SUMBER PENCEMAR UDARA

q4lg4Sjw6T-kGpA4_itnZOka4ICZ-YagzC96pJQFuKMnWZz-o78eEgPKT2v4A67rTiWsjX6LFoCSgfaQZI5NevPFfGiDm5Ezl79_t01O-q3XCWdByWibE-80MqiX8oCZQopdVVxY

Sumber: [1]

Sumber Pencemar Alami

Sumber pencemar alamiah merupakan jenis pencemar udara yang berasal dari aktivitas alam tanpa adanya campur tangan dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Sumber pencemar alami dapat berasal dari:

1. Letusan gunung berapi

xa9EpXdfDKO7U7EUhqKv1nx2evJy-Tfif6TQ871YIjtLuko_lgs7EbWIk2yy3Y3gT0mPkRkA0xWvJe1kMscWPrtIbM0p1PlqkIV6uXr421SEkvNOylXTKC0bFYKm1V-iVNez4JZU

Sumber: [2]

Letusan gunung berapi merupakan salah satu fenomena alam yang turut serta dalam memberi pengaruh terhadap pencemaran udara. Hal ini disebabkan karena saat gunung mengalami erupsi, gunung tersebut mengeluarkan berbagai jenis emisi. Emisi yang dapat dikeluarkan saat terjadinya letusan gunung berapi dapat berupa asap, debu vulkanik, karbon dioksida, sulfur dioksida maupun jenis pencemar udara lainnya.

2. Kebakaran hutan

Kd8f0lZj8aRQ8HMQbtY5BOI41Bs0WQ6EJ77ULiPy9C3qCzgNLSPSYxhnVlNrzg2gCw7Q3-4p99-QaFg1GXND4M871cYvU4Y-RmtUyu-hN5CF-6T_SZyaKqodr7sdojOs8enqPIQr

Sumber: [3]

Saat kondisi cuaca pada suatu daerah mengalami kekeringan, dapat memicu terjadinya kebakaran
hutan. Kebakaran hutan yang terjadi secara alamiah bisa ditimbulkan akibat gesekan yang terjadi antar dedaunan yang kering, paparan panas matahari, aktivitas vulkanis, ground fire, sambaran petir, dll. Yang dapat menimbulkan percikan api. Kebakaran yang terjadi dapat berkontribusi terhadap pencemaran udara akibat dihasilkannya Asap, Karbon Monoksida (CO), dan gas gas rumah kaca lainnya yang dilepaskan ke atmosfer. Karbon yang seharusnya tersimpan dalam tanah hutan dan biomassa dilepaskan dengan tiba-tiba. Terlebih di hutan gambut, dimana lapisan tanah gambut yang kaya karbon dengan kedalamannya bisa mencapai 10 meter ikut terbakar.

3. Hewan dan tumbuhan

PmFBfmYTQLndwcEJjmR4-SHBREvY0iAd26Iix-j279FelbCa_D-WuJhFiF0HYwWvPN32Ki-flsjg4Z0XE_vd5Kdnu71v9GXdIZE_P8CKmMQIwcH5I8r7gKr4s87-OHpEp3Bijhuk

Sumber: [4]

Hasil dari proses pencernaan hewan dapat berkontribusi kepada pelepasan metana ke atmosfer yang merupakan gas rumah kaca. Di beberapa bagian bumi, tanaman seperti pohon black gum, pohon poplar, pohon ek, dan pohon willow, dalam jumlah yang signifikan mengemisikan VOC saat temperatur udara hangat. VOC ini dapat bereaksi dengan polutan antropogenik, yaitu NOx, SO2, dan senyawa-senyawa karbon yang membahayakan.

4. Geyser

WmSe17UhNCWG-rCYxMMrCv_4HOvAmC3dMU-tInMXB_3aL6gB8OBFn6U0_iENO3nzXovlI55KJpwx1Sx3nhviUXsSosH2Wv3hwWL5tS55Dzr7Fcgx-nNJBuaYygDrpOw_LdAXEnbR

Sumber: [5]

Geyser merupakan sumber mata air panas yang menyembur secara periodik, di mana geyser tersebut dapat mengeluarkan air panas dan uap air ke udara. Selain air panas, geyser juga memiliki andil sebagai salah satu sumber pencemar udara alami karena geyser dapat mengeluarkan hidrogen sulfida, arsenik maupun logam berat lainnya.

5. Peluruhan zat radioaktif

CGCE8BQAp4k4CvaGsVHJSZiWCgwIRq0DB-ND4RcIVry8j4vWD3fcZZB7IcNfcDgD_sXO0TYzCoG3b_A0ZU7JUibzfx5ifp5sZ_bFV5VL6C4u4mfRCiu9Kywjkj06iUqTvlUzN22F

Sumber: [6]

Salah satu hasil peluruhan zat radioaktif adalah gas Radon di mana gas ini akan dilepaskan ke atmosfer saat reaksi fisi berlangsung.

Sumber Pencemar Antropogenik

Sumber pencemar antropogenik adalah berbagai aktivitas manusia yang mengemisikan pencemar udara. Sumber pencemar antropogenik dapat dikelompokkan menjadi lkendaraan jalan raya, peralatan non jalan raya, k
ebakaran, pembakaran kayu, industri, pembuangan limbah, pembakaran bahan bakar fosil, p
embangkit listrik, penggunaan pelarut, debu jalan, pupuk dan ternak, dan lain-lain. 
Berikut adalah data total emisi dari berbagai sumber antropogenik berdasarkan beberapa jenis pencemar udara.

1. CO

kwYx0hh9tmEkCh6_8xiV05I5wJSSIWs7--Cz4SvrGrT7Gn4R1hTwGhd8RERTugLg9cPIflSz3VuQbiQnLi9_zcV-BY9sWDdgrjvIyhmvVUF7LEeJvygtmkqeVMq56zsR_jKt19T-

Sumber: [7]

2. NOx

8SK9NnH2x1IPLQEgsl40IdF1jwSUz00Guucox7a4D2VOpr_b4Xh5NAS4eC2g21g7pLT3r017TmZm-VGBKFLtGOLHKCv-HQWdqKcubBuiEfZCX79MrWAfMg5C8u2nXboQVjdVuCDe

Sumber: [7]

3. SOx

qaN5816pa8-z6C_TMYCPP5SOcjOr8TknMGiRRHoXmy5MObdadUhKPpJ0a1fo8gQuS9xmhkCagpSf5ekTeWrqxFuXKiTw1ukQ5olGBiMq6rib1l1DLnEYG0SdXuH8OLlNsu94ZRKB

Sumber: [7]

4. Partikulat

nlQYTi67DLO7oPucMY9kubuRaFIkQSkCLzm-0OOLy_UCPJW68MCqkwYNBP-z8vQBKD0HbhYNPbO-JNHMwXBW8LHtSjOV1vDT12PGXRjRoeUekoj76Sf6mq8vwZaPS1c8hFsAhFai

Sumber: [7]

5. Senyawa organik volatil non metana

UB_89dOYBJmQGaKwOQH6VjySGU7t0AO2kW1vYn-CEI8NS4qC0JskMktadrW-ALIvK7KHqbZsMVKd6-Et_w1MLdnFq_Sp5fOAuLNrb1aBU-bkStYpQVMj57mliiHmLqKIcJOMvDnW

Sumber: [7]

Daftar Pustaka:

  1. Anonim, (2015). Ozon, https://pencemud.wordpress.com/2015/02/26/ozon/ diunduh pada 25 Februari 2021.
  2. Fontan Jacques, (2019). Air Pollution, https://www.encyclopedie-environnement.org/en/air-en/air-pollution/ diakses pada tanggal 25 Februari 2021.
  3. Francisc Popescu and Iona Ionel, (2020). Anthropogenic Air Pollution Sources, https://www.intechopen.com/books/air-quality/anthropogenic-air-pollution-sources diakses pada tanggal 25 Februari 2021.
  4. Lampiran VII Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
  5. Sari, Ikha R. Julia., Fatkhurrahman, Januar A., (2015). Inventori Pencemaran Udara Parameter Non-Methane Hidrokarbon (NMHC) di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah, http://ejournal.kemenperin.go.id/jrtppi/article/view/1241 diunduh pada tanggal 25 Februari 2021.
  6. Samsudrajat, Agus S., (2010). Pedoman Parameter Pencemaran Udara, https://agus34drajat.files.wordpress.com/2010/10/pedoman-paramater-pencemaran-udara1.pdf diunduh pada tanggal 25 Februari 2021.
  7. The Encyclopedia of Earth,  (2013). Anthropogenic and natural air pollution emissions,  https://editors.eol.org/eoearth/wiki/Anthropogenic_and_natural_air_pollution_emissions, diunduh pada tanggal 25 Februari 2021.

Sumber Gambar:

  1. Encyclopedia of the Environment, (2019). Air Pollution, https://www.encyclopedie-environnement.org/en/air-en/air-pollution/, diunduh pada tanggal 24 Februari 2021.
  2. Avisena Ashari, (2019). Apa yang Terjadi Jika Seluruh Gunung Berapi di Dunia Meletus Bersamaan?https://bobo.grid.id/read/081917670/apa-yang-terjadi-jika-seluruh-gunung-berapi-di-dunia-meletus-bersamaan?page=all, diunduh pada tanggal 26 Februari 2021.
  3. EU Science Hub, (2018). Increased prevention efforts needed to curb the growing risk of future wildfireshttps://ec.europa.eu/jrc/en/news/increased-efforts-curb-wildfires, diunduh pada tanggal 26 Februari 2021.
  4. Iona Ordelia, (2019). Adaptasi, Hewan, atau Tumbuhan?https://www.kompasiana.com/ionaordelia/5d9a4691097f3647100b4af2/adaptasi-hewan-atau-tumbuhan?page=all, diunduh pada tanggal 26 Februari 2021.
  5. Science News for Students, (2020). Let’s learn about geysers and hydrothermal ventshttps://www.sciencenewsforstudents.org/article/lets-learn-about-geysers-and-hydrothermal-vents, diunduh pada 26 Februari 2021.
  6. Saylor Academy, (2012). Nuclear Chemistryhttps://saylordotorg.github.io/text_general-chemistry-principles-patterns-and-applications-v1.0/s24-nuclear-chemistry.html, diunduh pada 26 Februari 2021.
  7. Francisc Popescu dan Ioana Ionel, (2010). Anthropogenic Air Pollution Sourceshttps://www.intechopen.com/books/air-quality/anthropogenic-air-pollution-sources, diunduh pada 26 Februari 2021.