Peritoneal Dialysis

Apakah ini? Kalau dengar kata ‘dialisis’ inget apa coba?

Kebanyakan orang pasti inget ‘cuci darah’ jika mendengar kata ‘dialisis’. Ya, memang benar, proses cuci darah disebut juga dengan hemodialisis, yang merupakan salah satu cara Terapi Pengganti Ginjal (TPG) akibat dari kerusakan atau gagal ginjal (renal failure). Sebenarnya gagal ginjal itu apa sih?

Ginjal merupakan organ yang bertugas membuang sisa-sisa hasil metabolisme dalam tubuh dan zat-zat yang sudah tidak diperlukan lagi. Bisa dikatakan bahwa ginjal ini bertugas membuang sampah dari tubuh. Nah, gagal ginjal berarti ginjalnya tidak dapat melaksanakan fungsi ini, atau fungsinya sudah sangat tereduksi. Coba bayangkan kalau di rumah kita banyak sampah dan kita tidak membuangnya sampai dia menumpuk. Ga sehat kan? Nah, itu juga yang terjadi dalam tubuh kita, jika sampah-sampahnya tidak dibuang maka dia akan menumpuk dalam tubuh dan menjadi racun. Keadaan menumpuknya sisa-sisa metabolisme dan air dalam darah ini disebut uremia.

Seperti yang telah kita ketahui, kita memiliki 2 buah ginjal. Sebenarnya, 1 ginjal saja sudah cukup untuk menunaikan fungsinya, namun jika sudah rusak keduanya, maka perlu dilakukan Terapi Pengganti Ginjal tadi.

TPG terbagi menjadi 3, yaitu Hemodialisis, Peritoneal Dialysis (PD), dan Transplantasi Ginjal. Jika melihat judul postingan ini, yang akan saya bahas adalah yang ke-2 yaitu Peritoneal Dialysis. Kalau hemodialisis pasti tidak asing ya, rasanya banyak sekali penderita gagal ginjal yang menggunakan cara ini. Prinsipnya adalah dialisis darah menggunakan alat. Kalau transplantasi ginjal, ya berarti cangkok ginjal dari pendonor kepada penderita.

Sama halnya seperti hemodialisis, prinsip PD ini juga dialisis, hanya saja bukan dengan alat ginjal buatan dengan mengalirkan darah ke alat tersebut, namun ini dengan cara memasukkan cairan ke dalam rongga perut (peritoneal). Lho, lalu apa yang terjadi?

Seperti ini ya kira-kira gambarnya:

Sumber: http://www.drugs.com

Dengan cara seperti ini, dialisis terjadi di dalam rongga perut. Transportasi zat-zat dan hasil metabolisme terjadi melalui membran peritoneum yang merupakan membran semipermeabel. Cairan dialisis terdiri dari elektrolit-elektrolit dan glukosa dengan kadar 1,5%-2,5% atau tergantung kebutuhan, supaya cairan tersebut bersifat hipertonis. Kalau sudah membicarakan tonisitas begini, berarti yang terjadi adalah proses osmosis. Ya, cairan dari dalam darah yang bersifat lebih hipotonis akan berpindah ke cairan dialisis. Dan ada satu proses lagi yaitu difusi. Zat-zat dalam darah dengan jumlah lebih banyak itu akan berdifusi ke dalam cairan dialisis, sampai mencapai keadaan setimbang. Cairan dialisis dimasukkan ke rongga peritoneal menggunakan suatu kateter yang dipasang melalui operasi. Biasanya cairan dialisis ini berada di dalam perut sekitar 6-8 jam, kemudian dibuang melalui kateter yang sama. Dengan cara inilah air yang berlebihan dalam darah dan zat-zat sampah dari darah dapat terbuang.

TPG yang satu ini jarang digunakan orang, karena memang cukup ribet, harus benar-benar terjadwal dalam sehari, belum lagi kalau banyak kesibukan. Dan dalam melakukannya, harus terjaga higienitas sekeliling karena rentan infeksi.

Mengapa saya menulis ini?

Jujur, karena salah seorang sahabat saya mengalami renal failure πŸ™ dan ia menggunakan TPG PD ini. Saya pernah bertandang ke kosannya dan di sela-sela kuliah maupun kesibukannya ia harus menyempatkan untuk PD dulu. Persiapan sebelum PD ini benar-benar mengingatkan saya akan pekerjaan TA saya di lab mikrobiologi, terutama di bagian pengondisian supaya steril. Sekitar 3 kali sehari dia melakukan seperti ini dan saya pun yang melihatnya rasanya……. tak terbayangkan. Namun ia adalah pribadi yang kuat, selalu ceria dan tersenyum, juga selalu jadi sahabat yang rame, heboh, menyenangkan! Sebut saja namanya, Yudhis. Ia juga menulis hal ini di blognya dan cukup membuat saya tergugah, terutama di bagian:

β€œTidak butuh ginjal untuk bisa ke Swiss, tidak punya ginjal pun bisa ke Swiss, asal punya kemauan besar dan mau berusaha keras untuk mewujudkannya.”

– Dikutip dari: http://blogs.itb.ac.id/yudhis/23-maret/

:’)

Dan hal ini mengingatkan kita juga untuk selalu menjaga setiap bagian tubuh kita yang sudah dianugerahkan Allah SWT. Jagalah ginjal, minimal dengan cara minum MINIMAL 8 gelas sehari! πŸ˜‰

(Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Ginjal , http://en.wikipedia.org/wiki/Peritoneal_dialysis )

8 thoughts on “Peritoneal Dialysis

  1. penjelasannya sangat ringkas tapi jelas! πŸ˜€ excellent post!! keep blogging!! πŸ˜€
    tapi tapi.. menurut saya PD gak ribet kok.. serius deh.. daripada Hemodialisis, mending PD.. Lebih mending lagi cangkok ginjal.. :))))))))))))))))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *