KINOI

imagesKinoi…

Begitulah ku beri nama kucingku sewaktu aku masih SD, warna hitam, abu-abu dan putih menghiasi  bulunya, kutemukan saat perjalananku sepulang sekolah, keciiil dan lemah, paling baru berumur beberapa minggu, mengeong di pinggiran jalan. Kubawa pulang dengan memasukkan ke dalam tas plastik hitam. Kuberi susu dan madu selama beberapa minggu, setelah badannya nampak kuat, baru aku beri nasi dan ikan pindang yang dicampur menjadi satu.

Kinoiiiii…..

Begitu teriakku, setiap memanggilnya untuk memberi makan. Dan segera saja ia menuju ke salah satu sudut dapur, tempatnya makan, meskipun aku masih di ruang tamu, ia sudah lari terlebih dahulu menungguku di sana, seolah ia sudah tahu dimana ruang makannya. Disana sudah tersedia sebuah piring plastik kosong yang siap aku isi dengan adonan nasi dan ikan pindang kesenangannya. Begitu aku tuang, segera saja ia dengan lahap menyantap jatah makannya.

Kinoi…. Ngapain sih kamu..

Begitu candaku dengannya, karena setiap kali melihat aku tidur, segera saja dia “ndusel-ndusel” di antara kedua kakiku yang membuatku kegelian, bahkan terkadang tahu-tahu sudah menggulung badannya di atas dadaku kalau aku sedang terlentang, atau di atas punggungku saat aku sedang tengkurap.

Kinoiiiiiii…..

Teriakku di depan rumah, ketika mencari kucingku, dan jangan ditanya kesetiaan kucingku jika aku panggil. Pasti dia dengan segera akan muncul sambil berlari menghampiriku. Bahkan saat dia sedang asyik menggoda kucing-kucing betina di komplek, aku panggil pun dia akan segera datang, dan mengitari kakiku sambil mengeong seakan minta disayang.

Sekali lagi masalah kesetiaan, jangan bertanya kepada kucingku, biarpun hanya mengeong tapi dia berhasil menunjukkan perasaannya pada keluargaku. Saat tikus merajalela, setiap malam dia berburu, namun dia tidak pernah memakannya, dia kumpulkan hasil buruannya di salah satu sudut rumah dekat kamar mandi, seolah dia ingin menunjukkan kesetiaannya dengan ikut berperan dalam keluargaku, seolah dia ingin berkata “ aku adalah bagian keluarga ini…”.

Kinoiii….

Aku hanya bisa menggumam lirih saat mendengar kabar kematiannya. Bukan kematiannya yang membuatku sedih, tapi proses menuju kematiannya itulah yang membuatku belajar memaknai arti kesetiaan. Saat itu, aku sudah berkuliah di luar kota, dan saat itu kedua orang tuaku harus di luar kota pula untuk mengawasi pembangunan rumah dalam rangka mempersiapkan masa pensiun. Rumah dan kucingku dititipkan ke salah satu tetangga, sebut saja Mas Amir, yang kebetulan memang tidak punya pekerjaan, jadi dia dibayar untuk merawat rumah dan kucing selama ditinggal pergi, dengan terlebih dahulu diajari bagaimana kebiasaan si Kinoi kucingku. Saat aku “ngobrol” mendengarkan cerita darinya, dia bercerita kalo pada minggu pertama kucingku masih belum merasa kalo ditinggal “tuannya” pergi, sehingga dia masih asyik saja melahap makanannya di jam makannya. Namun pada minggu kedua, mungkin dia mulai merasakan kesepian, sehingga dia sering mengeong mengelilingi rumah, melihat ke setiap ruangan satu persatu, seakan mencari anggota keluarga yang lain. sampai akhirnya di minggu ketiga dia benar-benar tidak mau menyentuh makanannya. Kata Mas Amir “si Kinoi hanya tidur meringkuk di keset kesayangannya, sambil menangis, air matanya keluar….”.

Sampai akhirnya setelah tidak makan beberapa hari, saat Mas Amir akan memberi makan untuk yang kesekian kalinya, si Kinoi sudah tidak bergerak, tetap meringkuk di keset kesayangannya. Kinoi telah mati, membawa kesetiaannya kepada kami selamanya. Tersirat penyesalan di perasaanku, begitu juga ibuku, kenapa Kinoi tidak dibawa saja. Tapi semuanya telah terjadi.

Sekarang….

Pelajaran dari Kinoi tentang arti kesetiaan, benar-benar membekas di hatiku, bahwa kita memang harus memegang teguh kesetiaan itu. Karena hanya kesetiaan jualah yang akan dikenang selamanya saat kita telah tidak ada di dunia ini. Lihat saja para pahlawan, mereka dikenang karena kesetiaan kepada bangsanya. Para penemu, mereka dikenang karena kesetiaannya kepada ilmu. Para suami yang baik, mereka dikenang karena kesetiaannya kepada keluarganya. Dan si Kinoi, kami sekeluarga kenang karena kesetiaannya kepada kami. Aku pun ingin dikenang karena kesetiaanku. Kesetiaan membuat kita abadi dalam kenangan orang-orang yang nanti akan kita tinggalkan…….

Keep The Faith……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *