Skip to content


Komentar Saya tentang OSKM ITB Kemarin (+ Klarifikasi)

Kemarin saya mengunjungi ITB untuk beberapa urusan dengan mahasiswa Himpunan Informatika. Kebetulan kemarin juga ada acara upacara penyambutan mahasiswa baru ITB yang selanjutnya diikuti oleh OSKM. OSKM ini semacam ospek di ITB tapi target pesertanya seluruh mahasiswa ITB.

Meski saya menikmati menonton acara OSKM ini (cuci mata melihat mahasiswi-mahasiswinya :P) saya pribadi merasa acara ini sudah tidak terlalu (atau mungkin memang tidak pernah) efektif. Beberapa alasan sudah ditulis oleh Pak Budi Rahardjo. Beliau mengomentari orasi yang dilakukan oleh panitia OSKM.

Saya sangat setuju dengan beliau. Dari jaman saya tingkat pertama, cara orasi komandan lapangan yang sudah tradisi turun temurun hingga sekarang itu sangat aneh. Kenapa sih harus kesannya galak dan terputus-putus. “Kalian…. Mahasiswa…. Mahasiswi… ITB….”. Sadar gak, sih kalau orasi seperti itu tuh aneh. Sama sekali tidak menyampaikan makna. Hanya menyebarkan rasa takut dan membuat drama. Terlalu banyak nonton sinetron.

Apa sih yang ingin ditanamkan dengan menyebarkan rasa takut seperti itu? Biar para mahasiswa siap mental dimarah-marahin di dunia kerja? Serius, itu alasan yang paling bodoh yang pernah saya dengar. Kenapa harus dari awal langsung dikondisikan para mahasiswa agar mereka siap untuk dimarah-marahi? Apa karena Indonesia ini sudah terlalu lama dijajah oleh Belanda? Apa karena bangsa kita ini sudah terlalu terbiasa menjadi budak negara-negara lain? Apakah kita sudah terlalu nyaman dengan kepercayaan diri yang rendah ketika ingin berkompetisi dengan orang-orang dari negara lain?

Dunia kerja memang keras, tapi saya merasa dimarah-marahi selama seminggu bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi dan mempersiapkan generasi muda ke masyarakat. Budaya masyarakat Indonesia seperti apa yang ingin kita bentuk dengan metode seperti itu?

Kalian sudah kasih apa ke rakyat?

Saya melihat wujud mahasiswa ITB yang tidak memiliki integritas, wujud munafik, dan wujud orang-orang yang terlalu omong besar. Tradisi itu tidak pernah berubah. Ketika mahasiswa baru dimobilisasi dari upacara penerimaan di Sabuga ke pembukaan OSKM di Plasa Widya, mereka yang menamakan diri mereka sebagai “massa kampus” membentuk sebuah pagar untuk “menyambut” barisan mahasiswa baru. Mahasiswa baru datang dan lengkingan bertebaran di sana-sini.

Sembari menunggu download di Comlabs, saya menyempatkan diri untuk mengumpulkan teriakan-teriakan yang dilontarkan oleh massa kampus tersebut dan menuliskannya di Twitter.

“Selamat datang calon2 pengangguran ITB!!!”
“Jas almamaternya dipakeee!! Sayang udah dibeli mahal2!!”
“Eh itu jangan pegang2 tangan ya! Jangan curi2 kesempatan!”
“Berasa sudah santai ya masuk ITB??!!”
“Woi, yang cepet! Tapi jangan lari!”
“Ini namanya pemimpin global? Ini sih pemimpin gombal!”
“Bangga kalian sama jas almamater kalian?”

Dan satu adegan yang bikin saya kesal adalah dari barisan mahasiswa-mahasiswa berjaket hijau tapi bukan HMIF yang kebanyakan mahasiswi yang perilaku membuat kesal. Setiap ada yang lewat, mereka selalu berteriak, “Eh, kalian tau masalah bangsa ini gak? Kalian tau solusinya gak?” “Eh kalian khan mahasiswa ITB, harusnya bisa nyelesain masalah bangsa dong!“. Ketika terlihat ada mahasiswa baru yang senyum, ada mahasiswi yang berteriak, “Kalian senyum ketawa tapi rakyat menangis!“. Yang membuat sebal adalah ketika para mahasiswa baru sudah agak sepi, kumpulan mahasiswi ini ketawa-ketawa bercanda sendiri.

Segitu mudahnya mereka membawa-bawa rakyat dan negara ini hanya untuk kepentingan dramatisasi ospek?

Suasana OSKM

Yang terakhir, saya selalu mempertanyakan kenapa sih para panitia OSKM ini nampaknya selalu mengkondisikan diri sebagai oposisi dari rektorat. Seakan-akan rektorat itu adalah pemerintahan yang opresif yang harus dilawan dengan anarki. Apakah memang mahasiswa harus selalu menjadi pemberontak terhadap aturan-aturan rektorat?

Saya menulis seperti ini bukan karena saya tidak suka acara OSKM. Tujuannya memang bagus untuk mengumpulkan semua mahasiswa ITB dan menjalin kekerabatan antar mereka (biarpun saya sendiri juga akhirnya lupa sama orang-orang yang saya kenal di OSKM, tapi memang sesuatu yang tidak berguna bagi saya bukan berarti tidak berguna bagi orang-orang lain.). Saya melihat acara ini sudah terlalu mentradisi (sangat ironi bagi mahasiswa yang katanya agent of change tapi akhirnya terjebak dalam tradisi yang dibuat oleh pendahulu), sudah terlalu banyak drama, sudah terlalu banyak kemunafikan.

Dan pertanyaan saya, memang perlukah tradisi seperti ini diteruskan?

*NB*:
Mungkin saya perlu menulis juga tentang latar belakang saya ketika menjadi mahasiswa. Saya masuk ITB dari jalur khusus yang bayar 45 juta. Dan saya bukan mahasiswa yang aktif di himpunan ataupun di KM ITB. Saya tidak pernah tertarik ikut jadi panitia ospek himpunan maupun ospek ITB. Saya hanya aktif di sebuah unit tenis meja (bukan tergolong unit-unit keras seperti Menwa dan vokal seperti PSIK). Ketika itu saya mengemban amanah menjadi ketua unit yang hampir dilupakan oleh semua calon presiden KM ITB di tahun tersebut. Saya juga bukan mahasiswa berprestasi, tapi untungnya IPK saya masih di atas rata-rata angkatan. Selain jadi ketua unit saya banyak sibuk di beberapa proyek serta riset dosen. Di samping itu juga saya sering menjadi freelance programmer untuk menambah uang jajan dari orang tua . So, feel free to judge me afterwards.

**NB**:

Beberapa tulisan yang senada

**KLARIFIKASI**

Saya ingin mengklarifikasi kalau yang saya kritik adalah tata cara penyampaian materi yang saya rasa sudah sangat usang dan selain itu juga tidak dijalankan dengan baik. Yang penting di sini, saya sama sekali tidak bermaksud menyudutkan salah satu himpunan mahasiswa yang saya sebutkan di sini. Saya sangat menyayangkan kalau ada rekan-rekan yang melakukan interpretasi seperti demikian. Jadi saya sangat mengharapkan kedewasaan dari rekan-rekan yang membaca ini untuk melihat secara garis besarnya tanpa langsung menyudutkan himpunan dari adik-adik yang sempat saya bahas di atas. πŸ™‚

Mengutip pernyataan perwakilan resmi dari himpunan tersebut.

Assalamualaikum,

Selamat malam teman2 yg sedang membaca blog ini. Saya mewakili himpunan yg sempat terbahas dlm blog ini, ingin meluruskan, bahwa konten yg dimaksud dalam blog ini, tidak bermaksud utk mendeskripsikan himpunan tertentu, hal yg ingin diangkat dalam blog ini adalah mengenai metode dan tata cara massa kampus secara umum dalam menyampaikan materi yg disampaikan kepada maba 2012. Hal ini sudah saya pribadi perbincangkan dgn pembuat blog dan kami sepakat bahwa konten dlm blog ini tidak menjurus kepada himpunan tertentu dan hal yg kita bersama tuju adalah mengenai penyampaian massa kampus secara umum. Harap hal ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Jadi mohon utk teman2 yg membaca blog ini dapat memaknai lebih dalam konten yg dimaksud dalam blog ini. Semoga hal ini dapat bermanfaat bagi kita semua untuk ITB yg lebih maju dan dewasa.

Regards,
Adhitya Nur R
15309048

Posted in Acara, Kampus, Mahasiswa.

Tagged with , .


131 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Zakka says

    Mahasiswa jadi oposisi rektorat karena kebijakan rektorat sering berlawanan dengan keinginan mahasiswa… Tahun 2004 (pas saya masuk) rektorat mendukung dan mewajibkan mahasiswa ikutan OSKM loh πŸ™‚

  2. Karol Danutama says

    Paling yang teriak2 itu juga mahasiswa baru masuk tingkat 2 yang baru dapet jahim

    • rame2 says

      setuju banget..haha

  3. hahn says

    Biasanya orang yang paling keras teriak-teriak justru yang paling ga tau keadaan sebenarnya. jadi kalau kita tanya balik sama yang teriak itu ke para mahasiswi unyu itu, pasti merekka juga bakal kesulitan jawab πŸ˜€

    ospek yang pake ‘kekerasan’ (kekerasan ga selalu harus kontak fisik, IMHO) sudah ga efektif. hasilnya ya seperti para senior kita yang udah jadi, malah jadi teror bagi rakyatnya πŸ˜€

    ayo dedek dedek mahasiswa panitia, cari acara yang lebih kreatif

  4. andjas says

    masih “nyusu” ke ortu mereka itu.
    Kl gw sih, malu teriak2 sok kaya gitu. Makanya gw dl gak mau ikut2an jd panitia oskm… malu gw … masih “mimik cucu ortu” aja berani bilang ttg kasih apa ke rakyat. Udah kasih apa tuh panitia ke ortu???

  5. Enrico says

    Ah Menwa bukan unit keras.. Unit sersan-serius tapi santai :3

  6. Lutfi says

    entah lah,, g paham emang knapa tradisi sprti ini bs trus brlanjut. sy kemarin nanya ke salah satu petinggi oskm ttg alternatif bentuk acara lain (e.g. pengembangan kewirausahaan, pesantren kilat), katanya alternatif itu udah dbahas d forum silaturahmi dgn massa kampus. tp keliatannya smw lebih suka mempertahankan tradisi yg menurut sy bodoh ini.

    • Baron says

      Kalo ada metode yang lebih untuk membentuk OUTPUT yang diinginkan, coba disharing2 dengan massa kampus. Banyak kok jalan menuju roma.
      Apa dengan pengembangan kewirausahaan akan menghasilkan output yang sama?

      • rame2 says

        saya rasa bisa..sy pernah ikt program wirausaha dari kampus, dan sasarannya banyak spt melatih kepemimpinan, berorganisasi, berkomunikasi, mandiri, dan sbg wadah pendewasaan.. klo emang serius bakal dijalankan mungkin lebih baik daripada acara OSKM yg (Maaf) terlalu didramatisir, (mungkin) ajang sok2an para senior..soalnya sy jg pernah merasakan jd panitia, apalagi.maupun jadi peserta

  7. malam langit ganesha says

    @karol
    saya sepakat dengan hahn.
    tong kosong nyaring bunyinya. hehe.

    @andjas
    coba diperluas bro pandangannya.
    Sebagian besar dari mahasiswa memang masih “mimik cucu ortu”. so, jika semua orang berpandangan seperti mas andjas… entah masih ada atau tidak semangat untuk mengabdi ke masyarakat.

    @Petra
    Tolong anda luruskan perihal caption “Kalian sudah kasih apa ke rakyat?” di foto spanduk itu. Menurut saya, antara caption dan tulisan di spanduk tidak nyambung. Atau caption itu merupakan kritik anda terhadap panitia oskm? sila diluruskan πŸ™‚

    • Profile photo of Petra Petra says

      males ah ngejawab akun anonim.

      kayak bukan mahasiswa/alumni ITB aja πŸ˜›

      • Kiki says

        jawab saja dulu, supaya semua dapet pembelajaran. Apa bijaksana ketika orang berkomentar yang jelas-jelas ada maksudnya tapi diperlakukan begitu? hahahaha

        • Ganis says

          waduh..ini kurang gentle apa coba penulis..? πŸ˜€
          wajar sih males jawab..wong si Kakaknya ini terang2an nulis dg identitas tanpa ditutup2i.
          got it?

    • Reza says

      Itu nyindir panitia maksudnya, teriak-teriak ke mahasiswa “rakyat dikasih apa?” tapi kalo lu tanya bales mereka udah kasih apa, antara kelabakan sama ngeles-ngeles ga jelas.

  8. Reisha says

    Jadi wondering OSKM selama ini tu ada evaluasi dari peserta jg ga ya? Seberapa efektif ketersampaian apa yang ingin disampaikan oleh panitia OSKM itu.

    • Mahdi says

      gak akan pernah ada, mbak πŸ˜›

      • Kiki says

        aduuh, ini nih yang diistilahkan “asumsi membunuh”. Cari tau dulu mas, baru berkomentar. Pengalaman saya sebagai orang yang pernah bergerak di kepanitiaan sejenis, di OSKM itu ada panitia lapangan yang selalu berinteraksi dengan maba (tata tertib kelompok) dan disitulah mereka (maba) memberikan feedback mereka mengenai rangkaian acara ini. Memang belom efektif, tapi bukan berarti sistem kepanitiaan ini tidak menerima evaluasi dari peserta. Sekian.

    • pije says

      ada kok mbak. saat PROKM 2011 ada survey keberterimaan materi dan kesan selama OSKM dengan mengisi kuesioner dan wawancara pada peserta. Bisa ditanyakan ke panitia tahun kemarin. Saya trmasuk yang bertanya kepada peserta untuk feedback tersebut.

    • Aprialdi says

      Setau saya, waktu saya jadi peserta saya memberikan feedback ke taplok mbak tentang OKSM

      Setau saya, waktu saya jadi panitia lapangan, keamanan, taplok memberitahu feedback apa yang mereka dapat dari peserta

      Setau saya, ada sekretaris yang mencatat evaluasi

      Setau saya juga hanya orang yg lebih peduli aja yang membuka LPJ tahun lalu dan ngebaca ulang evaluasi tahun lalu

      Maap kalau saya sok tahu πŸ™‚

  9. Emil says

    IMO, massa kampus ITB makin hari makin kurang dewasa. Terima kasih ada yg berani mengkritik seperti bang Petra, semoga massa kampus membaca. Haha.

  10. Arman says

    Saya adalah panitia lapangan OSKM 2012. Kalo boleh cerita, di OSKM itu ada seminar, lingkar wacana, diskusi, dan banyak acara lain. Sebuah keadaan yang penulis ceritakan di atas hanyalah sedikit dari banyak rangkaian acara. Tujuan acara tersebut (interaksi dengan massa kampus), intinya ya bisa penulis lihat sendiri: membuat maba sadar dengan realitas bangsa. Tentang metode yang kami pilih, memang ada nilai lebih dan kurangnya. Aku yakin penulis ga tahu satu hal: hari ini para maba keliling Bandung mengunjungi mall2 sekaligus tempat kumuh di kota ini untuk merasakan betapa realitas bangsa kita perlu diperhatikan. Jadi kami ga hanya teriak2 alias omdo aja kok. (:

    PS: Saya rasa orasi dari danlap itu ga menakutkan sama sekali kok, nadanya keras dan tegas tapi tidak mengintimadasi (pengalaman saya waktu jadi maba).

    • Reisha says

      Ditunggu ya evaluasi dari pesertanya. Saya benar-benar penasaran dg ketersampaian materinya. Dulu soalnya saya waktu jadi peserta OSKM ga ngerti sama sekali itu orang2 orasi dan ngadain kegiatan macam2 buat apa. Saya penasaran aja apa saya aja yang kelewat “bodoh” atau banyak jg yg ga dapet esensinya seperti halnya saya. Hehe.

      • ramda says

        menurut saya evaluasi panitia dan peserta itu kurang cukup lho. itu ibarat survei pemilu tapi dari panitia parpol dan kader parpol doang πŸ˜‰

        baiknya juga ada evaluasi dari pihak ketiga sehingga dapat keliatan big picturenya. memang bakal sangat time consuming dan ribet, tapi ya lebih bagus kan sehingga setiap kritik dan pembelaannya menjadi lebih bersubstansi?

        kalau gini kan referencenya juga saling bias.

        P.S.: statement “Aku yakin penulis ga tahu satu hal”, yakin amat? :p kita yang nulis juga udah bertahun2 liat OSKM lhoo hehehe. situ baru berapa kali?

        • Arman says

          “P.S.: statement β€œAku yakin penulis ga tahu satu hal”, yakin amat? :p kita yang nulis juga udah bertahun2 liat OSKM lhoo hehehe. situ baru berapa kali?”

          Okedeh, saya minta maaf soalnya waktu saya di OSKM (namanya dulu PROKM) ga ada, jadi saya kira ini hal baru di OSKM.

          • rame2 says

            hati2, dulu tuh justru namanya OSKM trus sempet INKM trus prokm..

          • walid says

            yang kamu dapet apa dari liat OSKM ato PROKM, emang kamu sudah bisa memberantas kemiskinan diindonesia, memberantas kebodohan Indonesia atau mensejahterakan rakyat, kalo emang kamu sudah sering liat OSKM/PROKM pasti kamu sudah pernah dengar kata-kata itu, tapi yang kamu dpt apa hanya kata-kata dramatis, puitis, tapi realitanya hanya nothing..

    • Ganis says

      @ Mas Arman :

      saya setuju banget dg komen oleh Kak Reisha di atas saya ini.
      hehehe.
      ditunggu evaluasi dari pesertanya aja mas.
      kalo perlu dibuat jumlah pastinya, kayak pake persentase gitu.
      hehehe.
      πŸ˜€

      catetan :
      1) dulu…saya sangat semangat loh ikutan INKM (dulu masih inkm namanya). sampe2 saya harus salah naik angkot & panik kalo2 saya terlambat! hehehe.
      tapi…apa jadinya?
      suatu hari di minggu INKM, ada rekruitmen untuk anggota paskibra ITB untuk upacara bendera tgl 17 Agustus 2008 silam itu. dan itu saya merasa sangat “beruntung” dapat tergabung dalam pasukan tersebut. karena…saya waktu itu sangat merasa “lebih berguna” dalam kegiatan minggu itu dg menjadi paskibra ITB. hehehe.
      sehingga otomatis, efektif saya “cuma” ikut inkm 3 hari.

      2) dalam waktu 3 hari awal yg saya sebutkan barusan…benar! seperti yg mas ungkapkan.
      ada acara seminar, diskusi, lingkar wacana, dll.
      tapi…nyatanya…benarkah “membekas” bagi saya untuk sebuah momen 1 minggu inkm tersebut? betulkah?
      okeeeyyy…saya mengakui isi materi salam seminar itu sangat bermanfaat dan sedikit membuka cara berpikir kita terhadap sesuatu. namun apa?
      nyatanya yg “sangat membekas” bagi saya pribadi saat minggu awal ‘kaderisasi’ adalah, saya menjadi anggota paskibra itb! dan…ada lagi yg membekas.
      saya terkesima dg KPA-ITB memainkan Doraemon & terpesona oleh orkestra itb memainkan Simfoni Raya Indonesia. πŸ™‚

      3) emmmm…maaf yaa..maaf bgt ini…bukan maksud apa2 yaa..
      dulu saya SMA-nya termasuk dalam kategori semi-militer, dimana sistem disiplinnya jauh (mungkin) lebih di atas kegiatan ‘kaderisasi’ ini.
      dan..buat saya pribadi, saya merasa jadi bisa sedikit mbedain teriakan2 itu maksudnya motivasi atau intimidasi atau sekedar teriak2an atau ikut2an temen atau inspirasi atau intimidasi atau menekan, dan atau lain sebagainya.
      dan berkat sistem sma saya dulu itu, jadi ngerti sedikit kadar “pas” dan “tepat” itu seperti apa dan di tempat yg bagaimana.

      4) well..saya sangat setuju dg konsep “kaderisasi” sebagai upaya penurunan nilai2 berkelanjutan bagi individu/sekelompok orang yg baru masuk dalam suatu komunitas.
      namun…jangan sampai momen2 seperti ini malah membuat konsep berbalik arah, yaitu, menjadi “nilai-nya yg justru turun”, menjadi nilai tidak berguna atau malah menjadi tidak bermanfaat sama sekali.
      semangat mas! masih ada hari tersisa, dimana saya yakin mas & teman2nya sekalian mampu menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. semangat! πŸ™‚

      5) saya memang ndak mampu bersuara “selayaknya”.
      saya memang selalu “cupu” dg “hanya” menulis seperti ini untuk mas.
      namun apa daya. entah bagaimana mulanya, saya merasa ada banyak suara hati yg sudah terwakilkan oleh Kak Pedca ini. namun sayangnya biasanya orang2 (seperti saya) ini, karena (biasanya) gak akan ‘diwaroh’, maka jadinya menjadi orang2 yang “terlihat” untuk menjadi “tidak peduli/dont care” dg kegiatan2 macam “kaderisasi masa kini” tersebut.

      aduh maaf malah ikut ngomen kepanjangan.

      salam semangat.
      untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.
      (mudah2an 3 kata di atas ini tidak ‘cuman’ dan ‘hanya’ keluar dari mulut saja, namun direalisasikan dalam kehidupan nyata kelak ketika kita sudah menjadi alumni ITB. amin!)

      salam,
      πŸ™‚

    • Profile photo of Petra Petra says

      Dari jaman saya jadi peserta OSKM juga sudah ada kok maba keliling Bandung.

      Tapi setelah diskusi dengan teman, justru keliling tempat kumuh ini malah mengganggu warga. Jadi terkesan condescending. Mereka yang awalnya senang-senang aja, merasa direndahkan harga dirinya oleh gerombolan mahasiswa.

      • Karol Danutama says

        Seriusan masyarakat jadi ngerasa direndahkan? Wah kacau kalo udah gini Pet, image maba ITB jadi jelek banget di masyarakat sekitar. Ga bener ini, ga bener

      • ismailsunni says

        pas gw nanya2 ke warga sekitar dulu, dijawabnya kurang lebih gini:
        “ah mas, tiap tahun juga saya selalu diwawnacarai kayak gini, tapi gak pernah dikasih yang lain”

    • andik says

      Kalau maba FMIPA malahan udah melakukan survey ke tempat-tempat di sekitar ITB.jadi lebih sedikit tau tentang masalah-masalah di sekitar itb πŸ˜€

  11. Randy says

    hmm… ternyata bukan cuma unhas aja yang massanya seperti itu, turut prihatin. Sy setuju banget loh sama kak petra, entah apa yang didapat dari ngebully anak baru, yang ada hanya kebodohan. Tapi kenapa ya rektor2 universitas tidak ngambil tindakan ?

  12. Cris says

    Saya sepakat bung.
    OSKM dari tahun ke tahun akan mengulang kesalahan yang kurang lebih sama. Tidak ada evaluasi. LPJ hanya bentuk formalitas untuk melepaskan jabatan. Panitia lapangan dan massa kampus terkesan seperti anak2 di depan para maba yang menurut mereka polos padahal belum tentu.

    beginilah akibat kalau OSKM sebagai proyek buka pembelajaran. Artinya tidak ada koordinasi yang tepat panitia tahun lau dan sekarang. Yang penting tugas saya sudah selesai tiap OSKM

    Slam

  13. lani says

    hmm.. sbnrny saya juga smpt berpikir hal yg sama kalau skr kampus kita itu terlalu banyak mengkaji, dan mengkader. terlalu bangga akan adanya kajian dan kaderisasi gak imbang budaya kampus yg diterapkan, porsinya kurang tepat, padahal yg dibutuhkan lebih itu keprofesian dan tindakan nyata bukan hanya omongan.

  14. umar says

    Kaderisasi itu proses pembentukan kader (orang yang diharapkan pada suatu saat akan memangku suatu jabatan).. OSKM itu gak lebih dari suatu kaderisasi eventual, dimana yang saya pahami, kaderisasi eventual itu semacam ritus peralihan, yang dalam hal oskm ini, berarti peralihan dari siswa menjadi mahasiswa.. mungkin semua orang bilang muluk2 banget ada yang namanya mahasiswa di Indonesia, sedangkan di luar negeri namanya toh tetep student-student juga.. pada tau kenapa di Indonesia disebutnya mahasiswa?

    Saya nggak sepakat dengan sebutan pembodohan.. Saya saksinya bahwa kaderisasi bernama oskm itu gak dibangun atas keinginan dan kesepakatan saja.. ada alur berpikir layaknya menyusun tugas akhir, ada pembahasan apakah dengan metode A, materi X ini bisa tersampaikan dan bisa diterima atau tidak..

    Panitia OSKM dan KITA SEMUA bukan malaikat yang sempurna, pendapat anda banyak cacatnya (mulai dari tujuan OSKM, kesalahan penulisan Plaza Widya Nusantara, beropini tanpa klarifikasi) seperti halnya opening OSKM..

    Umar Said Habibulloh, ex-18108050
    Kepala Sekolah PROKM 2011, Engineer Network Planning and Solution di salah satu konsultan broadcast di Indonesia

    • Bentang says

      Anda tidak menjawab esensi artikel diatas,

      kalau anda memang kepala sekolah PROKM 2011, bagaimana anda menjelaskan tentang setiap kata2 yang dikeluarkan oleh panitia kepada mahasiswa baru seperti yang ditulis di artikel diatas??,, apakah anda mengerti kata2 yang dikeluarkan oleh mereka (panitia)?? apakah anda menyangkal kata2 itu?? kalau anda mengatakan mengkader. apakah anda bisa tunjukan bahwa setiap kalimat2 yang panitia lontarkan akan menghasilkan sesuatu yang baik? apa nilai2 yang bisa diambil dari hardikan, celaan, bentakan, dll..

      disitulah yang disebut dengan pembodohan, bukan hanya pembodohan, namun bagi saya, itu adalah pengrusakan karakter..

      kalau anda berkata itu tidak baik dan hanya parsial, siapa yang berani menghilangkan interaksi masa kampus seperti itu (baik di KM maupun di Himpunan)?? sesungguhnya anda sendiripun tidak akan mampu mengubah/menghilangkan pembodohan tersebut… karena semua kembali ke tekanan…

      BentangAB
      13106107

      • umar says

        oke saya coba jelaskan sedikit esensi opening OSKM 2012 yang saya peroleh dari hasil briefing panitia ke massa himpunan, copas dari grup himpunan yang seharusnya juga ada di milis himpunan anda πŸ™‚

        SOP MASSA KAMPUS
        OPENING
        Final Version : 25 Juli 2012

        SOP Mobilisasi (Opening)
        Massa yang akan mengikuti pensuasanaan mobilisasi harus mengikuti briefing terlebih dahulu
        Interaksi yang diperbolehkan hanya 1 arah, yaitu dari massa kampus ke maba saja.
        Tidak diperbolehkan menghalangi dan mengganggu jalannya mobilisasi maba 2012.
        Massa kampus dianjurkan berdiri saat bertindak sebagai pensuasana saat mobilisasi berlangsung
        Jumlah massa himpunan minimal 10 & maksimal 30, massa unit minimal 5 & maksimal 20
        Tidak boleh mengatakan kata-kata mengandung SARA, kasar, dan kotor.
        Tidak boleh melakukan kontak fisik dengan maba 2012 & panitia OSKM 2012
        Memakai dan atau membawa atribut lembaga (jaket,kaos,badge,bendera,baliho)
        Menjaga ketertiban &kebersihan.
        10. Fokus pada materi.
        11. Tidak boleh membawa senjata tajam,senjata api,obat-obatan terlarang.
        12. Massa kampus diharuskan berada di spot yang telah ditentukan panitia dan tidak boleh meninggalkan area selama acara berlangsung tanpa sepengetahuan panitia.
        13. Dilarang merokok,makan, dan minum.
        14. Dilarang meneriakan hal-hal] di luar materi TOR.
        15. Tidak boleh merusak properti kampus & OSKM ITB 2012.

        SOP Ceremony (Opening)
        Massa kampus tidak boleh kontak fisik dengan maba 2012 & panitia OSKM 2012
        Massa kampus memakai atau membawa atribut lembaga (jaket,kaos,badge,bendera,baliho)
        Massa kampus menempati spot yang sudah ditentukan dan tidak boleh meninggalkan area selama acara berlangsung tanpa sepengetahuan panitia.
        Massa kampus tidak diperbolehkan menghalangi dan mengganggu jalannya ceremony
        Dilarang merokok,makan , dan minum di area ceremony
        Tidak boleh membawa senjata tajam,senjata api,obat-obatan terlarang.
        Mengikuti keberjalanan ceremony dengan khidmat dan tidak bersuara selama ceremony, kecuali saat diminta danlap untuk salam ganesha.
        Menjaga ketertiban &kebersihan.
        Tidak boleh mengatakan kata-kata mengandung SARA, kasar, dan kotor.
        10. Massa kampus dianjurkan berdiri selama ceremony

        TOR MASSA KAMPUS
        OPENING OSKM ITB 2012

        TOR Mobilisasi (Opening)

        Setelah mahasiswa baru mengikuti rangkaian acara opening di Auditorium Sabuga, mahasiswa baru dimobilisasi dari Sabuga ke Boulevard melalui jalur tengah kampus. Saat mobilisasi dilakukan, masa kampus memberikan impresi dan pensuasanaan OSKM dengan meneriakan pertanyaan retoris (sesuai TOR) kepada mahasiswa baru dan memakai/membawa atribut lembaganya masing-masing (memakai kaos/jaket/badge himpunan, membawa bendera himpunan). Untuk mendukung pensuasanaan, masa kampus diperkenankan menyampaikan materi (sesuai TOR) dengan memberikan analogi atau menggambarkan suatu kondisi ironi. Masa kampus juga diizinkan membawa poster dan atau spanduk (sesuai TOR) yang mendukung pensuasanaan.

        Selain impresi dan pensuasanaan oleh masa kampus, panitia juga akan memasang spanduk di beberapa spot mobilisasi dan dekorasi yang mendukung pensuasanaan dan impresi yang diharapkan.

        Para massa kampus pensuasana di jalur mobilisasi diharapkan menimbulkan kesan yang serius dan yang menggugah mahasiswa baru untuk berpikir dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan satu arah kepada mahasiswa baru yang sedang dimobilisasi, Materi pertanyaan yang dilontarkan ke mahasiswa baru antara lain adalah :

        HME nanti akan berada pada zona 3 yaitu zona 4 labtek

        Mengenai keberagaman budaya kampus, keberagaman elemen KM ITB, dan urgensi bersatu untuk Indonesia. Satu ITB, walau berbeda latar belakang, himpunan, unit, dan budaya namun kita tetap satu ITB, satu tujuan dalam berkontribusi membangun Bangsa Indonesia.

        Zona 3 : 4 Labtek

        Contoh :
        Pilih diam saja atau bergerak bersama membangun bangsa?
        Masih arogan dengan identitas fakultas masing-masing?
        Masih arogan dengan asal daerah masing-masing?
        Masih arogan dengan asal sekolah masing-masing?
        Bangsa ini butuh peran besar dari satu KM ITB!
        Tidak ada arogansi jurusan!! Kita satu KM ITB!!
        Sendiri-sendiri? Atau bergerak bersama? Mana yang kamu pilih?
        Dari mana asal kalian? Jangan sampai perbedaan menjadi penghalang persatuan!!
        Kampus ITB berwarna warni! Beragam tapi tetap satu KM ITB!
        Perbedaan asal usul dan suku bukan hambatan, itu adalah potensi untuk bersatu!
        Kita bisa memberi manfaat yang besar jika bersatu!
        Mau menjadi bagian dari KM ITB?
        Jangan hanya diam, ini saatnya bergerak bersama!
        Warna boleh berbeda, tapi kita satu KM ITB!!
        Kita ITB, yok bersatu membangun bangsa!
        Banyak warna di kampus ITB, tapi itu bukan penghalang persatuan!
        Ayo bergerak bersama membangun bangsa ini!
        Ayo berintegrasi untuk Indonesia!!

        Kesan yang ingin ditimbulkan selama mobilisasi :

        Mahasiswa baru β€œtersentil” dan tergugah untuk berpikir, mau apa mereka di kampus.
        Mahasiswa baru β€œbertanya-tanya”, sebenarnya apa itu mahasiswa dan seperti apa seharusnya menjadi seorang mahasiswa. Timbul rasa penasaran.
        Mahasiswa baru tertegun dan β€œtersentil” ketika masa kampus menyampaikan ironi dari realita bangsa Indonesia.
        Mahasiswa baru β€œbertanya-tanya” dan tergugah untuk berpikir, apa perang mahasiswa bagi bangsa ini.
        Mahasiswa baru memiliki persepsi bahwa warna warni dan keberagaman masa kampus menunjukan banyaknya elemen KM ITB tetapi seluruh elemen KM ITB tersebut bermaksud menyampaikan satu hal yang sama
        Mahasiswa baru merasa ingin tahu warna warni kemahasiswaan ITB
        Mahasiswa baru merasa disambut

        Catatan :
        Kesan yang ingin ditimbulkan adalah rasa tergugah dan rasa penasaran/”bertanya-tanya”. Masa kampus jangan sampai malah membuat maba merasa takut. Untuk mensuasanakan dan mengimpresikan hal tersebut, materi di atas juga bisa disampaikan dengan atribut berupa poster/spanduk, dandanan yang menggambarkan suasana yang dibangun, monolog atau orasi, dll.

        Terima kasih πŸ™‚
        Wassalam…

    • Profile photo of Petra Petra says

      seriously? ngomentarin kesalahan penulisan?

  15. Karol Danutama says

    Sebenarnya dari dulu ikut INKM (dulu) yang dateng ke benak pikiran adalah: saya mahasiswa ITB selalu dicap “mahasiswa terbaik bangsa, datang membawa solusi”. Kalo dari awal dicap “terbaik”, gimana keluarnya ga sombong bin seenaknya di tempat kerja? Udah kayak lingkaran setan aje, rektorat ngomong etos kerja mahasiswa ITB harus diperbaiki, tapi dari awal udah dicekokin kalo kita terbaik di atas segalanya. Heleh

  16. Karol Danutama says

    Jadi kepikiran, pernah ga ya KM ITB studi banding ke kampus lain soal kaderisasi dan tujuan mulianya untuk memperbaiki bangsa Indonesia? Saya beberapa hari lalu mengunjungi salah satu perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan melihat sendiri maba mereka dikaderisasi. Dari hal-hal kecil seperti “selamat siang bang, selamat siang ito” sampai menghayati “bangun negeriku, desa dan kotaku”, semua hal-hal kecil tapi praktikal untuk pengembangan karakter bener2 kental terasa di sana. Walaupun saya tidak merasakan langsung jadi maba di sana, tapi saya bisa membayangkan nilai-nilai yang banyak diterima oleh mereka.

    Hayo.. Udah ada yang pernah studi banding?

    P.S: kalo ada yang bales “buat apa studi banding, kita ITB punya standar sendiri”, hmm cukup tau aja ternyata taraf kesombongan mahasiswa ITB sudah sampai ke situ

    • rsatrioadi says

      buat apa studi banding, kita ITB punya standar sendiri πŸ˜›

      • Karol Danutama says

        Satrio ampas. Awas jitter network di mana2 ngerusak data radar

        • Dery says

          lo sama aja, ampas juga, cuma ngehujat doang kerjanya, padahal ga ada isinya. Ga berdasar omongannya, ckckck

  17. Bentang says

    Sejak di kampus dulu,, saya selalu percaya perubahan dari masa kebodohan (jahiliyah) yang dilihat dari cara berfikir mahasiswa yg menyelenggarakan interaksi masa kampus ‘omong kosong’ yang disebutkan di artikel ini, baik di OSKM maupun di Himpunan, akan berubah menjadi mahasiswa beradab… semua butuh proses dan pembuktian. bahwa cara2 kotor dalam mengkader mahasiswa baru, akan semakin berkurang dan lenyap. kalau dahulu, tak ada yang berani sama sekali mengkritik agenda nyeleneh interaksi massa ini, karena telah ditanamkan ketakutan2 khayal seperti misalnya, nilai praktikumny akan diberi jelek terus oleh senior, atau akan sulit mendapat network kerja, dan tekanan2 lainnya.. tapi sekarang berbeda..

    semoga ITB terus berubah kearah yang lebih baik…

    Bentang AB
    13106107

  18. aria says

    Saya setuju sama komentarnya mas Karol: kata2 “mahasiswa terbaik bangsa, datang membawa solusi” itu cuma bikin anak2 ITB besar kepala. Bukannya jadi mengabdi sama masyarakat malah jadi semakin jauh sama rakyat. apalagi sekarang lebih parah lagi. Kata-katanya “selamat datang para calon pemimpin global”.

    Tapi saya pikir usaha Panitia OSKM sudah maksimal kok. Yang kita lihat kemarin kan hanya sebagian kecil dari seluruh rangkaian OSKM. Jadi belum bisa disimpulkan apa2.

    Mungkin yang sebenarnya mau Mas Petra kritisi itu sikap masyarakat kampus terhadap teman2 mahasiswa 2012 yang kurang kritis dan kurang khidmat dalam menyampaikan materi yang sesungguhnya.

  19. gamma says

    saya adalah anggota dari himpunan itu (dan massa kampus mungkin tahu himpunan apa), dan yang fotonya anda sertakan dalam post ini. saya tidak ada di dalam foto tersebut, tetapi saya hadir disana, dan ikut meneriakkan pertanyaan2 kepada maba yang sedang dimobilisasi.

    mencoba meluruskan, himpunan kami ditempatkan di zona 2, yairu zona realitas bangsa. Di zona ini kami diminta untuk memberikan pertanyaan-petanyaan retoris satu arah, dan memposisikan agar pertanyaan ini dapat tersampaikan secara tegas dan jelas, bertujuan agar pertanyaan ini dapat membuat para maba dapat berfikir dan introspeksi kepada diri mereka masing-masing.

    kami mencoba untuk bekerja sama dengan panitia OSKM, yaitu dengan mengikuti TOR dan SOP yang ada. dan dalam TOR tersebut juga ada contoh-contoh pertanyaan yang kami teriakkan, seperti yang ada sebut dalam post ini. mungkin metode ini juga tidak efektif, tidak tersampaikan dengan baik kepada para maba. dan mungkin kami, termasuk saya sendiri, yang meneriakkan pertanyaan tersebut juga tak tahu jawaban dari pertanyaan yang kami berikan tersebut. tetapi sekali lagi, kami mencoba untuk bekerjasama dengan para panitia OSKM.

    mungkin dalam pelaksanaannya, ada beberapa teriakan dan atau perilaku kami yang terdengar dan atau terlihat tidak enak, seperti kami yang terlihat bercanda ketika tidak ada maba yang sedang dimobilisasi di depan kami. dan kami mohon maaf untuk perilaku kami tersebut, dan semoga kejadian ini tidak terulang di masa yang akan datang.

    Gamma Rais Rizani
    15310037

    • Ganis says

      pengalaman memang guru yg paling baik.
      setiap orang pasti pernah berbuat salah dan dosa.
      semangat gamma dan kawan2! πŸ˜‰

    • Profile photo of Petra Petra says

      iya, mungkin lain kali memang kalau ingin membawa hal-hal sakral seperti rakyat, bangsa, dan negara, coba diresapi dan direnungi dulu maknanya. jangan sekadar hanya bantu panitia. karena komitmen untuk pengabdian ke rakyat itu panjang dan gak ada habis-habisnya.

      coba serius dan selalu jaga sikap. sejujurnya saya agak malu saat itu dengan adik-adik yang teriak-teriak tentang “penderitaan rakyat” lalu ketawa-ketiwi karena saat itu ada beberapa rekan saya dari luar ITB yang ikut nonton OSKM ini. buat saya sikap seperti itu benar-benar terlihat munafik dan tidak mencerminkan integritas dari mahasiswa ITB.

      semoga tidak terulang lagi.

  20. umar says

    rol, sejak tahun kemarin cap terbaik udah dihilangkan kok.. cuma disebut bahwa anak itb cuma segelintir orang yang beruntung bisa mengenyam pendidikan.. Oiya, yang menekankan kesombongan itu menurut gue bukan cuma OSKM, tapi emang sistem ITBnya.. tahun 2008 gue inget banget dikasih liat passing grade itb di atas semua univ lain..

    gue udah pernah studi banding.. mungkin gak ke PTS di Sumatera Utara, tapi emang di univ negeri ini kaderisasinya gak lebih baik karena masih ada pukul-pukulan antara senior dengan junior.. kalau emang ada yang lebih baik, kenapa nggak disampein sama panitia OSKMnya? atau jangan-jangan nggak tau panitia OSKM sekrenya dimana?

    setiap kurikulum punya kekurangan dan kelebihan masing-masing.. bagus untuk menerima masukan dari orang lain, tetapi lebih bagus lagi kalau kita berkaca pada diri kita sendiri terlebih dahulu.

  21. Rizardhi S says

    Sedikit mengutip tulisan penulis “Saya tidak pernah tertarik ikut jadi panitia ospek himpunan maupun ospek ITB. Saya hanya aktif di sebuah unit tenis meja (bukan tergolong unit-unit keras seperti Menwa dan vokal seperti PSIK). Ketika itu saya mengemban amanah menjadi ketua unit yang hampir dilupakan oleh semua calon presiden KM ITB di tahun tersebut. Saya juga bukan mahasiswa berprestasi, tapi untungnya IPK saya masih di atas rata-rata angkatan.Selain jadi ketua unit saya banyak sibuk di beberapa proyek serta riset dosen. Di samping itu juga saya sering menjadi freelance programmer untuk menambah uang jajan dari orang tua . So, feel free to judge me afterwards.”

    Ketika kuliah hanya mencari IPK, dan tujuan akhirnya hanya pekerjaan dan UANG, disanalah terbentuk karakter mahasiswa yang apatis, tidak peduli tentang keadaan sekitarnya. OSKM ini menurut saya memang tidak sepenuhnya mengubah karakter maba untuk peka terhadap Bangsa ini, tapi setidaknya sesuai salah satu Misi dari OSKM ini sendiri, yakni : “Menumbuhkan kepekaan sosial pada mahasiswa baru”. Saya rasa ia telah berhasil menanamkan pasak awal dalam diri tiap-tiap mahasiswa barunya. Kaderisasi di ITB adalah kaderisasi yang saling terkait satu sama lainnya. Sebagai contoh, ketika menjadi maba 2011 saya sempat merasa bahwa PROKM 2011 itu tidak terlalu penting karena jujur setelah mengikutinya saya msh blm mengerti atas materi-materi yg diberikan, namun rasa kekecewaan saya tersebut terjawab ketika saya menjadi Panitia pada OSKM 2012, ternyata memang tujuan dr OSKM 2012 ini sendiri hanya sekedar membuat para maba “mengetahui” bukan “memahami” karena proses “memahami”nya adalah nanti ketika mereka menjadi panitia untuk OSKM yg akan datang. Kami para panitia lapangan maupun nonlap, didiklat selama sebulan untuk 5 hari ini bukanlah hanya untuk mengejar kesenangan MEJENG didepan MABA semata, disini kami dituntut untuk paham atas materi-materi kemahasiswaan yg pernah kami dapat sebelumnya pada PROKM 2011.

    Mungkin pergerakan kami ini terlihat munafik bagi orang-orang yang telah merasa besar, namun belum tentu bagi rakyat kecil diujung pulau sana kan ?

    • Ganis says

      bagus!
      mudah2an idealisme mas bertahan yaa minimum 5 tahun dari sekarang dan seterusnya.
      jangan lupa..tulisannya mas ini ibarat kata2 yg harus dipertanggung-jawabkan di kemudian hari.. baru berapa tahun gt di itb/baru berapa tahun emang lulus dari itb-nya? πŸ˜€
      ipk saya gak gede2 amat, tapi saya gak muna, kehidupan di luar itb sana sangat keras. hehe.
      oiya, terima kasih penjelasan panjang lebarnya..ini kan maksudnya penulis cuman mau ngomentarin kata2 yg keluar aja dari mulut temen2 senior bagi maba 2012…biar gak terulang di hari2 selanjutnya.
      hehe.

    • Muhammad Adinata says

      FYI, Mas Petra adalah developer tokilearning.org, yang merupakan situs belajar pemrograman dasar yang digunakan oleh anak SMA (dari seluruh Indonesia), yang digunakan lebih dari ribuan anak SMA, dan juga udah punya forum sendiri dimana terjadi diskusi aktif.

      Feel free to see the result http://www.slideshare.net/petrabarus/setahun-toki-learning-center

      The slide is slightly out of date, tapi kalau diupdate I believe the statistics still going higher.

      And feel free to judge.

    • Profile photo of Petra Petra says

      maksudnya apatis itu gimana ya?
      rakyat kecil, rakyat kecil yang mana? kamu sendiri pernah ketemu dengan mereka?

    • widana says

      yang saya suka adalah penekanan kata “keras” untuk menwa, yang mana adalah cabang resmi pertahanan negara yang ditanamkan di kampus2 di seluruh indonesia…

      dibilangnya keras…padahal itu disiplin, dan di ITB itu kan kaderisasinya berjenjang, dari tingkat satu sampai tingkat akhir, sudah jelas kan?

      eh si penulis ga ikut acara2 kaderisasinya yah…ya sudah beginilah hasil terkader seperempat saja…

      • Profile photo of Petra Petra says

        iya, seperti kata teman saya yg alumni menwa di atas, menwa itu unit serius tapi santai.

  22. Kiki says

    waah, bagus nih masukannya. Saya sih setuju, memang cara oknum yang teriak-teriak itu salah. TAPI kalo saya sih pas ada kayak gitu mending langsung nyamperin itu oknum-oknum terus nanya apa sebenernya poin dari hal yang mereka lakukan dan apalagi saya sudah tau kalo itu salah, jadi akan saya koreksi LANGSUNG, bukannya foto trus ngepost di blog, hahaha. Yah yasudahlah, jadi pembelajaran bareng-bareng aja, yang post, berkomentar dan dikomentar kan belom tentu benar toh? hahahaha

    Salam sayang

    • Ganis says

      @Mbak Kiki :

      loh kok sewot Mbak. ini jaman udah gini mbak, mau gimana lagi.
      jamannya teknologi.
      hahaha.
      πŸ˜€
      (pasti bakal ‘diserang’ lagi nih kata2 ane di atas dg penjelasan panjang, ;))

      menurut saya, udah gentle kok temen2 itu mengaku salah karena teriakan.
      kan buat evaluasi kata2 di hari ini dan besok. ya kan?
      ya…lagi gak hoki aja kena jepretan.

      oiya 1 lagi..maaf nih. pasti bakal dibilang OOT.
      mau dibilang langsung gak langsung…masih inget kan “surat pembaca” dalam kolom2 di koran2 ntu? mirip kali. haha.

      • Kiki says

        hahaha, ya itu kan “kalo saya” yg ada disitu, saya gatau kalo situ atau yg ngepost gimana tindakannya, tapi yang paling kongkret menurut saya ya itu, dan impactnya cukup besar, makasih, hahaha

    • Profile photo of Petra Petra says

      kemaren tuh saya sempat mau samperin sih. cuman urung aja mesti ninggalin laptop di tempat terbuka. πŸ™‚
      kalau kemaren tidak ada laptop sudah pasti saya samperin kok, tenang aja.

      kalau saya blog gini khan akhirnya jadi kesampaian juga ke orang-orangnya πŸ™‚
      buktinya itu sudah introspeksi diri.

      • Johan says

        laptop tinggal masukin tas, samperin deh, mager amat gitu doang, hahaha

        • Profile photo of Petra Petra says

          lagi ada donlotan. males ngeresumenya lagi.
          sejujurnya, bisa ngedonlot di rileks itu jauh lebih berharga daripada nyamperin terus negur mahasiswa.

          tapi emang harusnya saya samperin sih yah. i’ll keep that in mind.
          kalo anak-anaknya masih mau ketemu sama saya, saya oke2 aja.

          • Dery says

            ” bisa ngedonlot di rileks itu jauh lebih berharga daripada nyamperin terus negur mahasiswa.”

            hahahaha, keren dah pak, keren banget lu emang, hahahahahahahahahaha bilang aja kalo pengen disamperin

          • Profile photo of Petra Petra says

            kalo kamu mau saya samperin sih gak apa-apa.
            tinggal tulis nama sama NIM sama no telepon atau bisa email ata message ke FB saya saja.
            asal jangan jam kerja atau pas saya lagi sibuk (seperti ngedonlot) pasti saya samperin kok.

        • Amelie says

          Simply want to say your article is as surprising. The clarity to your put up is simply excellent and
          that i can assume you’re an expert on this subject.
          Fine with your permission allow me to grasp your RSS feed
          to keep up to date with coming near near post.
          Thanks 1,000,000 and please continue the enjoyable work.

      • Dery says

        hahaha kapan-kapan deh mas, lagi donlot di rileks nih, sibuk

  23. gaban says

    si petranya mana nih ga nongol? macem provikator aja, ngomporin trs yg debatnya org lain. mbahnya yg punya blog diem aja haha. lumayan hiburanlah

    • Profile photo of Petra Petra says

      hi,

      sori gak bisa nongol pagi-pagi buta. saya gak puasa jadinya gak ikutan sahur. πŸ™‚
      dan lagipula saya bukan mahasiswa yang masih libur, saya sudah kerja.

      harap maklum kalau saya balasnya agak-agak lama. nanti malam saya balas-balasin setelah pulang kerja.
      dan saya juga sama sekali tidak ada maksud ngompor2in kok.

      thanks. πŸ™‚

  24. Leo Sianipar says

    halo bang..gimana kabar kosan? msh di csb bang? hehe
    ini pandangan ku bang

    emang kalo kita sbg swasta/alumni/senior2 mandang, ‘apaan sih tuh danlap? bacot doang gede! emg dia udh ngasih apa ke itb/indonesia?’ itu yg pasti kita pikirkan

    gw punya pandangan beda terhadap danlap. Dari yg gw pelajarin di kaderisasi suatu lembaga, danlap di acara kaderisasi/ospek itu tak lebih ibaratnya seorang pemateri, tapi memang dengan cara yang berbeda.
    Dia berdiri di depan banyak orang, berorasi itu tujuannya untuk menyampaikan materi yg udah dirancang panitia utk dikasih ke peserta. Metode penggunaan danlap ini dipake buat menyamakan frame peserta akan materi yg disampaikan panitia
    beliau berorasi dgn suara keras itu karena tuntutan lapangan dan flow. Jadi bukan karena marah ato utk keren2an
    Jadi, kita jangan memandang siapa org yg menyampaikan, tp liat konten apa yg dia sampaikan. Karena di dunia ini pasti ga bakal ada manusia yg sempurna sehingga ketika dia berorasi ga bakal ada yg mencaci
    Klo diibaratkan pendeta (karena gw memeluk agama Kristen), pasti yg kita berfokus pada kotbahnya. Kalo kita tau gimana kehidupan asli dr pendeta itu, dan kita masukkan itu jd penilaian wkt dengerin kotbah, pasti bakal mental smua itu Firman Tuhan yg disampaikan

    Mengenai massa kampus yg berbacot2 ria itu, kita hrs nanyain dulu ke panitianya. Hal itu terjadi apa karena ada arahan dr panitia karena tuntutan materi dan flow, ato memang inisiatif massa kampus yg berlebihan? Ga bisa kita ngejudge bahwa mreka bacot doang
    Kalo emg itu permintaan dr panitia utk penyampaian materi, yaa seperti halnya danlap tadi, kontennya lah yg kita liat. Tapi kalo cuma karena kelakuan massa kampus yg sok oke, yaa itu hrs dihajar sih. hahaha

    Oke sekian dulu pandangan gw bang, salam buat bibi kosan. hahaha

    • pije says

      kalau ada tombol like thisa atau retweet untuk postingan atas saya saya akan like atau retweet.
      Sependapat !

    • Karol Danutama says

      Wah ini mantap pendapatnya. Memang benar setiap massa kampus pasti mendapat arahan dan SOP dari panitia. Kita harus cek bener2 apakah yang disampaikan massa kampus itu keluar dari arahan panitia atau memang seenak udelnya masa kampus. Tapi terlepas dari masalah apakah mendapat arahan atau inisiatif berlebihan, saya melihat ada beberapa masalah:

      1. Kalo emang inisiatif berlebihan, bagaimana kita bisa mengontrol hal tersebut? Massa kampus tuh jumlahnya ribuan, dengan latar belakang dan frame berpikir beraneka ragam. Ga gampang lho mengontrol hal itu.
      2. Saya melihat yang disampaikan oleh massa kampus itu masih kurang “pas” kalo kata Bung Ganis di atas. Jadinya kurang membekas. Justru Bung Ganis merasakan yang membekas adalah pengalaman menjadi paskibra dan indahnya skill KPA ITB dan ISO.

      Dari 2 masalah di atas, saya melihat yang harus dibenahi itu adalah metode yang digunakan, dengan situasi:
      1. Jumlah maba gigantis (3500++)
      2. Lokasi gigantis (sabuga/plawid)
      3. Jumlah panitia gigantis (1000++)

      Sekali lagi, ga gampang lho menyampaikan nilai-nilai dengan kondisi di atas. Jadi kembali ke pernyataan saya sebelumnya, yang akhirnya bisa menjadi research question, “Metode apa yang cocok untuk menurunkan nilai-nilai kebangsaan ke mahasiswa baru ITB?”. Dari sebuah less valid sample (pengalaman Bung Ganis), ternyata mengalami menjadi paskibra dan mendengar alunan KPA dan ISO lebih membekas, apakah bisa dicari metode-metode lain yang lebih efektif? Ayo katanya mau menjadikan ITB WCU, kita tumbuhkan semangat riset dari permasalahan kecil-kecil di sekitar kita. Memang field studynya mungkin ga didukung prodi di ITB, tapi paling ngga kita bisa bersama-sama dengan, katakanlah, sostek ato psikologi padjajaran untuk mengatasi hal ini. Atau mungkin sudah ada teman psikologi di kampus lain yang sudah melakukan riset sejenis?

      Salam,
      In Harmonia Progressio

      • Ansel says

        sori OOT, kykny kata2 “research question” udah terlalu membekas ya rol, hahaha

        Anselmus K.A.K.
        Bukan S1 Bukan S1 (Belum daftar ulang ^_^)

    • Aprialdi says

      Kalo dari sudut pandang saya sih, danlap itu kan pemateri juga, bedanya danlap memberikan materinya dengan cara orasi, supaya ada selingan biar gak forum trus bosen. Orasi ke lebih dari 2000 orang itu ga gampang loh

      Dari barisan yg dibentuk peserta (2000 orang lebih), biar fokus si danlap ini mengeluarkan suara yang keras/gagah lah atau gimana, biar si barisan fokus biar materinya sampe

      Saya setuju kalo orasi danlap yang terlihat gagap ini agak aneh, tapi ada beberapa kutipan yg disampaikan danlap menurut saya bagus buat memotivasi saya (yg waktu itu didanlapin) yg malah berkenan dan memotivasi, kayak penekanan gitu. Danlap ga dilatih buat nakutin kok πŸ™‚

      Kalo massa kampus komentar saya sih..
      Maba baru masuk
      Massa kampus interaksi dan langsung teriak gitu toh ya jangan, kita belum ngajarin banyak ke mereka kok mereka langsung disalahin

      Pandangan saya sih gitu

      • Profile photo of Petra Petra says

        nah ini yang bikin saya kasian

        maba baru masuk, tiba-tiba diteriak-teriaki dari pinggir jalan.
        pengen ngebales argumen tapi disuruh jalan cepat.

        gak kasian?

      • F Yudha says

        maaf mas,saya kalau sudut pandang saya begini.Sekarang kan jaman sudah modern dan teknologi sudah maju kan bisa menggunakan sabuga dan menggunakan alat bantu pengeras suara.ya,sepertinya harus ada pelatihan khusus danlap supaya lebih charming dan berwibawa saat orasi sehingga bisa menarik perhatian maba,kalau saya pribadi isi orasi danlap itu sangat bagus namun dalam penyampaian dan timingnya yang kurang.
        secara keseluruhan saya setuju dengan anda.

    • Profile photo of Petra Petra says

      taro aja di sabuga buat kumpul terus acara diskusi ditaro di ruang kelas.

      aneh-aneh aja disuruh panas-panas bulan puasa dikumpulin tengah lapangan terus diteriak-teriakin sama massa himpunan di pinggir lapangan.

      kasian anak baru gak ngerti apa-apa tapi udah diteriak-teriaki.

      • Adhitya says

        Assalamualaikum,

        Selamat malam teman2 yg sedang membaca blog ini. Saya mewakili himpunan yg sempat terbahas dlm blog ini, ingin meluruskan, bahwa konten yg dimaksud dalam blog ini, tidak bermaksud utk mendeskripsikan himpunan tertentu, hal yg ingin diangkat dalam blog ini adalah mengenai metode dan tata cara massa kampus secara umum dalam menyampaikan materi yg disampaikan kepada maba 2012. Hal ini sudah saya pribadi perbincangkan dgn pembuat blog dan kami sepakat bahwa konten dlm blog ini tidak menjurus kepada himpunan tertentu dan hal yg kita bersama tuju adalah mengenai penyampaian massa kampus secara umum. Harap hal ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Jadi mohon utk teman2 yg membaca blog ini dapat memaknai lebih dalam konten yg dimaksud dalam blog ini. Semoga hal ini dapat bermanfaat bagi kita semua untuk ITB yg lebih maju dan dewasa.

        Regards,
        Adhitya Nur R
        15309048

    • rame2 says

      iya diminta panitia om, supaya berbacot..yakin gw, klo perlu sy sebutkan siapa LO nya..haha tapi kebetulan saya cuma “memantau” dan ga lebih dari itu

  25. pebbie says

    ternyata rame komentarnya.

    prinsip gw : yang di-os dalam oskm bukan peserta, tapi sebenernya panitianya. bisa nggak mereka dikasi tanggung jawab mengurusi mahasiswa baru, dan bawa titipan pesan dari konseptor. selain itu, cerita apa yang bisa dibagi ke peserta, selain dari yang diberikan konseptor.

    makanya gw dulu nggak ikut sebagai peserta, tapi jadi panitia di 2004. jadi, panitianya setelah tahun ketiga (setelah mengalami os himpunan dan bekerja di himpunan dan unit). bukan jadi mentor, tapi jadi tatib kelompok supaya bisa melihat sendiri persepsi peserta thd acara dan materi.

    diklat berlama-lama itu nggak berhubungan sama sekali dengan rakyat kecil di ujung pulau sana. mereka nggak mendapat apa-apa. coba jelaskan, apa yang mereka dapatkan dari anda ketika diklat 5 bulan?

    13502044

  26. Hamba Allah says

    Saya sebagai salah satu almamater dari Himpunan berjaket hijau penuh mahasiswi yang banyak omong, jujur aja ngerasa malu banget baca ini. Terlepas dari apakah kejadian sebenernya memang demikian atau bukan, tapi memang budaya omdo OSKM yang harus kesannya sok marah2 itu, sok peduli sama bangsa, sok peduli sama rakyat itu harus diubah. Daripada bentuknya marah2 ngomongin bangsa, kenapa gak OSKM itu bentuknya benar2 melakukan suatu kegiatan yang produktif yang benar2 berguna buat bangsa???

  27. Arman says

    Mencoba menyimpulkan versi saya, maaf saya kalo gagal menyintesa: Bang Petra dan beberapa kakak-kakak ga setuju dengan metode penyampaian materi OSKM karena kurang efektif.

    Komentar saya:
    1. Isi materi dan nilai-nilai yang kami turunkan bertujuan untuk menanamkan (lebih tepatnya memberi tahu) IDEALisme mahasiswa yang IDEAL pada seluruh maba. Saya rasa tidak ada masalah di sini.

    2. Tentang metode yang digunakan, dari cerita2 yang saya dengar, di sini lah sumber konflik. Tapi dari tahun ke tahun selalu ada perubahan kok (mungkin tidak dalam skala besar), yang selalu mendekati kaderisasi ideal yang kita semua harapkan. Kami akan selalu dan sangat membutuhkan masukan dari kakak-kakak tercinta untuk mewujudkannya.

    3. Agak sedih, seharusnya kritik macam ini kalau bisa jangan sampai diketahui oleh masyarakat luas karena ini aib yang saya rasa hanya boleh diketahui oleh anggota rumah tangga saja (mahasiswa, alumni, dosen, dan perangkat kampus lainnya).

    4. Saya akan berusaha menyampaikan kritik ini dan menyampaikan kepada yang berwenang (panitia inti) supaya ini tidak sekedar menjadi bahan obrolan bully2an yg ga bermanfaat.

    5. Sepakat sekali dengan pernyataan “prinsip gw : yang di-os dalam oskm bukan peserta, tapi sebenernya panitianya. bisa nggak mereka dikasi tanggung jawab mengurusi mahasiswa baru, dan bawa titipan pesan dari konseptor. selain itu, cerita apa yang bisa dibagi ke peserta, selain dari yang diberikan konseptor.” dari bang pebbie.

    Terima kasih.

    • Karol Danutama says

      Untuk merefer staff/akademisi ITB diharapkan menggunakan sanjungan Bapak/Ibu. Pak Peb ini dosen STEI lho… :p

  28. F Yudha says

    Ehm..saya ingin berbagi opini saya,saya mahasiswa yang baru akan naik ke tingkat 3,selama di ITB ini saya hampir mengikuti kepanitiaan yang diadakan oleh ITB sebut saja Pasar seni,PROKM,ITB Fair,panitia wisuda (sewaktu TPB),ITBCC,dll dengan harapan saya bisa mendapatkan pola kerja dari berbagai sudut pandang yang berbeda (kekurangan dan kelebihan kepanitiaan tsb).
    Mengenai ACARA kepanitiaan itu sendiri saya pribadi menyetujui karena disitu dapat menanamkan dan mengembangkan bakat serta kerjasama antarmahasiswa maupun dengan lembaga-lembaga di ITB (misal perijinan sarpras dan K3L).
    yang saya sayangkan (dalam hal ini PROKM atau OSKM) adalah CARA menyampaikan ke calon panitia lapangan dan ke maba-nya yang salah,contoh yang umum adalah sewaktu ForBas dimana masa himpunan berteriak tidak jelas dan terkesan menakut-nakuti panitia OSKM,anehkan?tujuan mereka apa sih?seharusnya mereka kan bertanya memberikan solusi dan semangat sehingga saat keberlangsungan acara penyampaian materi dan kelangsungan acara di hari-H dapat berjalan dengan lancar.
    saya yakin mahasiswa-mahasiswi di ITB itu orang yang pintar dan cerdas yang tidak sepatutnya berkelakuan yang bertujuan buruk ataupun iseng seperti berteriak-teriak ke Maba,menyuruh maba dengan tergesa-gesa,berasumsi mereka tidak tau apa-apa (nah seinget saya seorang koorlap PROKM pernah bilang ke saya “janganlah berasumsi,asumsi akan membunuhmu”,nah loh yang bener yang mana nih??).Di masa ini manusia-manusia semakin cerdas kawan,kalau ingin dihormati ya harus menghormati juga,saya pribadi benci dan tidak hormat kepada orang yang berkelakuan macam di atas itu.
    Ingat juga dampak psikologis dari maba juga harus diperhatikan (bolehlah badan besar tapi maba jaman sekarang banyak yang kelas percepatan,usia tidak bisa membohongi mental) yang bisa menjurus ketidakpedulian dan keengganan dari kepanitiaan dan keorganisasian di ITB karena tidak sesuai dengan hati mereka,itu akibat tindakan kalian juga.
    satu lagi yang saya herankan bagaimana kalian akan membangun bangsa kalau kerjaannya di kampus terus dan tidak mengerti permasalahan yang menimpa negeri sendiri atau yang paling dekat saja Bandung misalnya.Setelah kuliah langsung kerja,keasyikan cari duit,jalan-jalan terus kapan kalian akan membantu rakyat kalian sendiri?kapan?pikirkan.

    maaf kalo tulisan saya berantakan.

    • Aprialdi says

      Gak semua nya asal teriak kok, ada juga yg teriak dengan niat baik
      Gak semua nya teriak kok, ada yg diem agak lama ikut mikirin solusi
      Gak semua nya mau/berani ngomong, ada yg punya saran solusi tapi ga ngomong
      Gak semua orang sama, kita punya cara yg berbeda tiap orang nya
      Kita kan beragam, beragam himpunan beragam asal beragam cara πŸ™‚

      Sayang aja kalau hampir semua kaderisasi di kampus ganesa ini keliatan serem dan ga efektif, padahal niatnya baik buat nyetak individu oke

      begitu dari sudut pandang saya πŸ™‚

  29. Urip says

    Halo, salam mas petra, cuma ingin ikut berpendapat.
    Saya masih baru di ITB, saya angkatan 2010 dan saya telah mengikuti 3 kali OSKM baik sebagai peserta maupun sebagai panitia.
    Dari tadi saya baca banyak yg menanyakan apa yg dirasakan peserta ketika OSKM. Dari saya dulu, ketika saya menjadi peserta jujur saya memang tidak terlalu mengerti dengan materi yang diberikan, tetapi saya merasa banyak mendapat manfaat dari oskm itu sendiri seperti semangat kebersamaan, semangat untuk melakukan sesuatu untuk rakyat. Dan untuk sekarangpun hal2 serupa juga banyak dirasakan oleh adik2 kita 2012 (saya dapat dengan berbincang2 dengan adik kelas serta twit2 di twitter)
    Mungkin hal2 tersebut belum seberapa dg yg mas petra harapkan dan mgkin tidak semua peserta oskm merasa demikian, tetapi bukankah itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali?
    Mungkin juga banyak yg bakal berpendapat ideologi cuman pas jadi mahasiswa, dunia kerja itu beda dan lain sebagainya bukan berarti kita harus berhenti mencoba kan?
    Mengenai metoda yg diterapkan seperti teriakan2 masa kampus memang banyak memiliki kekurangan walaupun tujuannya baik. SOP sudah ada dan jelas, tetapi memang kondisi ideal sulit dicapai.
    Yang ingin saya tekankan adalah marilah kita melihat sesuatu apa adanya, jangan melihat sesuatu dengan pandangan skeptis dan apatis.
    Setuju dengan pendapat diatas, teriakan2 yg mas petra lihat hanyalah sebagian kecil dari OSKM, dan saya rasa dengan pernyataan mas petra “saya bukan mahasiswa yang aktif di himpunan ataupun di KM ITB. Saya tidak pernah tertarik ikut jadi panitia ospek himpunan maupun ospek ITB” mas petra hanya melihat teriakan2 itu saja selama di ITB. Sangat disayangkan.
    Mungkin dulu alangkah baiknya mas petra coba dulu gimana rasanya jadi panitia, saya juga awalnya cuman ikut2an teman, tetapi saya dapat banyak pelajaran berharga disana. Dan benar sekali, kenapa kalau mas petra punya bnyk ide bagus untuk OSKM yg lebih baik, knpa tidak disampaikan di fordis2 OSKM? Tentunya akan lebih efektif.

    Ini hanya sekedar pendapat, buat kaka2 yg merasa tersinggung mohon maaf.

    • Aprialdi says

      Kalo saya sih waktu jadi peserta belum dapet semangat kebersamaan, tapi dapetnya kesadaran sebagai mahasiswa ITB yg punya tanggung jawab ngebangun masyarakat (Soalnya masuk2 dibilang putra/i terbaik bangsa)

      Pas jadi panitia, baru dapet semangat kebersamaan dimana mahasiswa dari berbagai macem jurusan, berbagai macam himpunan bergabung jd satu panitia OSKM, tidak ada arogansi berlebihan, punya satu tujuan

      Yaa semoga OSKM ini dan kedepannya bisa nyetak massa himpunan yg lebih baik dari saya dan nyetak orang yg bisa kontribusi ke masyarakat deh πŸ™‚

      Maap kalo saya ngetik doang, tapi ingat bung
      Kritisi itu ada karena kepedulian untuk membangun πŸ™‚

      • Urip says

        Hehe iya setidaknya kita sama2 merasakan manfaat dari OSKM yg telah berlangsung πŸ˜€

      • F Yudha says

        Ya bisa jadi kaderisasi sekarang mengalami penurunan nilai,maksudnya setiap orang kan memiliki daya tangkap kan dan daya olah materi yang berbeda-beda (dan yang saya lihat Mas urip dan Mas Apriadi ini memliki daya tangkap yang sangat bagus karena bisa mengintepretasikan sesuai dengan acara tsb)
        Nah tetapi bisa jadi dari satu generasi ke generasi berikutnya si pengkader tidak sepenuhnya memberikan materinya dengan berbagai sebab,solusi saya sebelum diterjunkan ke lapangan seharusnya ada semacam matrikulasi yang efektif.jadi tidak ada perbedaan persepsi,mengingat acara-acara di atas merupakan acara yang bisa dibilang penting.

  30. Audi says

    Assalamualaikum selamat malam abang kakak mas mbak teman2. Saya Audi, mhsw tingkat 3 Rekayasa Hayati SITH ITB, di PROKM 2011 bertugas sebagai panitia lapangan divisi tata tertib keamanan. Dan saya dapat amanh menjai slh 1 anggota Pasukan Pengibar Bendera, Jadi saya, saat PROKM 2011 berlangsung bisa diblg tdk ikut merasakan apa rasanya berada di lapangan, di tempat2 terjadi interaksi antara MaBa dengan panitia, MaBa dgn Komandan Lapangan, atau MaBa dgn massa kampus, krn saya bertugas di tempat2 tinggi dan sepi dari massa. Bisa saya anggap saya pihak ke 3 saat kegiatan PROKM 2011 berlangsung.

    Saya mau berpendapat, sbg pihak ke 3, menurut saya kegiatan OSKM, INKM, atau PROKM, atau PMB apapun namanya yg bentuknya penyambutan dan kaderisasi awal sekali bagi Maba ITB, adalah bentuk pengenalan tradisi kampus, salah satu tradisi besar dan sudah lama ada di kampus (setau saya). Jadi OSKM benar2lah satu cara menyampaikan ke MaBa bahwa di ITB ada tradisi: ITB itu punya sekelompok besar orang yg disebut massa kampus, bahwa di ITB itu ada himpunan2 dengan atribut/identitas masing2, ada KM ITB, ITB punya jaket almamater bagi mhsw nya, ITB punya orang2 yg berani dan bisa berbicara di depan org banyak apapun metode dan isi pembicarannya. Jadi menurut saya, OSKM ini, dan termasuk OSKM 2012 yg masih berlangsung ini, adalah sama yaitu sebagai bentuk pengenalan tradisi kampus. Bukan bertujuan untuk menggugah rasa MaBa akan peran mahasiswa, akan realitas bangsa engan rakyatnya, akan realitas bahwa kuliah di ITB itu seperti apa, bahkan akan seperti apa lulusan ITB, dan akan seperti apa dunia kerja bagi lulusan2 ITB, belum sampai sana. Karena saya merasa, hal2 yg saya sebut terakhir di atas, saya dapat setelah saya menjalani kehidupan di kampus, bukan saat OSKM. Bahkan misalnya, kata2 Mahasiswa ITB adalah mahasiswa terbaik bangsa, calon pemimpin global, dll, blm bisa saya berikan penapat, toh karena saya masih kuliah, masih banyak belajar. Begitu juga panitia OSKM, begitu jg MaBa, jadi memang esensi nya bukan untuk menggugah rasa mahsiswa untuk smpai ke sana, baru smpai taraf mengenalkan tradisi kampus.

    Begitu pendapat saya, mungkin bisa jadi sudut pandang lain. Saran saya, kepada kawan2 yg berpendapat dan memberi kritik/saran kpd panitia yg sekiranya bernada “kurang setuju/sreg” dengan metode OSKM ini, mari pertama2 berikan dulu apresiasi kpd panitia OSKM, krn bgmanapun, teman2 panitia ini yg langsung bekerja, dengan berbagai tantangan yg ada. Kita2 yg berkomentar ini tidak mengalami apa yg mereka rasakan, betapapun mungkin kita dulu pernah menjadi panitia, toh kita tidk pernah jadi panitia OSKM 2012? hehe, betapapun juga mungkin masalah yg terlihat seperti terulang, kita tidak benar2 berada di kondisi yg sama. Sebisa mungkin kita bantu panitia, demi idealisme untuk kemahasiswaan ITB kita yg saya yakin masih ada pada diri2 kita yg berkomentar di sini, mulai dari memberikan pendapat2 yg ada di blog ini yg semoga dibaca oleh teman2 panitia dan menjadi evaluasi, bahkan kalau bisa sampai turun langsung ke lapangan dan membantu memberi saran2 kepada panitia agar bisa langsung dilakukan.

    Terimakasih kawan2 semua! Hidup Mahasiswa, Salam Ganesha! Wassalamualaikum, selamat malam…

    M. R. Audirizki
    Rekayasa Hayati
    Nymphaea ITB
    GM-007-XXI, KMPA ‘Ganesha’ ITB

    • Aprialdi says

      Saya pribadi setuju dengan mas Audi
      Yuk kita apresiasi kawan2 panitia dan massa kampus yg sudah melakukan porsi nya dengan baik πŸ™‚
      Panitia pasti bekerja maksimal kan buat adik2 kita juga yg nantinya kuliah ditempat yg sama, mereka mau ngeluangin waktu dari liburan mereka loh πŸ™‚ πŸ™‚

    • F Yudha says

      walaikum salam,
      saya sependapat dengan Mas Audirizki mengingat tujuan dari acara tersebut memang baik dan saya termasuk salah satu yang termotivasi setelah mengikuti rangkaian acara baik sebagai maba,panitia lapangan,maupun pendiklat panitia lapangan.,akan tetapi ada beberapa yang perlu pertanyaan opini saudara tentang informasi yang saya dapatkan betul tidaknya beserta alasan :
      1.dalam pengkaderan (hampir semua kader),si pengkader selalu BENAR dan yang dikader selalu SALAH pernah teman saya bilang sebagai yang dikader kita terima selalu salah aja tapi juga jangan nantangin yang mengkader.Dalam hati saya kaderisasi macam apa ini,kalo memang jawabannya betul kenapa dibilang salah?itu akan membunuh karakter yang dikader itu sendiri.
      2.Apakah saudara mengetahui Roadshow ketua OSKM yang sekarang?kalo iya apakah tujuan utama dan kenyataan yang ada dilapangan itu sudah sama?,lalu bagaimana solusinya supaya tahun-tahun berikutnya tidak berulang.kalo saya pribadi mengatakan hanya sebagian kecil,karena setiap tahun metodenya hampir sama,dan sama-sama jatuh ke lubang yang sama alias gagal.
      terima kasih bila berkenan mau menjawab.

  31. Adityo Jiwandono says

    β€œJas almamaternya dipakeee!! Sayang udah dibeli mahal2!!”

    “Jas mahal” saya cuma sempat berada di tangan beberapa hari karena dipinjam panitia PMB (pas jaman saya namanya PMB, bukan OSKM) dan tidak pernah kembali πŸ˜›

  32. bach says

    Keknya yg di kader tuh bukan peserta OSKM deh, tp panitianya.. Dulu 2006 ikutan jd panitia dan OSKMny minim peserta, tp gw gak kecewa.. Soalnya gw belajar banyak hal dari diklat2 panitia OSKM yg lamanya sekitar 3 bulanan (klo mo enak mending jalan2 pas liburan semester). Buat peserta mah pengenalan aja keknya.. Seminggu mo ngerubah anak sma, hebat betul itu klo berhasil, efek OSKM paling jg sebulanan doang.. Abis itu lupa deh.. Ya setidaknya mrk punya temen2 baru lintas fakultas (gak jelek2 amat kan)..

    • Yoel says

      Kalau emank tujuan utamanya untuk memberi manfaat buat panitianya, jangan jadikan pesertanya “korban” donk. Masa agar panitianya dpt manfaat, harus bikin acara dimana2 pesertanya diteriak2in, dsb. Egois banget.

      • Aprialdi says

        Setau saya panitia ga teriak2 deh. Paling danlap aja yang teriak2 tapi kan teriaknya orasi materi, divisi lapangan juga dibatasin kok (Biasanya buat mobilisasi macem : perhatikan langkahnya, percepat langkahnya).

        Jangan asal judge yuk, kita lihat dari macem2 sudut pandang dulu πŸ™‚

        • Profile photo of Petra Petra says

          panitia mungkin gak ikut teriak. kalau massa kampus?
          lalu yang direkam di bawah ini apa?

          http://soundcloud.com/ramda-yanurzha/ambience-oskm-2012

          bukan teriakan? atau cuman “suara lantang” atau jargon2 lain?

          • Aprialdi says

            Hmm, teriakan nya ada yg kasar juga ya haha

            Tapi menurut saya sih, panitia pasti ngasih briefing terpusat dulu ke pj2 masing2 himpunan, trus nanti si pj ini ngasih briefing ke himpunannya masing2, bisa jadi ada distorsi, trus ada masa yg ga ikut briefing. Kan panitia ngasih tau flownya ditiap zona2 gitu, trus gak disetiap tempat jg yang teriaknya sebegitunya

          • Profile photo of Petra Petra says

            masalahnya adalah hal ini terulang terus menerus setiap tahunnya…
            yang saya tentang itu kenapa harus ada teriakan-teriakan… apalagi teriakan-teriakannya sama sekali tidak cerdas.

            apa mungkin karena format OSKM yg terus-terusan sama makanya jadi tiap tahunnya pasti banyak yang kayak gitu..

  33. aul says

    waah seru ya komentarnya, jadi bikin ateeul gitu pengen ikutan.

    pengennya sih “move on”, tapi apa daya; saya ingin ikutan nulis

    ——–

    Dapat dikatakan, selama menjadi mahasiswa itb, saya adalah orang yang melewatkan kegiatan kemahasiswaan saya dalam kegiatan kaderisasi. Yaa..bantu2 di terpusat di OSKM/PMB/INKM..juga bantu2 kaderisasi di himpunan.

    Saya mengerti betul kesulitan panitia menerjemahkan materi yang ingin disampaikan dalam bentuk aktivitas yang dijalankan oleh maba. Ini membuat orang2 yg aktif akan menjawab komentar miring mengenai ospek berdalih dengan mengatakan “don’t judge book by its cover!”..gimana ga mau ngomong kayak gitu, siang malam dibahas! Dibantai pula sama massa kampus hehehehe..

    oskm, atau ospek secara umum memang dari tahun ke tahun belakangan selalu membuahkan “galat” yang cukup lebar antara materi dan pelaksanaannya. Seringkali, kita tidak mawas dengan detail2 kecil namun ternyata sangat penting…misalnya, jika kita mengulik bagaimana posisi senior junior dalam pelaksanaan oskm. Mau dalilnya kayak gimana juga, danlap diatas panggung dengan kata “aku”, massa kampus yang berteriak di samping peserta yang mobilisasi, selalu menyuratkan adanya bentuk dominasi. Ya, dominasi senior atas juniornya. Dalam kondisi superior tersebut, orang2 yang berada dalam posisi di atas senantiasa tergoda untuk melontarkan apapun, ada yg bentuknya menjurus bullying, ada yg serius harfiah meneriakkan idealisme, ada yg iseng teriak meniru penjual asongan, dan entah apa lagi bentuknya. Dari sini dapat dimengerti komentar Petra menjadi relevan. Sebenarnya usaha “demokratisasi” panitia dan peserta, menjadi isu tiap tahun dalam perumusan bentuk acara, setidaknya sampai jaman saya masih ngurus2 ya. Peniadaan tadis, peniadaan hukuman fisik, dijalankan demi menumpas aspek2 kekerasan dalam oskm atau ospek.

    Tapi, sebenarnya ada yg dilewatkan jika membicarakan ospek atau oskm, hanya dari aspek lembek atau keras pelaksanaannya. Dalam konteks oskm, kita membicarakan bagaimana kita mengolah 3000 orang, yang diharapkan akan mengembangkan apa yg senior lakukan di kampus. Dengan jumlah 3000 tersebut, agaknya mustahil menyampaikan secara text book; dari esensi hidup (ya, percaya atau tidak materi tsb masih sering muncul di oskm), sampai pengenalan bagan organisasi kemahasiswaan. Saya yakin 3000 orang tersebut lebih merasakan pengalaman masif yang menghasilkan euforia ekstra ketimbang teks2 yg beratnya minta ampun tersebut. Malu-malu, harus diakui, yang mempertahankan oskm tetap terlaksanakan yaa itu..euforia besar2an itu kan. Euforia Satu (Angkatan) ITB gitu loh. Akhirnya materi itu ya selewat aja, numpang doang di otak. Materi itu lantas dengan cepat dilupakan segera setelah oskm selesai dan pada gilirannya perlahan euforia itu pun pudar seiring waktu.

    Pelaksanaan oskm kemudian jadi kena tanggung. Kesini engga, kesana engga. Materi lupa, euforia lewat. Ya, pertama-tama, seperti biasa; harus jelas dan spesifik apa yang ingin disampaikan panitia terhadap peserta. Dari situ, kita bisa lanjut; apakah maunya seminar atau simulasi angkatan di lapangan? atau dua2nya? bagaimana porsi keduanya dalam eksekusi? Keras atau lembek menurut saya masih opsi. Kedua2nya masih terbuka, berikut pelaksanaannya. Tidak ada yg lebih mudah dan susah, kedua2nya punya konsekuensi…asal babat biar demokratis juga dapat membosankan, asal keras juga celaka.

    PR yang lebih penting untuk panitia adalah menyuarakan ruh zaman (zeitgeist) kemahasiswaannya. Jika tidak ya akhirnya oskm hanyalah utopia: sebuah gambaran adegan kemahasiswaan itb yg tidak juga-juga terjadi; bersatunya mahasiswa itb di satu tempat untuk satu tujuan yg lebih besar, bagi negeri ini, bagi dunia. Barangkali reformasi jilid dua. Ya, saya pribadi, ternyata masih mengharapkan gerakan demikian muncul dari kampus ganesha.

    salam!

    aul (sr’2005)

  34. Ary says

    Susah amat mikirnya..
    kalo gak mau anggep OSKM, atau apapun itu namanya sebagai kaderisasi awal dan sarana pembelajaran, kenapa gak mikirnya OSKM itu adalah :
    1. Silaturahmi awal angkatan (bagi mahasiswa baru), dan
    2. Sarana interkasi massa kampus (bagi para senior maupun massa kampus)

    kan kesannya lebih “gak serem” (kalo memang mahasiswa sekarang gak suka yang serem2)
    sepengalaman saya hanya ada 2 acara yang bisa memfasilitasi interaksi banyak massa kampus di ITB. OSKM dan wisuda (tergantung banyaknya partisipan yang ikut “meramaikan”).
    Kenapa gak anggep 2 acara ini sebagai sarana interaksi..?? atau memang sekarang interaksi itu memang dibatasi..??
    Ayolah..
    Jaman mahasiswa itu penuh dengan gejolak.. bukan monoton menunggu ombak membawa perahu merapat ke pantai..

    salam In Harmonia Progessio..
    15005010

  35. Ninis says

    Jangan sampai OSKM menjadi wadah yang ditanggapi sebagai angin lalu sama mahasiswa baru ini. Ganti metodenya secepat mungkin, atau OSKM hanya menjadi formalitas semata tanpa pengaruh bagi si peserta.

  36. joko says

    mas petra..berkomentar seperti anda ini hanyalah subyektif..yang anda pikir bukan?
    mungkin lebih menarik jika dibahas secara obyektif..jadi tidak ada penilaian yang salah…apalagi ngomong di belakang…kalau memang dirasa gak bener, ya silahkan dibahas..

    kalo kata orang jawa…
    Take it (understand it) or Leave it be

    kalo males, leave it dan gak usah komentar πŸ˜€

    • jaka says

      ngomong di belakang gimana sih maksud lo?? ini di post di blog kan biar bisa dibaca sama orang2!

  37. Arbi says

    (Maaf saya repost tulisan saya dari blog sebelah karena maksudnya kurang lebih sama πŸ˜€ )

    Terimakasih Pak.
    Terimakasih Kakak-Kakak dan Abang-abang semua.
    Perkenalkan saya Arbi (EP’09), kebetulan saya banyak terlibat dalam OSKM 2012 ini.

    Saya berbaik sangka pada siapapun meski komentarnya banyak yang bikin saya sakit hati πŸ˜€ haha. Tapi saya hargai karena saya yakin semuanya punya itikad baik. Semoga komentarnya bukan berniat untuk mencari2 kesempatan, menjatuhkan, atau menjelekkan kawan2 panitia OSKM ataupun Massa kampus yang terlibat dalam pelaksanaan. Semoga semuanya tulus berkomentar untuk OSKM ITB yang lebih baik.

    Mungkin saya tidak pelru banyak berkomentar karena sudah terwakilkan oleh kawan-kawan yang lain.
    Btw bagi yang tidak suka jika danlap berorasi seolah marah2, maka berkomentarlah dengan cara yang sesuai. Kalau marah2 dibalas marah2, ya sama aja dong, cuma pindah lapak aja, satu di dunia nyata satu di dunia maya, hehe…

    Tetapi sekali lagi saya percaya bahwa semua komentar diatas mau yang enak ataupun yang gak enak punya maksud yang baik. Sama seperti danlap yang punya niat baik, hanya mungkin Ia perlu lebih banyak belajar berorasi, lebih banyak membaca buku, lebih banyak mengkaji masalah bangsa, lebih sering sholat berjamaah di masjid (lho? :D) dan intinya lebih banyak belajar. Sama juga seperti massa kampus yang sebenarnya telah di brifing untuk menyampaikan materi saat mobilisasi maba. mungkin brifing dari kami yang kurang jelas atau pengawasan kami di lapangan yang kurang sehingga ada yang lepas kontrol, hehe… tapi saya yakin semua sudah berusaha.

    OSKM 2012 dapat terlaksana lewat proses yang panjang (kurang lebih 2,5 bulan kepanitiaan), segala konsepnya didiskusikan bersama segenap massa kampus (mungkin yang dulu pernah jadi panitia sudah tahu gimana rasanya dibantai didepan forum, hehe), Kabinet, dan bahkan Rektorat. Sampai akhirnya konsep ini disetujui dan dieksekusi. Namun saya menginsyafi bahwa mungkin ada hal2 yang tidak ideal dalam pelaksanaannya sehingga konsep yang bertujuan mulia itu kurang nampak dan terasa bagi semua.

    Terima Kasih sekali lagi atas saran2nya. Saya sepakat kalau OSKM tidak boleh cuma menjadi tradisi yang sekedar diturunkan. Mohon maaf jika keberjalanan acara ini belum sesuai dengan yang diharapkan.

    Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak berguna kita mencaci Panitia hari ini, acaranya sudah lewat.
    Kita persiapkan saja untuk OSKM berikutnya.
    Saya akan arsipkan blog beserta komentar2 bapak/kakak/abang dan saya pastikan bisa sampai pada panitia OSKM berikutnya. (itupun kalau masih ada OSKM :D)

    Sekian dan Terima Kasih.

    “…Mengubah hari ini, mungkin sudah terlambat.
    Pertanyaannya, maukah Anda menjadi orang yang mengubah masa depan?
    Maukah?
    Atau Anda hanya mau jadi orang yang ngomel-ngomel saja?”

    “… Karena hanya ada 2 jenis anak muda di dunia.
    Mereka yang menuntut perubahan.
    Dan mereka yang menciptakan perubahan.
    Silakan pilih perjuanganmu!”
    ― Pandji Pragiwaksono, NASIONAL.IS.ME

    • Profile photo of Petra Petra says

      saya berdiskusi dengan beberapa alumni kemarin, dan memang katanya LPJ itu hanya jadi formalitas dan gak terlalu dipake ke depan-depannya..

      • aul says

        lpj mah kepake..sekurang2ya buat referensi bikin bagan struktur panitia…hihihihi

        • elmo says

          gw baca LPJ oskm dari taun 2004 ampe 2010, dari taun ke taun sama aja. pada curhat, yg dicurhatin juga sama aja -__-

          • Profile photo of Petra Petra says

            yg dicurhatin apa aja mo?
            boleh cerita2 dong

  38. Urip says

    Setuju kang arbi, mau nambahin quote juga ni tapi lupa quote dari siapa :

    “Kampanye yang hanya sukses di ranah online tetapi minim aksi nyata hanya akan menjadi tidak lebih dari SAMPAH DIGITAL”

    Jeng jeng !

  39. Ismail says

    Saya tidak menyalahkan penilaian Anda. Tapi kalau menilai sesuatu, usahakan Anda sendiri tau betul apa yg Anda bicarakan.
    Ibarat berbekal hanya melihat beberapa jerawat, langsung menilai buruk seseorang.

    Salam,

    • Profile photo of Petra Petra says

      saya sudah bertemu dengan rekan dari OSKM dan himpunan.
      tetap gak merubah pendapat dan pertanyaan saya di atas kok.

      kalau memang saya salah ya silakan kritik saya.
      membalas metafora Anda,

      kaca memang selalu ada, tapi standar kecantikan keburukan khan juga tergantung orang lain. saya mungkin melihat di kaca saya bahwa saya ganteng. tapi saya terbuka oleh kritikan orang. kalau saya melihat orang lain buruk saya komentari. tapi tidak saya hina, loh.

      ini negara bebas, semua orang bebas beropini selama bertanggung jawab.
      saya masih bertanggung jawab atas tulisan ini.

  40. widana says

    jangan asal komentar kalau memang tidak pernah berada di daerah pelaksana atau panitia, ada yang namanya ingin mewarisi hal2 yang tidak kita miliki, sama aja kayak orang tua anaknya lebih baik dari mereka, kita juga mau adik2 yang lebih baik dari kita…

    Kalau mau menyalahi metode, kasi juga solusi, janji untuk datang ke forum2 pengonsepan acara,
    anda menyalahi konsep acara ini, berarti anda pun menyalahi keputusan massa kampus, berpuluh2 lembaga yang terdiri dari mahasiswa2 berbagai tingkat, jangan kira konsep acara ini jadi semalam, ini 3000 orang loh, waktu hanya 3-5 hari, panitia hanya 500an, dan ngga semua bisa bikin acara tingkat dewa seperti yang kalian pikirkan, acara tipis dengan liburan, efektivitas panitia mungkin hanya tenaga kerja 100 orang, mikir dong…

    jujur kalo saya disuruh mikir berbagai jenis cara ngomong yang masuk diotak saya saat saya sedang euphoria masuk ITB, adalah dengan lantang, jelas, dan terputus-putus, dari pada obrolan panjang lebar seperti seminar dan motivasi saya ketiduran pasti…

    masalah teriakan2 oleh masa kampus, kalo ngga massa kampus alias senior alias orang terdekat mereka dikampus, kapan lagi dan siapa yang akan masukin inputan seperti itu ke mereka? Setelah itu ada yang memutuskan untuk kuliah-pulang sambil apatis, tapi harapannya ada beberapa yang jadi aware sama isu2 yang “diteriakkan” tersebut.

    orang tua? cuma mau anaknya sukses
    dosen? mana peduli tujuan kuliah para mahasiswa baru

    Kalau memang ngga pernah aktif dikampus dan di terpusat, ngga usah ngejudge deh, anda ngga ngerti maksud kami semua, dan anda hanya sebagian kecil sekali yang tidak terpengaruh oleh OSKM pas tingkat satu, untuk sebagian saya dan teman2 saya, kami malah ngga semata2 mikirin nasib sendiri setelah di OSKM…

    Banyak pengabdian masyarakat kami lakukan dengan serpihan sisa-sisa idealisme yang masih terpercik akibat OSKM sebelum kami lulus dan harus memikirkan nasib sendiri.

    • Profile photo of Petra Petra says

      sebenarnya saya kemarin kepikiran mau meluangkan waktu kerja untuk ikut ke forum pengonsepan.
      tapi setelah berbincang-bincang dengan rekan-rekan alumni mantan aktivis, katanya gak bakal didengar kok.

      dan satu lagi, agak aneh memang kalau orang yg gak pernah jadi panitia tidak boleh ikut komentar. tidak tertutup kemungkinan khan kalau yang jadi panitia itu malah tidak tahu masalah-masalah yang ada di kepanitiaan karena, ya, seperti kata orang, “gajah di pelupuk mata” memang biasanya sulit untuk tampak.

      justru saya merasa sangat berhak untuk memberikan kritik. saya bayar pajak. pajak saya untuk membiayai acara OSKM, subsidi uang kuliah baik panitia maupun peserta. jadi saya rasa saya sangat berhak untuk mengkritik.

      saya juga tidak menghina kok. kalau saya ada salah ya harap dikoreksi dengan detil. jangan hanya misuh-misuh defensif.

  41. Muhammad says

    Assalamualaikum wr wb kakak2,
    saya adalah salah satu peserta oskm 2012, tanggapan saya mengenai oskm dan isu2 di atas:

    1. Menurut saya danlap bukan marah2 nggak jelas kok. kalau saya ngeliatnya sih nggak tepat juga dikatakan marah, cuma agak tegas saja dan saya pribadi nggak ngerasa tertekan kok, berbeda dengan massa kampus yang saya lihat cenderung marah2 tanpa mendidik. Pada hari terakhir oskm kami dipertemukan pada massa kampus utk melakukan diskusi. Di kelompok saya, pada saat moderator memberikan kesempatan kepada massa kampus utk bertanya kpd kami, massa hening sejenak. Tidak ada yg bertanya. Setelah beberapa saat, baru ada yg bertanya. yang membuat saya kehilangan respect kepada mereka adalah saat diminta bertanya mereka hening, tetapi saat kami memberikan jawaban (yang kurang memuaskan mereka) mulai keluar celotehan2 tidak bertanggungjawab dari berbagai arah. saya bahkan melihat ada yang setelah berteriak tidak jelas langsung mengambil posisi di belakang temannya seakan lempar batu semunyi tangan. Setelah kami memberikan jawabanpun seakan tidak ada tanggapan konkret dari penanya, seakan pertanyaan mereka hanya formalitas utk mengeksiskan unit/himpunan mereka(setidaknya ini yg terjadi pada kelompok saya). Inikah massa kampus itb tempat orang2 yg katanya terbaik? karena yg saya lihat tadi tidak lebih dari orang2 yg hanya cuma bisa berkoar. Memang saya masih baru di itb. Tapi selama oskm kekecewaan terbesar saya adalah saat melihat massa kampus dimana mereka terlihat bermulut besar dan mempunyai arogansi tinggi (no offence).

    2. Mengenai masalah rektorat, di itb saat penutupan tadi dihadiri juga kok oleh bpk Akhmaloka, jadi saya menyimpulkan sendiri bahwa tidak ada masalah antara panitia oskm dan rektorat. Saya tidak tahu seluk beluk oskm jadi saya hanya mengambil kesimpulan subjektif dari presepsi saya.

    3. kesan selama oskm: menurut saya oskmnya seru, dan saya gunakan semaksimal mungkin utk berinteraksi dan menambah teman lintas fakultas. saya juga mendapatkan manfaat dari informasi mengenai unit2 yg ada di itb. Kami juga diajari mengenai arti sebenarnya menjadi mahasiswa (walau sebatas teori).

    4. Masukan saya utk oskm adalah jangan terlalu fokus kpd teori, Selama 5 hari oskm sangat banyak teori yg kami dapat dan sangat sedikit tindakan nyata. Alangakah baiknya jika teori itu di terapkan walaupun cuma kegiatan kecil2an.

  42. Ibnu Alam says

    hmm… ada yang mau bikin reminder buat baca lagi komen2 di postingan ini sekitar 4 tahun lagi?

  43. Fira says

    http://atifahrabbani.tumblr.com/post/28485035096/lima-hari dibaca yuk, lumayan buat saling bertukar pikiran πŸ™‚

  44. Putri says

    Pagi, para kakak dan adik. Perkenalkan saya mahasiswi ITB tingkat akhir. Saya tidak pernah ikut kepanitiaan OSKM namun stidaknya saya sempat mngikuti kegiatan kehimpunanan. Saya ingin sedikit berbagi pandangan saya:
    1. Jujur ketika menjadi MABA 3 tahun lalu, saya lebih takut terhadap massa kampus dibanding danlap OSKM. Karena kelakuan massa kampus terkadang seperti pria2 di jalan yang menggoda perempuan lewat. Malah saya senang thdp orasi Danlap yg mbawa pesan yg dg cukup jelas tsampaikan. Lalu spanduk2 yg menggugah hati saya kala itu.
    Idealisme ini smpat btahan hingga beberapa bulan lalu. Yah stidaknya materi saat itu membekas. Kemudian tgantung diri msg2 bgaimana mptahankannya. Namun yg saya garis bawahi di sini, metode ini cukup baik kok untuk memberi kesan pada peserta. Dr segi teknis sih agak kurang wktu itu krn omongan danlap kurang jelas. Tertutup celotehan massa kampus yg membuat ga fokus.

    2. Tentang mahasiswa ITB yg terbaik bangsa itu sebenarnya jd kebanggaan dan beban kalau menurut saya. Bangga karena termasuk orang yg beruntung dan beban krn takut tidak bs memenuhi harapan masyarakat. Tdk usah masyarakat, harapan keluarga dan org terdekat jg. Takut jdnya malah mencoreng nama almamater kalau tdk menimba ilmu dg baik dan tidak teraplikasikan dg baik. Jd lumayanlah slogan2 tsbut jd pencambuk saya πŸ™‚
    3. Lalu komentar di awal mengenai forbas, saya tidak akan mengomentari metodenya. Namun saya tidak suka dengan suasana yg ditimbulkan. Ketika massa kampus yang di antara mereka terdengar suka berceloteh asal dan berteriak kpd massa kampus lain. Menurut saya itu tidak etis dan tidak mencontohkan hal yg baik kpd adik2 angkatan. Itu kan forum, formal. Sebuah bentuk kaderisasi jg. Maka apa yg adik2 kita lihat dan rasakan saat itu akan menurun pada mereka jg. Namun bs jg itu malah mbuat mereka jd bs memilah mana yg baik dan yg buruk untuk diserap. Mudah2an.
    Jadi menurut saya tidak hanya metode saja yg perlu kita kritisi namun jg perilaku para pelaku yg terlibat yaitu panitia dan massa kampus :))
    tolong dikoreksi jika ada yang salah dan mohon maaf jika kurang berkenan.
    Oia, sedikit pendapat lagi nih para kakak dan para adik. Entah saya yg perasa atau memang kenyataan, jika saya baca komen2 seperti ini pasti ada saja yg sewot atau menjadi sewot karena dia merasa komen di atas mengandung unsur offense. Kalau dipikir2, ini kan tulisan, yg cara bacanya tgantung yg membaca. Kan bisa saja maksud si penulis ga nyolot tapi dibaca oleh kita terkesan nyolot. Yah tgantung cara penulisan jg sih. Pokoknya mah, sebaiknya kita mencoba menulis bagaimana agar tulisan kita tidak menyinggung. Mohon maaf kalo tnyta tulisan saya jg bgitu. Dikoreksi saja πŸ™‚ makasih πŸ™‚

    Love, peace, and smile hehe
    12909003

  45. F Yudha says

    Logikanya,kalau tindakannya sudah benar ya ditingkatkan kalau masih salah ya dikritik.
    logikanya lagi,kalau salah ya harus dirombak,diganti atau diperbaharui,jangan jatuh ke lubang yang sama masa kalah sama kerbau,lha ini?!

  46. Zawara says

    Massa kampusnya munafik nih, teriak-teriak nasionalisme tapi udah kebayang aja lulus kerja sama perusahaan asing. Cukup sekian

  47. Mary says

    Wah saya telat sekali baru baca ini sekarang..
    Jujur, komen2nya menarik. tapi secara umum yah kok ada kesenjangan yang lumayan hebat ya lintas generasi? sadar atau tidak, anda semua tidak satu. inilah ITB. arogansi dimana-mana, bukan hanya antar unit dan jurusan, juga antar angkatan.

    langsung solusi aja mas.. ndak usah kritik atau masalah lagi.. udah banyak.. cape kan bacanya? intinya sama toh

    simpel si menurut saya, kalo mau kaderisasi awal itb lebih baik apa ndak lebih baik gini: oskm selanjutnya, 2013, alumni, massa kampus, dan panitia kumpul forum secara baik-baik. sistemnya jangan kayak FORBAS selama ini..
    bicarakan teknis baiknya seperti apa? untuk output A, input yg diperlukan apa, enaknya prosesnya gimana? secara baik-baik. jangan kesannya, massa kampus atau alumni menyerang panitia, ngetes kesiapan panitia lapangan. ya, dan satu lagi, panitia bukan cuma panitia lapangan aja.. jadi FORBAS harusnya buat semua panitia. ini obrolannya scr umum aja. teknis ya uda ada pantia toh? kalo mau ngasih saran ttg teknis juga ya ndak dilarang..
    Inti solusi dari saya adl: Rombak Sistem FORBAS, juga subjek yang ikut.

    sadar atau tidak, dengan banyaknya kritikan ini sudah membuktikan pengaruh oskm di generasi masing2. bukti : cara bicara masing2 yang mengkritik adek2nya panitia tahun ini dan juga massa kampusnya.
    tentu jelas saya akui bobot kualitasnya jauh lebih baik dibanding yg teriak2 seperti beberapa yg sempat dikutip mas Petra.. (bukan hanya 1 hmj kok yg begitu)
    emang kritiknya saya rasa membangun kok mas..
    makanya, makasi bgt..
    saya harap panitia oskm berikutnya ngundang mas2 dan mbak2 disini buat hadir di FORBAS yang saya harap efektif.
    πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

  48. Kinoy says

    Sebenarnya OSPEK itu menyiksa….
    harusnya mendidik tapi para seniornya balas dendam dan gimana gitu?
    Saya Harap Kementrian Pendidikan harus bisa mengontrol ini.
    RIYA = Berlebih-lebihan
    Berlebih-lebihan itu HARAM hukumnya..
    Semoga Allah Meridhoi kita semua.
    Amin

  49. walid says

    memang yang namanya teori itu mudah tinggal berkata” mau diam atau bergerak membangun bangsa ini” panitia OSKM

  50. The 'G' says

    Waduh, padahal mau move on dari gini-ginian, tapi apa daya tangan gatel buat ngomen, ikutan deh. :3

    1. Banyak anak ITB emang munafik, atau simply nggak tau dunia dan sekitarnya, terus sombong. Teriak-teriak soal rakyat, padahal kelakuan juga bangsat. “Ini kan buat adek-adek kami, kasian kalo mereka nggak ada yang blablabla.” itu bukti kalo kalian sombong. Kalian pikir adek-adek kalian itu bego? Sama kok kayak kakak-kakaknya yang ngomong kasian itu. “Ini biar mereka peduli sama sekitar lalala.” Setelah lulus masuk perusahaan asing. Hidupnya penuh omong kosong banget itu.

    2. Dipanggil J-sekian padahal udah deal maksimal J-24 atau berapa lah. Katanya sih buat persiapan di dunia kerja, biar sigap. Isep burung gue! Di dunia kerja udah jelas plot masuk jam 8 pulang jam 17 ke atas. Ada sesuatu yang mendadak pun nggak kayak gitu dan masih bisa diatur-atur jadwalnya biar sama-sama enak. Yang kalian ajarin dengan ngelakuin itu adalah: “Melanggar kesepakatan itu nggak masalah kok.” Di dunia kerja dimarah-marahin? Dadakan J-sekian? Kerja lu apaan? PSK? Wanita/lelaki panggilan? Pantes kelakuannya nggak beres.

    3. Banyak maba yang masih bersih, terus lu pada neriakin, jerit-jerit, dan tetek bengek yang intinya kagak beres. Mereka bakal pengen ngelakuin itu. Jadinya? Lingkaran setan, tiap tahun keulang.

    4. Panlapnya nggak ngerti hirarki dan kurang inisiatif. Coba terjemahkan sendiri.

    Itu dulu aja kali ya. Tapi nggak semuanya negatif kok, ada positifnya juga. Paling nggak ada yang bisa diliat di kampus. Hahaha.

    Mungkin saya perlu menulis juga tentang latar belakang saya ketika menjadi mahasiswa. Saya bukan mahasiswa yang aktif di himpunan. Saya ikut jadi panitia OSKM/INKM/PROKM/mbokmu/buapakmu cuma karena diminta tolong, nggak pernah jadi panitia lapangan. Panitia osjur? Nggak pernah hahaha. Saya hanya ikutan di beberapa unit karena saya orangnya bosenan. Saya nggak menjabat jadi apa-apa. Saya juga bukan mahasiswa berprestasi, cuma melepas cumlaude. Saya suka ikutan survey untuk nambah-nambah jajan. So, feel free to judge me afterwards.

    :v

  51. Rifqi says

    Sudah saatnya KM-ITB studi banding/belajar kepada Fakultas Ekonomi UI, yang saya tahu mereka menggunakan metode Appreciative Inquiry (Pendekatan Apresiatif) karena mereka tahu mahasiswa-mahasiswa “terbaik” harus diperlakukan dengan cara yang berbeda (tidak biasa). Silahkan tanya lebih lanjut sama panitia disana jikalau teman-teman disini memiliki rekan/kolega yang menjadi panitia ospek Fakultas Ekonomi UI. πŸ™‚

  52. seorang yg kena oskm 2012 says

    Nih yang penting tuh bukan pandangan panitia kalau kita tuh yang baik baik semuanya idealis. yang terpenting adalah gimana keliatannya sama orang luar, mereka misinterpretasi ga, ga semua tau isi detilnya karena maen rahasia rahasia juga kan panitia. Kesan yang ditimbulkan ke 2012 sih cuma bacot doang itu yg teriak teriak emangnya lo juga udah ngapain?
    Ketika forum massa di saraga, diteriakin dimarahin himpunan apa tuh kalian udah melakukan apa untuk indonesia, ada yang berani jawab kakak kakak sendiri sudah melakukan apa, apa yang dilakukan KM ITB. Malah marah marah beneran ngatain jaga mulut lah.
    Forum 2 arah my ass, really my ass! Forum 1.5 arah itu dimana peserta cuma bisa jawab bacot sembari dimarahin lagi.

    Bedakan, pendapat peserta, pendapat panitia dan terpenting pendapat orang ketiga!
    Kalau kalian tidak bisa bedakan itu, kalian belum cocok jadi pemateri untuk hal seperti itu, kalian masih egois!

Continuing the Discussion

  1. tentang ospek. « sufficient unto the day is the evil thereof linked to this post on August 10, 2012

    […] baca :Β http://blogs.itb.ac.id/petra/2012/07/29/komentar-saya-tentang-oskm-itb-kemarin/ […]

  2. Quora linked to this post on August 14, 2012

    What’s the new student orientation like at Bandung Institute of Technology?…

    I don’t think I am the right person to ask. Because I never become the conceptor, and never become the people who fully participate as the mentor nor the pupil. But I’ll try to answer. First, I wouldn’t like to say it’s scary. That’s not a right w…

  3. Quora linked to this post on August 14, 2012

    What’s the new student orientation like at Bandung Institute of Technology?…

    The student orientation in ITB is commonly divided into three phases: general-level orientation, faculty-level orientation, and department-level (now is called as study program) orientation. In addition, there are unit-level orientations if you join ac…



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.