KESUKSESAN dan KEBAHAGIAAN

FREKWENSI BERGESER

 Kisah ini terjadi sekitar 2008-2009, saat aku sedang mengikuti audit ISO/TS 16949 untuk sertifikasi perusahaan tempatku bekerja, kebetulan aku adalah salah satu anggota tim yang ditugasi meng-establish-kan ISO/TS 16949 di perusahaan, sehingga sepanjang waktu harus mendampingi para auditee menjawab pertanyaan auditor. Hingga sampailah pada pergantian departemen yang harus diaudit, dari Departemen Engineering ke Departemen Produksi, sambil menunggu kedatangan personil Departemen Produksi, aku bersama beberapa orang teman ngobrol bareng “ngalor-ngidul” bersama dengan auditor, Danang Widoyoko namanya. Sampai akhirnya aku ditanya Pak Danang “Pak Budi tinggal dimana?”, aku pun menjawab “Depok Pak… lumayan… saya terjauh nomor 1 di perusahaan ini, hehehe…”.

Pak Danang pun dengan rasa ingin tahu bertanya lagi “Berangkat jam berapa dari rumah?”, aku jawab dengan lebih lengkap “yaaa… jam 5an, pulang normal sampai rumah jam 9 malam… kalo lagi ada masalah yaaa bisa sampai jam 1 malam… hehehe”.

Dengan antusias dan bercanda Pak Danang menimpali “Buseet… wah kalo gitu sambil nunggu orang Produksi, kita audit aja hidupnya Pak Budi yuuk….” Begitu ujarnya seraya tertawa girang bersama temanku yang lain. setelah melontarkan beberapa pertanyaan mencari data terhadapku dan melakukan perhitungan matematika sederhana dengan kalkulatornya, Pak Danang mengungkapkan kesimpulannya “Berarti Pak Budi ini setiap hari 7 jam berada di jalan, 11 jam di kantor, sisanya 6 jam di rumah… itu pun untuk tidur, artinya 75% bahkan bisa lebih, waktu Pak Budi ada diluar rumah… lha terus kapan ketemu anak-anaknya… jangan-jangan ibunya anak-anak dianggurin doang… hahahaha”. Meskipun saat itu aku menanggapi dengan tertawa, sebenarnya kata-kata itu cukup membuat bergeser frekwensi dalam kepalaku.

Beberapa hari kemudian aku berangkat ke kantor seperti biasa jam 5 pagi dengan menyetir mobil kesayanganku, dan seperti biasa pula aku mendengarkan ceramah Aa Gym dari radio. Tema ceramah saat itu tentang rezeki dari Allah. Kata-kata yang aku ingat adalah saat Beliau mengutip salah satu hadits yang menyatakan bahwa Allah menyediakan 13 pintu rezeki, dan 12 pintu itu adalah dari perniagaan atau wirausaha, sedangkan 1 pintu dari yang lain seperti menjadi pegawai, guru. “namun kenapa kebanyakan dari kita sibuk memperebutkan yang 1 pintu dan mengabaikan 12 pintu yang lain..? padahal dengan 12 pintu perniagaan itu kita bisa membuka lapangan kerja untuk membantu orang lain, waktu kita berkumpul dengan keluarga lebih banyak, waktu untuk beribadah lebih banyak karena kita tidak terikat oleh aturan perusahaan..” begitu lanjut Aa Gym. Kata-kata itu benar-benar semakin menggeser frekwensi dalam kepalaku yang sebelumnya juga sudah sedikit digeser oleh hasil audit Pak Danang.

Masih pada bulan yang sama, mungkin karena aku dituntun oleh Allah, aku berkenalan dengan seorang wirausahawan yang baru beranjak merintis bisnisnya, Rangga namanya, usahanya sudah cukup terkenal saat ini, Pecel Lele Lela. Saat itu katanya dia baru punya 3 warung, yang sekarang telah berkembang menjadi 45 cabang. Dia bercerita kepadaku bahwa dia sebelumnya adalah seorang karyawan, memutuskan resign dan membangun usaha, “enak begini pak, kita mengatur diri sendiri, dan masih bisa ternak teri…” begitu katanya. “ternak teri..?” tanyaku penuh kebingungan. “iya..nganter anak dan nganter istri.. hehehe” jawabnya dengan tertawa. Kata-kata itu menggeser untuk yang ketiga kalinya frekwensi di kepalaku, ibarat radio yang sebelumnya sudah tune-in pada suatu stasiun yang selalu mendendangkan lagu-lagu dangdut melayu yang membuatku merasa nyaman bergoyang mengikuti irama, sekarang berpindah pada frekwensi tidak jelas yang penuh suara “kemeresek” penuh derau yang membuatku tidak nyaman dan pusing kepala.

WHAT ABOUT ME….

Saat itu aku adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan yang menjadi incaran para lulusan perguruan tinggi, dan aku pun sudah bekerja selama 9 tahun, dengan posisi yang lumayan, tidak begitu bagus namun juga tidak mengecewakan, aku memiliki beberapa orang staff dan beberapa puluh anak buah dibawahnya, pendapatanku dari perusahaan juga tidak mengecewakan, cukup untuk mengajak keluargaku jalan-jalan keluar kota tiap minggu, menginap di hotel yang cukup bagus serta makan di restoran yang lumayan cozy juga. Belum lagi dengan bonus akhir tahun yang bisa mencapai 6-10 kali gaji, membuat hidupku lumayan berkecukupan secara materi. Ditambah lagi fasilitas kesehatan 100% di kelas 1 pada rumah sakit yang terbilang kelas atas di area Jabodetabek, juga membuatku tidak perlu pusing memikirkan biaya kesehatan jika anak-istriku sakit.

Seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya tentang hasil audit Pak Danang terhadap hidupku, lebih dari 75% hidupku ada diluar rumah, aku berangkat kerja saat anak-anakku masih terlelap dan aku pulang juga saat mereka telah terlelap pula, waktu ngobrol dengan istriku pun hanya sedikit karena aku akan segera terlelap kecapekan bekerja seharian, ditambah lagi handphone yang setiap saat siap berdering menerima panggilan dari perusahaan jika ada masalah, bisa jadi dari anak buahku yang bekerja 3 shift, ataupun dari atasanku, seakan semakin mengurangi waktuku untuk diriku sendiri dan keluargaku yang tinggal kurang dari 25% itu.

FORMASI BUAH SALAK

Aku lahir dan dibesarkan di keluarga yang sangat religius dan hangat suasana kekeluargaannya, Bapakku sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, terutama yang berkaitan dengan agama. Kami, aku dan kakak-kakakku diwajibkan sholat berjamaah maghrib di rumah dengan Bapakku sebagai imam, setelah berdzikir dan berdoa bersama, kita sekeluarga akan mengaji al-qur’an,  bagi yang belum lancar, menjadi tanggung jawab Ibuku untuk membimbingnya. Setelah itu dengan masih duduk diatas sajadah dan tikar pandan, biasanya kita duduk-duduk ngobrol “ngalor-ngidul” sambil duduk saling bersandar, “formasi buah salak” begitu Ibuku menyebutnya, karena kita sekeluarga duduk berdempetan saling bersandar persis seperti buah salak yang telah dikupas, dalam obrolan itu sesekali disisipi nasehat-nasehat ringan yang dulu mungkin aku tidak menyadarinya. Kemudian dilanjutkan dengan sholat isya’ dan malam kebersamaan itu ditutup dengan makan bersama, begitu setiap hari yang dilalui keluargaku. Besok paginya kita semua berangkat beraktifitas bersama-sama, Bapakku berangkat kerja setelah dijemput sopir kantor, aku diantar Ibuku sekolah sembari menitipkan dagangan ke kantin dan warung, siang hari Ibuku kembali menjemputku sembari mengambil sisa dagangan yang dititipkan. Beberapa jam kemudian Bapakku pulang kerja, dan rutinitas keluarga berulang.

Cara Orang tuaku membangun kehidupan keluarga sangat membekas dalam otakku, masih terbayang kegembiraanku saat diantar ke sekolah dengan naik motor merah yamaha 75, hangatnya hubungan antara orang tua dan anak saat kami ngobrol sembari menunggu saat sholat isya’ dalam formasi buah salak dan ramainya suasana saat menyiapkan makan malam bersama dalam satu meja, yang diselingi dengan obrolan ringan cerita kejadian hari itu.

KALIBRASI ULANG MAKNA SUKSES DAN BAHAGIA

Bagi sebagian besar kita, termasuk aku saat usia belasan hingga under thirty, mendefinisikan kesuksesan dan kebahagiaan mungkin hampir sama. Yaitu sukses didefinisikan dengan bisa bekerja di perusahaan bonafit, mempunyai jabatan yang lumayan, punya mobil pribadi yang lumayan berkelas (bukan yang paling murah), punya rumah pribadi (tidak ngontrak lagi) dan lain sebagainya yang berkaitan dengan berkelimpahan materi. Sedangkan kebahagiaan didefinisikan dengan bisa bepergian ke luar negeri, bisa liburan sekeluarga di tempat wisata terkenal, bisa mengajak keluarga bersenang-senang di tempat mahal dan lain sebagainya. Dan bukan aku mau menyombongkan diri, aku sudah pernah merasakan semua itu.

Namun tiga rangkaian peristiwa yang telah aku ceritakan di paragaraf-paragraf awal benar-benar telah menggeser frekwensiku, membuatku bertanya pada diriku sendiri “is this what you want..? what kind of life do you want..?”. Aku mulai menghitung secara matematis keuntungan yang aku peroleh dan kerugian yang harus aku tanggung dalam hidupku, yang berujung pada pendefinisian ulang makna kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Aku ingin anak-anakku  merasakan suasana kekeluargaan yang aku rasakan saat aku kecil, aku ingin mereka juga mengenal “formasi buah salak”, aku ingin menjadi imam bagi keluarga kecilku, aku ingin mengajari mereka berdoa dan mengaji, aku ingin mereka gembira saat aku antar ke sekolah, aku ingin melihat mereka melambaikan tangan saat kutinggalkan halaman sekolah. Semua hal itu mustahil aku raih jika masih mempertahankan pekerjaanku saat itu. Berat memang memutuskan, tapi kesimpulanku waktu yang berlalu tak akan bisa kembali lagi, dan itu jauh lebih berharga dari materi yang aku dapat.

Aku memutuskan harus mengkalibrasi ulang otakku dalam mendefinisikan makna sukses dan bahagia. Kesuksesan dan kebahagian aku maknai dengan keberhasilanku membangun keluarga yang penuh kehangatan dan kebersamaan, keberhasilanku mendidik keluargaku dengan nilai-nilai agama, secara sederhana adalah menghadirkan masa kecilku bagi anak-anakku, agar mereka merasakan apa yang aku rasakan dahulu.

Akhirnya dengan keputusanku itu, aku belajar berdagang setiap hari sabtu dan minggu di Pasar Kemiri Muka Depok, dengan harapan aku akan mahir dan siap untuk resign pada akhir tahun 2009, ternyata Allah berkehendak lain, bulan September dibuka lowongan Pegawai Negeri Sipil di Arsip Nasional Republik Indonesia, dengan batasan umur 35 tahun, saat itu aku berumur 34 tahun dan sudah tidak berharap ada lowongan PNS dengan batas umur lebih dari itu (karena pada tahun sebelumnya batasan umur PNS pusat selalu 30 tahun). Dan aku pun berusaha keras mempersiapkan ujian seleksi masuk, setiap hari selama 3 minggu aku belajar giat hingga dini hari, dengan sedikit menelantarkan pekerjaanku dengan cara mendelegasikan ke staf-stafku agar aku tidak terlalu capek bekerja di siang hari dan dapat belajar di malam hari. Akhirnya aku diterima menjadi PNS, serta punya kegiatan tetap bersama anak dan istriku berdagang setiap hari minggu di Pasar Kemiri Muka Depok.

Singkat cerita, setelah aku menjadi PNS dengan jarak kantor dari rumah sangat dekat, aku bisa berangkat dari rumah jam 7.30 dan sampai di rumah sekitar jam 16.30, aku punya banyak waktu bagi Tuhanku dan keluargaku, kini aku bisa menghadirkan suasana keluarga di masa kecilku kepada anak dan istriku, aku bisa menjadi imam bagi mereka, mengajar mengaji mereka, mengantar sekolah mereka, berdoa bersama setelah sholat maghrib berjamaah dan memperkenalkan formasi buah salak pada mereka. Meskipun dari sisi pendapatan dan kesejahteraan materi sangat jauh dari yang aku peroleh dari pekerjaan sebelumnya, tapi justru di kondisi inilah aku merasakan kesuksesan dan kebahagiaan hidup, materi bisa kita cari dengan cara lain, begitu tekadku dan istriku. Satu pelajaran yang dapat aku simpulkan, “Kesuksesan dan kebahagiaan tidak linier dengan materi”, serta “tidak semua bisa dibeli dengan uang”, “waktu bersama keluarga lebih berharga karena masa kecil anakku tidak akan pernah bisa kembali”.

 

Terima kasih buat Santi istriku tersayang

Chacha, Nana dan Dinda bidadari kecilku yang menawan

Selalu bersama kalian, membuat beban hidup terasa ringan

Menjalani kehidupan dengan ikhlas kunci kebahagiaan

Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhan seru sekalian alam

 

(KBS23512091)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *