in a taxi ride

June 14th, 2013 § 0 comments § permalink

Namanya Manuel. Umurnya mungkin di akhir 20-an. Dia bercerita ke saya kalau dia bekerja untuk ILO – organisasi di bawah PBB. Saya melihat dia pertama kali di pesawat dari Jakarta ke Bangkok. Dia duduk tepat di depan saya, dan dari celah antar bangku, saya sempat melihat dia membaca buku panduan berlibur di Bangkok. Gayanya khas eksekutif muda, rapi tapi cukup low profile.

Saya melihatnya kedua kali ketika kami mendarat di bandara Don Mueang. Saat itu saya dan teman perjalanan saya sempat bingung mencari cara untuk pergi ke hotel kami, berhubung karena satu dan lain hal, kami akhirnya mendarat di Don Mueang, bukan Suvarnabhumi Airport seperti yang direncanakan.

Hasil ngobrol-ngobrol dengan salah satu officer di bandara yang bertugas di tourist information booth, akhirnya kami mendapat kesimpulan bahwa satu-satunya cara kami bisa ke hotel adalah dengan naik taksi – karena kebetulan sudah larut malam.

Pasrah dengan jumlah uang yang akan dikeluarkan – tapi demi keselamatan juga sih, kami berjalan ke tempat menunggu taksi. Ngobrol-ngobrol dengan petugas di sana, tiba-tiba bule yang berdiri di sebelah saya menyapa. “Are you heading to the Khao San Road?” dia bertanya kemudian. Saya mengenali dia sebagai orang yang duduk di depan saya di pesawat barusan.

Saya pun kemudian menjelaskan bahwa saya tidak akan ke Khao San Road, tapi hotel saya dekat dengan jalan tersebut. Obrol-obrol, dia mengajak kami untuk share taksi. Berhubung dia datang sendirian, pake bawa-bawa koper segede dosa pulak, dan sadar bahwa tarif taksi pasti akan mahal, dia pun mencari target untuk mengurangi beban.

Saya tahu, yang namanya stranger di manapun pasti mengundang kecurigaan. Beberapa teman di luar negeri yang mendengar cerita ini reaksinya juga beragam. Ada yang was-was (kesannya nakutin) tetapi ada juga yang berpendapat bahwa he’s just a nice dude. Tetapi malam itu, saya mengiyakan saja ajakan si bule ini untuk share taksi. Insting saya pertama adalah saya melihat dia membaca buku tentang liburan dan dia membawa-bawa koper yang cukup dashyat besarnya. Saya cukup yakin dia bukan orang jahat. Kalaupun iya, toh saya ada teman seperjalanan.

Untungnya, si bule yang ternyata orang Spanyol ini memang cuma sekedar a nice dude yang cukup pelit soal ongkos (dia bilang dia berencana hanya mau menghabiskan tidak lebih dari $5 kalau bisa di Thailand setiap harinya). Di dalam taksi, kita pun ngobrol-ngobrol.

Alkisah, kita pun jadi membicarakan soal Jakarta. Dari pembicaraan kami, saya menangkap bahwa si Manuel ini cukup betah di Jakarta kecuali soal traffic-nya yang ampun-ampunan. Saya lupa di mana dia tinggal di Jakarta dulu. Tapi sebagai salah satu lulusan jurusan hukum, dia menjadi salah satu legal advisor ILO dan sering pergi ke mana-mana di Indonesia untuk projects-nya. Dia juga sempat berkunjung ke Bandung untuk memberi lecture di Unpad.

Mengetahui kalau saya adalah mahasiswa jurusan perencanaan kota, dia pun bertanya bagaimana sebaiknya masalah transportasi di Jakarta ditangani. Saya pun tertawa. Pertanyaan sederhana, tapi ribet sekali untuk didiskusikan. Walaupun menarik, saya tidak yakin satu perjalanan taksi dari bandara ke hotel akan cukup.

Mau bangun MRT? Ya boleh saja. Bagaimana soal cost-nya? Bagaimana soal keadaan alam di Jakarta sendiri? Banjir? Penurunan muka air tanah? Political interests? Kenaikan harga BBM dan pajak kendaraan bisa juga jadi solusi, tapi sekali lagi ini kembali ke kemauan yang berwenang. Theoretically, masalah lalu lintas Jakarta punya banyak alternatif pemecahan. Prakteknya? Nanti dulu.

Saya cuma bilang bahwa yang penting saat ini adalah komitmen pemerintah. Seorang dosen saya pernah berkata bahwa Indonesia ini pembangunannya masih sangat bergantung kepada pemimpin daerah. Kalau pemimpin daerahnya bagus, biasanya hasilnya akan bagus. Kalau jelek, ya rencana sebagus apapun akan hancur saja.

Jokowi dan Ahok mungkin masih menjadi idola baru dan nafas segar untuk warga Jakarta. Tetapi kinerja mereka masih harus dibuktikan. Mudah-mudahan semangat mereka untuk memperbaiki Jakarta dapat konkrit dilakukan – tapi tidak gegabah juga.

Ngomong-ngomong soal pemerintah daerah, celingak-celinguk ke luar jendela, kami akhirnya menyadari bahwa di Bangkok terdapat banyak sekali foto raja yang ditempel di mana-mana. Ini mengingatkan saya kepada Daerah Istimewa Yogyakarta yang masih dipimpin Sultan. Kentara sekali bahwa raja masih sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh rakyatnya.

Si Manuel pun berkata kalau di Spanyol juga ada raja.

Is it the same in your country? The pictures of king everywhere?” saya bertanya.

No.” Dia tertawa sembari menyatakan bahwa di Spanyol rakyat tidak begitu peduli dengan rajanya. Bahkan dia berharap keadaan di negaranya sama dengan di Thailand, punya raja yang dihormati.

Berganti-ganti topik, dari cerita soal perjalannya hingga makanan kesukaannya di Indonesia, akhirnya taksi berhenti di depan hotel kami.

Setelah ribet-ribet menghitung uang Baht untuk membayar taksi dengan supir yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, akhirnya kami mengucapkan selamat tinggal di tepi jalan. Sementara saya dan teman akan ke hotel kami, Manuel akan ke Khao San Road untuk mencari penginapan. Kami pun sama-sama mengucapkan semoga beruntung kepada satu sama lain.

It was a short journey – dengan seorang stranger dari bandara ke hotel. Saya baru kurang dari satu jam menjejakkan kaki di Thailand. Tetapi sudah banyak yang saya pikirkan setelah itu.

Bagaimana sih image Jakarta saat ini? Seberapa parah? A bule I just met seemed concerned.  Dan apakah barusan saya terdengar terlalu skeptis?

Entahlah.

Di malam yang larut, saya dan teman seperjalanan akhirnya check-in di hotel kami, dan saya bersyukur kami bertemu Manuel (setelah suatu kejadian kurang enak yang terjadi sebelumnya, ini menjadi semacam berkah). Setidaknya, ongkos taksi memang menjadi jauh lebih murah.