RSS
 

Komentar Tentang OSKM

29 Jul

Hari Sabtu kemarin saya ada di kampus ITB untuk mengikuti acara dan pada sore harinya melihat (sebagian) dari OSKM. Pada waktu itu mahasiswa dikumpulkan di lapangan basket dan lapangan sebelahnya. Sementara pimpinan OSKM (atau bahkan KM sendiri) berada di atas panggung memberikan orasi. Yang ingin saya komentari adalah soal teknik orasi yang digunakan.

Saya asumsikan pimpinan OSKM yang berada di panggung memberikan orasi dengan cara berbicara yang “marah-marah” dengan kalimat yang kata-katanya dipenggal-penggal. Hmm… Ini teknik orasi macam mana ya? Saya kok belum pernah melihat mendengar great leaders / orators yang berbicara dengan cara ini. Pesan (message) yang ingin disampaikan dan cara menyampaikannya clash. Jadi lucu.

Ini mengingatkan saya kepada mbak-mbak yang memberikan pengumuman di mall-mall. Cara mereka berbicara aneh.

Kepada … [jeda] … para pengunjung … [jeda] … yang berada … [jeda] di mall … [jeda]. Kami beritahukan … [jeda] …

he he he. Aneh. Dibuat-buat dan tidak pas. Sama seperti yang dilakuan oleh mahasiswa.

Saya tidak tahu dari mana mereka mendapatkan style ini. Sinetron? Teater mana yang mengajarkan ini ya? Mungkin dalam perjalanan hidup mereka, mereka sering dimarah-marahi. Misalnya ketika SMA mereka sudah diospek dengan cara seperti ini. Tidak sadarkah mereka bahwa cara ini tidak efektif. Tujuan kaderisasi malah pergi jauh.

Coba pelajari orator besar seperti Bung Karno. Dia tidak menggunakan teknik marah-marah 🙂  tapi *semua orang Indonesia* mendengarkan dengan seksama. Ingin mendengarkan BK. Oh ya, … Steve Jobs juga demikian. Tidak ada teknik marah-marah di panggung. Marah-marah itu tidak inspiring. Don’t you want to inspire your younger brothers and sisters?

Oh ya, sebagai latar belakang kemahasiswaan, saya dulu pernah menjabat jadi ketua Himpunan Mahasiswa. Bagaimana pendapat Anda?

 

Tags: , ,

Leave a Reply

 

 
  1. efi

    July 29, 2012 at 3:40 am

    menurut saya itu cara paling efektif untuk menyampaikan pesan kepada sekian ribu mahasiswa di lapangan. karena tidak semua orang se-inspiratif bung karno, maupun steve jobs.
    bung karno punya kharisma tersendiri untuk bisa didengarkan dalam waktu yang lama.toh ada juga pidato bung karno yang kesannya marah2, kan?? menurut saya tergantung flownya mau gimana, kalau di lapangan, jam ngantuk, masa banyak, ya danlap orasi dengan ‘marah-marah’ seperti yang bapak bilang. meskipun sebenernya si danlap ga marah2 doang sih. ada pesan yang ingin disampaikan.
    masalah inspire atau ga, tergantung danlapnya. saya punya temen yang ngedanlap serem, sambil, sambil nunjuk2, tapi karena dia ngomongnya pakai hati dan paham materi yang akan disampaikan, jatohnya tetep menginspirasi dan nyampai ke hati pendengar kok 🙂

     
    • M AR IZ

      July 30, 2012 at 12:11 pm

      Kebanyakan dengan nada yang seperti itu, orang yang baru pertama kali denger malah ngerasa sebel ama DanLapnya.

      Cara seperti itu g efektif sama sekali.

      Bukannya g ada orang yang seperti Bung Karno dan Steve Jobs (menurut saya ada di ITB, tapi tdk berkesempatan jadi DanLap, seperti Bang Uc*p, dll). Itu semua cuman karena budaya ikut2an aja sama DanLap OSKM tahun2 sebelumnya. Mereka anggap itu keren (padahal sama sekali ngga).

      Seharusnya ke depannya, coba DanLapnya menjadikan Pembicara2 inspiratif sebagai Role Model, bukan malah menjadikan DanLap OSKM sebelumnya (yang Gak Jelas) sebagai panutan.

      Adain training jangka panjang lah buat DanLap. Saya yakin bisa.

       
  2. Zakka

    July 29, 2012 at 3:41 am

    Dulu teknik orasinya pak BR seperti apa Pak?

     
  3. Profile photo of Budi Rahardjo

    Budi Rahardjo

    July 29, 2012 at 3:47 am

    @Efi, sudah pernah ditanyakan kepada para pendengar apakah efektif? 🙂 Apakah orang (Anda, saya, kita) akan dengan suka rela akan datang ke tempat (lapangan) atau mendengarkan di radio hanya sekedar untuk mendengarkan orasi seperti itu?

    Materi (pesan) yang bagus kalau disampaikan dengan cara yang salah akan sulit sampai pesannya. Yang sampai adalah kedongkolan. Maka itulah ada teknik-teknik menyampaikan pesan. Generasi Anda adalah generasi yang kreatif, *bukan* generasi militer seperti jaman dulu. Buktikan kreatifitasnya dong. Misalnya, orasi yang digabungkan dengan flash mob? That would be something. Really really cool!

    @Zakka, wah orasi saya dulu seperti apa ya? Mungkin lebih serius (dan lebih politis karena waktu itu kita harus melawan rezim pemerintahan – tapi ingat2 saya gak terlalu politis karena memang apolitical). Kalau yang sekarang sih bisa dilihat dari presentasi TEDx Bandung saya. Ada di YouTube. Atau ambil kuliah saya saja? hi hi hi.

    Oh ya, … saya menyampaikan tulisan ini karena kecintaan saya kepada organisasi mahasiswa. Hidup Organisasi Mahasiswa ITB!

     
  4. Affan

    July 29, 2012 at 4:12 am

    Salam,

    Pertanyaannya pak BR, si orator tadi itu pernah denger pidato Bung Karno atau tidak? 🙂

    Minimal denger dulu deh. Search google aja, keyword “pidato bung karno maulid nabi”, nanti ketemu di file sharing, yaitu pidato Bung Karno pas peringatan Maulid Nabi tahun 1963. Durasinya 1 jam. Dulu sih dijual kasetnya.

    Abis denger pidatonya, baru bisa bicara masalah orasi 🙂

     
  5. Tori

    July 29, 2012 at 4:22 am

    Saya kurang setuju ya kalo itu dibilang marah-marah, kalo marah-marah biasanya volume suaranya yang keras dan intonasi berantakan. sedangkan orasi danlap dan para kahim kemarin memang bukan seperti marah-marah. Dan memang sekali lagi setiap orang mempunyai gayanya masing-masing dalam berorasi 🙂

     
  6. Affan

    July 29, 2012 at 4:38 am

    Nambahin lagi.

    Kalau pengen tahu orasi apa yang bisa menggerakkan pendengarnya, istilahnya “call for action” itu, coba denger ceramahnya Nancy Duarte, salah satu ahli periklanan di Silicon Valley.

    http://www.ted.com/talks/nancy_duarte_the_secret_structure_of_great_talks.html

    Di situ diceritakan bagaimana sih Martin Luther King ama Steve Jobs itu kalau kasih orasi. Ada strukturnya, nggak ngawur.

    Coba aja deh anak sekarang dengerin beginian. Era orasi gak jelas itu cukup cuma pas jamannya pak BR dan saya aja, jangan diulangi lagi 🙂

     
  7. Komentar Saya tentang OSKM ITB Kemarin – Petra's Life at ITB

    July 29, 2012 at 5:13 am

    […] sudah tidak terlalu (atau mungkin memang tidak pernah) efektif. Beberapa alasan sudah ditulis oleh Pak Budi Rahardjo. Beliau mengomentari orasi yang dilakukan oleh panitia […]

     
    • andjas

      July 29, 2012 at 6:18 am

      Panitia OSKM (bahkan KM-nya) sendiri perlu di OS oleh Pak BR.

       
  8. hahn

    July 29, 2012 at 6:01 am

    gimana ga akan pake nada-nada marah, pas ospek panitianya juga mereka marah-marah (pernah dengerin mereka diospek pas Juni kemarin :D).

    Mungkin para mahasiswa harus belajar teknik komunikasi massa yang efektif seperti apa. dulu temen saya yang jadi panitia ospek (bukan di ITB) bisa berorasi di hadapan banyak orang tanpa pake nada marah, dan efektif. intonasinya teratur, sehingga para maru bisa mendengar suaranya.

    Atau nada marah ini untuk menutupi kekurangan sang orator karena kurang dihargai juniornya? 😀

     
  9. Muhammad Firman

    July 29, 2012 at 6:08 am

    saya sekjend OSKM tahun 2000. dan kalo boleh secara singkat saya berpendapat, gaya bicara seperti itu emang cuma niru-niru aja dari kebiasaan danlap-danlap OSKM sebelumnya atau dari danlap-danlap Ospek Himpunan.

    dan saya seratus persen sepakat dengan pak budi rahardjo, cara itu dibuat-buat banget. dari dulu saya paling ngga suka dengan semua yg dibuat-buat dalam kegiatan kaderisasi kampus kita ini. dan tidak bisa disangkal, banyak sekali hal yg dibuat-buat dalam kaderisasi kita. contoh yg pak budi bahas di sini sebenarnya hanya salah satu contoh dr banyak hal lainnya.

    ironi kan.. di ITB sekalipun, kebiasaan ikut-ikutan, meniru tanpa memikirkan, itu masih jamak banget. apa sih susahnya berpikir objektif, kritis, dan pake akal sehat? pilah-pilah dong semua yg datang dari senior-senior mu itu.

    dari dulu ketika aktif sebagai panitia OSKM saya sendiri sering mengalami beda pendapat di dalam kepanitiaan. menjadi kritis di dalam itu memang lebih sulit, tapi bukan hal yg tidak bisa dilakukan. maka lakukanlah.

     
    • ikhwanalim

      July 30, 2012 at 5:23 am

      iya, kang. ini cara orasinya memang copy paste dari mana-mana. mana-mana itu maksudnya himpunan-himpunan en OSKM-OSKM sebelumnya 🙂

      wajar siy, teknik ini sebenarnya untuk menyampaikan pesan yg satu arah kepada target audience. makanya disampaikan pelan-pelan dan (bila perlu) berulang-ulang. supaya yang teringat itu, ya yang diulang-ulang oleh orator.

      tidak masalah klo di semua himpunan atau organisasi mahasiswa lainnya, menggunakan teknik ini. tapi jadi tidak pas ketika teknik ini diterapkan oleh orator dalam suatu acara di lapangan rumput salman. dimana pesertanya rata-rata masih bersekolah SMP 🙂

       
  10. zulfikar

    July 29, 2012 at 7:07 am

    Wah dosen yang menginspirasi berbicara mengenai bagaimana cara menginspirasi. Bapak harus kasih pelatihan dulu ke oratornya nih hehehe

     
  11. Profile photo of Budi Rahardjo

    Budi Rahardjo

    July 29, 2012 at 1:51 pm

    Nemu tulisan yang agak mirip: http://ryz.me/orientasi-suara/

     
  12. Andika

    July 29, 2012 at 2:38 pm

    wow, bisa ngejudge para panitia cuma meniru dan ikut – ikutan tanpa melihat proses mereka menyusun acara ini, ngeri kali skillnya bang
    orasi berikut flashmob juga keren kayaknya, cocok buat ikutan lomba bikin iklan

     
    • taufik akbar

      June 27, 2013 at 2:52 am

      ini tipikal mahasiswa ITB yang kalau dikritik langsung marah, emosi padahal ini dikritik dosen. gimana kalau dikritik junior? saya ko jadi malu ya sebagai mahasiswa ITB

       
  13. Profile photo of Budi Rahardjo

    Budi Rahardjo

    July 29, 2012 at 2:55 pm

    Untuk soal logistik dll. akan saya bahas di lain kesempatan ya. Kebetulan saya memperhatikan beberapa hal selama beberapa hari, termasuk hal yang mengkhawatirkan (soal kesehatan mahasiswa yang tidak tertangani). Nantilah. Topik kali ini kan soal orasinya. Mari kita fokus kepada itu dulu.

     
  14. kris

    July 29, 2012 at 3:10 pm

    Fenomena yang Bapak sampaikan ini memang terjadi setiap tahun di ITB, baik pada masa kaderisasi terpusat seperti ini maupun ketika mereka akan masuk ke himpunan/unitnya masing-masing.
    Saya masih ingat jelas ketika saya hendak masuk ke himpunan saya maupun ketika OSKM terpusat di tahun 2009, mahasiswa/i senior akan berteriak persis dengan gaya yang Bapak sampaikan.

    Menurut saya hal itu bisa terjadi karena masalah ‘tradisi’ yang sudah dibawa-bawa sejak mereka (mahasiswa ITB) diterima di ITB sampai lulus. Sangat disayangkan, sebagian besar dari kita terlalu terpaku pada dogma dan tradisi membabi buta. Dan sayangnya juga, tradisi yang dibawa turun-temurun ini tidak hanya terjadi dalam kaderisasi mahasiswa, tapi juga dalam kehidupan akademik.

    Saya punya kisah menarik tentang ini. Ketika masa praktikum saya dulu, salah satu laporan praktikum teman saya pernah dikembalikan mentah-mentah oleh asisten yang bersangkutan, dengan alasan pengetikan yang tidak benar dan pengolahan data yang TERLALU lengkap. Dari segi alasan, pengembalian itu sangat tidak beralasan (bahkan sudah dilaporkan ke dosen yang bersangkutan).
    Tapi dengan entengnya asisten tersebut hanya berkata: “Kami dulu juga seperti itu kok. Ya kalian juga harus mengalami masa-masa seperti ini…”

    Seperti inikah model pendidikan yang dirancang di kampus kita?
    Apakah model pendidikan dan budaya kampus harus dipertahankan tradisinya apabila memang ia sudah terbukti tidak bermanfaat?

    Terima kasih Pak.

    Just my opinion 🙂

     
  15. Adi

    July 29, 2012 at 5:25 pm

    Maaf pak, kalo boleh saya berpendapat,

    Orientasi itu ada baiknya tidak hanya berdasarkan kondisi bangsa (atau istilah “rakyat”) saat ini, tapi harus juga mengkaji dari awal pembentukan bangsa ini yang majemuk (misal intisari sejarah sejak masuk hindu, budha, islam, kristen, dan berbagai idea lain), kondisi majemuk ini menyebabkan kondisi bangsa yang seperti ini. Penyampaiannya ya tidak harus begitu lengkap, cari cara lah supaya lebih enak didengar dengan waktu yang mungkin terbatas.

    Kemajemukan bangsa ini dengan berbagai ideanya (idea baik maupun idea buruk hasil penjajahan) telah menggulirkan kompleksitas kehidupan kita, baik di sosial, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya.

    Akumulasi idea yang buruk menghasilkan budaya buruk seperti KKN, apatis, becanda berlebihan tanpa memerhatikan batasan moral, dsb.

    Penggalian dari apa yang yang telah bangsa ini lakukan selama berabad2, masalah2 yang pernah dihadapi dan masalah2 terkini yang melingkari kehidupan bangsa ini, serta merumuskan tujuan bangsa ini ke depan, selayaknya dipahami oleh mahasiswa baru (disesuaikan dengan konteks kemahasiswaan), sehingga dari pemahaman itu mereka bisa mengerti role nya sebagai mahasiswa untuk mengabdi ke bangsa (sebagai ujud cinta bangsa) dengan belajar habis2an, meraih ilmu, dan dan sebagai agen transfer teknologi dari negara lain yang sudah maju, juga sebagai agen problem solver untuk masalah2 multidimensi bangsa ini.

    Terkadang ada orang yang mampu memecahkan masalah bangsa ini hanya dengan disiplin ilmu mereka masing2, tapi yang lebih banyak terjadi adalah masalah yang membutuhkan solusi dari pemikiran multidisiplin. Oleh karena itu, perlu dipahamkan kepada mahasiswa baru untuk tidak mengkotak-kotakan pikiran hanya pada disiplin ilmu mereka masing2, tapi tetap harus menjaga keunggulan di disiplin ilmu mereka.

    Kehebatan Soekarno melalui orasinya yang menggugah (yang saya baca dari buku-bukunya) adalah ketekunannya menggali sejarah bangsa Indonesia (dan berbagai idea di dunia yang telah menyebabkan kondisi dunia saat itu, misalkan idea neo-imperialism, komunism, kapitalism, marxism, dan lain-lain), mencari solusi yang bangsa ini mampu lakukan dan menggerakkannya untuk mencapai tujuan bangsa sebenarnya, bukan untuk tujuan individual atau pun kelompok tertentu. Beliau membungkusnya dengan baik, sehingga dapat dimengerti berbagai kalangan dan dapat mempersatukan berbagai kalangan tersebut untuk mencapai tujuan bangsa (tujuan yang terdapat pada pembukaan UUD 1945).

    Apakah perlu disampaikan dengan teriakan? ya, menurut saya sih lebih ditekankan pada penggunaan intonasi yang menggugah, konten yang baik dan kaya, dan harus mudah dipahami oleh mahasiswa baru.

    Maaf saya mungkin tak mampu memberi contoh, tapi saya hanya bisa berharap saja, moga ada yang mengimplementasikan.

     
  16. arief spectabilis

    July 29, 2012 at 10:29 pm

    haloo,,sy Arief mantan kordiv medik OSKM 2006,,
    Alhamdulillah ada alumni yg peduli oskm sperti pak BR, di sela kesibukanny sbg dosen masih mmperhatikan OSKM,,
    sepakat pak,,tiap hr di kampus sy aga terganggu dgn metode orasi ‘patah2’ sang orator,,cenderung mmbentak dan datar,,ktika coba nyimak isinya cenderung tekstual,,bait per bait ny tidak keluar sesuai tekanan maksud yg ingin disampaikan,,pun isinya nampak kurang berbobot (dalam arti bs menggugah kesadaran peserta),,sy pernah ikut diklat danlap OSKM 2006,,dan diajarkan bahwa hindari pelafalan yg patah-patah krn bisa mmbiaskan arti,,dan sekarang ternyata nampak menjadi tren di orasi kampus masa kini..
    sy nggak mengikuti kberlangsungan OSKM skrng terutama proses persiapannya sperti yg diungkapkan Andika di atas,,sy mengerti bagaimana proses itu begitu penuh pembelajaran,,dan bila proses belajar tersebut bagus,,maka hasilnya bisa (cenderung) bagus pula,,namun bila hasilnya (OSKM) kurang memuaskan,,silakan mengevaluasi ttg prosesnya..massa bisa lihat dan menilai dr OSKM-nya,,

    salam ganesha,
    Arief

     
  17. Prib

    July 29, 2012 at 10:45 pm

    Saya mungkin salah satu orang yg ada di lapangan saat itu
    kebetulan juga duduknya aga di tribun jadi cukup jauh dari posisi danlap

    mirip dgn yang bapak tulis
    saya rasa pesan si danlap kurang masuk
    ya karena teknik orasinya tersebut yang dipenggal-penggal
    dan kadang ada kata2 yang seperti dipaksakan.

    Kalau masalah marah-marah, menurut saya sih itu bukan cara bicara marah2
    si danlap hanya berusaha untuk lebih tegas dengan harapan didengar oleh mahasiswa

    Yang jadi masalah sih mungkin, respon mahasiswa 2012 seperti apa?
    soalnya mereka kan baru, dan belum mengerti ‘budaya kampus’ yang seperti ini.

    Ketika saya berada di posisi mereka juga saya merasa lucu ketika ada yang berbicara seperti itu. Malah sama saya sampai diparodikan segala bersama temen2 satu kelompok, hehehe

     
    • M AR IZ

      July 30, 2012 at 12:04 pm

      Bukannya apa ya, cuman mau share pengalaman pas waktu jadi MaBa.

      Justru dengan teriakan seperti itu, si DanLap malah keliatan LUCU, g terlihat ada wibawa SAMA SEKALI.
      Bahkan, waktu penerimaan MaBa tahun 200x justru ketika DanLap teriak seperti itu, sontak semua MaBa tertawa…

      Saya sepakat sama Pak Budi Rahardjo… Jangan dibuat2 lah pas orasi. Natural aja. Terus jangan dipenggal2. Justru ketika dipenggal terlihat g wibawa dan g siap…

      Terima Kasih

       
  18. Jay

    July 30, 2012 at 4:38 am

    Selamat pagi,

    Saya mau berkomentar.
    Dua kata, Pak: Sangat setuju!

    Selama ini saya juga berpikir seperti itu.
    Hampir semua omongan orator (dalam hal ini danlap)
    berkesan menyalahkan atau memojokkan peserta.
    Tidak–atau setidaknya belum–pernah saya merasa mendapat
    poin-poin yang seharusnya didapat dari Sang Orator.

    Terima kasih, Pak.

     
  19. an

    July 30, 2012 at 9:42 am

    sudah bukan zamannya, mahasiswa ITB yang katanya terbaik bangsa ini,ikut-ikutan tradisi lama. saya sendiri dengan perlakuan para oratr yang bersuara garang dan dipaksaka itu jadi males aja dengernya. bukan masuk kuping kanan keluar kupig kirir lagi. tapi masuk kuping kanan langsung keluar di kuping kanan.

     
  20. CP

    July 31, 2012 at 3:31 am

    So simple kalau ingin merubah langsung ikut terjun aja 🙂 ngapain nunggu-nunggu orang lain. langsung kasih tau ‘yang bener’ gimana sih. Kenapa yang muda yang selalu disalahkan haha. instropeksi diri dulu aja 🙂

    Orang zaman dulu bisa menghargai para orator ya karena mereka bisa memimpin dirinya sendiri. so simple hidup ini, ambil yang positif buang yang negatif. 🙂 kalo terus menyalahkan satu sama lain, pantas negara ini pecah belah, kalo terus menunggu perubahan tapi tidak memberi tahu apa yang lebih baik kepada yang bersangkutan, sama tong kosong nyaring bunyinya.

    sekian terima kasih

     
  21. Arbi

    July 31, 2012 at 8:40 am

    Terimakasih Pak.
    Terimakasih Kakak-Kakak dan Abang-abang semua.
    Perkenalkan saya Arbi (EP’09), kebetulan saya banyak terlibat dalam OSKM 2012 ini.

    Saya berbaik sangka pada siapapun meski komentarnya banyak yang bikin saya sakit hati 😀 haha. Tapi saya hargai karena saya yakin semuanya punya itikad baik. Semoga komentarnya bukan berniat untuk mencari2 kesempatan, menjatuhkan, atau menjelekkan kawan2 panitia OSKM ataupun Massa kampus yang terlibat dalam pelaksanaan. Semoga semuanya tulus berkomentar untuk OSKM ITB yang lebih baik.

    Mungkin saya tidak pelru banyak berkomentar karena sudah terwakilkan oleh kawan-kawan yang lain.
    Btw bagi yang tidak suka jika danlap berorasi seolah marah2, maka berkomentarlah dengan cara yang sesuai. Kalau marah2 dibalas marah2, ya sama aja dong, cuma pindah lapak aja, satu di dunia nyata satu di dunia maya, hehe…

    Tetapi sekali lagi saya percaya bahwa semua komentar diatas mau yang enak ataupun yang gak enak punya maksud yang baik. Sama seperti danlap yang punya niat baik, hanya mungkin Ia perlu lebih banyak belajar berorasi, lebih banyak membaca buku, lebih banyak mengkaji masalah bangsa, lebih sering sholat berjamaah di masjid (lho? :D) dan intinya lebih banyak belajar. Sama juga seperti massa kampus yang sebenarnya telah di brifing untuk menyampaikan materi saat mobilisasi maba. mungkin brifing dari kami yang kurang jelas atau pengawasan kami di lapangan yang kurang sehingga ada yang lepas kontrol, hehe… tapi saya yakin semua sudah berusaha.

    OSKM 2012 dapat terlaksana lewat proses yang panjang (kurang lebih 2,5 bulan kepanitiaan), segala konsepnya didiskusikan bersama segenap massa kampus (mungkin yang dulu pernah jadi panitia sudah tahu gimana rasanya dibantai didepan forum, hehe), Kabinet, dan bahkan Rektorat. Sampai akhirnya konsep ini disetujui dan dieksekusi. Namun saya menginsyafi bahwa mungkin ada hal2 yang tidak ideal dalam pelaksanaannya sehingga konsep yang bertujuan mulia itu kurang nampak dan terasa bagi semua.

    Terima Kasih sekali lagi atas saran2nya. Saya sepakat kalau OSKM tidak boleh cuma menjadi tradisi yang sekedar diturunkan. Mohon maaf jika keberjalanan acara ini belum sesuai dengan yang diharapkan.

    Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak berguna kita mencaci Panitia hari ini, acaranya sudah lewat.
    Kita persiapkan saja untuk OSKM berikutnya.
    Saya akan arsipkan blog beserta komentar2 bapak/kakak/abang dan saya pastikan bisa sampai pada panitia OSKM berikutnya. (itupun kalau masih ada OSKM :D)

    Sekian dan Terima Kasih.

    “…Mengubah hari ini, mungkin sudah terlambat.
    Pertanyaannya, maukah Anda menjadi orang yang mengubah masa depan?
    Maukah?
    Atau Anda hanya mau jadi orang yang ngomel-ngomel saja?”

    “… Karena hanya ada 2 jenis anak muda di dunia.
    Mereka yang menuntut perubahan.
    Dan mereka yang menciptakan perubahan.
    Silakan pilih perjuanganmu!”
    ― Pandji Pragiwaksono, NASIONAL.IS.ME

     
  22. widana

    July 31, 2012 at 3:49 pm

    panitia yang setahun dua tahun diatas? jadi role model yang inspiratif? cuma ketemu beberapa menit dan 50-200 meter jauhnya? untuk 3000 orang? percayalah, anak2 hedon jaman sekarang, pasti bolos OSKM kalau acaranya inpiration talk…

    kalo saya masih sebel dan INGET sama hal2 yang danlap proKM saya 4 tahun lalu teriakin, udah banyak pengabdian masyarakat di kampus yang saya jalanin berkat ngiang teriakan beliau…

     
    • Muhammad Nizami

      August 6, 2012 at 6:57 am

      Sebenarnya, ada yang lebih perlu diperhatikan sekarang daripada OSKM, yaitu Matrikulasi Akademik dan Program Pengembangan Karakter.

      Materi yang diberikan dalam Program ini banyak yang diulang-ulang, padahal materi tersebut hanya perlu disampaikan satu kali. Selain itu, beberapa training tidak dilaksanakan oleh orang yang mengerti materi training tersebut. Hal-hal yang disampaikan para trainer banyak berbeda dengan yang tertulis di buku bahan training tersebut.

      Perlu diketahui juga, program ini berjalan enam minggu bagi calon mahasiswa baru jalur undangan dan dua minggu bagi jalur tertulis. Terlebih, calon mahasiswa baru diberi kabar oleh panitia bahwa program ini wajib, dan yang tidak ikut dinyatakan mengundurkan diri dari ITB (entah benar atau bohong). OSKM hanya berlangsung empat hari dan tidak ada berita bahwa itu wajib. Karena itu, perbaikan program Matrikulasi ini sebaiknya didahulukan sebelum perbaikan OSKM, tapi kalau bisa dua-duanya, itu lebih baik.

       
      • Muhammad Nizami

        August 6, 2012 at 7:00 am

        satu lagi, panitia program Matrikulasi tidak menyediakan lembar kritik dan saran secara umum, sehingga kami sulit menyampaikan penilaian. Mereka hanya menyediakan lembar penilaian pada training SSDK dan 7Habits, sehingga kami tidak bisa menyampaikan kritik dan saran pada beberapa minggu setelahnya.

         
        • Profile photo of Budi Rahardjo

          Budi Rahardjo

          August 6, 2012 at 7:14 am

          Saya belum pernah melihat / terlibat dengan program Matrikulasi / SSDK / 7 Habits sehingga saya tidak bisa komentar. (Tidak tahu apakah menyenangkan atau membosankan.) Mestinya penyelenggara juga bisa dikritik kok dan saya rasa kalau ada saran/perbaikan lebih baik diutarakan. Soalnya kalau tidak, ya bakalan diulangi lagi tahun depan.

           
      • Prasetiyono Hari Mukti

        August 7, 2012 at 4:00 am

        Saya Pras (EL’03). Saya sempat terlibat dalam acara SSDK di tahun 2008. Saya masih kurang mengerti tentang adanya trainer yang kurang memahami materi yang disampaikan, karena setahu saya, beberapa minggu sebelum acara dilaksanakan biasanya ada Training for Trainer (TFT) untuk menyamakan persepsi dan teknis tentang materi yang akan disampaikan. Dan trainer kit diberikan. Sehingga defaultnya, sama semua. Dan memang pada hari-H nya diizinkan untuk improvisasi asal tidak keluar dari koridor TIU/TIK yang sudah dirancang.

        Tentang saran untuk kegiatan secara umum, coba aja disampaikan ke LK. Karena saran atau kritik saat SSDK atau 7Habits memang sengaja dirancang menjadi satu kesatuan dengan trainingnya.

         
  23. andik

    August 8, 2012 at 4:32 am

    Paling aneh lagi pas interaksi dengan massa kampus pas di saraga.Mereka teriak-teriak tentang kontribusi apa yang akan di berikan maba pada bangsa ini setelah tepat keluar dari lapangan saraga.Heh bang,emangya untuk berkontrribusi itu bisa di lakukan secara instan? Lu lihat dulu aja pada diri lho sendiri.Emangnya kontribusi apa yang udah kalian berikan pada bangsa ini? Kalian aja yang udah bertahun-tahun jadi “mahasiswa” itb belum ada kontribusi berarti buat bangsa ini.Paling banter cuma ngadain baksos.Emang udah hebat banget kalau berhasil ngadain baksos,hingga kalian berhak teriak-teriak seperti itu.Paling-paling selain baksos cuma ngajarin anak-anak kecil di desa-desa yang katanya miskin.Nggak anak itb pun bisa ngajarin anak-anak kecil seperti itu.Bahkan ketika gue masih sma gue sering banget ngajarin anak-anak miskin di desa gue n gua juga sering ngajarin adik-adik kelas gua di sekolah.Apa kalian nggak malu bang? Tolong jangan merasa hebat dengan perbuatan2 kecil seperti itu.Toh tak perlu gembar-gembor juga kalau pengen berkontribusi buat bangsa ini
    tolong bicara lebih baik lagi dan berfikir lebih rasional.Jangan cuma ngikutin tradisi tradisi sebelumnya.Itu hanya akan membodohkan saja

     
  24. tentang ospek. « sufficient unto the day is the evil thereof

    August 10, 2012 at 2:07 am

    […] sumber : http://blogs.itb.ac.id/rahard/2012/07/29/komentar-tentang-oskm/ […]

     
  25. Iklan Internet Murah Efektif Berkualitas Indonesia

    August 15, 2012 at 12:16 am

    orasi oh orasi

     
  26. Tentang Pendapat dan Perspektif | Pelajar Paruh Waktu 3.0

    October 7, 2012 at 7:48 am

    […] panitianya seabrek-abrek, OSKM 2012. Seiring dengan itu, banyak pendapat yang beredar seperti ini, ini, dan ini, belum lagi yang ada di twitter dan milis himpunan. Seru sih, diskusi sehat, dan bagusnya, […]

     
  27. Profile photo of yudha

    yudha

    February 8, 2013 at 6:52 pm

    Bener pak.. sempat terhenyak pas ospek.. jadi sempat mikir mau non-himpunan..

    Eser unlimited power Bank

     
  28. Profile photo of Rifki Mega Saputra

    Rifki Mega Saputra

    March 3, 2013 at 2:36 pm

    salam,
    saya maba 2012,
    memang dulu waktu pertama mendengar para danlap orasi seperti itu, saya ketawa-ketiwi sama teman-teman di kanan kiri saya. terus gaya bicaranya danlap kami tirukan dan jadi bahan bercandaan di kos. asyiklah baru masuk udah dapat hiburan. haha
    but OSKM 2012 kerenlah.
    pengen jadi kyk Agni Brata thun ini. hehe

     
  29. cap kaki tiga setia

    April 12, 2014 at 7:55 am

    hahah.. bagus ni sharenya

     
  30. jai

    October 7, 2014 at 2:04 am

    saya dulu pas jadi maba juga sering komentarin danlap atau siapa pun yang orasi dengan nada tinggi.
    apaan ni orang dari tadi menggonggong gg jelas, karena cara penyampaian nya kurang bagus, pesan yang harus nya disampaikan juga gg dapat jadinya