A Little Story About Dream (ITB)

snmptn

ITB, mendengar namanya saja sudah merinding. Semua orang disini sangat mengagumkan. Menurut saya, mahasiswa dengan IP terendah sekalipun di ITB masih lebih baik daripada mahasiswa dengan IP tertinggi di universitas terbaik Indonesia lainnya. Setiap orang yang bisa masuk dan keluar lulus dari ITB adalah orang-orang hebat.

Kalau sedang sosialisasi soal ITB di depan adik-adik kelas, jadi inget perjuangan tahun lalu. Bukan bermaksud sombong di depan mereka, tetapi malah ingin membantu banyak karena dulu juga saya seperti itu. Pernah ada adik kelas yang bertanya, “Ka, susah nggak sih masuk ITB?” Saya hanya menjawab, “Saat itu sih saya nggak merasa sulit, cuma sering galau. Yang susah itu keluar dari ITB. Hehe. Jadi, kalau sudah berani masuk ITB, siapkan mental juga ya.” Kalau ditanya seperti itu sebenarnya jadi ingin cerita banyak. Mungkin kegalauan itu yang bisa disebut perjuangan. Disini juga saya tidak berjuang sendiri, tapi ada Ayah, Ibu dan Abi yang mendorong dari belakang.

Saya tidak seperti kebanyakan teman-teman yang menyiapkan diri untuk menjadi bagian dari ITB sejak awal masuk SMA, atau SMP, bahkan ada teman saya yang bermimpi masuk ITB sejak SD. Boro-boro kenal ITB. Saat SD, kuliah itu apa pun saya nggak ngerti. Jadi dulu nggak kepikiran mau kuliah di ITB. Sejak SMP inginnya masuk STAN, awal masuk SMA berubah ingin ke UNS, karena sepupu saya diterima di Manajemen UNS 2010. Saat galau-galaunya kelas 3 pun sama sekali tidak berpikir akan memilih ITB. Malah sebaliknya. Saya berpikir ITB itu kan Institut, hampir semua jurusannya berbasis Teknik dan pasti mayoritas laki-laki yang ada di ITB. Karena itu saya menghindari ITB. Di tugas menulis ekspektasi yang ditugaskan oleh guru Bahasa Indonesia saya pun, dengan sangat mantap saya menulis 5 tahun ke depan saya akan menjadi sarjana Teknik Kimia atau Matematika dari UGM atau UNS (http://marethanurina.blogspot.com/2012/09/ini-ekspektasi-saya.html). Karena galau itu, akhirnya saya sering berkonsultasi pada orangtua, pak sidik (guru Matematika terbaik saya, kadang saya panggil Abi), teman-teman seperjuangan, kakak-kakak kelas yang sudah sukses di universitasnya masing-masing juga kepada Dr. Tedy Setiawan (dosen FTTM ITB yang sering memberikan sosialisasi mengenai UN Matematika SMA ke sekolah-sekolah di Indonesia).

Saya sempat tertarik untuk mengambil jurusan Psikologi, Sastra Prancis, Teknologi Pangan, Astronomi dan bahkan Filsafat. Entah sejak kapan, akhirnya mantap untuk memilih ITB dan tidak melihat universitas yang lain, salah satu faktornya mungkin karena Abi itu lulusan Geodesi ITB 92 dan saya selalu menganggap Abi itu orang hebat dan saya ingin seperti Abi. Alasan lainnya yaitu, orangtua juga tiba-tiba menginginkan saya masuk ITB. Kini pilihan saya mulai mengerucut ke ITB, fakultas apapun yang penting di ITB dan bisa membanggakan orangtua. Bahkan semua fakultas saya pertimbangkan. Pertama FTTM, FTMD dan FITB, itu sudah tidak mungkin karena kata Abi disana itu tempatnya cowok-cowok. SAPPK dan FSRD juga tidak mungkin karena saya tidak kreatif di bidang seni. STEI, saya tidak tertarik pada dunia IT. FTI, gradenya terlalu tinggi untuk saya. Sempat ingin FTSL, tapi sepertinya fakultas ini juga menuntut mahasiswanya pintar mendesain seperti SAPPK dan FSRD. SBM, saya tidak mau keluar jalur dari bidang IPA saya. Akhirnya pilihan mengerucut di FMIPA, SF dan SITH. Awalnya ingin FMIPA, karena kalau FMIPA saya sudah tahu, mata kuliahnya pasti seperti SMA. Tapi Abi menyarankan saya untuk mengambil SF atau SITH (fakultas yang cewek banget). Dengan pemikiran yang panjang dan sholat istikhoroh akhirnya memilih SF karena SF lebih ke terapan dibanding FMIPA dan SITH. Awalnya ragu pilih SF, karena masih merasa gradenya terlalu tinggi. Tapi karena Abi yang meyakinkan, saya juga ikut yakin.

Saking sudah cintanya dengan ITB, sampai-sampai saya ingin mengosongkan pilihan 3 dan 4 di SNMPTN. Tapi kalau kata Abi “lebar”, Allah sudah memberikan kita empat kesempatan, malah kita sia-siakan. Akhirnya saya memilih 1. SF ITB, 2. SITH-R ITB, 3. Teknologi Pangan UNS, 4. Fisika UNS. Bismillah, semoga diterima di SF ITB, karena saya nggak yakin akan mengambil kalau diterima di pilihan 2 sampai 4. Takut juga merugikan adik-adik kelas kalau menolak SNMPTN.

Dua puluh delapan Mei 2013 kalau tidak salah pengumuman SNMPTN, 2 atau 4 hari setelah pengumuman UN. Ini jauh lebih mendebarkan daripada pengumuman UN. Awalnya saya dan teman-teman di tempat les ingin membuka bareng pada jam 5 sore nanti. Tapi kita terlalu takut. Beberapa teman malah ingin mebuka esok harinya, katanya ingin tahajud dulu (haha). Awalnya saya juga tidak ingin langsung membuka. Tapi tepat jam 5 sore, banyak teman yang sms, ada yang bertanya dengan hasilnya, ada yang memberitahukan lolos atau tidaknya mereka. Akhirnya saya penasaran dan segera mencari internet untuk membuka hasilnya. Karena paket internet saya tidak pernah diisi selama kelas 3, akhirnya ke warnet. Tapi ternyata warnetnya penuh. Lalu saya dan ibu saya ke tetangga, kebetulan salah satu anaknya juga seangkatan dengan saya tetapi beda SMA. Disana juga sedang berkumpul, ada 3 temannya yang ingin melihat hasil. Saat buka web SNMPTN, tangan saya itu bergetar sampai susah banget mau ngetiknya. Pas keluar hasilnya, selama loading pun jantung berasa berhenti, ternyata diterima di ITB dan fakultasnya pun di fakultas yang saya inginkan yaitu SF. Alhamdulillah ya Allah, senangnya bukan main. Saya nangis dan ibu langsung sujud syukur. Diantara 4 teman yang lainnya, seorang diterima di FK UNPAD, serang di UPI dan 2 lagi belum beruntung. Setelah itu, saya dan Ibu pulang lagu sms Abi dan telepon Ayah (Ayah saya bekerja di Jakarta). Terdengar dari suaranya, Ayah saya seperti menangis tetapi menutupi. Setelah itu, Abi juga telepon dan mengucapkan selamat. Ingatan Abi soal galau-galaunya saya memilih jurusan dan semua perjuangan itu kembali hadir.

Untuk adik-adik yang sedang berjuang, terutama dari SMAN 1 Purwakarta. Sebisa mungkin saya akan menbantu dengan motivasi dan mungkin saran-saran. Karena kita sama-sama berjuang. Saya berjuang untuk bertahan dan sukses di ITB, adik-adik juga berjuang untuk bisa menembus ITB. Jadi jangan pernah patah harapan, terus semangat, berusaha dan berdoa. Kalau kata Pak Agung (Dosen FTSL), Selamat Manikmati Indahnya Perjuangan.

6 Responses to A Little Story About Dream (ITB)

  1. Wah capture nya………….
    Best day ever:’)

    • Tabah Pratama Putra Ks says:

      kak mau tanya, saya siswa SMK dari jurusan Otomotif, saya ingin melanjut di ITB setelah lulus nanti, dan dan fakultas yg saya inginkan itu FTMD ITB, apakah ada kak quota untuk siswa SMK dan ada kesempatan atau tidak, saya masih bingung bagaimana langkah untuk ke ITB jika dari SMK. Terima masih. 🙂

  2. kalau kemarin tahun aku, cuma bisa lewat sbmptn (tulis), ga bisa snmptn. tapi gtw sekarang, gimana peraturannya. kemarin itu, fakultas yg boleh dari SMK di snmptn cuma FSRD.

  3. ITB adalah kampus idamanku sewaktu SMA tapi malah terdampar di UGM 🙂

  4. seru banget perjuangannya sampai masuk di itb 🙂 usaha keras tak akan mengkhianati hasil hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *