Skip to content


SNMPTN!

Meski ITB sudah resmi libur dari kegiatan kuliah sejak pekan UAS lalu, keramaian masih saja terlihat di dalam komplek kampus siang ini. Tapi, ada yang berbeda dari keramaian ini. Sejak menginjakkan kaki di gerbang jalan Taman Sari, saya memperhatikan banyak sekali wajah-wajah kebingungan dan tegang. Tengok sana, tengok sini, mereka seperti mencari sesuatu yang hilang sembari sesekali memandang secarik kertas yang berada di tangan.

Spanduk Panitia SNMPTN

Baru saya menyadari apa yang terjadi ketika saya bertemu dengan teman saya di depan ruangan sekretariat panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Kebetulan saat itu teman saya sedang mengantarkan adiknya ke sekretariat panitia untuk meminta informasi. Oh, ternyata SNMPTN itu besok, toh. Mungkin karena saya terlalu sibuk beberapa minggu ini, saya tidak sudah sangat jarang mengingat hari maupun tanggal. Apalagi untuk mengingat tanggal pelaksanaan SNMPTN yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya.

 

Yah, hampir sama sekali tidak ada. Hubungan saya terdekat dengan SNMPTN tahun ini hanyalah sepupu saya, Gerry, dari Medan yang akan mengikuti SNMTPN besok. Dia sengaja jauh-jauh dari Medan datang ke Bandung untuk mengikuti ujian. Dan saya terlalu sibuk untuk peduli menanyakan kabarnya dan persiapannya. Toh saya juga tidak ingin mengganggu persiapannya.

Tapi saya merasa agak penasaran dengan alasan sepupu saya sehingga datang jauh-jauh untuk ikut SNMTPN di Bandung. Ini juga dilakukan banyak orang lain, salah satunya adalah kakaknya, Ricky, yang enam tahun lalu juga datang jauh-jauh dari Medan ke Bandung untuk SNMTPN. Saat itu saya sudah diterima masuk ITB lewat jalur USM, jadi ketika Ricky menginap di rumah, saya sering memperhatikan dia belajar dan kadang-kadang juga ikut mengerjakan soal yang dia kerjakan.

Hiruk Pikuk Ruang Informasi SNMPTN

Saya tidak tau apakah ada korelasi antara jarak tempat ujian dengan PTN yang diinginkan terhadap kemungkinan diterimanya si peserta ujian sebagai mahasiswa baru PTN tersebut. Enam tahun lalu tersebar rumor bahwa ada perjanjian antara ITB dengan pemerintah Jawa Barat atau mungkin Bandung agar ITB menerima sejumlah mahasiswa baru yang berasal Jawa Barat atau Bandung. Putra Daerah, mungkin istilahnya. Memang, setelah saya kuliah di ITB saya mengamati bahwa jumlah mahasiswa yang berasal dari Bandung (dan Jawa Barat) memegang proporsi terbesar pada populasi mahasiswa ITB. Menurut saya ini mungkin karena kecenderungan bahwa calon mahasiswa akan lebih memilih tempat kuliah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Hasil observasi saya ini sama halnya dengan hasil observasi rekan saya yang mahasiswa UI yang menyimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa UI berasal dari Jakarta dan sekitarnya (sebenarnya Depok adalah bagian dari provinsi Jawa Barat, tapi jaraknya lebih dekat ke Jakarta daripada ke ibukota Jawa Barat).

Satu-satunya alasan hijrah ini yang saya rasa masih masuk akal adalah peserta ujian ingin pindah ke tempat yang membuatnya bisa berkonsentrasi untuk persiapan diri. Jika si peserta ujian tetap berada di tempat dia tinggal, mungkin akan sangat banyak sekali godaan main dari teman atau godaan ingin jalan-jalan ke tempat yang dia sukai. Dengan pindah ke tempat yang baru, si peserta ujian akan merasa agak enggan untuk mengeksplorasi tempat baru dan lebih memilih untuk belajar. Alasan lain yang mungkin masih bisa saya pahami adalah dengan pindah ke kota tempat PTN berada, si peserta ujian bisa merasa makin mantap dan dapat berjuang keras untuk mengejar PTN idamannya.

 

Persiapan Ruangan Ujian

Saya tidak pernah merasakan bagaimana jadi peserta SNMPTN atau ketika saya kelas 3 namanya adalah Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Saya menjadi mahasiswa S1 ITB dengan melalui jalur Ujian Saringan Masuk (USM) ITB atau sebutan populernya saat itu adalah ujian mandiri. Sejak pertama kali dilaksanakannya tahun 2002, kalau saya tidak salah ingat tahunnya, ujian mandiri adalah hal yang sangat kontroversial hingga sekarang karena calon mahasiswa yang mengikuti ujian ini diwajibkan untuk membayar sejumlah biaya yang jauh lebih besar daripada yang harus dibayarkan oleh calon mahasiswa yang diterima lewat jalur SPMB.

Kala itu saya, dengan idealisme yang sangat buta, menolak paksaan kedua orang tua saya untuk mengikuti USM ITB. Saya merasa saya sangat mampu untuk melewati SPMB. Bagaimanapun, saat itu saya sudah terlanjur dipaksa orang tua masuk ke bimbingan belajar intensif. Masak sudah bayar mahal-mahal ikut bimbingan belajar, masih perlu ikut jalur mandiri yang juga mahal. Toh, peringkat saya di bimbingan belajar tersebut termasuk tinggi dan berada di atas batas masuk ITB yang sudah diperkirakan oleh para pemilik bimbingan belajar (atau dulu sering disebut sebagai passing grade). Dan saya juga tidak ingin merasa lebih rendah daripada kakak saya yang diterima ITB melalui jalur SPMB. Lama-kelamaan saya sadar bahwa paksaan itu bukan karena orang tua saya merasa saya tidak mampu untuk menghadapi SPMB. Tapi alasannya justru karena begitu sayangnya orang tua saya kepada saya, mereka ingin yang terbaik bagi saya, ITB, seberapa pun mahalnya biaya yang harus mereka korbankan.

Sekarang saya tidak pernah sedikitpun menyesali kenyataan bahwa orang tua saya harus membayar 45 juta rupiah agar saya bisa menjadi mahasiswa ITB. Saya menyadari bahwa rejeki manusia itu berbeda-beda, dan dalam rejeki seseorang terdapat rejeki orang lain juga. Menurut saya, mereka yang mampu untuk membayar 45 juta untuk mengikuti jalur mandiri akan sangat baik untuk mengikuti jalur mandiri karena mereka akan memberikan kesempatan bagi orang lain juga untuk kuliah di ITB dengan biaya yang lebih murah. Mereka yang masuk lewat jalur yang “lebih murah” pun harus menyadari bahwa dalam ilmu yang mereka emban di ITB ada sumbangsih dari orang lain. Dan mampu membayar pun bukan berarti dapat masuk dengan kualifikasi yang lebih rendah daripada yang lewat jalur “lebih murah” karena soal-soal USM ITB sebenarnya jauh lebih sulit daripada soal-soal SPMB, jadi kualitas mahasiswa ITB pun tetap terjaga.

 

Sekarang USM pun sudah tidak ada. Tinggallah yang namanya SNMPTN dengan dua jalurnya: jalur undangan dan jalur tertulis. Jalur undangan sudah diumumkan beberapa minggu lalu. Ada yang diterima dan ada juga yang ditolak. Yang diterima sekarang berleha-leha, berhenti dari kegiatannya belajar menghadapi jalur tertulis kalau-kalau mereka tidak diterima jalur undangan. Hal yang sama saya rasakan ketika sudah diterima USM ITB jauh sebelum SPMB dilaksanakan: BEBAS!. Tapi yang belum diterima pun masih harus menahan nafas dan berkonsentrasi dalam persiapannya. Tinggal satu lagi tantangan yang harus dihadapi untuk menggapai cita-cita.

Perlu diingat, ITB (dan PTN-PTN lain) bukan merupakan sebuah akhir dari perjuangan. Tapi justru awal dari perjuangan-perjuangan yang sangat berat. Jalan-jalan berbatu tajam yang penuh dengan godaan di sisi-sisi jalan. Dan ITB (juga PTN-PTN lain) pun bukan merupakan jalan untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan itu bukan ditentukan dari di mana seseorang menimba ilmu, tetapi di mana orang tersebut mengamalkan ilmu-ilmu yang dimilikinya tanpa memandang dari mana ilmu tersebut ditimba; entah itu di kolam-kolam megah ataupun di sungai-sungai kecil.

Selamat berjuang bagi adik-adik yang menghadapi ujian tertulis besok. 🙂

Posted in Acara, Kampus.

Tagged with , , , , , .


One Response

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Bagus Frayoga says

    thanks 🙂
    doakan saya masuk FTSL ITB tahun 2013.
    Walaupun matematika dan fisika saya sedikit dibawah, tp mudahan aja bisa masuk.
    Dan termotivasi untuk belajar di ITB.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.