitektur dianggap lebih estetis, efisien dan memiliki tingkat perawatan yang lebih mudah karena dapat dengan mudahnya ditata ulang sesuai dengan perubahan kebutuhan. Dari sisi interaksi antar pekerja, konsep perkantoran ini mampu menciptakan keakraban dan suasana kebersamaan.

Tujuan riset
Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan hubungan kuantitatif antara kondisi akustika ruang pada ruangan kantor tapak-terbuka dengan tingkat kepuasan atau kenyamanan privasi wicara (speech privacy) para pekerja yang berada di dalam ruangan tersebut. Hasil kuantitatif ini akan memberikan manfaat di dalam proses desain ruangan yang memenuhi standard konsep bangunan hijau, tanpa mengganggu tingkat kepuasan privasi wicara orang yang bekerja di ruangan tersebut.

METODOLOGI
Metodologi yang digunakan pada penelitian ini merupakan kombinasi antara pengukuran akustika ruangan, pemodelan dan simulasi ruangan, dan observasi dan survey kepada pengguna ruangan. Objek penelitian setidaknya akan melibatkan 3 bangunan perkantoran tapak-terbuka di kota Bandung, Yogyakarta dan Jakarta.

Pengukuran Akustik Ruangan
Pengukuran ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik akustik ruangan, yang dilakukan dengan metode pengukuran respon impuls ruangan dan perekaman kondisi tingkat tekanan suara sebagai fungsi waktu maupun fungsi frekuensi (spektrum). Parameter akustik yang diharapkan dapat diperoleh dari pengukuran ini meliputi: Tingkat tekanan suara rata-rata, tingkat tekanan suara puncak, komponen frekuensi suara percakapan dan suara-suara mesin-mesin kantor, serta interaksi suara yang terjadi di dalam ruangan (atenuasi, masking, coloration, etc). Pengukuran akan dilakukan dengan mempertimbangkan karakter sumber suara dan pendengar, sehingga perlu melibatkan penapisan sinyal menggunakan fungsi pembobot yang lazim digunakan misalnya pembobot A, B, atau C.

Pemodelan dan Simulasi
Pemodelan dan Simulasi ruangan digunakan untuk mencari kesempatan perbaikan kinerja ruangan secara akustik apabila diperlukan. Proses ini dilakukan dengan pendekatan geometri ruangan dan kombinasi antara Ray Tracing Method dan Image Method, dengan menggunakan perangkat lunak CATT Acoustics v 8.0. Besaran akustik yang terukur di bagian 3.1 akan menjadi acuan di dalam proses ini. Proses auralisasi akan digunakan juga didalam bagian ini untuk memberikan listening experience bagi pengguna ruangan.

Observasi dan Survey Pengguna
Observasi dan Survey pengguna ruangan, dilakukan dengan metode pengamatan langsung dan menggunakan quesioner, untuk mendapatkan gambaran efek-efek yang dihasilkan besaran akustik yang diukur pada bagian 3.1 terhadap kepuasan privasi wicara pengguna.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hundert, A. T., & Greenfield, N. (1969). Physical space and organizational behavior: A study of an office landscape. Proceedings of the 77th Annual Convention of the American Psychological Association (APA) (pp. 601-602). Washington, D.C.: APA.
2. Boyce, P. R. (1974). Users’ assessments of a landscaped office. Journal of Architectural Research, 3(3), 44-62
3. Zalesny, M. D., & Farace, R. V. (1987). Traditional versus open offices: A comparison of sociotechnical, social relations, and symbolic meaning perspectives. Academy of Management Journal, 30, 240-259.
4. Hedge, A. (1982). The open-plan office: A systematic investigation of employee reactions to their work environment. Environment and Behavior, 14(5), 519-542.
5. Sundstrom, E., Town, J. P., Rice, R. W., Osborn, D. P., & Brill, M. (1994). Office noise, satisfaction, and performance. Environment and Behavior, 26(2), 195-222.
6. Navai, M., Veitch, J.A. Acoustics Satisfaction in Open-Plan Offices (2003): Review and Recommendations, Institute for Research in Construction, 5.

Posted in Akustika Ruangan

Menu Riset 2012

Menu Riset di Group Akustik kami di tahun 2012 ini adalah:

1. Forensic Speaker Identification (Active Disguishing problem): 3 S1
2. Open-plan Office Acoustics (privacy vs Intelligibility) : 2 S1
3. Hospital Acoustics (privacy vs intelligibility) : 1 S2 , 1 S1
4. Archeological Acoustics (Cultural Preservation) : 2 S1
5. Indonesian Traditional Music Performance Hall (Design and Simulation) : 1 S3, 2 S1
6. Sound Insulations (Design and Measurements) : 1 S2
7. Active Noise Control (Algorithm and Design) : 1 S3
8. Binaural Sound Localization (Hardware Design) : 1 S2

Tim Peneliti yang terlibat dalam ke 8 topik tadi terdiri dari 4 staf dosen di Teknik Fisika ITB (topik 1-6), 3 Staff Dosen di Teknik Elektro (topik 7-Smilie: 8), 1 Dosen Teknik Fisika UGM (topik2), 2 Mahasiswa S3, 3 Mahasiswa S2, dan 10 Mahasiswa S1, serta 1 Asisten Riset.

Posted in Akustika Ruangan, Sistem Tata Suara, Suara Ucapan

Sistem Tata Suara ( Sound System) Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga mengunjungi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dua masjid yang menjadi ikon utama umat Muslim diseluruh dunia. Selama ini hanya bisa mendengar ceritera dari mulut ke telinga (dan membaca dari berbagai sumber) bahwa sistem tata suara di kedua Masjid tersebut sangat istimewa. Secara umum, kedua Masjid menggunakan sistem yang sejenis: Sistem Tata Suara terdistribusi. Tidak ada Loudspeaker utama, seluruh bagian ruangan dilayani oleh banyak loudspeaker kecil, horn atau column. Kedua sistem sama-sama menggunakan delay processor. Yang membedakan kedua sistem adalah konsep peletakan loudspeakernya berdasarkan arah kiblat.

Di Masjidil Haram, area sholat berbentuk melingkar mengelilingi Kabah, sehingga di Masjid berlantai 3 plus basement ini dibagi menjadi 5 bagian besar sistem. Bagian pertama adalah sistem yang melayani area terbuka lantai dasar dimana Kabah berada. Area ini dilayani oleh beberapa column loudspeaker yang mengelilingi dan mengarah ke dalam area dimana Kabah berada.

Column Loudspeaker Horn Loudspeakers

Bagian kedua adalah area lantai 1 yang mengelilingi open area dan lantai 2. Sistem yang terpasang disini adalah customized loudspeaker Horn yang dipasang di langit-langit. Pengaturan pemasangan diatur per blok area yang dibatasi oleh tiang-tiang. Formasi ini menghasilkan ruang dengar yang tidak saling bertumpuk.

horn_Haram

Sistem ke tiga adalah sistem yang menlayani area Mas’a (tempat Sai). Sistem terpasang di area ini adalah Loudspeaker Column. Ada 2 jalur Mas’a: pada jalur Sa’i arah Shafa, Column Loudspeaker dipasang dengan aiming keluar (berlawanan dengan arah Kiblat (Kabah) ) sedangkan pada jalur Sa’i arah Marwa, Column Loudspeakers dipasang mengarah ke dalam (arah kiblat (kabah)). Sistem ke empat adalah sistem yang dipasang pada area lantai Atap. Disini, digunakan gabungan sistem horn dan loudspeaker kolom dengan aiming keluar (menjauhi Kabah).

column_Masa

Sedangkan sistem terakhir digunakan untuk melayani area halaman luar masjid. Disini digunakan gabungan loudspeaker kolom, full range dan horn yang dipasang di menara dan bagian atas dinding luar, diarahkan menunduk ke arah jamaah yang memenuhi halaman luar Masjidil Haram.

luar_haram

Persepsi subjektif saya di kelima area utama tersebut, seluruh bagian area memiliki intelligibility yang excellent, listening level juga excellent, envelopment juga excellent, directivity juga excellent, kecuali di area lantai dasar dimana suara cenderung terdengar dari belakang, terutama di shaf-shaf depan. Masih terdengar gangguan delay di beberapa tempat di lantai 1 dan 2 serta lantai atap, tetapi masih dalam batas-batas yang acceptable. Hal ini mengkonfirmasi pendapat mereka-mereka yang pulang dari Masjidil Haram yang senantiasa menyampaikan bahwa dimanapun mereka berada, mereka tidak merasakan perbedaan kondisi mendengar, semua terasa bagus.

Masjid Nabawi di kota Madinah, terdiri dari Masjid lama dan area pengembangan yang menjadi satu kesatuan. Kiblat di Masjid ini mengarah ke satu arah. Tiang dan lengkungan serta kubah menjadi ciri utama Masjid ini. Sistem tata suara terdistribusi juga digunakan di Masjid ini. Berbeda dengan Masjidil Haram, di Masjid ini seluruh loudspeaker menggunakan tipe full range ukuran kecil yang dipasang di tiang-tiang masjid yang jumlahnya ribuan (konon jumlah loudspeaker terpasang lebih dari 3000 unit). Area di halaman sekitar Masjid yang dicover oleh payung-payung yang bisa membuka dan menutup serta halaman atap Masjid dilayani oleh loudspeaker kecil type horn (baik yang terpasang pada dinding maupun minaret-minaret Masjid). Seluruh lantai Masjid kecuali halaman luar menggunakan karpet tebal.

The Speakers at Columns

day33p

Persepsi subjektif saya di area Masjid lama, seluruh bagian area memiliki intelligibility yang excellent, listening level juga excellent, envelopment juga excellent, directivity juga excellent. Sedangkan di area pengembangan (perluasan Masjid), listening level terkadang masih kurang, dan masih terdengar gangguan delay di beberapa tempat , tetapi masih dalam batas-batas yang acceptable. Yang menarik, di area perluasan ini, di beberapa tempat ada bagian yang memiliki kubah yang bisa dibuka tutup. Hal lain yang menarik, pada area perluasan tahap 2, seluruh loudspeaker full range disembunyikan secara visual di dalam ornamen tiang-tiang kolom bangunan.

Posted in Sistem Tata Suara

Sistem Tata Suara untuk Upacara 17 Agustus di Istana Merdeka, Jakarta

Upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke 66 akan dimulai 6 hari lagi. Istana Presiden RI di Jakarta sebagai tempat diselenggarakannya acara utama yang dipimpin langsung oleh Presiden RI sudah mulai bersolek. Salah satu komponen pendukung acara yang berperan untuk suksesnya acara sehari penuh itu adalah Sistem Tata Suara (Sound System), terutama untuk kegiatan Upacara Bendera, Aubade, dan acara kesenian. Pelaksana yang ditunjuk untuk melaksanakan penyediaan sistem tata suara ini, dipilih melalui sistem tender teknis yang diadakan paling lambat 1 bulan sebelum hari H.

Sejak 2004, kami diminta untuk membantu proses yang terkait dengan sistem tata suara tersebut, mulai dari menyiapkan dokumen tender dan SOP, memilih pelaksana, memonitor persiapan pelaksanaan, melakukan supervisi pelaksanaan dan melakukan evaluasi setelah pelaksanaan. Proses tender yang dilakukan tidak hanya didasarkan pada penawaran terendah dari peserta, tetapi lebih dititikberatkan pada kemampuan teknis yang dinilai melalui sistem “beauty contest”. Peserta tender yang dipilih untuk melaksanakan tugas penyediaan sistem tata suara ini akan mulai bekerja sejak H-10, meliputi persiapan, instalasi, gladi kotor, gladi bersih dan pelaksanaan, serta pembongkaran pada H+1.

Sistem tata suara yang disediakan meliputi 2 sistem independent utama, tetapi bisa saling berkomunikasi, dan 1 sistem tambahan. Sistem utama pertama digunakan untuk melayani kegiatan Upacara Detik-detik Proklamasi , sedangkan sistem utama kedua digunakan untuk melayani kegiatan Aubade yang dilakukan begitu upacara selesai. Untuk kedua jenis kegiatan utama tersebut, daerah pendengar (audience areas) yang harus dilayani terdiri dari Tenda Utama di bagian depan Istana Merdeka (tempat Presiden, para Mentri, Anggota Dewan dan Duta Besar negara sahabat berada), Halaman depan istana Merdeka (tempat pasukan ABRI dan POLRI berbaris, termasuk Paskibraka), tenda samping kiri-kanan halaman Istana Merdeka (tempat undangan), serta tenda Aubade di sisi luar pagar menghadap ke Istana Merdeka). Sistem tambahan adalah sistem tata suara kecil yang tersebar di panggung-panggung kesenian daerah untuk menyambut tamu undangan.

Sistem utama pertama digunakan 2 kali pada tanggal 17 Agustus, yaitu pada Upacara Detik-detik Proklamasi yang biasanya dimulai 10 menit sebelum jam 10 pagi sampai selesainya Aubade, dan pada Upacara penurunan bendera di sore hari. Sistem ini menggunakan 2 cluster Loudspeakers utama yang menghadap ke arah pasukan Upacara, serta Loudspeakers distribusi terdelay di setiap tenda dan tempat berkumpul pasukan dan paskibraka. Microphones yang disediakan adalah mic untuk Master of Ceremony (MC), Komandan Upacara, Inspektur Upacara (Presiden RI), Pembaca Teks Proklamasi, Pembaca doa, dan Mics ambient untuk pasukan, korsig dan paskibraka. Pengendali utama sistem ini berada di sisi kiri tenda Utama di dalam koridor depan Istana Merdeka. Target disain utama adalah suara harus berwibawa, jelas (clarity dan intelligibility speech tinggi) dan bebas dari Feedback.

Sistem utama kedua, digunakan untuk melayani kegiatan Aubade yang dilaksanakan pada bagian akhir Upacara Detik-detik Proklamasi. Loudspeakers utama berupa sepasang Line Arrays atau Clusters Loudspeakers yang terpasang di kanan kiri panggung Aubade, menghadap ke Istana, dan Loudspeakers Distribusi terdelay yang sama dengan yang digunakan di sistem utama pertama. Perbedaan sistem Loudspeakers distribusi ini terletak pada sistem delay nya. Microphones yang digunakan lebih banyak, yaitu untuk melayani instrument orchestra, penyanyi solo, dan Paduan Suara. Pengendali utama sistem ini terletak di tenda Aubade, tetapi terkoneksi dengan pengendali sistem utama pertama. Target desain utama adalah suara harus seimbang (tonal balance), harmonis (spectrum frequency), jelas (clarity dan intelligibility musical tinggi), warm (komponen frekuensi rendah cukup), timbre yang sesuai, listening level dan strength yang cukup, dan tidak feedback. Hal yang unik dari sistem ini adalah sweet spot berada di area pasukan, tetapi harus bisa menciptakan sweet spot tambahan di area Tenda Utama (Tenda Presiden). Pengaturan delay yang tepat menjadi kunci utama suksesnya sistem ini.

Sejak tahun 2004, sudah 3 provider sistem tata suara di Indonesia yang ditunjuk untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Alhamdulillah sistem bisa bekerja dengan baik sesuai dengan target desain, semoga kegiatan tahun ini yang dimulai sejak 2 hari lalu dan dilaksanakan oleh provider baru (ke 4) juga akan memberikan hasil yang memuaskan. Dirgahayu ke 66 Republik Indonesia.

Posted in Sistem Tata Suara

2011 Research Topics

Seperti yang direncanakan, pada tahun 2011 ini tim riset kami akan bekerja dalam 4 bidang garapan utama:

    Hospital Acoustics
    Forensic Speaker Identification
    Soundscape
    Passenger Cabin Noise

Topik “Hospital Acoustics” menitikberatkan pada karakterisasi kebutuhan akustik di rumah sakit dengan mempertimbangkan fungsi ruangan dan jenis pasien yang dirawat.
Topik “Forensic Speaker Identification” masih melanjutkan simulasi kasus Active Disguise Speaker, tahun ini menggunakan objek penyanyi seriosa dan Sinden.
Topik ” Sounscape” akan diarahkan pada penelitian-penelitian awal.
Topik “Passenger Cabin Noise” mengambil objek kendaraan militer dan kereta api.

3 Mahasiswa S2 dan 5 Mahasiswa S1 telah bergabung dalam group kecil ini. Masih terbuka kesempatan untuk mahasiswa S1 maupun S2 bergabung dalam group riset ini. Target minimal untuk mahasiswa S2 adalah 1 paper di Jurnal Nasional dan untuk mahasiswa S1 adalah 1 paper dipresentasikan di Seminar International.

Posted in Akustika Ruangan

Coming soon: Hospital Acoustics and Soundscape Project

Setelah 3 tahun terakhir ini saya lebih banyak bermain di ranah Speech Forensic, tahun depan penelitian kami akan kembali ke ranah Akustika Ruangan dan Soundscape. Dua topik utama akan coba dikembangkan, yaitu di area yang berkaitan dengan Akustik Rumah Sakit (Hospital Acoustics) dan Karakterisasi Penyerapan Suara oleh Tumbuhan (Vegetation Acoustics). Penelitian ini akan melibatkan pekerjaan simulasi akustik berbasiskan Ray Tracing method (menggunakan software CATT Acoustics v.8.0) dan pengukuran laboratorium maupun lapangan. Dua mahasiswa S1 Teknik Fisika ITB (Febi Rhiana dan Renata Amelia) sudah memulai melakukan studi awal kedua topik tersebut, khususnya tentang Hospital Acoustics di School of Architecture, University of Sheffield, UK. Penelitian awal tersebut akan dikembangkan lebih lanjut menjadi Tugas Akhir dan penelitian-penelitian terkait di tahun depan. bagi yang berminat, dipersilakan untuk kontak kami di Laboratorium Akustik, Teknik Fisika ITB.

Posted in Akustika Ruangan

UTS TF 3204

Sifat:

  • Take Home Test, Individual
    Tugas:
  • Evaluasi kondisi akustik ruang atau space BESAR pilihan anda sendiri.
    Laporan:

  • Berbentuk makalah, dengan jumlah halaman maksimal 10 halaman (kecuali jika memang sangat diperlukan, jumlah halaman boleh > 10)
  • Isi makalah setidaknya mengandung latar belakang, topik permasalahan, judgement atau penilaian subjektif dan atau objektif yang dilengkapi dengan ilustrasi secukupnya (foto, grafik, drawing/sketsa, dsb), analisis yang dilengkapi dengan landasan teori dan referensi yang cukup, dan ditutup dengan kesimpulan.

  • Makalah dikumupulkan paling lambat pukul 24.00 WIB, tanggal 29 Maret 2010 dalam bentuk softcopy (preferably pdf format) dan dikirimkan ke email tf3204akustik@gmail.com
  • Semua file UTS akan ditampilkan dalam blog ini, so be responsible for your paper!!!

  • Posted in Uncategorized