LEADERSHIP

leaderMenjadi pemimpin atau setidaknya menjadi orang yang dianggap sebagai panutan oleh lingkungannya, menurutku adalah obsesi setiap orang, even orang yang paling bodoh pun akan merasakan sensasi kesenangan saat dianggap sebagai panutan yang segala omongannya diikuti oleh lingkungannya. Setidaknya, seorang laki-laki normal pasti akan menjadi pemimpin bagi keluarganya.

18 tahun yang lalu, aku pernah dinasehati tentang kepemimpinan oleh seseorang yang tidak perlu aku sebutkan namanya disini, yang jelas orang itu pernah dan masih menjadi tokoh kelas nasional saat ini.

“ Semua orang pada dasarnya ingin menjadi pemimpin… tapi sayang, sebagian besar dari mereka hanya bisa menjadi seorang raja, hanya sedikiiit yang bisa jadi pemimpin sejati…” begitu kalimat pertamanya.

Mulanya aku tidak paham maksudnya, namun kemudian aku mengerti beda seorang raja dan pemimpin sejati. Raja hanya tahu cara memerintah, dilayani tanpa pernah mau mengerti rakyatnya. Sedangkan pemimpin, dia tahu cara memperlakukan orang yang dipimpinnya.

“ Pemimpin sejati itu orang yang tahu kapan dia harus stand-up, kapan dia harus speak-up, kapan dia harus shut-up dan kapan dia harus sit-down….” Begitu jelasnya kepadaku tentang arti menjadi pemimpin sejati. Aku rasa tak perlu aku jelaskan maknanya, cukup anda resapi dan maknai kata-kata itu menurut anda sendiri, itu lebih baik menurutku, karena hanya andalah yang tahu kapan waktu itu terjadi.

10 tahun berlalu semenjak nasehat itu mendengung bergema mengisi ruang kepalaku dan beresonansi di dalam sanubariku, aku mendapat kepercayaan memimpin 35 orang untuk menjadi bawahanku. Dan aku merasa telah menerapkan nasehat itu dalam pola kepemimpinanku sebaik mungkin sesuai kemampuan terbaikku.

2010, aku menyatakan mundur dan keluar dari perusahaan yang telah memberiku penghasilan selama 10 tahun, aku melihat pada diri anak buahku merasa sangat kehilangan diriku. Mulanya aku berpikir mungkin itu hanya perasaanku yang sok melankolis dan sentimentil dengan sedikit narsis. Tapi ternyata, dua bulan sejak pengunduran diriku, anak buahku datang beramai-ramai, dari yang terendah hingga yang tertinggi, dengan menaiki mobil sewaan, jauh ke rumahku yang berjarak hampir 80 km dari lokasi mereka rata-rata tinggal. Mereka memberiku banyak kenang-kenangan dengan maksud agar aku selalu mengenang kebersamaan dengan mereka.

Hal yang tidak diperoleh oleh atasan-atasan yang mundur sebelumku di departemen lain, bahkan rata-rata mereka membicarakan keburukan atasan mereka yang mundur.

Rasa haru, bangga, sedih, gembira bercampur menjadi satu dalam perasaanku. Ternyata keberadaanku sebagai pemimpin mereka juga tertanam di dalam hati para mantan bawahanku itu.

Terima kasih wahai orang yang telah menasehatiku…. Aku akan selalu berusaha untuk tahu kapan harus stand-up, speak-up, shut-up dan sit-down.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *