SING JEMBAR ATIMU, URIP BAKAL PADHANG

savanaIbuku, selalu menjadi guru kehidupan terbaikku.

Terkadang, bahkan mungkin  sering kali aku bertemu orang-orang yang tidak bisa aku mengerti apa maunya, gak jelas, bahkan mungkin terkadang menyulut emosiku. Terutama jika orang tersebut merasa sok berkuasa, padahal apa yang diperbuat dan diucapkannya adalah suatu kesalahan, setidaknya menurut nilai dan pemikiran yang aku anut dan aku yakini kebenarannya. Apalagi jika orang tersebut merasa bisa mengatur dan mempengaruhi hidupku dengan kekuasaannya.

Seperti pada ceritaku sebelumnya, aku menggambarkan diriku sebagai orang yang cukup keras, mungkin termasuk orang yang susah mengontrol emosiku jika aku merasa ditindas atau dipersalahkan, sementara aku sama sekali tidak berbuat satu kesalahan pun, setidaknya aku adalah orang yang selalu berusaha comply terhadap aturan yang berlaku dan disepakati. “Semut pun akan berusaha menggigit saat dia diinjak” kata-kata itulah aku rekam hampir dua dasa warsa yang lalu, yang sangat membekas di hatiku, dan menjadi pattern yang aku ikuti dalam menjalani kehidupanku selama ini. Menurut sebagian orang kondisi ini bernilai negatif, dan menurut pendapatku pun memang negatif, tapi aku juga merasakan dampak positifnya, sifatku itulah yang membuatku survive sejauh ini.

Ibuku.

Agaknya beliau punya pemikiran yang lain dalam menilai sifatku itu, beliau berulang kali mengatakan…

Le… pancen kita wajib membela hak kita, lan wajib menyampaikan kebenaran…. Nanging  yen carane mbela lan nyampekne kebenaran kuwi salah, yoo… panampane liyan yo bakal salah…

Intinya bahwa kebenaran itu harus disampaikan dengan cara yang benar.

Yen ono liyan kang tumindhak ra bener mring awakmu… ra sah dipikir, ibu ngerti kowe nduwe kekuatan nggo nglawan, ning… kowe bakal luwih mulyo ning ngarsaning Gusti Allah yen iso ikhlas, kuwi sing arane sabar

Maksudnya meskipun aku punya kekuatan untuk melawan, akan lebih mulia bagiku jika aku bisa ikhlas, itulah definisi sabar, mampu tapi memilih untuk tidak.

ra sah dadhi athimu, ra sah emosi, ra sah dadhi pikiranmu…. Dianggep wae pancen wong kuwi yo nyandhake mikir yo gur sak jangkah, gur sak mono pemahamane…. InsyaAllah kowe bakal iso ikhlas lan sabar

Maksudnya janganlah “kelakuan aneh” orang lain terhadapku itu menjadi hal yang memberatkan hidupku, pemikiranku dan membuatku tersulut emosi. Tanamkan dalam pikiranku bahwa orang itu memang hanya mampu berpikir se-level itu, pemahamannya tentang suatu permasalahan dangkal. Dengan begitu InsyaAllah aku akan bisa bersabar dan selalu ikhlas.

“emosi kuwi gur bakal ngrusak awak lan batinmu….

Emosi itu hanya akan merusak jiwa dan ragamu, begitu lanjut nasehat Ibuku kepadaku.

Sehingga kini, saat emosiku akan meluap tumpah ruah membanjiri jiwaku, memori akan nasehat-nasehat itulah yang dapat mengerem gejolak jiwaku untuk tidak meledak sekaligus belajar untuk ikhlas dan bersabar

Kini aku menambahkan satu lagi elemen pengereman, yaitu dengan menambahkan rasa belas kasihan terhadap orang yang “berkelakuan aneh” terhadapku, semisal kepada orang yang suka menuduhku untuk hal-hal aneh, mencuri misalnya. aku berusaha menanamkan pada jiwaku, “kasihan sekali orang itu, mungkin dia terbiasa mencuri, sehingga sekarang selalu merasa curiga kalo sesuatu telah dicuri dari dirinya”. Atau kepada orang yang memarahiku untuk alasan yang tak jelas, aku tanamkan pada jiwaku, “kasihan sekali orang itu, mungkin dulu dia terbiasa dimarahi oleh orang tuanya, sehingga sekarang dia menganggap kalo masalah bisa selesai dengan kemarahan”.

Dan alhamdulillah dengan begitu aku merasa hidupku terasa lebih indah, dunia lebih cerah dan tiada kesulitan tanpa jalan keluar karena sebenarnya hidup itu mudah.

Sing jembar atimu yo le…. Uripmu bakal padhang

Berlapangdadalah duhai anakku…. Hidupmu akan lebih terang.

Ibuku yang selalu menjadi guru kehidupan terbaikku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *