The National Environmental Standard for Air Quality (Air Quality NES) atau  Standar Lingkungan Nasional untuk Kualitas Udara (SPN Kualitas Udara) adalah peraturan yang dibuat di bawah Undang-Undang Manajemen Sumber Daya 1991. Tujuannya untuk menetapkan tingkat perlindungan kesehatan minimum yang dijamin untuk semua warga Selandia Baru.

NES Kualitas Udara mulai berlaku pada tanggal 8 Oktober 2004. Peraturan ini telah diamandemen pada 1 Juni 2011. NES tersebut terdiri dari 14 standar yang terpisah namun saling terkait. Ini termasuk:

  • tujuh standar yang melarang aktivitas yang mengeluarkan banyak dioksin dan racun lainnya ke udara
  • lima standar kualitas udara ambien (luar ruang)
  • standar desain untuk pembakar kayu baru yang dipasang di daerah perkotaan
  • persyaratan untuk tempat pembuangan sampah lebih dari 1 juta ton sampah untuk mengumpulkan emisi gas rumah kaca.
Baku Mutu Udara Ambien New Zealand
Pollutant Averaging period Maximum concentration Number of exceedances allowed
CO 8 hours 10 mg/m3 1 in a 12-month period
NO2 1 hour 200 µg/m3 9 in a 12-month period
Ozone 1 hour 150 µg/m3 None
PM10 24 hour 50 µg/m3 1 in a 12-month period
Sulphur dioxide 1 hour
1 hour
350 µg/m3
570 µg/m3
9 in a 12-month period

None

    Sumber: [1]
  • Terdapat 9 parameter yang diatur di Indonesia, sedangkan di New Zealand hanya mengatur 5 parameter. Beberapa parameter yang tidak terdapat pada baku mutu New Zealand di antaranya yaitu: PM2,5, TSP (<100 mikrometer), NMHC (Hidrokarbon Non Metana), serta timbal (Pb).
  • Parameter CO pada baku mutu New Zealand dinyatakan dalam satuan miligram/m3 sedangkan di Indonesia menggunakan satuan mikrogram/m3. Akan tetapi apabila dilakukan konversi dari mikrogram/m3 ke miligram/m3 besarnya angka baku mutu kedua negara tersebut untuk parameter CO sama. Akan tetapi, di New Zealand hanya menggunakan rata-rata 8 jam pada parameter CO, sedangkan di Indonesia terdapat pengukuran 1 jam dan 8 jam.
  • Parameter NO2 di New Zealand hanya diukur sebagai rata-rata selama 1 jam sedangkan di Indonesia diukur pada 1 jam, 24 jam, dan setahun. Besarnya angka baku mutu kedua negara sama untuk pengukuran 1 jam.
  • Sementara parameter ozon di Indonesia diukur pada 1 jam, 8 jam, dan setahun, di New Zealand hanya dilakukan pengukuran selama 1 jam dengan besarnya angka baku mutu yang sama dengan Indonesia.
  • Tidak terdapat pengukuran untuk setahun pada parameter PM10 di Baku Mutu Ambien New Zealand. Sedangkan besarnya angka baku mutu untuk pengukuran 24 jam lebih kecil di new Zealand daripada di Indonesia.
  • Di Indonesia, parameter SO2 dilakukan pengukuran untuk 1 jam, 24 jam, dan 1 tahun sedangkan di New Zealand hanya selama 1 jam. Akan tetapi, terdapat dua nilai angka baku mutu yang berbeda di New Zealand. Yang membedakan kedua angka tersebut adalah batas melampauinya dalam setahun.
  • Tidak terdapat sistem pengukuran yang tercantum pada peraturan baku mutu udara ambien New Zealand. Akan tetapi, walaupun tidak ada pengukuran pada waktu setahun seperti di Indonesia, terdapat batas maksimal melewati baku mutu tersebut selama setahun di New Zealand.

Selain dengan baku mutu, untuk menyampaikan informasi kualitas udara dengan mudah kepada masyarakat, baik di Indonesia maupun New Zealand menggunakan indeks kualitas udara.

Indeks Pencemaran Udara Indonesia
Kategori Rentang Penjelasan
Baik 0-50 Tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan, atau nilai estetika
Sedang 51-100 Tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif, dan nilai estetika
Tidak sehat 101-199 Tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika
Sangat tidak sehat 200-299 Tingkat kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar
Berbahaya 300-lebih Tingkat kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius

Sumber: [2]

Indeks Pencemaran Udara New Zealand
AQI Air Pollution Level Health Implications Cautionary Statement (for PM2,5)
0-50 Good Air quality is considered satisfactory, and air pollution poses little or no risk None
51-100 Moderate Air quality is acceptable; however, for some pollutants there may be a moderate health concern, for a very small number of people who are unusually sensitive to air pollution Active children and adults, and people with respiratory disease, such as asthma, should limit prolonged outdoor exertion
101-150 Unhealthy for sensitive groups Members of sensitive groups may experience health effects. The general public is not likely to be affected Active children and adults, and people with respiratory disease, such as asthma, should limit prolonged outdoor exertion
151-200 Unhealthy Everyone may begin to experience health effects; members of sensitve groups may experience more serious health effects Active children and adults, and people with respiratory disease, such as asthma, should limit prolonged outdoor exertion
201-300 Very unhealthy Health warnings of emergency conditions. The entire population is more likely to be affected Active children and adults, and people with respiratory disease, such as asthma, should limit prolonged outdoor exertion
300+ Hazardous Health alert: everyone may experience more serious health effects Everyone should avoid all outdoor exertion

Sumber: [3]

Walaupun memiliki tujuan yang sama, terdapat beberapa perbedaan antara indeks pencemaran udara kedua negara tersebut di antaranya:

  • Indeks di Indonesia terbagi ke dalam 5 kategori, sedangkan di new Zealand terdapat 6 kategori. Perbedaannya, terdapat kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif pada indeks pencemar udara New Zealand.

  • Perbedaan yang sangat terlihat adalah pemilihan warna yang digunakan. Pada kategori baik di Indonesia menggunakan warna hijau muda sedangkan di New Zealand menggunakan warna hijau toska. Kategori sedang divisualisasikan dengan warna biru di Indonesia sementara New Zealand memilih warna kuning. Penambahan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif di New Zealand menggunakan warna oranye. Lalu kategori tidak sehat di Indonesia ditampilkan dengan warna kuning sedangkan di New Zealand warna merah. Warna  merah dipakai di Indonesia untuk kategori sangat tidak sehat sementara New Zealand memilih warna ungu untuk kategori tersebut. Kategori berbahaya berwarna hitam di Indonesia dan merah tua di New Zealand.

  • Rentang pada setiap kategori juga berbeda kecuali untuk kategori baik, sedang, dan berbahaya. Hal ini juga diakibatkan oleh adanya penambahan kategori sangat tidak sehat untuk kelompok sensitif di New Zealand yang mengakibatkan rentang untuk kategori tidak sehat menjadi terbagi dengan kategori ini.

  • Selain menggunakan warna, Indonesia juga menyampaikan informasinya menggunakan emoticon wajah, sedangkan New Zealand hanya menggunakan warna.

  • Penjelasan pada setiap kategori oleh kedua negara juga berbeda. Di Indonesia juga dijelaskan efek terhadap tanaman, sedangkan New Zealand lebih memperjelas informasi mengenai dampak kesehatan pada manusia.

 

Daftar Pustaka:

  1. Silvia Cartwright, Governor-General, (2004). Resource Management (National Environmental Standards for Air Quality) Regulations 2004, https://www.mfe.govt.nz/air/air-regulations/national-environmental-standards-air-quality/about-nes#:~:text=The%20National%20Environmental%20Standards%20for%20Air%20Quality%20 diunduh pada tanggal 25 Februari 2021.
  2. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, (2021). Rentang Indeks Standar Pencemar Udara, http://iku.menlhk.go.id/aqms/ diunduh pada tanggal 25 Februari 2021.
  3. IQAir. (2021). Air Quality in New Zealand, https://www.iqair.com/us/new-zealanddiunduh pada tanggal 25 Februari 2021.