LELALEDUNG

Purnama

Tak Lelaaa…lelaa.lelaaa..leeedung….. (nina bobo ooh nina bobo …. – terjemahan bebas)

Chep meneeng, aja pijer nangis….      ( diamlah, jangan menangis terus… -terjemahan bebas)

……………………………………………………..

Tembang Jawa untuk meninabobokan, yang selalu dilantunkan oleh Ibuku untukku setiap malam dengan penuh kasih sayang, sembari tangannya memukul lembut pantatku, agar aku segera tertidur, terkadang tiba-tiba suara tembang tidak terdengar lagi dan tangan Beliau sudah tidak memukul lembut pantatku lagi, ternyata Beliau telah tertidur lebih dulu, sementara aku belum juga tertidur.Begitulah sedikit kilatan yang aku ingat ketika aku kecil, begitu penuh sayangnya Ibuku kepadaku.

…………………………………………

Tak Gadhaang… bisa urip mulya… (Kutimang dirimu, agar kelak bisa hidup dalam kemuliaan)

Dhadhiooo… satrio utomo…           (Menjadi kesatria pilihan)

Ngluhurke Asmane wong tuwo…..  (yang akan membanggakan dan mengharumkan nama orang tua)

…………………………………………..

Begitulah do’a dan pengharapan kedua orang tuaku yang dipanjatkan lewat tembang jawa yang dilantunkan setiap malam. Tanpa sadar tembang itu begitu membekas dalam benakku, tanpa aku harus berusah menghafal, bait-bait syairnya seakan tertulis di prasasti hatiku yang tak akan terhapus selamanya. Dan syair itu juga menjadi renewable energy resource yang selalu mensuplai semangat dan kekuatan bagi diriku untuk selalu berusaha meraih yang terbaik.

Sampai sejauh ini perjalanan hidupku, aku merasa masih belum dapat membahagiakan kedua orang tuaku dengan maksimal, entahlah… apakah aku sudah cukup membanggakan dan mengharumkan nama orang tuaku atau tidak, aku tidak pernah menanyakan kepada Beliau berdua, mungkin ada rasa kecewa, gundah dan sedih dalam hatiku karena perasaan itu. Tapi dengan bait syair berikutnya seakan Ibuku menghiburku akan perasaanku itu, seolah melarangku untuk kecewa dan menjadi sedih….

…………………………………………

Wis chep menengo anakku…. (sudahlah tak perlu menangis dan kecewa duhai annakku – terjemahan bebas)

Kae.. mBulane ndhadhari… (lihatlah bulan purnama bersinar terang– terjemahan bebas)

Koyo… Buto ngGegirisi… (seperti mata raksasa yang menakutkan – terjemahan bebas)

Lagi…ngGoleki cah nangis (yang sedang mencari anak yang menangis untuk ditangkap – terjemahan bebas)

……………………………………………..

Ibu… memang kasih sayangmu akan selalu terasa hingga hayatku masih dikandung badan.

Terima kasih Ibu….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *