PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA SISTEM PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

Permasalahan dalam Instansi dan Solusi Menggunakan Teknologi Informasi

Air minum merupakan kebutuhan dasar manusia yang berdampak langsung pada kesehatan dan kesejahteraan fisik, sosial dan perekonomian masyarakat. Pada dasarnya pemenuhan kebutuhan air minum merupakan tanggungjawab semua pihak terkait, namun demikian Pemerintah berupaya keras meningkatkan kualitas kesejahteraan dan kesehatan masyarakat dengan membangun prasarana dan sarana penyediaan air minum di perkotaan maupun di perdesaan di seluruh wilayah Indonesia.

Di tengah keterbatasan Pemerintah dalam hal pembiayaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan banyaknya pemangku kepentingan dalam bidang air minum, program dan kegiatan untuk pembangunan dan pengelolaan prasarana dan sarana air minum harus dilaksanakan dengan tepat sasaran dan efisien. Oleh karena itu, ketersediaan data dan informasi termutakhir terkait air minum sangat penting sebagai dasar pengembangan SPAM Indonesia.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yaitu unit kerja eselon II Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) telah membangun sistem informasi SPAM agar dapat membantu dan memudahkan untuk merancang program dan kegiatan Pengembangan SPAM di seluruh Indonesia. Termasuk di antaranya adalah cara dan alat untuk mengevaluasi pencapaian target sasaran, sehingga dapat menjadi pegangan seluruh pemangku kepentingan dalam proses evaluasi dan perencanaan target 100% akses air minum aman di Tahun 2019.

Pengukuran Kinerja Solusi yang Diterapkan

Suatu sistem informasi yang dibangun harus dapat memenuhi kebutuhan pengguna, sehingga perlu adanya pengukuran kinerja terhadap sistem informasi tersebut, diantaranya sebagai berikut:

1. Waktu dan biaya

Data pembangunan SPAM terbangun diseluruh Indonesia baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat tersebut masih tersebar dan belum di inventarisasi secara nasional. Waktu yang dibutuhkan untuk dapat mengumpulkan dan mengolah data dari seluruh kabupaten/kota, dengan karakteristik data yang beragam tentunya dapat memakan waktu berbulan-bulan dan biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Setelah sistem informasi diterapkan, proses pengumpulan dan updating data pembangunan dapat dilakukan setiap akhir tahun secara online. Data yang diinputkan sudah memilki karakteristik data yang baik sehingga sistem informasi dapat mengolah dan menyajikan data dengan cepat dan baik.

2. Ketersediaan Data

Data yang dihimpun per unit SPAM di seluruh Kabupaten/Kota yaitu berupa data umum, aspek teknis, aspek kelembagaan, aspek keuangan, aspek perencanaan dan riwayat sambungan rumah. Sistem infomasi SPAM sebagai alat bantu perencanaan program SPAM setiap tahunnya, oleh karena itu dibutuhkan pemutakhiran data yang berkala agar kualitas program SPAM yang dihasilkan dapat tepat sasaran sesuai dengan kondisi SPAM yang aktual. Adapun proses pemutakhiran data yaitu perpipaan perkotaan dilakukan oleh Satuan kerja PSPAM Provinsi, perpipaan perdesaan dilakukan oleh Pamsimas, PNPM, P2KP, PPIP, dll dan untuk bukan jaringan perpipaan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

 3. Akurasi

Monitoring pemutakhiran data sistem informasi SPAM dilakukan dengan cara proses validasi oleh setiap Satuan kerja pengembangan sistem penyediaan air minum provinsi. Sebagai perbandingan, data jaringan perpipaan pada sistem informasi SPAM sebanyak 11.178.181 (16,71%) unit SR , sedangkan menurut data SUSENAS 2015 (BPS) data jaringan perpipaan sebanyak 11.496.385 (17,10%) unit SR sehingga hanya terdapat selisih sebesar 0,39%. Dengan demikian tingkat akurasi semakin tinggi jika pemutakhiran data sistem informasi SPAM dilakukan secara berkala.

Permasalahan yang belum terselesaikan dengan menggunakan Teknologi Informasi

Direktorat Pengembangan SPAM terbagi menjadi 6 (enam) bagian pengelolaan mulai dari Subdirektorat Perencanaan Teknis, Sistem Penyediaan Air Minum Perkotaan, Perdesaan, khusus, standarisasi dan kelembagaan sampai dengan Bagian Tata Usaha. Seiring dengan perkembangan teknologi sistem informasi dan pemenuhan kecepatan perolehan data, maka setiap subdirektorat telah mengembangkan aplikasi sistem informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan subdit itu sendiri. Keseluruhan 6 (enam) subdirektorat tersebut ditunjang oleh 11 (sebelas) macam Sistem Informasi SPAM, dalam bentuk aplikasi berbasis web, yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda. Aplikasi-aplikasi tersebut merupakan aplikasi yang berdiri sendiri pada setiap subdirektorat sehingga diperlukan suatu integrasi antar aplikasi dikarenakan adanya keterkaitan fungsi dan kebutuhan akan analisis perencanaan serta pemantauan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum.

Solusi Teknologi Informasi yang perlu diterapkan

Perlu dilakukan kegiatan pengembangan dan integrasi aplikasi dalam satu portal sistem informasi SPAM untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat, tepat dan akurat, diantaranya sebagai berikut:

  1. Melakukan identifikasi seluruh sistem aplikasi yang telah terbangun di lingkungan Direktorat PSPAM.
  2. Menganalisis secara teknis (platform, sistem operasi, dan jenis database) terhadap setiap sistem informasi yang sudah dikembangkan.
  3. Meninjau dan menganalisis keterkaitan antar sistem dengan menggunakan work flow diagram untuk memudahkan proses integrasi.
  4. Mengintegrasikan sistem informasi yang telah terbangun ke dalam satu portal SISPAM yang menggambarkan satu siklus kegiatan Direktorat PSPAM (perencanaan sampai dengan serah terima asset).
  5. Mengidentifikasi dan melakukan pemutakhiran data kegiatan-kegiatan SPAM yang telah dilaksanakan namun belum diinputkan pada database

Proses integrasi sistem informasi di lingkungan Direktorat Pengembangan SPAM daiharapkan dapat meningkatkan kemampuan, efektifitas, dan efisiensi Sistem Informasi SPAM (SISPAM) dalam proses penyiapan data dan informasi sehingga memudahkan dalam pemantauan kegiatan pengembangan SPAM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *