Mount Sumbing 3371 MDPL

Salah satu keindahan Indonesia yang pernah kudaki, yaitu gunung kembar, Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Ini adalah pengalaman pertamaku mendaki, hanya berdua saja (gilaa). Seperti perjalanan sebelumnya, aku selalu berbasecamp di jogja, di tempat temanku, tepatnya di asrama himpunan mahasiswa bontang (HMB). Tidak ada persiapan matang untuk pendakian ini,rencana pagi itu langsung kami tindak lanjuti dengan menyewa peralatan mendaki standar, seperti carrier, sleeping bag, ponco, tenda, dan alat masak, tak lupa juga kami membeli beberapa cadangan makanan selama di atas gunung. Siangnya kami langsung berangkat dengan motor bebek revo menuju kota Temanggung, karena Gunung Sumbing terletak di kota tersebut (salah satu jalur pendakiannya). Selama perjalanan aku yang lebih banyak menyetir motor, karena temanku kurang jelas melihat saat menyetir. Selama perjalanan itu kami melewati kota Magelang dengan Borobudur-nya yang belum pernah ku kunjungi.(wisata mainstream hehe). Banyak sekali pemandangan yang indah melewati berbagai kota dengan motor ini, biarlah itu tersimpan di memori ku.

Perjalanan kulakukan dengan bantuan GPS hp lenovoku yang telah mengantarkanku ke Karimun Jawa juga haha, hp ini banyak berjasa. Meskipun sedikit tersesat dan bertanya-tanya ke penduduk, pada malam hari kami tiba di pos pendakian gunung Sumbing. WOW. Dingin banget !! Oiya dari perjalanan ini aku banyak dapat pelajaran, baca sampai habis kalo gak percaya.

Temanku : Kita harus bergegas menadaki !
Aku : Oke, kita istirahat sejenak di masjid dulu

Kami pun langsung mendaftar sebagai pendaki di pos awal dan dibriefing sejenak dan diberikan peta perjalanan. Sekitar jam setengah 8 malam kami melangkah sedikit demi sedikit melewati pedasaann dan ladang sebelum memasuki kaki gunung Sumbing. Tracking jalanan berbatu dan kegelapan malam ditambah suara-suara binatang malam yang bermunculan, lampu senterku pun meredupi dan sialnya temanku gak bawa senter. Oh God !! Setapak demi setapak petak kami lalui sesuai peta perjalanan (men, baca peta perjalanan butuh keahlian men, aku yang pernah buat dan baca peta perjalanan saat SMA pun udah lupa. Untung dulu ikut pramuka haha).

IMG_20140821_225207_1

*Peta perjalanan yang lecek dan kotor

Singkat cerita kami mendapati persimpangan yang kami tidak tahu harus berjalan ke mana, aku dengan sok tahu nya bilang “kanan aja”. Temenku nyaut “Yakin kah?”. Aku bilang “Gak ada 100 % keyakinan”. Alhasil kami menyusuri jalan tersebut dan mengikuti jalur pipa persawahan dan ternyata kami TERSESAT !!!

Temanku : Gimana nih? Balik aja apa gimana ?
Aku : Kamu yakin kita tersesat ?
Temanku : Jalurnya mulai beda dengan peta
Aku : Kalo gitu ku telpon orang di pos pendakian aja
(Setelah ngobrol dengan orang di pos sekitar satu menit)
Aku : Jangan ikutin jalur perairan penduduk, itu gak menuju ke puncak !

 

Kami pun turun kembali ke persimpangan awal tadi dan berencana mengambil jalur sebaliknya. Singkatnya, kami berada di persimpangan lagi dan mengambil jalur ke kiri. Kami terus mendaki sejauh kaki kami mampu melangkah, jujur saja baru 10 langkah naik, aku sudah harus minum, karena oksigen sulit dan malam semakin dingin. Aku yang paling sering beristirahat dan temanku terlihat masi cukup kuat. Ya tapi itulah pendakian, temanku sering bilang “di atas gunung kamu kangen rumah, di rumah kamu kangen gunung”. Aku tersenyum saja mendengar kata-kata itu, karena sudah sangat kelelahan. Kemudian pendakian terus dilanjutkan dan sesekali istirahat, saat itu kami istirahat di makam pendaki gunung. Kemungkinan orang-orang yang meninggal di gunung ini saat mendaki. Aku sedikit merinding, tapi tidak begitu kuhiraukan rasa takutku.

Kami lanjutkan perjalanan dan kami berpapasan dengan rombongan pendaki lain. Para pendaki itu pun langsung menyaut

“Sini mas, ngopi duluu ”
“Gak usah mas, masih mau ndaki dulu. Lagian cuman berdua aja kok ini” ucap temanku. Biasalah, solidaritas para pendaki itu tinggi.

Cahaya bulan semakin redup kulihat, karena mulai tertutupi lebarnya dedaunan pohon di kiri kanan. Sementara dataran yang dapat dijadikan tempat camp juga tak terlihat, aku pun minta istirahat sejenak di jalur pendakian. Saking lelahnya aku, aku pun tidak bisa menahan beban carrier yang kubawa dan aku hampir terperosok ke jurang. Temanku sontak kaget dan langsung menggapai tanganku agar tidak terperosok lebih dalam. Aku benar-benar kaget dan deg-degan hampir saja aku terperosok ke jurang yang sangat dalam, untung saja ada pijakan sehingga badanku tidak terjatuh ke jurangnya. Untung saja. God save me.

Akibat kejadian itu kami pun memutuskan berhenti untuk ngecamp, karena rasanya fisik kita sudah sangat lelah. Kami mendirikan tenda di lahan yang agak miring (terasa saat tidur, serasa ingin gelinding). Malam kala itu benar-benar tidak enak, dan kulihat ada sms dari adik kelasku karena besok itu ada defile OHU, untungnya aku sudah tugaskan adik kelasku untuk menyiapkan apa-apa yang perlu. Aku hanya perlu kontrol saja dari atas gunung. hehe. Malam itu terasa sekali jaket dan sleeping bag ku berair, mungkin karena embun yang masuk. Sejenak kulupakan semua perasaan tidak nyaman, just sleep.

Pagi harinya aku terbangun dan betapa kagumnya aku, melihat pemandangan kembaran Gunung Sumbing yaitu Gunung Sindoro. Subhanallah, indah sekalii, belum pernah aku melihat yang seperti ini, meskipun ini bukan pemandangan dari puncak.

Aku pun bergegas sholat dan memasak air untuk membuat kopi supaya badan terasa hangat. Kopi pertama di atas gunung memang sangat nikmat, badan pun langsung terasa hangat. Kemudian aku ingin memasak nasi untuk sarapan pagi, sayangnya gas nya habis dan terpaksa kita tidak sarapan. Lagi-lagi karena tidak persiapan. Oh God. Ah sudahlah, segera aku mengemasi tenda dan melanjutkan pendakian.

Naik sekitar 5 menit kami sudah sampai di pasar setan (pestan), kurang lebih kita sudah melewati setengah perjalanan ke puncak. Ternyata di sini sudah ada beberapa rombongan pendaki yang ngecamp, dari sini mereka bisa summit attack ke puncak pada dini hari.

IMG_20140822_083409 IMG_20140822_083528

*Suasana di pasar setan

Rasanya, aku ingin melanjutkan ke puncak, cuman badan ini benar-benar terasa lemas karena tidak sarapan. Kami pun berunding sejenak bagaimana enaknya, kami juga gak mau mati konyol gara-gara gak makan. 10 menit berlalu, akhirnya kami putuskan untuk tetap lanjut menuju puncak tanpa carrier !! Benar-benar nekat, ya mau bagaimana lagi, udah di atas gunung masak gak muncak. Carrier kami tinggalkan di parit buatan berharap tidak terjadi apa-apa dengan carrier kami.

Perjalanan menuju puncak melewati medan bebatuan, padang sabana dan tanjakan curam. Hanya bermodalkan 1 .5 liter air minum dan 3 sachet madurasa kami tetap optimis mencapai puncak. Gila !

Saat perjalanan sesekali kami berhenti dan memakan madurasa, tidak lama berjalan ternyata madurasa kami sudah habis duluan. Padahal puncak masih cukup jauh. Di sini kami terpaksa memakan sari-sari bunga dan sisa-sisa makanan yang berserakan di jalur pendakian. I dont care about this, i just wanna be on top of this mountain. Kalo udah terdesak gini, temanku selalu bilang apa yang sering pendaki bilang “Not the mountain we conquer, but ourself”. Di sini aku benar-benar paham apa arti kata-kata itu, bukan sekedar ucapan, that’s true, karena aku mengalaminya.

IMG_20140822_133800

*Pendakian menuju puncak, tanpa carrier

30 menit lagi kira-kira kami akan sampai puncak dan kami berpapasan dengan pendaki yang baru turun dari puncak. Kami pun minta minum, tetapi ternyata mereka juga tidak ada minuman, apa boleh buat, just keep moving. Saat matahari sudah di atas kepala, kami memutuskan untuk istirahat di bebatuan bekas perapian. Angin berhembus sangat kencang dan udara sejuk sangat terasa, pasti sudah dekat. Lalu kami lanjutkan perjalanan lagi dan bertanya kepada para pendaki yang kami lewati.

“Puncak ke arah mana mas ?”

“Ooh, kalo puncak kawah lurus aja nanti ada plang belok ke kanan. Itu udah puncak kawah”

Oh iya, di gunung sumbing ada beberapa puncak, tetapi puncak yang bisa didaki dengan mudah itu puncak kawah. Puncak lainnya harus didaki dengan tali temali.

Sekalian juga aku minta makanan, siapa tau mereka punya. Ternyata mereka ada dan memberikan kami biskuit dan 2 buah better. Lumayan modal muncak. Setelah makan biskuit tadi, kami langsung bergegas muncak. Unbelieveble, akhirnya setelah perjuangan yang tidak mudah, kami berhasil menaklukkan diri kami sendiri. Puncaknya benar-benar indah, gak lupa kami mengambil foto-foto di puncak dan kami pasti teriak ” I have been here !!!”

Ini beberapa foto saat di puncak

IMG_20140822_140806 IMG_20140822_141537 IMG_20140822_142301 IMG_20140822_173506

2 Responses

Leave a Reply


*