Galeri Tugas Akhir tahun 2012

July 30th, 2012 | pebbie

Share/Bookmark

*will be updated

Pembelajaran berbasis Permainan

March 27th, 2012 | pebbie

Baru saja membaca presentasi tentang 2+1 (tipe pengajar). Hal pertama yang diangkat sebagai persoalan adalah, tipe pengajar pertama yang aktif menggunakan teknologi dalam mengajar yang membuat materi ajar tersedia dalam bentuk data multimedia yang dapat diakses kemudian justru menyebabkan kehadiran mahasiswa menjadi menurun. Sebaliknya tipe pengajar yang tradisional yang masih menggunakan kapur justru tingkat kehadiran mahasiswanya di atas 80%. Baru setelah tipe pengajar pertama menggunakan perangkat mengajar daring yang memfasilitasi aktivitas diskusi persoalan kehadiran mahasiswa dapat diatasi. Archetyping pengajar ini dianalogikan dengan karakter dalam literatur fiksi (film James Bond vs Bourne Trilogy).

Saya jadi terpikir, Bagaimana kalau proses pembelajaran suatu mata kuliah dibuat menjadi semacam ‘permainan’. Dalam dunia bisnis proses ini disebut dengan gamification. Gamification mengubah pengalaman menggunakan produk atau layanan yang berisi tantangan dan imbalan sehingga memicu penggunanya untuk mencoba mengeksplorasi tujuan-tujuan kecil yang dibungkus dalam bentuk tantangan sehingga pengguna tidak merasa keberatan mengikuti aktivitas yang ada pada tantangan tersebut. Bisa jadi tidak harus diimplementasi sebagai gabungan aktivitas kelas-daring tetapi juga bisa diterapkan untuk aktivitas yang dilakukan daring sepenuhnya.

Contoh kasusnya seperti ini, Di awal kuliah diberikan penjelasan tentang mekanisme permainan yaitu tujuan dari mata kuliah. Lalu Satuan perkuliahannya diganti menjadi sebuah tantangan/misi. Pada prinsipnya mirip dengan setiap perkuliahan dibuat sebagai kuis, tetapi materi kuliahnya dibuat bersama-sama secara kolaboratif oleh peserta mata kuliah. Pengajar berperan sebagai tempat berdiskusi dan bertanya. Di lain pihak, Pengajar juga dapat memberikan evaluasi dari materi yang sudah dibuat oleh para peserta kuliah sehingga peserta dapat mendapat umpan-balik mengenai usaha mengumpulkan pengetahuan yang sudah dilakukan. Evaluasi tradisional (mid-term & final) tetap dilakukan untuk melihat perkembangan tiap individu. Evaluasi akhir merupakan gabungan antara kontribusi individual terhadap pengetahuan kolektif dan kompetensi individu tersebut dalam memahami keseluruhan materi.

Apakah memrogram harus mengetik?

November 25th, 2011 | pebbie

Salah satu alasan saya mendalami bidang informatika adalah karena saya suka memrogram (membuat program). Saya sendiri lebih suka menggunakan istilah memrogram daripada membuat perangkat lunak (develop software). Istilah memrogram punya makna yang tidak dibatasi oleh software tapi bagi saya punya makna bermain menyusun mewujudkan hal-hal yang sebelumnya hanya bisa hadir dalam bayangan. Pemaknaan ini buat saya penting, salah satu keuntungannya adalah kalau ditanya “apa yang kamu kerjakan?” bisa dijawab dengan “mewujudkan impian”. Bagi saya, tidak ada pekerjaan lain yang lebih menyenangkan daripada itu.

Beberapa hal yang membatasi adalah selama ini program ditulis sebagai teks, memang ada beberapa metode lain yang sudah dilakukan oleh orang diantaranya memrogram melalui diagram, atau dalam kasus robotik ada cara memrogram robot dengan cara memperagakan contoh.

Akibat dari wujud program yang berupa teks maka pada umumnya perangkat yang dibayangkan untuk memasukkan atau mengubah teks adalah keyboard. Biarpun perangkat genggam sekarang pada umumnya sudah memiliki layar sentuh tetapi untuk memasukkan teks maka tetap harus ada keyboard.

Saya membayangkan bahwa memrogram bisa jadi tidak harus menggunakan keyboard *yang sering membuat pegal atau membutuhkan postur tertentu untuk menggunakannya dengan efisien*. Salah satu usaha yang sedang saya lakukan adalah membimbing mahasiswa tugas akhir untuk mempermudah pekerjaan memrogram menggunakan perangkat genggam. Dalam pikiran saya sekarang, saya membayangkan berbagai alternatif cara memrogram. misalnya dengan memanfaatkan tabletop(*) sehingga proses memrogram bisa dilakuakan secara kolaboratif, atau memrogram melalui gerakan tangan memanipulasi kode yang diproyeksikan ke layar melalui proyektor (**) atau mungkin berupa hologram. Bermimpi lebih lanjut lagi, saya membayangkan bagaimana agar semua orang termasuk yang mengalami keterbatasan (penglihatan, gerakan tangan) juga dapat menikmati ‘indahnya’ memrogram seperti yang saya alami dan membuka kesempatan bagi mereka untuk dapat memrogram dan berkolaborasi dengan orang yang sehat.

*: saya sempat menghubungi profesor di cambridge UK mengenai hal ini namun sepertinya tidak ditanggapi serius. sepertinya kesempatan baik untuk mengungguli cambridge pada masalah ini 🙂
**: saya dalam tahap mempersiapkan hal ini lewat tugas akhir pengenalan gerakan menggunakan kinect, berikutnya perlu estimasi fokus pandangan (gaze/eye tracking) melalui kamera