SABAR atau PENGECUT

sabarSing SABAR kuwi bakal SUBUR

             Begitulah doktrin yang diajarkan kepadaku, yang dilahirkan di keluarga yang sangat menjunjung nilai falsafah jawa, atau yang biasa disebut juga sebagai adat ketimuran, yang penuh tata krama. “Lebih baik mengalah aja tho lee….. dari pada jadi ribut, toh orang lain juga paham mana yang benar dan mana yang salah” kira-kira kalimat itu juga sering aku dengar di masa kecilku. Paham bahwa harus selalu bersabar, lebih baik mengalah demi kedamaian semua pihak, sangat tertanam di dalam jiwaku. Terkadang falsafah  jawa itu juga masih dilengkapi pula dengan nilai-nilai agama Islam yang dianut oleh keluargaku, dengan menyelipkan kisah teladan Rasulullah Muhamad S.A.W, “beliau saja waktu disakiti oleh penduduk thaif justru malah mendoakan, memohonkan agar mereka diberkati Allah…” begitu Bapakku bercerita, atau kisah saat Nabi Muhammad dimaki-maki oleh yahudi tua renta dan buta, justru Beliau yang datang setiap hari dan menyuapi dengan tangannya sendiri. Nilai jawa dan kisah teladan nabi itulah yang membentuk diriku menjadi orang yang “sabar”, setidaknya menurut penilaianku sendiri saat itu.

Sampai aku duduk di SMA kelas 3, setidaknya menurut penilaianku sendiri, aku menjadi orang yang sangat sabar. Aku lebih banyak “narimo ing pandhum”, menghindari konflik yang menurutku hanya “wasting time, wasting energy”. Terkadang jika ada konflik terjadi dalam kondisi apapun, rasanya aku selalu menjadi penengah, juru runding. Mungkin dalam perasaan narsisku, mungkin aku dianggap sebagai orang yang penuh “wisdom” oleh teman-temanku.

Si eks penghuni hotel prodeo, Hermawan Kartajaya dan Pak Ustadz

Suatu hari, kira-kira akhir tahun 1994, diatas bis yang membawaku kembali ke rumah sepulang kuliah, secara kebetulan aku duduk berdampingan dengan seorang lelaki kira-kira berumur 50an, berpakaian sederhana, tidak bagus, tapi terlihat rapi, dan beroman seorang bapak yang berpikiran sederhana tidak ’neko-neko” mengikuti konsep hidup masyarakata jawa yang “sak madyo” apa adanya. Setelah ngobrol tanpa tema yang jelas, sampailah dia bercerita kalo dirinya baru saja dibebaskan dari penjara tahanan polisi, dia bercerita kalo dituduh melakukan tindakan kriminal, yang menurutnya tidak dia lakukan, dia disiksa, digebuk agar mengakui kalo melakukan tindak kriminal yang dituduhkan para polisi itu. Namun dengan gigih dia bertahan dan melawan dengan tidak mengakui apa yang dituduhkan, meskipun badannya sebenarnya sudah tidak sanggup menerima siksaan. “Polisi itu goblok semua….. ga bisa nyari pelaku sebenarnya, trus langsung tunjuk aja… dan disiksa agar mau mengakui dan tanda tangan BAP” begitu katanya kepadaku. Mungkin cerita ini sangat sering kita dengar di era orde baru, orang dipaksa mengakui tindakan kejahatan yang tidak dilakukan dengan cara menyiksanya.

“ Sayanya kuat… eeh polisi itu njemput anak saya mas…. Anak saya yang ganti disiksa, biar saya mau tanda tangan…. Tetep saja saya ga mau mas” lanjut ceritanya.

Singkat cerita, bapak itu akhirnya dilepaskan setelah ditahan beberapa minggu, dan dia berkata lagi kepadaku, “kalo urusan begini mas…. Mau saya disiksa kaya apapun, saya bakal tetep nglawan mas…. Lha wong saya bener kok… prinsip saya, ditekan kaya apa, asal saya benar, pasti saya lawan… semut aja diinjak masih berusaha nggigit, biarpun akhirnya mati, apa lagi saya mas… yang manusia”. Kalimat terakhir tentang semut itu begitu terasa menekan ulu hatiku, dan menjadi pemikiranku terus menerus malam itu, tiba-tiba aku menghubungkan dengan “kesabaranku” selama ini. “Kenapa aku tidak pernah melawan…? Kenapa aku selalu menerima saja perlakuan yang “merendahkanku”…? Kenapa aku tidak pernah komplain..? sedangkan semut saja masih berusaha menggigit.” tanyaku dalam hati.

Tak berapa lama setelah pertemuanku dengan bapak eks tahanan itu, aku melihat siaran tentang marketing di salah satu stasiun televisi, Hermawan Kartajaya pembicaranya. Salah satu yang aku ingat benar adalah saat dia berbicara tentang konsep Customer Satisfaction.

“Pelanggan harus memperoleh pelayanan yang memuaskan…. Karena pelanggan adalah raja… jika tidak puas maka boleh komplain…. Itu hak pelanggan… dan kewajiban perusahaan untuk menerima komplain itu, demi perbaikan layanannya” kira-kira itulah yang disampaikan saat itu. Seketika itu juga aku juga berpikir kenapa aku tidak pernah komplain saat aku menerima layanan yang tidak memuaskan, hanya demi menghindari “konflik yang tidak perlu” menurutku.

Beberapa waktu berlalu, aku mengikuti suatu kajian agama dengan seorang ustadz menjadi pembicaranya, tema kajian saat itu adalah tentang sabar.

“Sabar itu adalah memilih untuk tidak menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, padahal ada kemampuan untuk menggunakannya……” begitu kata pak ustadz. Dikisahkannya tentang Rasulullah saat menerima lemparan batu dari penduduk thaif, persis seperti cerita yang aku terima saat aku kecil, “Rasulullah saat itu ditawarkan oleh Malaikat Jibril untuk dibalaskan perlakuan penduduk thaif…. Seandainya saat itu Rasulullah meng-iyakan tawaran Jibril, niscaya penduduk thaif akan musnah. Namun Rasul memilih untuk berkata tidak, dan menasehati Jibril bahwa mereka berbuat demikian karena belum tahu…. Dan Rasul pun mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dari Allah SWT” begitu lanjut cerita pak ustadz.

“itu artinya… sebenarnya Rasulullah punya kekuatan untuk membalas dan pasti menang, tapi Beliau memilih untuk tidak melakukannya…. Itulah yang namanya sabar” pak ustadz memberi kesimpulan. “ kalo disakiti orang yang gede badannya lebih dari kita, trus tidak melawan… itu namanya bukan sabar…. Lha wong kalo pun nglawan belum tentu menang” katanya sambil bercanda.

Now or Never

Pengalaman-pengalaman diatas, adalah yang benar-benar merubah gayaku, saat ini cenderung melawan “ketidakberesan dan kesewenangan” yang ada didepanku. Entah apakah yang aku lakukan ini benar atau tidak. Sebagai contoh saat aku tinggal di daerah Tanah Tinggi di Tangerang, aku pernah dipanggil “komandan” oleh para preman pasar dan terminal di daerah itu, hanya karena pada suatu ketika rumahku mendapat “perlakuan premanisme” dari para preman lokal, saat aku tidak di rumah, dan sepulangnya aku di rumah, aku datangi satu persatu, dan aku tantang si preman itu, sampai aku ketemu pentolannya, dan mereka mengakui kalo memang aku benar, teman mereka yang salah, sejak saat itu aku disegani di daerah Tanah Tinggi.

Atau saat aku mendapat perlakuan tidak adil dari suatu instansi, lalu aku maki-maki pejabatnya yang mungkin setingkat eselon 2, karena mereka begitu bebal seakan-akan aku orang bodoh yang bisa diperlakukan seenaknya karena ketidakbecusan mereka bekerja, dan keesokan paginya mereka memenuhi kewajibannya kepadaku setelah aku bilang “bapak boleh menang di kantor bapak, tapi ingat….. selangkah keluar kantor, saya pastikan bapak yang akan kalah”.

Atau ketika aku bekerja di perusahaan swasta, dan tiba-tiba Manajerku memaki aku didepan anak buahku, aku balas dengan memakinya pula dengan tidak peduli kemungkinan aku akan dipecat, karena aku merasa benar, dan memang akhirnya akulah yang benar dan manajerku meminta maaf dan mengharap aku maklum atas sifat-sifat buruknya yang mudah meledakkan kemarahan. Contoh-contoh itu tidak mungkin dan mustahil aku berani melakukan jika aku tidak “bertemu” tiga tokoh yang merubah jiwaku, sang eks penghuni tahanan polisi, Hermawan Kartajaya dan pak Ustadz.

Sekali lagi, aku belum mengerti benar, apakah dahulu aku memang seorang yang sabar atau hanya seorang pengecut…..

Dan kini pun aku juga belum mengerti benar, apakah aku sekarang telah menjadi orang yang sabar dalam arti sesungguhnya, memilih untuk tidak menggunakan kekuatan dan kekuasaan di saat aku dapat menggunakannya………..

Aku masih belajar hidup, dan selalu akan terus belajar hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *