LEADERSHIP

leaderMenjadi pemimpin atau setidaknya menjadi orang yang dianggap sebagai panutan oleh lingkungannya, menurutku adalah obsesi setiap orang, even orang yang paling bodoh pun akan merasakan sensasi kesenangan saat dianggap sebagai panutan yang segala omongannya diikuti oleh lingkungannya. Setidaknya, seorang laki-laki normal pasti akan menjadi pemimpin bagi keluarganya.

18 tahun yang lalu, aku pernah dinasehati tentang kepemimpinan oleh seseorang yang tidak perlu aku sebutkan namanya disini, yang jelas orang itu pernah dan masih menjadi tokoh kelas nasional saat ini.

“ Semua orang pada dasarnya ingin menjadi pemimpin… tapi sayang, sebagian besar dari mereka hanya bisa menjadi seorang raja, hanya sedikiiit yang bisa jadi pemimpin sejati…” begitu kalimat pertamanya.

Mulanya aku tidak paham maksudnya, namun kemudian aku mengerti beda seorang raja dan pemimpin sejati. Raja hanya tahu cara memerintah, dilayani tanpa pernah mau mengerti rakyatnya. Sedangkan pemimpin, dia tahu cara memperlakukan orang yang dipimpinnya.

“ Pemimpin sejati itu orang yang tahu kapan dia harus stand-up, kapan dia harus speak-up, kapan dia harus shut-up dan kapan dia harus sit-down….” Begitu jelasnya kepadaku tentang arti menjadi pemimpin sejati. Aku rasa tak perlu aku jelaskan maknanya, cukup anda resapi dan maknai kata-kata itu menurut anda sendiri, itu lebih baik menurutku, karena hanya andalah yang tahu kapan waktu itu terjadi.

10 tahun berlalu semenjak nasehat itu mendengung bergema mengisi ruang kepalaku dan beresonansi di dalam sanubariku, aku mendapat kepercayaan memimpin 35 orang untuk menjadi bawahanku. Dan aku merasa telah menerapkan nasehat itu dalam pola kepemimpinanku sebaik mungkin sesuai kemampuan terbaikku.

2010, aku menyatakan mundur dan keluar dari perusahaan yang telah memberiku penghasilan selama 10 tahun, aku melihat pada diri anak buahku merasa sangat kehilangan diriku. Mulanya aku berpikir mungkin itu hanya perasaanku yang sok melankolis dan sentimentil dengan sedikit narsis. Tapi ternyata, dua bulan sejak pengunduran diriku, anak buahku datang beramai-ramai, dari yang terendah hingga yang tertinggi, dengan menaiki mobil sewaan, jauh ke rumahku yang berjarak hampir 80 km dari lokasi mereka rata-rata tinggal. Mereka memberiku banyak kenang-kenangan dengan maksud agar aku selalu mengenang kebersamaan dengan mereka.

Hal yang tidak diperoleh oleh atasan-atasan yang mundur sebelumku di departemen lain, bahkan rata-rata mereka membicarakan keburukan atasan mereka yang mundur.

Rasa haru, bangga, sedih, gembira bercampur menjadi satu dalam perasaanku. Ternyata keberadaanku sebagai pemimpin mereka juga tertanam di dalam hati para mantan bawahanku itu.

Terima kasih wahai orang yang telah menasehatiku…. Aku akan selalu berusaha untuk tahu kapan harus stand-up, speak-up, shut-up dan sit-down.

SABAR atau PENGECUT

sabarSing SABAR kuwi bakal SUBUR

             Begitulah doktrin yang diajarkan kepadaku, yang dilahirkan di keluarga yang sangat menjunjung nilai falsafah jawa, atau yang biasa disebut juga sebagai adat ketimuran, yang penuh tata krama. “Lebih baik mengalah aja tho lee….. dari pada jadi ribut, toh orang lain juga paham mana yang benar dan mana yang salah” kira-kira kalimat itu juga sering aku dengar di masa kecilku. Paham bahwa harus selalu bersabar, lebih baik mengalah demi kedamaian semua pihak, sangat tertanam di dalam jiwaku. Terkadang falsafah  jawa itu juga masih dilengkapi pula dengan nilai-nilai agama Islam yang dianut oleh keluargaku, dengan menyelipkan kisah teladan Rasulullah Muhamad S.A.W, “beliau saja waktu disakiti oleh penduduk thaif justru malah mendoakan, memohonkan agar mereka diberkati Allah…” begitu Bapakku bercerita, atau kisah saat Nabi Muhammad dimaki-maki oleh yahudi tua renta dan buta, justru Beliau yang datang setiap hari dan menyuapi dengan tangannya sendiri. Nilai jawa dan kisah teladan nabi itulah yang membentuk diriku menjadi orang yang “sabar”, setidaknya menurut penilaianku sendiri saat itu.

Sampai aku duduk di SMA kelas 3, setidaknya menurut penilaianku sendiri, aku menjadi orang yang sangat sabar. Aku lebih banyak “narimo ing pandhum”, menghindari konflik yang menurutku hanya “wasting time, wasting energy”. Terkadang jika ada konflik terjadi dalam kondisi apapun, rasanya aku selalu menjadi penengah, juru runding. Mungkin dalam perasaan narsisku, mungkin aku dianggap sebagai orang yang penuh “wisdom” oleh teman-temanku.

Si eks penghuni hotel prodeo, Hermawan Kartajaya dan Pak Ustadz

Suatu hari, kira-kira akhir tahun 1994, diatas bis yang membawaku kembali ke rumah sepulang kuliah, secara kebetulan aku duduk berdampingan dengan seorang lelaki kira-kira berumur 50an, berpakaian sederhana, tidak bagus, tapi terlihat rapi, dan beroman seorang bapak yang berpikiran sederhana tidak ’neko-neko” mengikuti konsep hidup masyarakata jawa yang “sak madyo” apa adanya. Setelah ngobrol tanpa tema yang jelas, sampailah dia bercerita kalo dirinya baru saja dibebaskan dari penjara tahanan polisi, dia bercerita kalo dituduh melakukan tindakan kriminal, yang menurutnya tidak dia lakukan, dia disiksa, digebuk agar mengakui kalo melakukan tindak kriminal yang dituduhkan para polisi itu. Namun dengan gigih dia bertahan dan melawan dengan tidak mengakui apa yang dituduhkan, meskipun badannya sebenarnya sudah tidak sanggup menerima siksaan. “Polisi itu goblok semua….. ga bisa nyari pelaku sebenarnya, trus langsung tunjuk aja… dan disiksa agar mau mengakui dan tanda tangan BAP” begitu katanya kepadaku. Mungkin cerita ini sangat sering kita dengar di era orde baru, orang dipaksa mengakui tindakan kejahatan yang tidak dilakukan dengan cara menyiksanya.

“ Sayanya kuat… eeh polisi itu njemput anak saya mas…. Anak saya yang ganti disiksa, biar saya mau tanda tangan…. Tetep saja saya ga mau mas” lanjut ceritanya.

Singkat cerita, bapak itu akhirnya dilepaskan setelah ditahan beberapa minggu, dan dia berkata lagi kepadaku, “kalo urusan begini mas…. Mau saya disiksa kaya apapun, saya bakal tetep nglawan mas…. Lha wong saya bener kok… prinsip saya, ditekan kaya apa, asal saya benar, pasti saya lawan… semut aja diinjak masih berusaha nggigit, biarpun akhirnya mati, apa lagi saya mas… yang manusia”. Kalimat terakhir tentang semut itu begitu terasa menekan ulu hatiku, dan menjadi pemikiranku terus menerus malam itu, tiba-tiba aku menghubungkan dengan “kesabaranku” selama ini. “Kenapa aku tidak pernah melawan…? Kenapa aku selalu menerima saja perlakuan yang “merendahkanku”…? Kenapa aku tidak pernah komplain..? sedangkan semut saja masih berusaha menggigit.” tanyaku dalam hati.

Tak berapa lama setelah pertemuanku dengan bapak eks tahanan itu, aku melihat siaran tentang marketing di salah satu stasiun televisi, Hermawan Kartajaya pembicaranya. Salah satu yang aku ingat benar adalah saat dia berbicara tentang konsep Customer Satisfaction.

“Pelanggan harus memperoleh pelayanan yang memuaskan…. Karena pelanggan adalah raja… jika tidak puas maka boleh komplain…. Itu hak pelanggan… dan kewajiban perusahaan untuk menerima komplain itu, demi perbaikan layanannya” kira-kira itulah yang disampaikan saat itu. Seketika itu juga aku juga berpikir kenapa aku tidak pernah komplain saat aku menerima layanan yang tidak memuaskan, hanya demi menghindari “konflik yang tidak perlu” menurutku.

Beberapa waktu berlalu, aku mengikuti suatu kajian agama dengan seorang ustadz menjadi pembicaranya, tema kajian saat itu adalah tentang sabar.

“Sabar itu adalah memilih untuk tidak menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, padahal ada kemampuan untuk menggunakannya……” begitu kata pak ustadz. Dikisahkannya tentang Rasulullah saat menerima lemparan batu dari penduduk thaif, persis seperti cerita yang aku terima saat aku kecil, “Rasulullah saat itu ditawarkan oleh Malaikat Jibril untuk dibalaskan perlakuan penduduk thaif…. Seandainya saat itu Rasulullah meng-iyakan tawaran Jibril, niscaya penduduk thaif akan musnah. Namun Rasul memilih untuk berkata tidak, dan menasehati Jibril bahwa mereka berbuat demikian karena belum tahu…. Dan Rasul pun mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dari Allah SWT” begitu lanjut cerita pak ustadz.

“itu artinya… sebenarnya Rasulullah punya kekuatan untuk membalas dan pasti menang, tapi Beliau memilih untuk tidak melakukannya…. Itulah yang namanya sabar” pak ustadz memberi kesimpulan. “ kalo disakiti orang yang gede badannya lebih dari kita, trus tidak melawan… itu namanya bukan sabar…. Lha wong kalo pun nglawan belum tentu menang” katanya sambil bercanda.

Now or Never

Pengalaman-pengalaman diatas, adalah yang benar-benar merubah gayaku, saat ini cenderung melawan “ketidakberesan dan kesewenangan” yang ada didepanku. Entah apakah yang aku lakukan ini benar atau tidak. Sebagai contoh saat aku tinggal di daerah Tanah Tinggi di Tangerang, aku pernah dipanggil “komandan” oleh para preman pasar dan terminal di daerah itu, hanya karena pada suatu ketika rumahku mendapat “perlakuan premanisme” dari para preman lokal, saat aku tidak di rumah, dan sepulangnya aku di rumah, aku datangi satu persatu, dan aku tantang si preman itu, sampai aku ketemu pentolannya, dan mereka mengakui kalo memang aku benar, teman mereka yang salah, sejak saat itu aku disegani di daerah Tanah Tinggi.

Atau saat aku mendapat perlakuan tidak adil dari suatu instansi, lalu aku maki-maki pejabatnya yang mungkin setingkat eselon 2, karena mereka begitu bebal seakan-akan aku orang bodoh yang bisa diperlakukan seenaknya karena ketidakbecusan mereka bekerja, dan keesokan paginya mereka memenuhi kewajibannya kepadaku setelah aku bilang “bapak boleh menang di kantor bapak, tapi ingat….. selangkah keluar kantor, saya pastikan bapak yang akan kalah”.

Atau ketika aku bekerja di perusahaan swasta, dan tiba-tiba Manajerku memaki aku didepan anak buahku, aku balas dengan memakinya pula dengan tidak peduli kemungkinan aku akan dipecat, karena aku merasa benar, dan memang akhirnya akulah yang benar dan manajerku meminta maaf dan mengharap aku maklum atas sifat-sifat buruknya yang mudah meledakkan kemarahan. Contoh-contoh itu tidak mungkin dan mustahil aku berani melakukan jika aku tidak “bertemu” tiga tokoh yang merubah jiwaku, sang eks penghuni tahanan polisi, Hermawan Kartajaya dan pak Ustadz.

Sekali lagi, aku belum mengerti benar, apakah dahulu aku memang seorang yang sabar atau hanya seorang pengecut…..

Dan kini pun aku juga belum mengerti benar, apakah aku sekarang telah menjadi orang yang sabar dalam arti sesungguhnya, memilih untuk tidak menggunakan kekuatan dan kekuasaan di saat aku dapat menggunakannya………..

Aku masih belajar hidup, dan selalu akan terus belajar hidup.

SING JEMBAR ATIMU, URIP BAKAL PADHANG

savanaIbuku, selalu menjadi guru kehidupan terbaikku.

Terkadang, bahkan mungkin  sering kali aku bertemu orang-orang yang tidak bisa aku mengerti apa maunya, gak jelas, bahkan mungkin terkadang menyulut emosiku. Terutama jika orang tersebut merasa sok berkuasa, padahal apa yang diperbuat dan diucapkannya adalah suatu kesalahan, setidaknya menurut nilai dan pemikiran yang aku anut dan aku yakini kebenarannya. Apalagi jika orang tersebut merasa bisa mengatur dan mempengaruhi hidupku dengan kekuasaannya.

Seperti pada ceritaku sebelumnya, aku menggambarkan diriku sebagai orang yang cukup keras, mungkin termasuk orang yang susah mengontrol emosiku jika aku merasa ditindas atau dipersalahkan, sementara aku sama sekali tidak berbuat satu kesalahan pun, setidaknya aku adalah orang yang selalu berusaha comply terhadap aturan yang berlaku dan disepakati. “Semut pun akan berusaha menggigit saat dia diinjak” kata-kata itulah aku rekam hampir dua dasa warsa yang lalu, yang sangat membekas di hatiku, dan menjadi pattern yang aku ikuti dalam menjalani kehidupanku selama ini. Menurut sebagian orang kondisi ini bernilai negatif, dan menurut pendapatku pun memang negatif, tapi aku juga merasakan dampak positifnya, sifatku itulah yang membuatku survive sejauh ini.

Ibuku.

Agaknya beliau punya pemikiran yang lain dalam menilai sifatku itu, beliau berulang kali mengatakan…

Le… pancen kita wajib membela hak kita, lan wajib menyampaikan kebenaran…. Nanging  yen carane mbela lan nyampekne kebenaran kuwi salah, yoo… panampane liyan yo bakal salah…

Intinya bahwa kebenaran itu harus disampaikan dengan cara yang benar.

Yen ono liyan kang tumindhak ra bener mring awakmu… ra sah dipikir, ibu ngerti kowe nduwe kekuatan nggo nglawan, ning… kowe bakal luwih mulyo ning ngarsaning Gusti Allah yen iso ikhlas, kuwi sing arane sabar

Maksudnya meskipun aku punya kekuatan untuk melawan, akan lebih mulia bagiku jika aku bisa ikhlas, itulah definisi sabar, mampu tapi memilih untuk tidak.

ra sah dadhi athimu, ra sah emosi, ra sah dadhi pikiranmu…. Dianggep wae pancen wong kuwi yo nyandhake mikir yo gur sak jangkah, gur sak mono pemahamane…. InsyaAllah kowe bakal iso ikhlas lan sabar

Maksudnya janganlah “kelakuan aneh” orang lain terhadapku itu menjadi hal yang memberatkan hidupku, pemikiranku dan membuatku tersulut emosi. Tanamkan dalam pikiranku bahwa orang itu memang hanya mampu berpikir se-level itu, pemahamannya tentang suatu permasalahan dangkal. Dengan begitu InsyaAllah aku akan bisa bersabar dan selalu ikhlas.

“emosi kuwi gur bakal ngrusak awak lan batinmu….

Emosi itu hanya akan merusak jiwa dan ragamu, begitu lanjut nasehat Ibuku kepadaku.

Sehingga kini, saat emosiku akan meluap tumpah ruah membanjiri jiwaku, memori akan nasehat-nasehat itulah yang dapat mengerem gejolak jiwaku untuk tidak meledak sekaligus belajar untuk ikhlas dan bersabar

Kini aku menambahkan satu lagi elemen pengereman, yaitu dengan menambahkan rasa belas kasihan terhadap orang yang “berkelakuan aneh” terhadapku, semisal kepada orang yang suka menuduhku untuk hal-hal aneh, mencuri misalnya. aku berusaha menanamkan pada jiwaku, “kasihan sekali orang itu, mungkin dia terbiasa mencuri, sehingga sekarang selalu merasa curiga kalo sesuatu telah dicuri dari dirinya”. Atau kepada orang yang memarahiku untuk alasan yang tak jelas, aku tanamkan pada jiwaku, “kasihan sekali orang itu, mungkin dulu dia terbiasa dimarahi oleh orang tuanya, sehingga sekarang dia menganggap kalo masalah bisa selesai dengan kemarahan”.

Dan alhamdulillah dengan begitu aku merasa hidupku terasa lebih indah, dunia lebih cerah dan tiada kesulitan tanpa jalan keluar karena sebenarnya hidup itu mudah.

Sing jembar atimu yo le…. Uripmu bakal padhang

Berlapangdadalah duhai anakku…. Hidupmu akan lebih terang.

Ibuku yang selalu menjadi guru kehidupan terbaikku.

LELALEDUNG

Purnama

Tak Lelaaa…lelaa.lelaaa..leeedung….. (nina bobo ooh nina bobo …. – terjemahan bebas)

Chep meneeng, aja pijer nangis….      ( diamlah, jangan menangis terus… -terjemahan bebas)

……………………………………………………..

Tembang Jawa untuk meninabobokan, yang selalu dilantunkan oleh Ibuku untukku setiap malam dengan penuh kasih sayang, sembari tangannya memukul lembut pantatku, agar aku segera tertidur, terkadang tiba-tiba suara tembang tidak terdengar lagi dan tangan Beliau sudah tidak memukul lembut pantatku lagi, ternyata Beliau telah tertidur lebih dulu, sementara aku belum juga tertidur.Begitulah sedikit kilatan yang aku ingat ketika aku kecil, begitu penuh sayangnya Ibuku kepadaku.

…………………………………………

Tak Gadhaang… bisa urip mulya… (Kutimang dirimu, agar kelak bisa hidup dalam kemuliaan)

Dhadhiooo… satrio utomo…           (Menjadi kesatria pilihan)

Ngluhurke Asmane wong tuwo…..  (yang akan membanggakan dan mengharumkan nama orang tua)

…………………………………………..

Begitulah do’a dan pengharapan kedua orang tuaku yang dipanjatkan lewat tembang jawa yang dilantunkan setiap malam. Tanpa sadar tembang itu begitu membekas dalam benakku, tanpa aku harus berusah menghafal, bait-bait syairnya seakan tertulis di prasasti hatiku yang tak akan terhapus selamanya. Dan syair itu juga menjadi renewable energy resource yang selalu mensuplai semangat dan kekuatan bagi diriku untuk selalu berusaha meraih yang terbaik.

Sampai sejauh ini perjalanan hidupku, aku merasa masih belum dapat membahagiakan kedua orang tuaku dengan maksimal, entahlah… apakah aku sudah cukup membanggakan dan mengharumkan nama orang tuaku atau tidak, aku tidak pernah menanyakan kepada Beliau berdua, mungkin ada rasa kecewa, gundah dan sedih dalam hatiku karena perasaan itu. Tapi dengan bait syair berikutnya seakan Ibuku menghiburku akan perasaanku itu, seolah melarangku untuk kecewa dan menjadi sedih….

…………………………………………

Wis chep menengo anakku…. (sudahlah tak perlu menangis dan kecewa duhai annakku – terjemahan bebas)

Kae.. mBulane ndhadhari… (lihatlah bulan purnama bersinar terang– terjemahan bebas)

Koyo… Buto ngGegirisi… (seperti mata raksasa yang menakutkan – terjemahan bebas)

Lagi…ngGoleki cah nangis (yang sedang mencari anak yang menangis untuk ditangkap – terjemahan bebas)

……………………………………………..

Ibu… memang kasih sayangmu akan selalu terasa hingga hayatku masih dikandung badan.

Terima kasih Ibu….

KINOI

imagesKinoi…

Begitulah ku beri nama kucingku sewaktu aku masih SD, warna hitam, abu-abu dan putih menghiasi  bulunya, kutemukan saat perjalananku sepulang sekolah, keciiil dan lemah, paling baru berumur beberapa minggu, mengeong di pinggiran jalan. Kubawa pulang dengan memasukkan ke dalam tas plastik hitam. Kuberi susu dan madu selama beberapa minggu, setelah badannya nampak kuat, baru aku beri nasi dan ikan pindang yang dicampur menjadi satu.

Kinoiiiii…..

Begitu teriakku, setiap memanggilnya untuk memberi makan. Dan segera saja ia menuju ke salah satu sudut dapur, tempatnya makan, meskipun aku masih di ruang tamu, ia sudah lari terlebih dahulu menungguku di sana, seolah ia sudah tahu dimana ruang makannya. Disana sudah tersedia sebuah piring plastik kosong yang siap aku isi dengan adonan nasi dan ikan pindang kesenangannya. Begitu aku tuang, segera saja ia dengan lahap menyantap jatah makannya.

Kinoi…. Ngapain sih kamu..

Begitu candaku dengannya, karena setiap kali melihat aku tidur, segera saja dia “ndusel-ndusel” di antara kedua kakiku yang membuatku kegelian, bahkan terkadang tahu-tahu sudah menggulung badannya di atas dadaku kalau aku sedang terlentang, atau di atas punggungku saat aku sedang tengkurap.

Kinoiiiiiii…..

Teriakku di depan rumah, ketika mencari kucingku, dan jangan ditanya kesetiaan kucingku jika aku panggil. Pasti dia dengan segera akan muncul sambil berlari menghampiriku. Bahkan saat dia sedang asyik menggoda kucing-kucing betina di komplek, aku panggil pun dia akan segera datang, dan mengitari kakiku sambil mengeong seakan minta disayang.

Sekali lagi masalah kesetiaan, jangan bertanya kepada kucingku, biarpun hanya mengeong tapi dia berhasil menunjukkan perasaannya pada keluargaku. Saat tikus merajalela, setiap malam dia berburu, namun dia tidak pernah memakannya, dia kumpulkan hasil buruannya di salah satu sudut rumah dekat kamar mandi, seolah dia ingin menunjukkan kesetiaannya dengan ikut berperan dalam keluargaku, seolah dia ingin berkata “ aku adalah bagian keluarga ini…”.

Kinoiii….

Aku hanya bisa menggumam lirih saat mendengar kabar kematiannya. Bukan kematiannya yang membuatku sedih, tapi proses menuju kematiannya itulah yang membuatku belajar memaknai arti kesetiaan. Saat itu, aku sudah berkuliah di luar kota, dan saat itu kedua orang tuaku harus di luar kota pula untuk mengawasi pembangunan rumah dalam rangka mempersiapkan masa pensiun. Rumah dan kucingku dititipkan ke salah satu tetangga, sebut saja Mas Amir, yang kebetulan memang tidak punya pekerjaan, jadi dia dibayar untuk merawat rumah dan kucing selama ditinggal pergi, dengan terlebih dahulu diajari bagaimana kebiasaan si Kinoi kucingku. Saat aku “ngobrol” mendengarkan cerita darinya, dia bercerita kalo pada minggu pertama kucingku masih belum merasa kalo ditinggal “tuannya” pergi, sehingga dia masih asyik saja melahap makanannya di jam makannya. Namun pada minggu kedua, mungkin dia mulai merasakan kesepian, sehingga dia sering mengeong mengelilingi rumah, melihat ke setiap ruangan satu persatu, seakan mencari anggota keluarga yang lain. sampai akhirnya di minggu ketiga dia benar-benar tidak mau menyentuh makanannya. Kata Mas Amir “si Kinoi hanya tidur meringkuk di keset kesayangannya, sambil menangis, air matanya keluar….”.

Sampai akhirnya setelah tidak makan beberapa hari, saat Mas Amir akan memberi makan untuk yang kesekian kalinya, si Kinoi sudah tidak bergerak, tetap meringkuk di keset kesayangannya. Kinoi telah mati, membawa kesetiaannya kepada kami selamanya. Tersirat penyesalan di perasaanku, begitu juga ibuku, kenapa Kinoi tidak dibawa saja. Tapi semuanya telah terjadi.

Sekarang….

Pelajaran dari Kinoi tentang arti kesetiaan, benar-benar membekas di hatiku, bahwa kita memang harus memegang teguh kesetiaan itu. Karena hanya kesetiaan jualah yang akan dikenang selamanya saat kita telah tidak ada di dunia ini. Lihat saja para pahlawan, mereka dikenang karena kesetiaan kepada bangsanya. Para penemu, mereka dikenang karena kesetiaannya kepada ilmu. Para suami yang baik, mereka dikenang karena kesetiaannya kepada keluarganya. Dan si Kinoi, kami sekeluarga kenang karena kesetiaannya kepada kami. Aku pun ingin dikenang karena kesetiaanku. Kesetiaan membuat kita abadi dalam kenangan orang-orang yang nanti akan kita tinggalkan…….

Keep The Faith……

KESUKSESAN dan KEBAHAGIAAN

FREKWENSI BERGESER

 Kisah ini terjadi sekitar 2008-2009, saat aku sedang mengikuti audit ISO/TS 16949 untuk sertifikasi perusahaan tempatku bekerja, kebetulan aku adalah salah satu anggota tim yang ditugasi meng-establish-kan ISO/TS 16949 di perusahaan, sehingga sepanjang waktu harus mendampingi para auditee menjawab pertanyaan auditor. Hingga sampailah pada pergantian departemen yang harus diaudit, dari Departemen Engineering ke Departemen Produksi, sambil menunggu kedatangan personil Departemen Produksi, aku bersama beberapa orang teman ngobrol bareng “ngalor-ngidul” bersama dengan auditor, Danang Widoyoko namanya. Sampai akhirnya aku ditanya Pak Danang “Pak Budi tinggal dimana?”, aku pun menjawab “Depok Pak… lumayan… saya terjauh nomor 1 di perusahaan ini, hehehe…”.

Pak Danang pun dengan rasa ingin tahu bertanya lagi “Berangkat jam berapa dari rumah?”, aku jawab dengan lebih lengkap “yaaa… jam 5an, pulang normal sampai rumah jam 9 malam… kalo lagi ada masalah yaaa bisa sampai jam 1 malam… hehehe”.

Dengan antusias dan bercanda Pak Danang menimpali “Buseet… wah kalo gitu sambil nunggu orang Produksi, kita audit aja hidupnya Pak Budi yuuk….” Begitu ujarnya seraya tertawa girang bersama temanku yang lain. setelah melontarkan beberapa pertanyaan mencari data terhadapku dan melakukan perhitungan matematika sederhana dengan kalkulatornya, Pak Danang mengungkapkan kesimpulannya “Berarti Pak Budi ini setiap hari 7 jam berada di jalan, 11 jam di kantor, sisanya 6 jam di rumah… itu pun untuk tidur, artinya 75% bahkan bisa lebih, waktu Pak Budi ada diluar rumah… lha terus kapan ketemu anak-anaknya… jangan-jangan ibunya anak-anak dianggurin doang… hahahaha”. Meskipun saat itu aku menanggapi dengan tertawa, sebenarnya kata-kata itu cukup membuat bergeser frekwensi dalam kepalaku.

Beberapa hari kemudian aku berangkat ke kantor seperti biasa jam 5 pagi dengan menyetir mobil kesayanganku, dan seperti biasa pula aku mendengarkan ceramah Aa Gym dari radio. Tema ceramah saat itu tentang rezeki dari Allah. Kata-kata yang aku ingat adalah saat Beliau mengutip salah satu hadits yang menyatakan bahwa Allah menyediakan 13 pintu rezeki, dan 12 pintu itu adalah dari perniagaan atau wirausaha, sedangkan 1 pintu dari yang lain seperti menjadi pegawai, guru. “namun kenapa kebanyakan dari kita sibuk memperebutkan yang 1 pintu dan mengabaikan 12 pintu yang lain..? padahal dengan 12 pintu perniagaan itu kita bisa membuka lapangan kerja untuk membantu orang lain, waktu kita berkumpul dengan keluarga lebih banyak, waktu untuk beribadah lebih banyak karena kita tidak terikat oleh aturan perusahaan..” begitu lanjut Aa Gym. Kata-kata itu benar-benar semakin menggeser frekwensi dalam kepalaku yang sebelumnya juga sudah sedikit digeser oleh hasil audit Pak Danang.

Masih pada bulan yang sama, mungkin karena aku dituntun oleh Allah, aku berkenalan dengan seorang wirausahawan yang baru beranjak merintis bisnisnya, Rangga namanya, usahanya sudah cukup terkenal saat ini, Pecel Lele Lela. Saat itu katanya dia baru punya 3 warung, yang sekarang telah berkembang menjadi 45 cabang. Dia bercerita kepadaku bahwa dia sebelumnya adalah seorang karyawan, memutuskan resign dan membangun usaha, “enak begini pak, kita mengatur diri sendiri, dan masih bisa ternak teri…” begitu katanya. “ternak teri..?” tanyaku penuh kebingungan. “iya..nganter anak dan nganter istri.. hehehe” jawabnya dengan tertawa. Kata-kata itu menggeser untuk yang ketiga kalinya frekwensi di kepalaku, ibarat radio yang sebelumnya sudah tune-in pada suatu stasiun yang selalu mendendangkan lagu-lagu dangdut melayu yang membuatku merasa nyaman bergoyang mengikuti irama, sekarang berpindah pada frekwensi tidak jelas yang penuh suara “kemeresek” penuh derau yang membuatku tidak nyaman dan pusing kepala.

WHAT ABOUT ME….

Saat itu aku adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan yang menjadi incaran para lulusan perguruan tinggi, dan aku pun sudah bekerja selama 9 tahun, dengan posisi yang lumayan, tidak begitu bagus namun juga tidak mengecewakan, aku memiliki beberapa orang staff dan beberapa puluh anak buah dibawahnya, pendapatanku dari perusahaan juga tidak mengecewakan, cukup untuk mengajak keluargaku jalan-jalan keluar kota tiap minggu, menginap di hotel yang cukup bagus serta makan di restoran yang lumayan cozy juga. Belum lagi dengan bonus akhir tahun yang bisa mencapai 6-10 kali gaji, membuat hidupku lumayan berkecukupan secara materi. Ditambah lagi fasilitas kesehatan 100% di kelas 1 pada rumah sakit yang terbilang kelas atas di area Jabodetabek, juga membuatku tidak perlu pusing memikirkan biaya kesehatan jika anak-istriku sakit.

Seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya tentang hasil audit Pak Danang terhadap hidupku, lebih dari 75% hidupku ada diluar rumah, aku berangkat kerja saat anak-anakku masih terlelap dan aku pulang juga saat mereka telah terlelap pula, waktu ngobrol dengan istriku pun hanya sedikit karena aku akan segera terlelap kecapekan bekerja seharian, ditambah lagi handphone yang setiap saat siap berdering menerima panggilan dari perusahaan jika ada masalah, bisa jadi dari anak buahku yang bekerja 3 shift, ataupun dari atasanku, seakan semakin mengurangi waktuku untuk diriku sendiri dan keluargaku yang tinggal kurang dari 25% itu.

FORMASI BUAH SALAK

Aku lahir dan dibesarkan di keluarga yang sangat religius dan hangat suasana kekeluargaannya, Bapakku sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, terutama yang berkaitan dengan agama. Kami, aku dan kakak-kakakku diwajibkan sholat berjamaah maghrib di rumah dengan Bapakku sebagai imam, setelah berdzikir dan berdoa bersama, kita sekeluarga akan mengaji al-qur’an,  bagi yang belum lancar, menjadi tanggung jawab Ibuku untuk membimbingnya. Setelah itu dengan masih duduk diatas sajadah dan tikar pandan, biasanya kita duduk-duduk ngobrol “ngalor-ngidul” sambil duduk saling bersandar, “formasi buah salak” begitu Ibuku menyebutnya, karena kita sekeluarga duduk berdempetan saling bersandar persis seperti buah salak yang telah dikupas, dalam obrolan itu sesekali disisipi nasehat-nasehat ringan yang dulu mungkin aku tidak menyadarinya. Kemudian dilanjutkan dengan sholat isya’ dan malam kebersamaan itu ditutup dengan makan bersama, begitu setiap hari yang dilalui keluargaku. Besok paginya kita semua berangkat beraktifitas bersama-sama, Bapakku berangkat kerja setelah dijemput sopir kantor, aku diantar Ibuku sekolah sembari menitipkan dagangan ke kantin dan warung, siang hari Ibuku kembali menjemputku sembari mengambil sisa dagangan yang dititipkan. Beberapa jam kemudian Bapakku pulang kerja, dan rutinitas keluarga berulang.

Cara Orang tuaku membangun kehidupan keluarga sangat membekas dalam otakku, masih terbayang kegembiraanku saat diantar ke sekolah dengan naik motor merah yamaha 75, hangatnya hubungan antara orang tua dan anak saat kami ngobrol sembari menunggu saat sholat isya’ dalam formasi buah salak dan ramainya suasana saat menyiapkan makan malam bersama dalam satu meja, yang diselingi dengan obrolan ringan cerita kejadian hari itu.

KALIBRASI ULANG MAKNA SUKSES DAN BAHAGIA

Bagi sebagian besar kita, termasuk aku saat usia belasan hingga under thirty, mendefinisikan kesuksesan dan kebahagiaan mungkin hampir sama. Yaitu sukses didefinisikan dengan bisa bekerja di perusahaan bonafit, mempunyai jabatan yang lumayan, punya mobil pribadi yang lumayan berkelas (bukan yang paling murah), punya rumah pribadi (tidak ngontrak lagi) dan lain sebagainya yang berkaitan dengan berkelimpahan materi. Sedangkan kebahagiaan didefinisikan dengan bisa bepergian ke luar negeri, bisa liburan sekeluarga di tempat wisata terkenal, bisa mengajak keluarga bersenang-senang di tempat mahal dan lain sebagainya. Dan bukan aku mau menyombongkan diri, aku sudah pernah merasakan semua itu.

Namun tiga rangkaian peristiwa yang telah aku ceritakan di paragaraf-paragraf awal benar-benar telah menggeser frekwensiku, membuatku bertanya pada diriku sendiri “is this what you want..? what kind of life do you want..?”. Aku mulai menghitung secara matematis keuntungan yang aku peroleh dan kerugian yang harus aku tanggung dalam hidupku, yang berujung pada pendefinisian ulang makna kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Aku ingin anak-anakku  merasakan suasana kekeluargaan yang aku rasakan saat aku kecil, aku ingin mereka juga mengenal “formasi buah salak”, aku ingin menjadi imam bagi keluarga kecilku, aku ingin mengajari mereka berdoa dan mengaji, aku ingin mereka gembira saat aku antar ke sekolah, aku ingin melihat mereka melambaikan tangan saat kutinggalkan halaman sekolah. Semua hal itu mustahil aku raih jika masih mempertahankan pekerjaanku saat itu. Berat memang memutuskan, tapi kesimpulanku waktu yang berlalu tak akan bisa kembali lagi, dan itu jauh lebih berharga dari materi yang aku dapat.

Aku memutuskan harus mengkalibrasi ulang otakku dalam mendefinisikan makna sukses dan bahagia. Kesuksesan dan kebahagian aku maknai dengan keberhasilanku membangun keluarga yang penuh kehangatan dan kebersamaan, keberhasilanku mendidik keluargaku dengan nilai-nilai agama, secara sederhana adalah menghadirkan masa kecilku bagi anak-anakku, agar mereka merasakan apa yang aku rasakan dahulu.

Akhirnya dengan keputusanku itu, aku belajar berdagang setiap hari sabtu dan minggu di Pasar Kemiri Muka Depok, dengan harapan aku akan mahir dan siap untuk resign pada akhir tahun 2009, ternyata Allah berkehendak lain, bulan September dibuka lowongan Pegawai Negeri Sipil di Arsip Nasional Republik Indonesia, dengan batasan umur 35 tahun, saat itu aku berumur 34 tahun dan sudah tidak berharap ada lowongan PNS dengan batas umur lebih dari itu (karena pada tahun sebelumnya batasan umur PNS pusat selalu 30 tahun). Dan aku pun berusaha keras mempersiapkan ujian seleksi masuk, setiap hari selama 3 minggu aku belajar giat hingga dini hari, dengan sedikit menelantarkan pekerjaanku dengan cara mendelegasikan ke staf-stafku agar aku tidak terlalu capek bekerja di siang hari dan dapat belajar di malam hari. Akhirnya aku diterima menjadi PNS, serta punya kegiatan tetap bersama anak dan istriku berdagang setiap hari minggu di Pasar Kemiri Muka Depok.

Singkat cerita, setelah aku menjadi PNS dengan jarak kantor dari rumah sangat dekat, aku bisa berangkat dari rumah jam 7.30 dan sampai di rumah sekitar jam 16.30, aku punya banyak waktu bagi Tuhanku dan keluargaku, kini aku bisa menghadirkan suasana keluarga di masa kecilku kepada anak dan istriku, aku bisa menjadi imam bagi mereka, mengajar mengaji mereka, mengantar sekolah mereka, berdoa bersama setelah sholat maghrib berjamaah dan memperkenalkan formasi buah salak pada mereka. Meskipun dari sisi pendapatan dan kesejahteraan materi sangat jauh dari yang aku peroleh dari pekerjaan sebelumnya, tapi justru di kondisi inilah aku merasakan kesuksesan dan kebahagiaan hidup, materi bisa kita cari dengan cara lain, begitu tekadku dan istriku. Satu pelajaran yang dapat aku simpulkan, “Kesuksesan dan kebahagiaan tidak linier dengan materi”, serta “tidak semua bisa dibeli dengan uang”, “waktu bersama keluarga lebih berharga karena masa kecil anakku tidak akan pernah bisa kembali”.

 

Terima kasih buat Santi istriku tersayang

Chacha, Nana dan Dinda bidadari kecilku yang menawan

Selalu bersama kalian, membuat beban hidup terasa ringan

Menjalani kehidupan dengan ikhlas kunci kebahagiaan

Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhan seru sekalian alam

 

(KBS23512091)

GANESHA Kembali SEGAAR…..

AKhirnya…. Kawasan Ganesha diguyur hujan…. segaar, daun pepohonan seperti dicuci bersih, warna hijaunya terlihat segaaar. tanaman berbunga terlihat lebih indah, bagaikan seorang gadis cantik yang sedang tersenyum…. (lebay.com  hehehe)

sepertinya malam ini udara di kawasan dago akan terasa lebih dingin dari biasanya, sarung kotak-kotakku yang mirip baju kampanye Jokowi yang memenangkan Pilkada DKI itu akan sangat berguna untuk menangkal hawa dingin.

Segaaaar…. tugas-tugas paper sudah selesai, bisa pulang kembali ke Jakarta dengan plong, how a nice day…. Segaaar, hujan turun , tugas selesai… sungguh kombinasi yang indah.

SEPARUH NAFAS…..

Teringat satu bait lagu yg akrab di telinga anak muda Indonesia

“…. separuh nafaskuu.. pergi….” itulah sepertinya yang sedang saya rasakan saat ini…….

kurang dari 12 jam setelah semua tugas paper bisa saya selesaikan…. eeeeh tepat jam 16.30WIB hari ini sudah dikasih tugas paper yang baru lagi……. serasa terlupa untuk bernafas sesaat (lebay.com) hehehehe….

Kali ini tugas paper tentang “Smart City Concept”… hmmmm sounds good (sambil garuk2 kebingungan)….. apa pula tuuuh..????

demi segalanya, akhirnya saya putuskan untuk “nongkrong” di perpustakaan pusat buat searching materi paper di internet, bukan karena sok sibuk or sok intelek kutu buku bahkan mungkin kutu kupret….. ini semata2 karena koneksi internet di kos-an gak bisa diharapkan….

fiuuuuuh…. smoga smuanya tetep lancar on the track, sehingga saya tak perlu mendendangkan bait lagu yang lain….. “…. tugaaas iniiiii… membunuhkuuu…”

Ganeca – Perpus Pusat – 17 Sept 2012 – 17.20WIB