about really really crazy (rich) asians

October 11th, 2013 § 1 comment

Saya membaca novel debut Kevin Kwan yang berjudul Crazy Rich Asians simpel karena rasa ingin tahu. Berdasarkan blurb yang saya baca di beberapa media, novel ini menceritakan tentang seorang Rachel Chu, American Born Chinese, yang diboyong pacarnya, Nick, ke Singapura untuk menghadiri pernikahan super glamor sahabatnya, Colin, sekaligus bertemu dengan keluarganya. Masalahnya, Rachel tidak tahu bahwa keluarga Nick adalah the crazy rich family dari Singapura yang selain memiliki silsilah keluarga yang rumit, juga kehidupan yang 180 derajat jauh berbeda dari orang kebanyakan. And that’s when everything goes downhill.

Saya harus mengakui, saya tidak bisa menahan tawa dan berhenti lama-lama membaca novel ini. Sebagai sebuah karya satire mengenai kehidupan jet-set the Singaporeansthe novel did it quite well. Dengan flow yang pas menurut saya, plot cerita ini merupakan definitely page turner, dengan jalinan peristiwa demi peristiwa yang membuat saya terus penasaran bagaimana akhirnya.

Keberadaan kaum jet set, the socialites, the super powerful and rich families, memang tidak bisa ditampik adanya. Bahkan di Indonesia sendiri kita bisa melihat eksistensi mereka (remember the Liems and Bakries?), meskipun sebenarnya bagian dari mereka yang benar-benar ‘super’  barangkali jarang terliput media. Melalui novel Crazy Rich Asians, Kevin Kwan sepertinya ingin memberikan sneak peek tentang kehidupan kaum yang jumlahnya sangat terbatas ini dengan gaya yang menghibur sekaligus penuh sindiran dengan Chinese Singaporean families sebagai fokus utamanya.

Is it believable? Tentu saja hal ini akan mengundang tanda tanya dari banyak orang, terutama yang tidak familiar dengan konsep rich Asian families. Sang penulis sendiri, yang ternyata dibesarkan sebagai salah satu anggota contoh the crazy family yang ia gambarkan, mengklaim bahwa semua kegilaan itu ternyata memang benar adanya. The lavish wedding, lavish lifestyle, hingga hal-hal yang membuat orang awam mungkin melongo heran membacanya karena seperti  terlalu unbevelievable, memang begitulah adanya. Bahkan Kwan dalam salah satu wawancaranya dengan Vanity Fair mengungkapkan bahwa editornya sendiri menyuruhnya untuk membuang beberapa detail for the sake of believability  meskipun Kwan tahu bahwa they’re real dan bahkan ada fakta-fakta yang lebih over the top dari yang ia tuliskan – seolah menguatkan kata-kata truth is sometimes stranger than fiction.

Terlepas dari itu semua, saya sendiri lumayan terhibur dengan novel ini. The ‘crazy rich’ part aside, ada sesuatu yang sangat familiar mengenai kehidupan dan budaya the Chinese families yang digambarkan di sana. Something that resonates with a lot of fellow Asians. Termasuk kerumitan jalinan hubungan keluarga dan tetek bengeknya yang seringkali membuat generasi muda gerah.

Dua tokoh utama dalam cerita ini menurut saya memang tidak terlalu menarik. Meskipun premis tentang mereka cukup bagus di awal, tapi Rachel dan Nick terlalu datar digambarkan untuk cerita ‘segila’ ini. Bagian-bagian yang menarik justru datang dari teman-teman dan keluarga Nick. Misalnya saja dinamika hubungan Astrid Leong dan suaminya, Michael, serta mantan pacarnya, Charlie Wu. Juga kelakuan ibunya Nick, Eleanor, serta ibu-ibu anggota geng bible study-nya yang dengan mudah mengingatkan kita akan geng tante-tante cantik yang kadang lucu tapi gengges juga. Nenek Nick, Shang Su Yi, yang elegan tetapi juga amat strict. Hingga Eddie, laki-laki gila hormat dan gengsi yang akan membuat kita ingin menamparnya setiap saat. Memang sulit untuk mengatakan bahwa karakter-karakter ini mudah untuk disukai, tetapi itu tidak membuat mereka less amusing. Bahkan kalau boleh saya bilang, novel ini hidup karena the side characters-nya.

Hal-hal lain, hal kecil yang membuat saya tersenyum justru tentang makanan, tentang perdebatan Colin dan Nick, Nick dan Eleanor soal di mana mendapatkan makanan enak. Serta penyebutan hawker centers di Singapore yang membuat saya langsung ngiler membayangkan lagi sliced fish bee hoon, chicken rice, kaya toast, and that one late evening in Old Airport Road. Selain itu juga fakta-fakta lucu dan hilarious remarks tentang orang Asia atau Chinese yang berkali-kali membuat saya ngakak sembari mengangguk-angguk setuju akan keakuratannya.

Pada akhirnya, saya cukup merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang ingin terhibur dengan kelakuan-kelakuan gila tokoh-tokohnya. Jangan terlalu berharap pada dua protagonis utama, tetapi nikmati saja kegilaan keluarga Nick serta teman-temannya dari awal hingga akhir. Saya sendiri berharap Kevin Kwan akan membuat sekuel dari novel ini. Spin-off tentang Astrid Leong mungkin? Saya pasti baca.

Tagged , , , , ,

§ One Response to about really really crazy (rich) asians

  • missglasses says:

    I laughed when first time reading the title, especially for the “asian” word. Too much jokes about asian in youtube, and now I assumed the word of “asian” is funny :/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What's this?

You are currently reading about really really crazy (rich) asians at wilujeng sumping.

meta