Pindah Blog

Pindah ke: rezapahlev.wordpress.com
Karena disini itu diquota, baru 5 post saja saya sudah menghabiskan space hampir 20%, wow… udah seperlimanya aja… jadi mendingan bikin baru dari sekarang… tapi postingan-postingan yang sebelumnya sudah diimport kok…
Tetap berkunjung ya πŸ™‚
*tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat menulis postingan di sini juga. Mari.. πŸ™‚

 

Donor Darah

Sebenarnya donor darah ini dilakukan pada tanggal 11 April lalu, bisa dibilang agak basi, namun tentunya kalau pelajaran dan manfaat yang didapat tidak akan pernah bisa basi dong πŸ˜‰

Mengapa saya tulis ini? Karena selain ingin memaparkan manfaat donor darah, saya juga cukup merasa berkesan, inilah donor darah pertama saya, padahal acara semacam ini sudah sering sekali saya lihat, apalagi di sekitar lingkungan fakultas saya dan fakultas tetangga, nama acaranya ‘Donor Darah 4 Labtek’. Akhirnya, bersama 2 teman saya setelah mengerjakan pekerjaan di lab, tempat donor darah itu dituju.

Sebelum mendonorkan darah, tentunya dilakukan cek kesehatan dahulu, seperti berat badan, kadar hemoglobin darah, dan golongan darah tentunya, juga dilakukan wawancara tentang kesehatan saat itu, misalnya seperti tidur berapa jam, sudah sarapan atau belum, dalam waktu dekat minum obat atau tidak, dan sebangsanya. Dari tahapan ini sebenarnya kita sudah memperoleh keuntungan, yaitu kita mendapatkan konsultasi kesehatan gratis, dan tahu apa saja yang harus kita perbaiki dalam menjaga kesehatan jikalau pada saat itu kita dinyatakan tidak sehat. Belum lagi kalau yang belum tahu golongan darah, disitu kan diperiksa gratis, hehe… *tapi masa iya sih udah kuliah ga tau golongan darah sendiri*.

Untuk menjadi pendonor, berat badan kita minimal harus 50 kg, tidak sedang mengonsumsi obat, tidur minimal 5 jam semalam sebelum donor, sudah makan, dan tidak sedang menderita pusing, sakit kepala, dan sebangsanya. Oh iya, bagi wanita, yang haid dan hamil juga tidak boleh. Jika merasa tidak memenuhi itu, sebaiknya jangan mendonorkan darah, demi kesehatan diri saat itu.

Dan inilah pengalaman saya, ketika itu Alhamdulillah saya memenuhi persyaratan. 2 orang teman saya yang rajin ke donor darah malah saat itu sedang tidak memenuhi syarat. Kadar Hb mereka terlalu rendah. Jadi diantara ber-3, hanya saya yang mendonorkan saat itu. Hal ini juga membuat saya teringat untuk tidak lupa bersyukur, ya bersyukur, berarti saat itu saya dalam keadaan sehat sekali. Kemudian saya disuruh duduk di kursi yang mirip dengan kursi untuk bersantai di pinggir kolam renang atau pantai πŸ˜€ namun di pinggirnya banyak alat-alat untuk menunjang proses pengambilan darah.

Saat mata menikmati pemandangan pohon-pohon dadap merah di sekitar 4 labtek, terasa bahwa jarum sudah masuk ke pembuluh darah dan saat saya lihat, darah sudah mengalir masuk ke dalam labu. Oke, tinggal duduk bersantai, melanjutkan menikmati pemandangan, atau tangan yang satunya sambil twitteran misalnya, atau dadah-dadah sama teman yang di sekitar situ (ngapain nih), atau sambil ngeceng-ngeceng juga bisa.

Menurut pengetahuan saya, darah yang diambil itu sekitar 450 mL, tetapi waktu saya tanya kemarin, diambilnya sekitar 400 mL saja. Ya kira-kira mungkin segitu lah ya. Dan seriusan, diambil darah seperti itu tidak menyakitkan seperti digigit dan disedot vampir #yakali *kayak yang ada aja*. Selain dimasukkan dalam labu, beberapa mL darah kita juga diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut seperti pemeriksaan hepatitis, HIV, dan sebagainya. Di sinilah keuntungan lainnya, kita bisa mengetahui jika ternyata kita terkena suatu penyakit serius, karena ini memang prosedur standarnya. Ya amit-amitlah ya kita punya penyakit-penyakit seperti itu.. hiii… Naudzubillah…

Selesai diambil darah, kita tetap disuruh duduk sejenak di situ untuk berjaga-jaga kalau terasa pusing. Jika merasa tidak pusing, kita bisa langsung saja ke pos pengambilan kartu donor dan mendapatkan makan minum gratis! πŸ˜€ Selain makanan dan minuman gratis, kita juga mendapatkan suplemen penambah darah untuk beberapa hari. Hmmm… lumayan banget tuh, gratis, dan keuntungan yang diperoleh banyak sekali jika menjadi pendonor. Apa saja, ini dia:
1. Kita mendapat pemeriksaan dari dokter secara gratis, sudah dijelaskan di atas,
2. Dengan mendonorkan darah, sumsum tulang belakang akan terstimulasi untuk memproduksi sel-sel darah merah baru. Sejumlah darah yang hilang itu akan digantikan dengan yang baru. Fresh. Gres. Ibaratnya seperti kita menggunakan barang baru, pasti segalanya terasa enak bukan, berbeda dengan memakai barang lama atau barang bekas,
3. Dapat menurunkan resiko penyakit jantung dan stroke, karena dengan mendonorkan darah, kadar zat besi dapat terjaga. Zat besi berlebihan dalam darah dapat bereaksi dengan senyawa kolestrol dan hasil reaksinya dapat menumpuk pada dinding arteri sehingga dapat menyumbat. Hiii mengerikan…,
4. Dapat mendeteksi penyakit serius sejak dini, seperti yang telah disebutkan di atas,
5. Dapat membantu diet. Lho kok bisa? Ya, karena dengan mendonorkan darah sekitar 450 mL tersebut, sekitar 650 kalori terbakar. Wooow lumayan banget kan, kalau teratur donor darah, dijamin singset deh badan tuh :p ,
6. Dapat kesehatan psikologis juga. Benar-benar terasa sekali memang, karena setelah mendonorkan darah, rasanya itu puaaaas sekali, karena kita tahu bahwa kita akan menolong orang yang membutuhkan dan orang bisa terselamatkan dengan apa yang kita kasih itu,
(sumber bacaan: http://www.rsi.co.id )
Oh ya, satu lagi yang terpenting:
7. Mendapat pahala πŸ™‚ Tapi tentunya harus ikhlas dalam menjalaninya ya πŸ™‚

Wah, selain bermanfaat bagi yang menerima donor, ternyata lebih banyak lagi manfaatnya untuk si pendonor ya. Seriusan lho, setelah donor darah saat itu rasanya besoknya ingin mendonorkan lagi, hehehe. Tetapi tentu itu tidak boleh, karena jarak minimal untuk pendonoran darah selanjutnya adalah 70 hari, atau sekitar 2,5 bulan atau 3 bulan lah amannya. Benar-benar terasa lho manfaatnya… πŸ™‚ Saya menulis ini pun bukan untuk menyombongkan diri atau riya karena telah mendonorkan darah, tetapi karena saya juga ingin teman-teman dan para pembaca merasakan juga manfaat-manfaat yang super dari donor darah, seperti yang saya dan pendonor lainnya rasakan. Baru pertama kali saja saya sudah seperti ini, apalagi jika rutin setiap 3 bulan sekali ya. So, tunggu apa lagi buat donor darah?? πŸ˜‰

Kembang Sepatu: Anak Dahulu vs Anak Sekarang

Waaah.. Ada pertandingan apa ini? Ada versus-versusan segala! Terus itu apaan kembang sepatu? Hahaha..

Bukan ‘pertandingan’ kok, cuma sedikit ‘perbandingan’ saja… Dan postingan ini hanya berisi pendapat saja ya, bukan hasil dari observasi yang mendalam dan hasil data pengamatannya diolah secara statistik, kemudian……. eh eh ups, maaf, mari kita lanjutkan πŸ˜€

Supaya agak seru, anggaplah paragraf setelah ini merupakan sebuah prolog cerita (berasa novel aja nih).

Saya memiliki job sebagai pengajar kelas reguler maupun privat di salah satu lembaga bimbingan belajar di bilangan Riung Bandung, namanya Quantum Solution. Jadwal mengajar saya adalah hari senin dan kamis sore, terkadang ditambah rabu jika memang saya sedang kosong (a.k.a. gak ngelab TA). Saya mengajar matematika dan IPA untuk kelas 6 SD, 8 SMP, dan 9 SMP. Selain mengajar di kelas, tugas kami pengajar bimbel adalah membimbing mereka dalam mengerjakan PR yang mereka tidak mengerti.

Itulah prolog dari postingan ini. Apa hubungannya sih? Hahaha… Mari kita mulai dengan kejadian hari ini.

Hari ini, senin, 9 April 2012, setelah saya mengajar kelas 6 tiba-tiba ada seorang anak kelas 8 menghampiri saya. Dia merasa tidak mengerti mengenai PR biologinya yang tentang anatomi tumbuhan. Baiklah, saya jelaskan tuh tentang anatomi tumbuhan sambil sesekali mengingatkan jangan malas untuk membaca rangkuman LKS dan materi di buku paketnya karena pada dasarnya bisa biologi itu kan diawali dengan keinginan membaca materinya. Setelah selesai membahas PR, dia sedikit curhat tentang kebingungan tugas praktikum biologinya yang disuruh membawa bunga yang perhiasannya lengkap. Lalu saya sarankan untuk membawa kembang sepatu karena bunga tersebut perhiasannya sangat jelas terlihat semua dan lengkap. Namun saya kaget, ternyata respon dia adalah:
“Kak, saya gak tahu kembang sepatu yang kayak gimana… ”
Saya pun kaget, “Masa sih? Itu loh yang warna merah, kalau kamu petik, terus kamu isep ujung bawahnya manis ada nektarnya… terus serbuk sarinya kuning-kuning gitu..”
Dan dia tetap tidak tahu.
Oke, Baiklah. “Kalau daunnya diremas-remas, pake air, nanti airnya jadi mengental, kalau waktu kecil biasanya dipake buat main minyak-minyakan”.
Tapi, “Saya tetep gak tahu itu yang gimana, kak.”
Dan akhirnya, “Ya sudah, kalau di jalan kamu nemu bunga, petik aja buat tugas praktikum kamu, hehe… Kan cuma saran saya aja pake kembang sepatu biar semua perhiasannya terlihat jelas.”

Oke, saya rasa kembang sepatu ini sangat populer. Apalagi di kalangan anak-anak, karena anak-anak sering memetik bunga ini dan menghisapnya. Apakah yang tahu hanya kita-kita saja? Apakah anak-anak sekarang tidak tahu?

Jika mengingat postingan sebelumnya, seperti yang telah kita tahu bahwa memang anak-anak dahulu dan anak-anak sekarang sudah sangat berbeda. Terlihat dari permainan mereka sekarang yang cenderung lebih individualis dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan luar. Ini hanya kembang sepatu yang umum saja kok, dan sekali lagi ini hanya pendapat saya ya, karena saya juga baru melihat di satu anak ini saja (namun sudah banyak bukti — di luar kembang sepatu tentunya — yang menunjukkan anak sekarang kurang sekali bersosialisasi keluarnya). Kalau boleh jujur, dulu saya tergolong anak yang ‘rumahan’ dan frekuensi main di luarnya tidak sesering anak-anak yang lain, namun segala jenis permainan saya tahu, segala hal yang berbau ‘gaul di kalangan anak-anak’ saya juga tahu. Kalau anak segaul itu lingkungan luar saja tidak tahu, bagaimana dengan anak yang tergolong rumahan?

Sekali lagi ini hanya pendapat ya, pendapat, hehe… No offense kok… Tapi minta pendapat teman-teman lain ya πŸ˜‰

Tapi ngaku! Jangan-jangan ada yang gak tahu kembang sepatu juga nih, hahaha… Ngaku lho! Oke, oke, nih dikasih deh gambarnya:

sumber: news.tobaonline.com

Jadi, tumbuhan yang memiliki nama latin Hibiscus rosa-sinensis dan tergolong dalam famili Malvaceae ini…. *stop *stop *stop
malah jadi kayak kuliah botani nantinya, hehe…
Sekian postingan saya, pendapat teman-teman juga diminta ya… πŸ˜‰

Cihapit dan Kaulinan Barudak Jaman Baheula #ngaleut!

My First ‘Ngaleut’

Ide untuk menulis postingan ini datang ketika saya memikirkan tentang ‘aleut’. Ketika terpikir kata itu, langsung seolah saya menjentikkan jari sembari berteriak: “Ya! itu saja!”. Dan memang saya belum pernah menulis tentang aleut sama sekali bukan? Padahal sudah beberapa kali saya ikut ngaleut.

Dari tadi apa sih ‘aleut’ lagi ‘aleut’ lagi? Bagi sebagian besar orang sunda pasti tahu, karena ‘aleut’ itu merupakan kata berbahasa sunda yang berarti ‘jalan beriringan’. Ya, inilah yang setiap minggu kami lakukan, di Komunitas Aleut. Hanya berjalan saja? Tentu tidak! Apresiasi sejarah, wisata, dan budayalah yang kami lakukan.

Tergabungnya saya di Aleut ini bisa dibilang belum lama, Aleut pertama saya adalah tanggal 26 Februari 2012, kala itu tema Aleutnya adalah “Pesona Cihapit dan Kaulinan Barudak Jaman Baheula”.

Baru datang pertama kali ke spot kumpul kala itu rasanya langsung klop. Hmm… Nyaman juga berada di tengah-tengah komunitas ini, orangnya sikasik (berasa lagu), berbagai kalangan, berbagai usia, yang membuatnya semakin berwarna dan semakin luas tempat bertukarnya pikiran. Apalagi ketika ngaleutnya dimulai, oke, dalam benak saya langsung terpikir: “Betapa ruginya saya jika saya tidak melanjutkan menjadi pegiat Aleut ke depannya.” πŸ™‚

Ngaleut dimulai di Pasar Cihapit. Oh ya, bagi yang belum tahu Cihapit dimana, itu di daerah jalan Riau, dekat Cafe Bober, perempatan di situ adalah perempatan Cihapit. Lho, ngapain masuk-masuk pasar segala? Katanya apresiasi sejarah, budaya, dan wisata, kok masuk pasar? Eits, tunggu dulu. Lihat dulu apa saja yang di dalamnya. Di Pasar tersebut banyak sekali pedagang makanan tradisional seperti awug, getuk, ciwel, pukis, bandros, kue balok, daaan masih banyak lagi. Selain itu terdapat juga warung makan yang terkenal, yaitu warung Mak Eha yang tidak pernah berjualan sampai siang. Mengapa begitu? Karena masih pagi saja selalu sudah habis. Wow, jadi penasaran apa saja makanan di situ, pastinya sangat lezat dan murah meriah ya. Pokoknya, meskipun tempatnya bisa dikatakan kecil, Pasar Cihapit itu bisa dikatakan surga kuliner jajanan tradisional.

Hanya itu dari Cihapit? Itu saja? Tentu tidak. Ingat, selain wisata kami juga mengapresiasi sejarah di sana. Pada zaman penjajahan dahulu, kawasan Cihapit ini merupakan suatu kawasan Camp pribumi wanita dan anak-anak. Daerah ini dikelilingi oleh benteng dari bambu yang tinggi. Hanya wanita dan anak-anak yang tinggal di situ. Lalu dimana pria dewasanya? Camp pria berada di kawasan Malabar, dekat dengan Kosambi. Kedua camp itu terpisah jarak yang cukup jauh, ditambah lagi kala itu masa penjajahan, betapa semakin tertekannya kaum pribumi, apalagi jika sudah didera rasa rindu terhadap keluarganya. Karena itulah para pria dari Malabar sering kabur demi menemui istri dan anak-anaknya di Camp Cihapit. Gorong-gorong saluran air yang berada di bawah tanah kawasan Cihapit sering dijadikan tempat pertemuan sembunyi-sembunyi antar anggota keluarga. Mengharukan namun menyedihkan, bertemu keluarga saja harus di tempat seperti itu dan secara sembunyi-sembunyi pula. Bersyukurlah saat ini kita di zaman kemerdekaan dan modern, bagi yang tinggal bersama keluarga, setiap hari kita menemuinya, atau bagi yang jauh sekali pun kita dapat dengan mudahnya mengontak melalui buah kecanggihan zaman sekarang ini. πŸ™‚

Secara garis besar, saat di kawasan Cihapit kami membahas tentang Camp pribumi tersebut, tentunya masih banyak hal lain, namun cerita sebanyak itu sulit juga untuk saya ingat, hehehe. Belum lagi jika saat dijelaskan, kondisi jalan sedang ribut sehingga ceritanya tidak begitu terdengar.

Selain Cihapit, kami juga menelusuri ke selatan, melalui perumahan-perumahan dengan nama jalan kelompok pohon, misalnya jalan manglit. Ini adalah ciri khas pada zaman itu, nama jalan di suatu daerah itu selalu berkelompok, misalnya nama pohon, buah, gunung, dsb. Oleh karena itu jangan heran jika di Bandung banyak nama jalan yang setema dan berkelompok, itu merupakan buah dari pembagian kawasan pada zaman Belanda dulu, kecuali nama jalan berkelompok yang merupakan kompleks-kompleks baru ya semisal Margahayu yang namanya benda langit semua, hehehe. Kompleks daerah jalan manglit tersebut masih memperlihatkan sisa-sisa zaman Belanda, misalnya rumah ini:

Bentuk bangunan seperti itu merupakan ciri khas Belanda, dengan di belakangnya terdapat lahan kosong, tersedia saluran air, dan di pinggir rumah terdapat jalan samping, jadi rumah tidak berdempetan di sisi kanan dan kirinya, hanya salah satu sisi saja. Desain tersebut dimaksudkan untuk mempermudah evakuasi jika terjadi hal-hal darurat misalnya kebakaran. Coba saja kalau dibandingkan rumah sekarang. Semua serba dempet dan jika terjadi apa-apa cukup sulit untuk proses evakuasi.

Aleutians (sebutan bagi pegiat Aleut) juga menelusuri ke daerah lebih selatan lagi, melalui jalan Jamuju. Di jalan ini, banyak rumah yang masih merupakan bentuk aslinya, namun sudah agak ‘lebih mewah’. Seperti ini contohnya:

Perhatikan bahwa rumah ini memiliki nama. Pada foto tersebut, namanya adalah HELENA. Apa sih maksudnya kok pakai nama segala? Nah nama yang tertulis di depan rumah Belanda itu adalah nama anak perempuan paling tua dalam keluarga tersebut. Jika tidak memiliki anak perempuan, maka tidak ada namanya.

Jalan terus menuju selatan, Aleutians tiba di kawasan jalan mangga (daerah buah-buahan nih). Di sini kami masih merasakan ‘aura-aura’ Eropanya, sebagai contoh Toko Cairo:

Dari bangunannya pun sudah terlihat jelas bukan? Belum lagi di pintunya tertempel tulisan seperti ini: “Tutup 1:00 PM, Buka 3:00 PM”. Nah, kalau kita pikir, buat apa tutup di siang hari selama 2 jam? Ada acara apa sih setiap hari jam segitu? Ternyata, itu adalah waktu tidur siang sang pemilik toko. Hal demikian menunjukkan budaya Eropa yang sangat kental masih terdapat di daerah ini. Budaya tidur siang teratur dan kegiatan siang dihentikan selama tidur siang ini merupakan budaya khas Eropa.

Selain ngaleut di daerah Cihapit sampai ke jalan Mangga, kami juga mengenang masa kecil dengan memainkan beberapa permainan tradisional seperti congklak, sondah, bebentengan, gatrik, perepet jengkol, dan lainnya. Kegiatan lain yang dilakukan dalam menutup aleut hari tersebut adalah saling bertukar jajanan tradisional yang dibeli di Pasar Cihapit. Menyenangkan sekali, kami jadi tahu berbagai macam rasa lezatnya jajanan tradisional. Permainan-permainan dan saling bertukar jajanan tradisional ini kami lakukan di taman jalan Anggrek (nah ini kawasan bunga-bungaan). Kesan ketika kami memainkan permainan-permainan ini adalah: berkeringat! (kecuali congklak paling). Ya, permainan zaman dahulu memang bikin sehat ya, berbeda dengan zaman sekarang, akibat perkembangan zaman dan teknologi juga sebenarnya. Belum pernah lihatΒ  dewasa ini anak-anak yang memainkan permainan tradisional seperti yang telah disebutkan di atas. Sayang sekali, padahal permainan-permainan tersebut menantang semua dan menyenangkan, serta membuat kita pandai bersosialisasi dengan orang lain. Terlihat bukan, bahwa anak-anak sekarang lebih individualis? Itulah salah satu dampak buruk kemajuan teknologi.

Permainan Congklak

Oh ya, sewaktu ngaleut pada hari itulah Metro TV meliput Komunitas Aleut. Liputannya sudah ditayangkan di Wideshot Metro TV edisi Jumat, 16 Maret 2012. Silakan lihat videonya, ini lokasi tautannya:

http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/03/16/11888/695/Wideshot-Edisi-Jumat-16-Maret-2012

Ada saya juga lho di video itu! Untungnya terekam pas lagi gak aneh-aneh! :p (mohon abaikan kalimat ini).

Sekian postingan ini πŸ™‚ Jujur, setelah selesai mengetik ini saya menyadari bahwa saya akan banyak menulis tentang Aleut. Postingan ini saja hanya menceritakan sedikit perjalanan Aleut pertama saya. Tunggu saja postingan tentang Aleut selanjutnya! πŸ˜‰

Peritoneal Dialysis

Apakah ini? Kalau dengar kata ‘dialisis’ inget apa coba?

Kebanyakan orang pasti inget ‘cuci darah’ jika mendengar kata ‘dialisis’. Ya, memang benar, proses cuci darah disebut juga dengan hemodialisis, yang merupakan salah satu cara Terapi Pengganti Ginjal (TPG) akibat dari kerusakan atau gagal ginjal (renal failure). Sebenarnya gagal ginjal itu apa sih?

Ginjal merupakan organ yang bertugas membuang sisa-sisa hasil metabolisme dalam tubuh dan zat-zat yang sudah tidak diperlukan lagi. Bisa dikatakan bahwa ginjal ini bertugas membuang sampah dari tubuh. Nah, gagal ginjal berarti ginjalnya tidak dapat melaksanakan fungsi ini, atau fungsinya sudah sangat tereduksi. Coba bayangkan kalau di rumah kita banyak sampah dan kita tidak membuangnya sampai dia menumpuk. Ga sehat kan? Nah, itu juga yang terjadi dalam tubuh kita, jika sampah-sampahnya tidak dibuang maka dia akan menumpuk dalam tubuh dan menjadi racun. Keadaan menumpuknya sisa-sisa metabolisme dan air dalam darah ini disebut uremia.

Seperti yang telah kita ketahui, kita memiliki 2 buah ginjal. Sebenarnya, 1 ginjal saja sudah cukup untuk menunaikan fungsinya, namun jika sudah rusak keduanya, maka perlu dilakukan Terapi Pengganti Ginjal tadi.

TPG terbagi menjadi 3, yaitu Hemodialisis, Peritoneal Dialysis (PD), dan Transplantasi Ginjal. Jika melihat judul postingan ini, yang akan saya bahas adalah yang ke-2 yaitu Peritoneal Dialysis. Kalau hemodialisis pasti tidak asing ya, rasanya banyak sekali penderita gagal ginjal yang menggunakan cara ini. Prinsipnya adalah dialisis darah menggunakan alat. Kalau transplantasi ginjal, ya berarti cangkok ginjal dari pendonor kepada penderita.

Sama halnya seperti hemodialisis, prinsip PD ini juga dialisis, hanya saja bukan dengan alat ginjal buatan dengan mengalirkan darah ke alat tersebut, namun ini dengan cara memasukkan cairan ke dalam rongga perut (peritoneal). Lho, lalu apa yang terjadi?

Seperti ini ya kira-kira gambarnya:

Sumber: http://www.drugs.com

Dengan cara seperti ini, dialisis terjadi di dalam rongga perut. Transportasi zat-zat dan hasil metabolisme terjadi melalui membran peritoneum yang merupakan membran semipermeabel. Cairan dialisis terdiri dari elektrolit-elektrolit dan glukosa dengan kadar 1,5%-2,5% atau tergantung kebutuhan, supaya cairan tersebut bersifat hipertonis. Kalau sudah membicarakan tonisitas begini, berarti yang terjadi adalah proses osmosis. Ya, cairan dari dalam darah yang bersifat lebih hipotonis akan berpindah ke cairan dialisis. Dan ada satu proses lagi yaitu difusi. Zat-zat dalam darah dengan jumlah lebih banyak itu akan berdifusi ke dalam cairan dialisis, sampai mencapai keadaan setimbang. Cairan dialisis dimasukkan ke rongga peritoneal menggunakan suatu kateter yang dipasang melalui operasi. Biasanya cairan dialisis ini berada di dalam perut sekitar 6-8 jam, kemudian dibuang melalui kateter yang sama. Dengan cara inilah air yang berlebihan dalam darah dan zat-zat sampah dari darah dapat terbuang.

TPG yang satu ini jarang digunakan orang, karena memang cukup ribet, harus benar-benar terjadwal dalam sehari, belum lagi kalau banyak kesibukan. Dan dalam melakukannya, harus terjaga higienitas sekeliling karena rentan infeksi.

Mengapa saya menulis ini?

Jujur, karena salah seorang sahabat saya mengalami renal failure πŸ™ dan ia menggunakan TPG PD ini. Saya pernah bertandang ke kosannya dan di sela-sela kuliah maupun kesibukannya ia harus menyempatkan untuk PD dulu. Persiapan sebelum PD ini benar-benar mengingatkan saya akan pekerjaan TA saya di lab mikrobiologi, terutama di bagian pengondisian supaya steril. Sekitar 3 kali sehari dia melakukan seperti ini dan saya pun yang melihatnya rasanya……. tak terbayangkan. Namun ia adalah pribadi yang kuat, selalu ceria dan tersenyum, juga selalu jadi sahabat yang rame, heboh, menyenangkan! Sebut saja namanya, Yudhis. Ia juga menulis hal ini di blognya dan cukup membuat saya tergugah, terutama di bagian:

β€œTidak butuh ginjal untuk bisa ke Swiss, tidak punya ginjal pun bisa ke Swiss, asal punya kemauan besar dan mau berusaha keras untuk mewujudkannya.”

– Dikutip dari: http://blogs.itb.ac.id/yudhis/23-maret/

:’)

Dan hal ini mengingatkan kita juga untuk selalu menjaga setiap bagian tubuh kita yang sudah dianugerahkan Allah SWT. Jagalah ginjal, minimal dengan cara minum MINIMAL 8 gelas sehari! πŸ˜‰

(Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Ginjal , http://en.wikipedia.org/wiki/Peritoneal_dialysis )

Tulisan Pertama

Inilah tulisan pertama saya di blog ini. Sebenarnya bukan yang pertama juga, karena sebelumnya saya pernah memiliki blog juga. Blog pertama saya buat sewaktu tugas mata kuliah Pengenalan Teknologi Informasi (PTI) semester 1 sewaktu masih muda. Blog ini berisi tentang kesehatan, yang memang merupakan tugas yang diberikan. Sialnya, setelah tugas ini selesai, diberi nilai, blog ini terbengkalai sangat lama (keliatan banget ya bikin blognya karena memang tugas, bukan kesadaran sendiri :p ). Sampai-sampai saya lupa loginnya pake email dan password yang mana πŸ™ Padahal ketika saya membacanya kembali, ternyata tulisan saya cukup menarik. Inilah dia blognya:Β http://reza-numero-one.blogspot.com/

Sekarang, dengan memiliki blog yang sekarang saya tulis ini, saya mencoba membuatnya sebagai rekaman tentang jejak-jejak yang telah ditelusuri selama di bahtera fana ini. (FYI, nama ini diambil dari judul tumblr saya, mohrezapahlev.tumblr.com hehe). Mari kita menulis (lagi)! πŸ™‚