Sampai tahun 2020, peraturan mengenai baku mutu udara ambien di Indonesia diatur oleh PP Nomor 41 tahun 1999. Peraturan ini kemudian diperbarui dengan PP Nomor 22 tahun 2021. Terdapat beberapa perbedaan dari kedua aturan tersebut di antaranya:

UNbjtWhCZRFQMIUSdjWqm78QT4cFmerc7pnQl5MLB-n8mbpINyBtSCDXoRDPDdfKWG47Nv-i70tK7lH2XJNPBWxn5SL6YDnEkln8CSGyOeoDgAR2d0NX7Kc47ubCYJnDSrxKzpMV

WI_brJmGFK8xiQ9UmZr7CwSQTvfVuMijhurO6RyTS38h9snz0kJYQEKbvA-BgbENQRbhXGkkfgxR5kaznIBfs9yRFsu9dXE0-e7DhrUh9mOjk3q7xS7lcgvdsfTGKBsf93C9-b60

 eal2zgW9j_w1-QgXReq809Rj7HfP5miKnQPUdRRgmRbETVG2I11xqw_MXq2-mazPsIPd-G_NaijeNoslsITlSKS4FQZdJypkY3J36gipjs1WbV1rvbjQY2lyClSr7atW7M2acpwF

 yRWWWzy94uv7dPapoQhgnv1Q_vlNQeTiWKoIRpztghdPotd_8xRUmXQATz5mZMxK6i8QZhAXB4JntHfnznvDOF6lk_Kd4qnzGqmBiCTIbS_a-EaZfPnzugZxBfq2P8Cjf-KFDXRD

b89BvMqYvP4UVOD8b8oGIojEwCm1qGnGnNzCHRtJaOqEOk4cQtiEvKG5dNZ77KPykXhy-9VJgyeKNMWbVNNZciZUxacCeuUjGxyPVC4AfwJPGHJ8obwV47SZRk_LVyXmQJxLQCxH

esC3RL14GXarIXEnZPixZ2ek43Kj1xwKKLXB2G-3I0ya-G5VHIoGTYmugg_XHXK2PMJBu6yNIQ8C3W1rantt36JkBA0yjoFDzEga9Ioch0SqSs0zoVbKZZMeXFt8zqxvOE6yl8r_

9vsFR1GJQ4HCli9j567Rvn36Hyz7iUYhnCCGRi-buo17zAZnXESXEJNigAN6z82FrOXNT_cZ7X1GjNjizgvSHSBy_nF7GBtACbE0k9SPdGwdI_q4Nk5pGrkYFU7PwP0zrG-JbVbG

Perbedaan peraturan lama dan baru sebagai berikut:

  1. Baku mutu di PP terbaru turun. Turunnya angka baku mutu di PP baru menyebabkan semakin ketatnya batas maksimum pencemar yang boleh dilewati. Beberapa industri mungkin harus meninjau kembali teknologi pengendali pencemar udara yang digunakan.
  2. Peraturan baru lebih sedikit parameternya. Beberapa parameter disatukan pada 1 poin. Lalu ketiga parameter yang hanya berlaku untuk industri tertentu dihilangkan pada PP baru.
  3. Tidak ada metode pengukuran di PP baru. Metode pengukuran diganti dengan sistem pengukuran yaitu aktif kontinu atau aktif manual, namun dalam prakteknya, metode pengukuran yang dilakukan tetap mengacu kepada PP lama.
  4. Satuan yg baru tidak ada N nya (N = normal). Kehadiran N pada satuan dapat mengakibatkan keambiguan antara Normal atau Newton. Peraturan di negara lain juga tidak menggunakan N pada satuannya. Walau demikian, pengukuran tetap dilakukan pada kondisi normal.
  5. Ada tambahan waktu pengukuran di PP baru misal CO dan O3. Perubahan waktu disesuaikan agar hasil pengukuran yang didapatkan efektif. 
  6. Terdapat sistem pengukuran aktif kontinu/manual di PP baru. Metode spektrofotometri (utk NO2) dan gravimetri (Hi-Vol) digunakan pada sistem manual. Sistem manual menggunakan alat yang membutuhkan analisis manusia. Sistem kontinu menggunakan sensor. Keduanya disebut aktif karena tetap menarik udara ambien utk melewati suatu alat menggunakan pompa vakum. Hanya berbeda di analisis. Pengukuran pasif bedanya menggunakan prinsip hukum difusi, jadi tidak butuh pompa vakum dan electricity. Cukup memakai filter yang digunakan selama waktu pengukuran misal 8 jam. Tidak bisa dapat hasil per 30 menit karena jumlahnya tidak terukur.

 

Daftar Pustaka:

  1. Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
  2. Lampiran VII Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.