Cihapit dan Kaulinan Barudak Jaman Baheula #ngaleut!

My First ‘Ngaleut’

Ide untuk menulis postingan ini datang ketika saya memikirkan tentang ‘aleut’. Ketika terpikir kata itu, langsung seolah saya menjentikkan jari sembari berteriak: “Ya! itu saja!”. Dan memang saya belum pernah menulis tentang aleut sama sekali bukan? Padahal sudah beberapa kali saya ikut ngaleut.

Dari tadi apa sih ‘aleut’ lagi ‘aleut’ lagi? Bagi sebagian besar orang sunda pasti tahu, karena ‘aleut’ itu merupakan kata berbahasa sunda yang berarti ‘jalan beriringan’. Ya, inilah yang setiap minggu kami lakukan, di Komunitas Aleut. Hanya berjalan saja? Tentu tidak! Apresiasi sejarah, wisata, dan budayalah yang kami lakukan.

Tergabungnya saya di Aleut ini bisa dibilang belum lama, Aleut pertama saya adalah tanggal 26 Februari 2012, kala itu tema Aleutnya adalah “Pesona Cihapit dan Kaulinan Barudak Jaman Baheula”.

Baru datang pertama kali ke spot kumpul kala itu rasanya langsung klop. Hmm… Nyaman juga berada di tengah-tengah komunitas ini, orangnya sikasik (berasa lagu), berbagai kalangan, berbagai usia, yang membuatnya semakin berwarna dan semakin luas tempat bertukarnya pikiran. Apalagi ketika ngaleutnya dimulai, oke, dalam benak saya langsung terpikir: “Betapa ruginya saya jika saya tidak melanjutkan menjadi pegiat Aleut ke depannya.” πŸ™‚

Ngaleut dimulai di Pasar Cihapit. Oh ya, bagi yang belum tahu Cihapit dimana, itu di daerah jalan Riau, dekat Cafe Bober, perempatan di situ adalah perempatan Cihapit. Lho, ngapain masuk-masuk pasar segala? Katanya apresiasi sejarah, budaya, dan wisata, kok masuk pasar? Eits, tunggu dulu. Lihat dulu apa saja yang di dalamnya. Di Pasar tersebut banyak sekali pedagang makanan tradisional seperti awug, getuk, ciwel, pukis, bandros, kue balok, daaan masih banyak lagi. Selain itu terdapat juga warung makan yang terkenal, yaitu warung Mak Eha yang tidak pernah berjualan sampai siang. Mengapa begitu? Karena masih pagi saja selalu sudah habis. Wow, jadi penasaran apa saja makanan di situ, pastinya sangat lezat dan murah meriah ya. Pokoknya, meskipun tempatnya bisa dikatakan kecil, Pasar Cihapit itu bisa dikatakan surga kuliner jajanan tradisional.

Hanya itu dari Cihapit? Itu saja? Tentu tidak. Ingat, selain wisata kami juga mengapresiasi sejarah di sana. Pada zaman penjajahan dahulu, kawasan Cihapit ini merupakan suatu kawasan Camp pribumi wanita dan anak-anak. Daerah ini dikelilingi oleh benteng dari bambu yang tinggi. Hanya wanita dan anak-anak yang tinggal di situ. Lalu dimana pria dewasanya? Camp pria berada di kawasan Malabar, dekat dengan Kosambi. Kedua camp itu terpisah jarak yang cukup jauh, ditambah lagi kala itu masa penjajahan, betapa semakin tertekannya kaum pribumi, apalagi jika sudah didera rasa rindu terhadap keluarganya. Karena itulah para pria dari Malabar sering kabur demi menemui istri dan anak-anaknya di Camp Cihapit. Gorong-gorong saluran air yang berada di bawah tanah kawasan Cihapit sering dijadikan tempat pertemuan sembunyi-sembunyi antar anggota keluarga. Mengharukan namun menyedihkan, bertemu keluarga saja harus di tempat seperti itu dan secara sembunyi-sembunyi pula. Bersyukurlah saat ini kita di zaman kemerdekaan dan modern, bagi yang tinggal bersama keluarga, setiap hari kita menemuinya, atau bagi yang jauh sekali pun kita dapat dengan mudahnya mengontak melalui buah kecanggihan zaman sekarang ini. πŸ™‚

Secara garis besar, saat di kawasan Cihapit kami membahas tentang Camp pribumi tersebut, tentunya masih banyak hal lain, namun cerita sebanyak itu sulit juga untuk saya ingat, hehehe. Belum lagi jika saat dijelaskan, kondisi jalan sedang ribut sehingga ceritanya tidak begitu terdengar.

Selain Cihapit, kami juga menelusuri ke selatan, melalui perumahan-perumahan dengan nama jalan kelompok pohon, misalnya jalan manglit. Ini adalah ciri khas pada zaman itu, nama jalan di suatu daerah itu selalu berkelompok, misalnya nama pohon, buah, gunung, dsb. Oleh karena itu jangan heran jika di Bandung banyak nama jalan yang setema dan berkelompok, itu merupakan buah dari pembagian kawasan pada zaman Belanda dulu, kecuali nama jalan berkelompok yang merupakan kompleks-kompleks baru ya semisal Margahayu yang namanya benda langit semua, hehehe. Kompleks daerah jalan manglit tersebut masih memperlihatkan sisa-sisa zaman Belanda, misalnya rumah ini:

Bentuk bangunan seperti itu merupakan ciri khas Belanda, dengan di belakangnya terdapat lahan kosong, tersedia saluran air, dan di pinggir rumah terdapat jalan samping, jadi rumah tidak berdempetan di sisi kanan dan kirinya, hanya salah satu sisi saja. Desain tersebut dimaksudkan untuk mempermudah evakuasi jika terjadi hal-hal darurat misalnya kebakaran. Coba saja kalau dibandingkan rumah sekarang. Semua serba dempet dan jika terjadi apa-apa cukup sulit untuk proses evakuasi.

Aleutians (sebutan bagi pegiat Aleut) juga menelusuri ke daerah lebih selatan lagi, melalui jalan Jamuju. Di jalan ini, banyak rumah yang masih merupakan bentuk aslinya, namun sudah agak ‘lebih mewah’. Seperti ini contohnya:

Perhatikan bahwa rumah ini memiliki nama. Pada foto tersebut, namanya adalah HELENA. Apa sih maksudnya kok pakai nama segala? Nah nama yang tertulis di depan rumah Belanda itu adalah nama anak perempuan paling tua dalam keluarga tersebut. Jika tidak memiliki anak perempuan, maka tidak ada namanya.

Jalan terus menuju selatan, Aleutians tiba di kawasan jalan mangga (daerah buah-buahan nih). Di sini kami masih merasakan ‘aura-aura’ Eropanya, sebagai contoh Toko Cairo:

Dari bangunannya pun sudah terlihat jelas bukan? Belum lagi di pintunya tertempel tulisan seperti ini: “Tutup 1:00 PM, Buka 3:00 PM”. Nah, kalau kita pikir, buat apa tutup di siang hari selama 2 jam? Ada acara apa sih setiap hari jam segitu? Ternyata, itu adalah waktu tidur siang sang pemilik toko. Hal demikian menunjukkan budaya Eropa yang sangat kental masih terdapat di daerah ini. Budaya tidur siang teratur dan kegiatan siang dihentikan selama tidur siang ini merupakan budaya khas Eropa.

Selain ngaleut di daerah Cihapit sampai ke jalan Mangga, kami juga mengenang masa kecil dengan memainkan beberapa permainan tradisional seperti congklak, sondah, bebentengan, gatrik, perepet jengkol, dan lainnya. Kegiatan lain yang dilakukan dalam menutup aleut hari tersebut adalah saling bertukar jajanan tradisional yang dibeli di Pasar Cihapit. Menyenangkan sekali, kami jadi tahu berbagai macam rasa lezatnya jajanan tradisional. Permainan-permainan dan saling bertukar jajanan tradisional ini kami lakukan di taman jalan Anggrek (nah ini kawasan bunga-bungaan). Kesan ketika kami memainkan permainan-permainan ini adalah: berkeringat! (kecuali congklak paling). Ya, permainan zaman dahulu memang bikin sehat ya, berbeda dengan zaman sekarang, akibat perkembangan zaman dan teknologi juga sebenarnya. Belum pernah lihatΒ  dewasa ini anak-anak yang memainkan permainan tradisional seperti yang telah disebutkan di atas. Sayang sekali, padahal permainan-permainan tersebut menantang semua dan menyenangkan, serta membuat kita pandai bersosialisasi dengan orang lain. Terlihat bukan, bahwa anak-anak sekarang lebih individualis? Itulah salah satu dampak buruk kemajuan teknologi.

Permainan Congklak

Oh ya, sewaktu ngaleut pada hari itulah Metro TV meliput Komunitas Aleut. Liputannya sudah ditayangkan di Wideshot Metro TV edisi Jumat, 16 Maret 2012. Silakan lihat videonya, ini lokasi tautannya:

http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/03/16/11888/695/Wideshot-Edisi-Jumat-16-Maret-2012

Ada saya juga lho di video itu! Untungnya terekam pas lagi gak aneh-aneh! :p (mohon abaikan kalimat ini).

Sekian postingan ini πŸ™‚ Jujur, setelah selesai mengetik ini saya menyadari bahwa saya akan banyak menulis tentang Aleut. Postingan ini saja hanya menceritakan sedikit perjalanan Aleut pertama saya. Tunggu saja postingan tentang Aleut selanjutnya! πŸ˜‰

5 thoughts on “Cihapit dan Kaulinan Barudak Jaman Baheula #ngaleut!

  1. Itu maksudnya apa sih nulis nama anak perempuan di rumah :))))) haduh, ada2 aja.. ntar kalo udah punya anak mau bikin counter-culture ah.. nulis nama anak laki2 di rumah.. :p

    • sondah ada, terus gatrik, perepet jengkol, bebentengan. Kalo galah asin ga dicoba dimainin, hehe… Ya, bersyukurlah zaman kecil masih mengalami permainan-permainan seperti itu. Zaman sekarang gak pernah lihat anak-anak main semacam itu.

  2. Tapi kadang saya juga mendorong anak2 saya untuk ikut kaulinan baheula ketika datang ke rumah kakeknya. Di lembur mah masih banyak kaulinan baheula teh. Alhamdulillah meskipun jarang, tapi nerap…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *