Baku mutu udara ambien di Australia diatur oleh National Environment Protection Council di negara tersebut. Baku mutu udara ambien yang terbaru disahkan pada tahun 2016, sebagai hasil amandemen dari baku mutu udara ambien tahun 2003.

Baku Mutu Udara Ambien Australia
Pollutant Averaging period Maximum concentration Maximum allowable exceedances (goal)
CO 8 hours 9.0 ppm 1 day per year
NO2 1 hour
1 year
0.12 ppm
0.03 ppm
1 day per year
No exceedances
Pb 1 year 0.50 µg/m3 No exceedance
PM10 1 day
1 year
50 µg/m3
25 µg/m3
No exceedances
PM2,5 1 day
1 year
25 µg/m3
8 µg/m3
20 µg/m(2025 goal)
7 µg/m(2025 goal)
No exceedances
Photochemical oxidants (as ozone) 1 hour
4 hours
0.10 ppm
0.08 ppm
1 day per year
1 day per year
Sulfur dioxide 1 hour
1 day
1 year
0.20 ppm
0.08 ppm
0.02 ppm
1 day per year
1 day per year
No exceedances

Sumber: [1]

Dari tabel di atas dan Lampiran VII PP No. 22 tahun 2021, bisa dilihat terdapat perbedaan antara baku mutu udara ambien di Australia dan di Indonesia. Perbedaan yang pertama tersorot adalah pada tabel baku mutu Australia terdapat kolom nilai pelampauan yang diizinkan (maksimum). Pada tabel baku mutu Indonesia, tidak terdapat kolom tersebut, namun ada kolom sistem pengukuran. Perbedaan lainnya adalah jumlah parameter pencemar. Jika Indonesia memiliki total 9 parameter (TSP, PM10, PM2.5 dianggap terpisah), Australia hanya mencantumkan 7 parameter. Australia tidak mencantumkan baku mutu TSP dan hidrokarbon non metana. Ketujuh parameter Australia tersebut seluruhnya terdapat pada baku mutu udara ambien Indonesia, namun dengan waktu pengukuran dan satuan konsentrasi yang berbeda. Berikut adalah perbedaan yang kami temukan untuk masing-masing parameter.

1. CO

Terdapat dua nilai baku mutu CO di Indonesia berdasarkan waktu pengukurannya, yaitu untuk waktu pengukuran 1 jam dan 8 jam. Baku mutu CO di Australia hanya berdasarkan waktu pengukuran 8 jam. Karena baku mutu Indonesia menggunakan satuan µg/m3, maka dilakukan konversi terlebih dahulu ke satuan ppm. Baku mutu CO di Indonesia untuk waktu pengukuran 8 jam adalah 3.5 ppm sedangkan baku mutu Australia adalah 9 ppm.

2.Pb

Baku mutu Pb di Australia didasarkan pada waktu pengukuran 1 tahun sedangkan di Indonesia didasarkan pada waktu pengukuran 1 hari. Karena waktu pengukuran yang berbeda, baku mutu Pb antara Australia dan Indonesia tidak dapat dibandingkan.

3. NO2

Masih sama seperti parameter-parameter sebelumnya, terdapat perbedaan waktu pengukuran dalam baku mutu NO2. Australia hanya menggunakan dua waktu pengukuran yaitu 1 jam dan 1 tahun, sedangkan Indonesia menggunakan waktu pengukuran 1 hari pula sehingga memiliki 3 nilai baku mutu. Konsentrasi baku mutu di Indonesia menggunakan satuan µg/m3 sehingga perlu dilakukan konversi satuan. Setelah dikonversi, konsentrasi baku mutu NO2 untuk waktu pengukuran 1 jam dan 1 tahun secara berturut-turut adalah 0.10 ppm dan 0.03 ppm (nilai hasil konversi dibulatkan). Baku mutu untuk waktu pengukuran 1 tahun dari kedua negara sama. Sedangkan baku mutu untuk waktu pengukuran 1 jam, baku mutu Australia sedikit lebih besar (0.12 ppm) dibandingkan baku mutu Indonesia.

4. PM10

Australia dan Indonesia menggunakan waktu pengukuran yang sama, namun konsentrasi baku mutunya berbeda. Waktu pengukuran yang digunakan adalah 1 hari dan 1 tahun. Kedua baku mutu Australia lebih kecil dari baku mutu Indonesia.

5. PM2.5

Seperti parameter PM10, waktu pengukuran yang digunakan kedua negara sama. Untuk waktu pengukuran 1 hari, baku mutu Australia adalah 25 µg/m3, sedangkan baku mutu Indonesia adalah 55 µg/m3. Untuk waktu pengukuran 1 tahun, baku mutu Australia juga lebih kecil dari baku mutu Indonesia. Baku mutu Australia adalah 8 µg/m3, sedangkan baku mutu Indonesia hampir mencapai dua kali lipatnya, yaitu sebesar 15 µg/m3.

6. O3

Untuk parameter O3, Australia menggunakan waktu pengukuran 1 jam dan 4 jam, sementara itu Indonesia menggunakan waktu pengukuran 1 jam, 8 jam, dan 1 tahun. Seperti sebelumnya, baku mutu Indonesia menggunakan satuan µg/m3 sehingga dilakukan konversi ke satuan ppm terlebih dahulu. Pada waktu pengukuran 1 jam, baku mutu Australia adalah 0.10 ppm. Baku mutu Indonesia lebih kecil nilainya, yaitu hanya 0.076 ppm.

7. SO2

Selain pada parameter PM10 dan PM2.5, Australia dan Indonesia menggunakan waktu pengukuran yang sama untuk parameter SO2. Hasil konversi baku mutu Indonesia ke satuan ppm untuk waktu pengukuran 1 jam, 1 hari, dan 1 tahun secara berturut-turut adalah 0.06 ppm, 0.03 ppm, dan 0.02 ppm. Untuk waktu pengukuran 1 tahun, baku mutu Australia sama dengan baku mutu Indonesia. Namun, untuk waktu pengukuran lainnya, baku mutunya berbeda. Baku mutu Australia untuk waktu pengukuran 1 jam dan 1 hari secara berturut-turut adalah 0.2 ppm dan 0.08 ppm. Maka, baku mutu Indonesia lebih kecil daripada baku mutu Australia.

Dari hasil perbandingan baku mutu untuk 7 parameter pencemar dengan waktu pengukuran yang sama, dapat disimpulkan bahwa terdapat baku mutu Australia yang lebih besar, sama besar, dan lebih kecil daripada baku mutu Indonesia. Baku mutu Indonesia untuk partikulat debu seluruhnya lebih besar daripada baku mutu Australia. Jika dibandingkan dengan pedoman dari WHO (Ambient (outdoor) air pollution (who.int)), baku mutu Australia tidak jauh berbeda, bahkan sama dengan pedoman tersebut.

Sedangkan untuk beberapa parameter lainnya, baku mutu Indonesia lebih kecil dari baku mutu Australia. Baku mutu Indonesia baru saja direvisi dan diterbitkan pada tahun 2021. Sedangkan baku mutu Australia terakhir diperbarui pada tahun 2016. Terdapat kemungkinan bahwa baku mutu tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini. Seiring berjalannya waktu, teknologi dan metode untuk pengukuran baku mutu semakin berkembang sehingga dapat diperoleh nilai baku mutu yang lebih akurat. Selain itu, perbedaan nilai baku mutu dapat disebabkan oleh perbedaan kondisi sosial, politik, dan ekonomi antara kedua negara tersebut.

Seperti  di Indonesia, bentuk komunikasi mengenai kualitas udara bagi publik di Australia adalah dengan menggunakan indeks kualitas udara. Australia terdiri dari beberapa negara bagian sehingga setiap negara bagian memiliki situs webnya masing-masing yang memuat informasi mengenai indeks kualitas udara. Terdapat sedikit perbedaan pada indeks yang digunakan di masing-masing negara bagian. Namun, umumnya setiap negara bagian menggunakan indeks kualitas udara yang dibagi menjadi 5 kategori sebagai berikut.

Indeks Pencemaran Udara Australia
Category AQI Range Description
Very good 0-33 Air quality is considered very good, and air pollution poses little or no risk
Good 34-66 Air quality is considered good, and air pollution poses littler or no risk
Fair 67-99 Air quality is acceptable. However, there may be a health concern for very sensitive people
Poor 100-149 Air quality is unhealthy for sensitive groups. The general population is not likely to be affected in this range
Very poor ≥150 Air quality is unhealthy, and everyone may begin to experience health effects. Sensitive people may experience more serious health effects

Sumber: [2]

Perhitungan indeks kualitas udara Australia terbilang sederhana, jika dibandingkan dengan cara perhitungan indeks kualitas udara yang berlaku di Indonesia. Berikut adalah persamaan yang digunakan untuk menghitung indeks kualitas udara:

(Konsentrasi pencemar/baku mutu pencemar) x 100

Indonesia juga memiliki 5 kategori dalam indeks kualitas udara, namun dengan penamaan kategori yang berbeda dengan Australia. Selain itu, Indonesia menggunakan nilai/rentang/skala yang lebih besar untuk menyatakan indeks kualitas udara.

Daftar Pustaka:

  1. Australia State of the Environment, (2016). National air quality standard, https://soe.environment.gov.au/theme/ambient-air-quality/topic/2016/national-air-quality-standards#ambient-air-table-4diakses pada 20 Februari 2021.
  2. Australia State of the Environment, (2016). Air quality indexhttps://soe.environment.gov.au/theme/ambient-air-quality/topic/2016/air-quality-index#ambient-air-quality-box-10, diakses pada 21 Februari 2021.