1. SO2
Berdasarkan sifat kimia, sulfur dioksida adalah gas yang tidak dapat terbakar, berbau tajam, dan tidak berwarna. Konsentrasi untuk deteksi indera perasa adalah 0.3-1 ppm di udara dan ambang bau adalah 0.5 ppm. Gas ini merangsang pedas (pudgent) dan bersifat iritan. SO2 terbentuk saat terjadi pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur

Dampak
Kesehatan manusia Gas SO2 dapat menimbulkan dampak jangka pendek berupa penyempitan bronkus dan peningkatan gejala asma. Dampak ini akan lebih parah pada anak-anak, orang tua, dan penderita asma. Selain itu, inhalasi gas SO2 dapat menimbulkan penyakit paru-paru kronis, seperti bronkitis dan emfisema.
Ekosistem dan lingkungan NOx dapat bereaksi dengan SO2 di atmosfer dan membentuk hujan asam. Bagi lingkungan, hujan asam dapat menurunkan pH badan air, sehingga kondisi badan air tidak mendukung kehidupan beberapa biota air. Selain itu, hujan asam dapat merusak bangunan dan fasilitas umum.
Hewan Dampak negatif zat-zat pencemar udara terhadap fauna (hewan) tidak berbeda jauh dengan dampak-dampak lain seperti terhadap manusia dan tumbuhan. Dampak terhadap hewan dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung, secara langsung terjadi bila ada interaksi melalui sistem pernafasan sebagaimana terjadi pada manusia. Dampak tidak langsung terjadi melalui suatu perantara, baik tumbuhan atau perairan yang berfungsi sebagai bahan makanan hewan. Konsentrasi SO2 400-800 ppm akan berpengaruh langsung dan sangat berbahaya, meskipun hanya terjadi kontak secara singkat.
Tumbuhan Sulfur dioksida juga berbahaya bagi tanaman. Adanya gas ini pada konsentrasi tinggi dapat membunuh jaringan pada daun. pinggiran daun dan daerah diantara tulang-tulang daun rusak. Secara kronis SO2 menyebabkan terjadinya klorosis.

Kerusakan tanaman ini akan diperparah dengan kenaikan kelembaban udara. SO2 di udara akan berubah menjadi asam sulfat. Oleh karena itu, didaerah dengan adanya pencemaran oleh SO2 yang cukup tinggi, tanaman akan rusak oleh aerosol asam sulfat.

Kadar SO2 yang tinggi di hutan menyebabkan noda putih atau coklat pada permukaan daun, jika hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan kematian tumbuhan tersebut. Menurut Soemarmoto (1992), dari analisis daun yang terkena deposisi asam menunjukkan kadar magnesium yang rendah. Sedangkan magnesium merupakan salah satu nutrisi assensial bagi tanaman. Kekurangan magnesium disebabkan oleh pencucian magnesium dari tanah karena pH yang rendah dan kerusakan daun menyebabkan pencucian magnesium di daun.

Material Pengaruh pencemaran udara terhadap batuan adalah terbentuknya noda/kotoran dan pelapukan batuan kapur yang umum digunakan sebagai bahan bangunan dan pemahatan marmer. Banyak gedung-gedung di perkotaan telah terpapar oleh pencemar udara seperti asap, SO2 partikel debu dalam waktu yang lama, permukaan menjadi terkotori dan menjadi tempat bagi reaksi-reaksi kimia oleh gas-gas yang bersifat asam. Pengaruh pemaparan SO2 terhadap kulit dan kertas akan menyebabkan terjadinya pelapukan yang nyata. Contoh yang sering terjadi adalah rusaknya kulit-kulit dan karet penikat buku pada perpustakaan-perpustakaan. SO2 akan diserap oleh kulit dan dikonversi menjadi asam sulfuric yang merusak struktur kulit dan kertas, pada awalnya pinggiran buku yang terpapar mulai berwarna kecoklatan dan retak pada sendi-sendinya. Jika pemaparan ini terus berlangsung retakan akan semakin luas dan buku menjadi hancur.

2. CO
Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senyawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Tidak seperti senyawa CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin.

Dampak
Kesehatan manusia CO dapat mengurangi kemampuan darah untuk membawa oksigen, karena CO lebih reaktif dengan hemoglobin dalam darah dibandingkan dengan oksigen. Hal ini dapat menurunkan suplai O2 ke organ-organ tubuh. Bagi orang-orang yang memiliki masalah dengan jantung lemah, menghirup CO akan mengakibatkan timbulnya kemampuan beradaptasi dengan sedikitnya Oyg masuk sehingga kinerja tubuh akan menurun. Selain itu, akan timbul penyakit myocardical schemia, yang akan berujung kepada kematian. Bagi orang yang kesehatannya normal, dampak dari inhalasi CO akan timbul saat konsentrasi CO dalam darah sudah tinggi. Dampak yang mungkin terjadi adalah berkurangnya kapasitas kerja, berkurangnya kecekatan, turunnya kemampuan belajar, dan kesulitan mengerjakan hal kompleks. Berdasarkan dampaknya terhadap kesehatan, EPA menetapkan standar CO dalam Health Based National Air Quality Standard sebesar 9 ppm, apabila diukur pada konsentrasi maksimum 8 jam dalam sehari.
Ekosistem dan lingkungan CO termasuk gas rumah kaca lemah, sehingga secara langsung CO hanya berdampak kecil kepada pemanasan global. Akan tetapi, dampak tidak langsung yang ditimbulkannya cukup besar, karena keberadaannya mempengaruhi konsentrasi gas rumah kaca lain, seperti CH4,
O3 troposferik (smog), dan CO2.
Hewan Jika terhisap ke dalam paru-paru, gas CO akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolis, yaitu racun yang ikut bereaksi secara metabolis dengan arah. Seperti oksigen, karbon monoksida mudah bereaksi dengan darah (hemoglobin).

Ternyata ikatan karbon monoksida dengan darah atau karboksihemoglobin jauh lebih stabil daripada ikatan oksigen dengan darah (oksihemoglobin). Kestabilan karboksi hemoglobin kira-kira 140 kali kestabilan oksihemoglobin. Keadaan ini menyebabkan darah menjadi lebih mudah menangkap CO dan menyebabkan fungsi vital darah sebagai pengangkut oksigen terganggu.

Dalam keadaan normal hemoglobin berfungsi sebagai pembawa atau pengangkut oksigen dalam bentuk oksihemoglobin dari paru-paru untuk dibagikan ke sel-sel tubuh yang memerlukannya. Selain itu hemoglobin juga berfungsi mengambil gas CO2 hasil pembakaran di dalam tubuh (dari sel-sel) dalam bentuk karboksi hemoglobin untuk dibuang keluar melalui paru-paru.

Keracunan gas CO dapat ditandai dari keadaan ringan seperti pusing, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat dapat berupa menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskuler, serangan jantung, bahkan kematian.

Konsentrasi gas CO di udara secara langsung akan mempengaruhi konsentrasi karboksihemoglobin. Bila konsentrasi gas CO di udara tetap maka konsentrasi karboksihemoglobin di dalam darah akan mencapai keseimbangan tertentu dan akan tetap
bertahan selama tidak ada perubahan pada konsentrasi CO di udara.

Tumbuhan Pengaruh CO terhadap tanaman sebesar 100 ppm tidak memberikan pengaruh yang nyata pada tanaman tingkat tinggi. Pada paparan CO sebesar 2000 ppm selama 35 jam dapat menghambat kemampuan bakteri untuk memfiksasi nitrogen.
Material Pada material, dampak pencemaran udara oleh CO adalah mennghitamnya benda-benda pada daerah yang tercemar oleh CO.

3. NO2
Nitrogen Dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Pembentukan NO2 merupakan reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara sehingga membentuk NO, yang bereaksi lebih lanjut dengan lebih banyak oksigen membentuk NO2. Udara terdiri dari 80% Volume nitrogen dan 20% Volume oksigen. Pada suhu kamar, hanya sedikit kecenderungan nitrogen dan oksigen untuk bereaksi satu sama lainnya. Pada suhu yang lebih tinggi (diatas 1210°C) keduanya dapat bereaksi membentuk NO dalam jumlah banyak sehingga mengakibatkan pencemaran udara. Dalam proses pembakaran, suhu yang digunakan biasanya mencapai 1210 – 1.765 °C, oleh karena itu reaksi ini merupakan sumber NO yang penting. Jadi reaksi pembentukan NO merupakan hasil samping dari proses pembakaran.

Dampak
Kesehatan manusia Oksida nitrogen seperti NO dan NO2 berbahaya bagi manusia. Penelitian menunjukkan bahwa NOempat kali lebih beracun daripada NO. Di Udara ambien yang normal, NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang bersifat racun. Paparan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas. Pada sangat konsentrasi tinggi, dimana mungkin hanya dialami pada kecelakaan industri yang fatal, paparan NO2 dapat mengakibatkan kerusakan paru-paru yang berat dan cepat. Pengaruh kesehatan mungkin juga terjadi pada konsentrasi ambient yang jauh lebih rendah seperti pada pengamatan selama peristiwa polusi di kota. Bukti yang didapatkan menyarankan bahwa penyebaran ambient kemungkinan akibat dari pengaruh kronik dan akut, khususnya pada sub-grup populasi orang yang terkena asma. NO2 terutama berkelakuan sebagai agen pengoksidasi yang kemungkinan merusak membran sel dan protein. Pada konsentrasi tinggi, saluran udara akan menyebabkan peradangan yang akut. Ditambah lagi, penyebaran dalam waktu-singkat berpengaruh terhadap peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan. Meskipun banyak pengontrolan penyebaran yang dilakukan, fakta secara jelas mendefinisikan hubungan antara konsentrasi atau dosis dan umpan baliknya tidaklah cukup. Untuk penyebaran yang akut, hanya konsentrasi yang sangat tinggi (>1880 Mg/m3, 1 ppm) mempengaruhi kesehatan orang; bilamana, orang dengan asma atau penyakit paru-paru yang akut lebih rentan pada konsentrasi lebih rendah.
Ekosistem dan lingkungan NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang.
Hewan Gas NObila mencemari udara mudah diamati dari baunya yang sangat menyengat dan warnanya coklat kemerahan. Gas NO akan menjadi lebih berbahaya apabila gas itu teroksidasi oleh oksigen sehingga menjadi gas NO2. Pencemaran udara oleh gas NOx dapat menyebabkan timbulnya Peroxy Acetil Nitrates yang disingkat dengan PAN. Peroxy Acetil Nitrates ini menyebabkan iritasi pada mata yang menyebabkan mata terasa pedih dan berair. Campuran PAN bersama senyawa kimia lainnya yang ada di udara dapat menyebabkan terjadinya kabut foto kimia atau Photo Chemistry Smog yang sangat berdampak terhadap lingkungan dan bersifat karsinogenik. Salah satu dampaknya terhadap lingkungan yaitu akibat timbulnya asap tebal dapat menyebabkan terhentinya alat-alat transportasi karena dikhawatirkan akan terjadi tabrakan.

Photo Chemistry Smog atau asap kabut foto kimia merupakan campuran kompleks dari berbagai pencemar yang terbentuk karena reaksi-reaksi kimia yang terjadi dengan adanya sinar matahari. Asap kabut fotokimia disebabkan oleh beberapa senyawa polutan dari beberapa sumber yang merupakan aktivitas manusia sehari-hari.

Tumbuhan Udara yang telah tercemar oleh gas nitrogen oksida tidak hanya berbahaya bagi manusia dan hewan saja, tetapi juga berbahaya bagi kehidupan tanaman. Pengaruh gas NOx pada tanaman antara lain timbulnya bintik-bintik pada permukaan daun. Pada konsentrasi yang lebih tinggi gas tersebut dapat menyebabkan nekrosis atau kerusakan pada jaringan daun. Dalam keadaan seperti ini daun tidak dapat berfungsi sempurna sebagai temapat terbentuknya karbohidrat melalui proses fotosintesis. Akibatnya tanaman tidak dapat berproduksi seperti yang diharapkan. Konsentrasi NO sebanyak 10 ppm sudah dapat menurunkan kemampuan fotosintesis daun sampai sekitar 60% hingga 70%.
Material NOx dibebaskan ke udara terbanyak diproduksi oleh aktivitas bakteri dan aktivitas manusia. NOx  disini memiliki andil juga sebagai penyumbang sifat hujan asam, dimana dari hujan asam ini dapat mengakibatkan pelapukan bebatuan dan pengkaratan logam.

4. O3
O3 merupakan senyawa di udara selain oksigen yang memiliki sifat sebagai pengoksidasi. Oksidan adalah komponen atmosfer yang diproduksi oleh proses fotokimia, yaitu suatu proses kimia yang membutuhkan sinar matahari mengoksidasi komponen-komponen yang tak segera dioksidasi oleh oksigen. Senyawa yang terbentuk merupakan bahan pencemar sekunder yang diproduksi karena interaksi antara bahan pencemar primer dengan sinar. Hidrokarbon merupakan komponen yang berperan dalam produksi oksidan fotokimia. Reaksi ini juga melibatkan siklus fotolitik NO2. Polutan sekunder yang dihasilkan dari reaksi hidrokarbon dalam siklus ini adalah ozon dan peroksiasetilnitrat. Ozon merupakan salah satu zat pengoksidasi yang sangat kuat setelah fluor, oksigen dan oksigen fluorida (OF2). Meskipun di alam terdapat dalam jumlah kecil tetapi lapisan lain dengan bahan pencemar udara Ozon sangat berguna untuk melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV-B). Ozon terbentuk di udara pada ketinggian 30 km dimana radiasi UV matahari dengan panjang gelombang 242 nm secara perlahan memecah molekul oksigen (O2) menjadi atom oksigen tergantung dari jumlah molekul O2 atom-atom oksigen secara cepat membentuk ozon. Ozon menyerap radiasi sinar matahari dengan kuat di daerah panjang gelombang 240-320 nm. Absorpsi radiasi elektromagnetik oleh ozon di daerah ultraviolet dan inframerah digunakan dalam metode-metode analitik. Kadar ozon alami yang berubah-ubah sesuai dengan musim per tahunnya berkisar antara 10–100mg/m3 (0,005–0,05 ppm). Di Wilayah pedesaan kadar ozon dapat menjadi tinggi karena adanya kiriman jarak jauh O3 dari udara yang berasal dari perkotaan. Didaerah perkotaan yang besar, tingkat ozon atau total oksidan maksimum 1 jam dapat berkisar dari 300–800 mg/ m 3 (0,15-0,40 ppm) atau lebih.

Dampak
Kesehatan manusia Oksidan fotokimia masuk kedalam tubuh dan pada kadar subletal dapat mengganggu proses pernafasan normal, selain itu oksidan fotokimia juga dapat menyebabkan iritasi mata. Beberapa gejala yang dapat diamati pada manusia yang diberi perlakuan kontak dengan ozon, sampai dengan kadar 0,2 ppm tidak ditemukan pengaruh apapun, pada kadar 0,3 ppm mulai terjadi iritasi pada hidung dan tenggorokan. Kontak dengan Ozon pada kadar 1,0–3,0 ppm selama 2 jam pada orang-orang yang sensitif dapat mengakibatkan pusing berat dan kehilangan koordinasi. Pada kebanyakan orang, kontak dengan ozon dengan kadar 9,0 ppm selama beberapa waktu akan mengakibatkan edema pulmonari.
Ekosistem dan lingkungan Ozon di lapisan troposfer yang disebut juga ozon permukaan adalah pencemar sekunder yang terbentuk akibat reaksi kompleks antara prekursornya, yaitu NOx (nitrogen oksida) dan hidrokarbon dengan pemanasan sinar matahari. Reaksi pembentukan ozon ini terutama terjadi di daerah dengan tingkat polusi tinggi atau bisa juga beberapa kilometer dari sumber polusi akibat tertiup angin. Di troposfer ozon berperan sebagai gas rumah kaca sehingga dapat menyokong perubahan iklim. Pada konsentrasi tertentu, ozon di permukaan juga dapat berperan sebagai polutan dan dapat menyebabkan smog fotokimia.
Hewan Dampak ozon bagi hewan adalah dapat menyebabkan timbulnya kanker pada mata sapi karena ozon yang merupakan salah satu oksidan.
Tumbuhan Bagi tumbuhan, dampak terhadap oksidan adalah dapat merusak tanaman sehingga tanaman tersebut tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Hilangnya tanaman overstrey atau tanaman kecil penyokong juga akibat dari dampak ozon yang berlebih di atmosfer. Selain menimbulkan penyakit pada tanaman, ozon juga dapat mengurangi jumlah fitoplankton.
Material Dampak pencemaran ozon pada material dapat meracuni air minum dan menimbulkan rasa pahit. BPOM telah menetapkan jumlah ozon dalam AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) adalah maksimal sebesar 0.4 ppm. Oksidan merupakan senyawa di udara selain oksigen yang memiliki sifat sebagai oksidator. Oksidan diproduksi oleh proses fotokimia. Contoh-contoh dari oksidan antara lain ozon, peroksiasetil nitrat, dan oksida-oksida lainnya. Dampak dari adanya pencemaran udara oleh oksidan ini salah satunya adalah korosi karena sifatnya yang merupakan oksidator kuat.

5. Hidrokarbon non metana
Hidrokarbon non metana merupakan senyawa hidrokarbon fraksi C1-C5 tanpa metana. Senyawa NMHC yang umum diketahui berasal dari emisi kendaraan bermotor adalah benzene, 1,3-Butadiene dan PAH (polyaromatic hydrocarbon). Selain itu terdapat banyak spesies hidrokarbon yang merupakan senyawa pencetus (prekursor) pembentuk ozon pada reaksi fotokimia dengan NOx dengan bantuan sinar matahari. Senyawa pencemar hidrokarbon di atmosfer umumnya memberikan efek terhadap manusia terjadi karena sifatnya yang karsinogenik. Senyawa yang umum diketahui diemisikan dari kendaraan bermotor adalah benzene, 1,3-Butadiene dan PAH (polyaromatic hydrocarbon). Selain itu terdapat banyak spesies hidrokarbon yang merupakan senyawa pencetus (prekursor) pembentuk ozon pada reaksi fotokimia dengan NOx dengan bantuan sinar matahari. Paparan terhadap senyawa HC seperti benzena memiliki dampak serius terhadap kesehatan. Kandungan hidrokarbon dalam udara bersih adalah kurang dari 1 ppm dan pada udara tercemar konsentrasi berada antara 1-20 ppm.

Dampak
Kesehatan manusia Hidrokarbon diudara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut Polycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalu lintas. Bila PAH masuk ke dalam paru-paru, akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker
Ekosistem dan lingkungan Pembakaran hidrokarbon memberi reaksi yang melibatkan O2 yang menjadikan peningkatan kepanasan. Suhu yang panas direkod dapat memecah rantaian hidrokarbon menjadi rantaian kecil. Gas hidrokarbon bergabung dengan gas gas yang lain dalam konsentrasi tertentu. Hidrokarbon dalam bentuk kabut minyak mencair dari fasa hidrokarbon awal. Padatan hidrokarbon akan membentuk asap pekat dan tergumpal menjadi debu/partikel. PAH (Polycyclic aromatic hydrocarbon) akan degradasi oleh bakteria di sedimen dan air dari ekosistem yang asli.
Hewan Hidrokarbon yang bersifat mutagenic akan sangat rentan pada hewan. Beberapa percobaan pada hewan telah membuktikan adanya indikasi perubahan gen pada hewan tersebut. Dengan kekekalan massa yang berlaku, konsumsi hewan yang tercemar oleh manusia akan memindahkan kandungan senyawa hidrokarbon ke manusia.
Tumbuhan Polusi udara fotokimia dapat mengakibatkan kerusakan pada tenunan tanaman. Komponen fotokimia yang paling merusak tanaman adalah ozon, tetapi kelompok PAN juga berperan dalam menyebabkan kerusakan tersebut. Hidrokarbon bereaksi dengan NO2 dan O2 mengahsilkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates).

Kerusakan tanaman karena PAN memperlihatkan permukaan bawah daun berwarna keperakan dan kerusakan pada daun-daun muda. Tenunan daun kemudian mati. Pemberian PAN dengan konsentrasi 0.02-0.05 ppm sudah cukup untuk menyebabkan kerusakan tanaman.

Etilen merupakan satu-satunya hidrokarbon yang mengakibatkan kerusakan tanaman pada konsentrasi ambien 1 ppm atau kurang. Asetilen dan propilen juga bersifat racun terhadap tanaman, tetapi konsentrasi yang dibutuhkan adalah 60-500 kali sebanyak etilen. Pengaruh etilen terhadap tanaman terutama adalah menghambat pertumbuhan, perubahan warna daun, dan kematian bagian-bagian bunga.

Material Dampak hidrokarbon pada material biasanya disebabkan oleh sifat kimiawi hidrokarbon. Sebagai contoh, karet gelang yang direndam dalam bensin maka akan bertambah volumenya tetapi berkurang sifat elastisnya. Dengan demikian, hidrokarbon mampu melarutkan beberapa senyawa penting lain dalam material sehingga akan mengubah tidak hanya sifat fisik, tetapi juga kimia.

6. Partikulat
Partikulat merupakan jenis pencemar berupa solid maupun liquid yang memiliki diameter yang sangat kecil di mana pencemar ini dapat tetap tersuspensi di dalam gas dan dapat dikeluarkan dari titik emisi menuju udara ambien. Partikulat bisa berasal dari aktivitas manusia seperti proses industri semen, pembangkit listrik tenaga batu bara, aktivitas konstruksi kendaraan bermotor maupun aktivitas alamiah seperti letusan gunung berapi. Berdasarkan ukurannya, partikulat dapat digolongkan menjadi PM2,5, PM10. PM2,5 merupakan partikulat berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer sedangkan PM10 merupakan partikulat berdiameter kurang dari 10 mikrometer. Kedua jenis partikulat ini disebut dengan suspended particulate matter atau SPM. Total Suspended Particulate atau TSP merupakan gabungan antara SPM dengan partikulat lainnya yang memiliki diameter lebih dari 10 mikrometer.

Dampak
Kesehatan manusia Partikulat yang berukuran kurang dari 10 mikrometer memiliki dampak terbesar kepada manusia karena partikulat ini dapat masuk ke dalam paru paru dan beberapa dari partikulat dapat masuk ke dalam aliran darah. Pajanan terhadap partikel tersebut dapat memberi efek yang buruk yang ditimbulkan berupa kematian dini terhadap orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru, munculnya serangan jantung, detak jantung yang ireguler, asma yang memburuk, penurunan fungsi paru-paru, serta munculnya gejala pernafasan lainnya seperti iritasi pada saluran pernapasan, batuk atau kesulitan bernapas. Orang yang memiliki risiko paling besar untuk terkena efek akibat dari pajanan partikulat adalah orang dengan penyakit paru-paru dan jantung, anak-anak maupun lansia.
Ekosistem dan lingkungan PM2,5 merupakan salah satu penyebab utama berkurangnya visibilitas di kawasan Amerika Serikat. Hal ini terjadi karena PM2,5 bisa menyebabkan timbulnya kabut di area taman nasional ataupun hutan. Selain itu, partikulat dapat terbawa jauh oleh angin yang kemudian akan mengendap di permukaan tanah atau air. Efek yang terjadi dari pengendapan partikulat ini bergantung dengan sifat kimia dari partikulat tersebut. Efek tersebut berupa perubahan sungai dan danau menjadi lebih asam, perubahan keseimbangan nutrien di perairan sekitar pantai dan sungai besar,  penurunan kadar nutrien di dalam tanah, perusakan terhadap hutan yang sensitif dan kawasan pertanian, terganggunya diversitas ekosistem serta dapat berkontribusi terhadap terjadinya hujan asam.
Hewan Sifat kimia dan ukuran dari partikulat dapat dihubungkan dengan berbagai macam jenis efek klinis dan toksikologis terhadap hewan. Partikulat yang masuk ke dalam tubuh hewan dalam bentuk aerosol dapat mengubah aktivitas biologis hewan, termasuk produksi sitokinin yang berhubungan dengan fungsi jantung dan paru-paru hewan. Penyakit kardiovaskular yang berujung kematian pada hewan merupakan variasi dari respon kardiovaskular dari peradangan di dalam jaringan sistemis hewan seperti C-reaktif protein serta fibrinogen. Partikulat yang terdeposisi di dalam paru-paru hewan dapat ditemui pada hewan ternak yang letaknya dekat dengan kawasan industri.
Tumbuhan Tumbuhan memiliki kemampuan yang baik sebagai indikator polusi udara dan berperan sebagai penangkap debu. Tumbuhan yang memiliki nilai indeks yang lebih tinggi akan lebih tahan terhadap polusi udara dan bisa digunakan sebagai tanda untuk mitigasi polusi, sedangkan tumbuhan yang memiliki nilai indeks yang lebih rendah memiliki ketahanan yang lebih rendah serta dapat menunjukan level polusi udara yang terjadi.
Material Dampak partikulat terhadap material berhubungan dengan nilai estetika yang dimiliki suatu benda di mana partikulat dapat mengotori atau merusak monumen atau patung penting bernilai sejarah tinggi yang terbuat dari batu atau material lainnya

7. Timbal
Timbal (Pb) merupakan unsur kimia yang memiliki nomor atom 82. Timbal termasuk ke dalam golongan IVA dan periode 6 di dalam sistem periodik unsur di mana konfigurasi elektron dari timbal adalah [Xe]4f145d106s26p2. Timbal memiliki densitas sebesar 11,34 gram/cm3 pada suhu 20°C, titik leleh 327°C dan titik didih 1755°C. Penggunaan timbal secara luas berhubungan dengan titik leleh yang rendah serta ketahanan terhadap korosi di lingkungan. Ketika terkena udara dan air timbal akan membentuk sebuah lapisan atau film berupa timbal(II)sulfat, timbal(II)oksida dan timbal(II)karbonat yang dapat memperlambat proses korosi. Timbal bersifat amfoter di mana timbal tersebut dapat bersifat asam dan basa tergantung kepada kondisi sekitarnya.

Dampak
Kesehatan manusia Jika anak-anak terpajan timbal, bahkan dengan konsentrasi yang sangat rendah, efek yang ditimbulkan berupa permasalahan belajar dan berperilaku, hiperaktivitas dan IQ yang rendah, pertumbuhan terhambat, pendengaran terganggu, kejang-kejang, koma bahkan kematian. Pada wanita hamil, pajanan timbal dapat menyebabkan bayi lahir secara prematur atau terlalu kecil, merusak otak, ginjal dan sistem saraf bayi, menaikkan kemungkinan munculnya permasalahan belajar dan berperilaku pada calon bayi dan berpotensi terjadinya keguguran. Selain itu, timbal dapat memberi efek terhadap lansia berupa permasalahan kardiovaskular, kenaikkan tekanan darah dan hipertensi, menurunnya fungsi ginjal serta permasalahan reproduksi.
Hewan Keracunan timbal umum terjadi pada hewan yang masih muda. Efek yang timbul berhubungan dengan saluran pencernaan serta sistem saraf. Pada hewan ternak, gejala dapat muncul dalam waktu 24-48 jam setelah terpajan berupa ataxia, kebutaan, keluarnya air liur dari mulut yang tidak terkontrol, mata yang berkedip dengan cepat, geraham yang bergetar, timbulnya lebam, tremor otot serta kejang-kejang.
Tumbuhan Pada tumbuhan, timbal dapat menyebabkan terhambatnya produksi ATP, peroksidasi lemak serta kerusakan DNA karena adanya produksi ROS (reactive oxygen species) yang berlebihan.

Selain itu, timbal dapat menghambat terjadinya pertumbuhan tanaman dari biji, pemanjangan akar, perkembangan biji, pertumbuhan tanaman, transportasi, produksi klorofil serta kandungan air dan protein. Efek negatif yang muncul dari pajanan timbal berhubungan dengan struktur kloroplas yang berubah, transpor elektron yang terganggu, terhambatnya siklus Calvin, rusaknya sistem pengambilan unsur-unsur penting bagi tumbuhan dari tanah seperti besi dan magnesium serta berkurangnya kadar karbon dioksida dari tertutupnya stomata.

 

Daftar Pustaka:

  1. Blakley, Barry R, (2007). Overview of Lead Poisoning, https://www.msdvetmanual.com/toxicology/lead-poisoning/overview-of-lead-poisoning#:~:text=Acute%20lead%20poisoning%20is%20more,%2C%20muscle%20tremors%2C%20and%20convulsions. diunduh pada tanggal 22 Februari 2021.
  2. Jitin Rahul and Manish Kumar Jain, 2014. An Investigation in to the Impact of Particulate Matter on Vegetation along the National Highway: A Review. Research Journal of Environmental Sciences, 8: 356-372.
  3. Lenntech DMMC, (2021). Lead (Pb) – Chemical properties, Health and Environmental effects (lenntech.com), https://www.lenntech.com/periodic/elements/pb.htm#:~:text=Lead%20is%20a%20bluish%2Dwhite,tarnishes%20upon%20exposure%20to%20air. diunduh pada tanggal 22 Februari 2021.
  4. Losacco, Caterina; Perillo, Antonella  (2018). Particulate matter air pollution and respiratory impact on humans and animals. Environmental Science and Pollution Research, doi:10.1007/s11356-018-3344-9.
  5. National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine, (2007). CHEMICAL AND PHYSICAL INFORMATION – Toxicological Profile for Lead – NCBI Bookshelf (nih.gov), https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK158769/ diunduh pada tanggal 22 Februari 2021.
  6. United States Environmental Protection Agency, (2020). Health and Environmental Effects of Particulate Matter (PM) | Particulate Matter (PM) Pollution | US EPA, https://www.epa.gov/pm-pollution/health-and-environmental-effects-particulate-matter-pm diunduh pada tanggal 22 Februari 2021.
  7. United States Environmental Protection Agency, (2020). Learn about Lead | Lead | US EPA, https://www.epa.gov/lead/learn-about-lead diunduh pada tanggal 22 Februari 2021.
  8. Whitacre, David M. (2011). [Reviews of Environmental Contamination and Toxicology] Reviews of Environmental Contamination and Toxicology Volume 213 Volume 213 || Lead Uptake, Toxicity, and Detoxification in Plants. , 10.1007/978-1-4419-9860-6(Chapter 4), 113–136. doi:10.1007/978-1-4419-9860-6_4.