RSS
 

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Kuliah Tanpa Partisipasi Mahasiswa

15 Feb

Bagi seorang dosen – setidaknya, bagi saya – kuliah yang hanya satu arah dari dosen ke mahasiswa tidak menarik. Sang dosen tidak tahu apakah materi yang diberikannya terlalu mudah atau terlalu susah, menarik atau tidak menarik, terlalu cepat atau terlalu pelan atau pas, dan seterusnya. Tidak ada umpan balik. Partisipasi dari mahasiswa sanga dibutuhkan.

Apa partisipasi dari mahasiswa? Yang paling mudah adalah bertanya. Bertanya tentang apa yang belum dipahami. Boleh juga menyatakan opini. Yang lebih menarik adalah kalau ada diskusi. Nah, itu baru menarik. Kalau tidak, kesannya dosen hanya menyuapi mahasiswa saja.

Mungkin karena kultur pendidikan di Indonesia yang membuat mahasiswa menjadi enggan berpartisipasi. Tapi, apakah ini bukan menjadi alasan yang dicari-cari? Sekedar ada pembenaran. Jika memang benar demikianpun, lantas apa yang harus kita lakukan.

Sementara itu … kuliah besok apa ya? Mungkin gak penting juga. Wong mahasiswanya juga mungkin tidak  peduli. Yang penting hadir. Begitu?

 
 

Diombang Ambing (Kurikulum)

08 Dec

Tuh kan, kurikulum 2013 tidak jadi digunakan alias dibatalkan. Ubah lagi. Banyak orang yang marah-marah, tetapi banyak juga orang yang senang. Bagaimana dengan ITB? Saya sendiri tidak tahu. hi hi hi.

Menurut saya, yang menjadi masalah adalah kita tidak tahu maunya kita itu apa. Sehingga kita ikut (manut) saja kepada “atasan”. Akibatnya, kita bagaikan perahu yang diombang-ambing di samudera. Masih untung tidak ada topan badai. Wogh.

Jika kita tahu yang kita maui, maka akan lebih mudah menerima atau tidak menerima sebuah kurikulum. Perubahan kurikulum tentu saja akan berpengaruh, tetapi kita akan tetap konsisten dengan arah tujuan kita.

Sementara itu sekarang kita terapung-apung. Yang penting selamat lah. Entah sampai ke pulau apa. Sekarang cari selamat dulu. Eh, jangan-jangan kita memang cari selamat terus ya?

 
 

Guru Besar

20 Jul

Sebetulnya, secara filosofis, apa sih perlunya | manfaat Guru Besar (Profesor)?

Jika dikaitkan dengan industri, apa memang dibutuhkan guru besar? Terlebih lagi di Indonesia nampaknya hampir tidak ada industri yang membutuhkan guru besar. Apakah ini benar?

 

Memeriksa Tugas Mahasiswa

21 Jan

Memeriksa tugas mahasiswa itu pekerjaan yang tidak menyenangkan. Masalahnya adalah kita harus berlaku adil. Kalau ada mahasiswa yang kerja keras dan hasilnya bagus, tentu saja  pantas mendapat nilai A. Kalau ada mahasiswa yang asal-asalan dan hasilnya sangat buruk, nilainya E (tidak lulus). Keduanya gampang dinilainya. Yang repot adalah di antara itu.

Susah membedakan mahasiswa yang kerjanya suka-suka dan hasilnya pas-pasan dengan mahasiswa yang serius, bekerja keras, dan hasilnya juga pas-pasan lebih sedikit. Bagaimana memberi nilainya? Harus adil. Yang repot adalah membacanya. Menilai tugas yang seperti ini jauh lebih susah daripada memeriksa tugas yang bagus sekali dan buruk sekali. Menghabiskan waktu. Kalau sudah begini, penilaian bergantung pada mood. Kalau lagi tidak mood, maka nilai cenderung buruk (C). Kalau mood lagi baik, nilai cenderung B.

Jadi, saya sarankan Anda untuk membuat tugas yang bagus sekali atau buruk sekali – he he he.

 

Memilih Jurusan / Prodi

01 Oct

Ada mahasiswa yang bertanya kepada saya tentang bagaimana memilih jurusan atau program studi (prodi). Secara umum jangan terlalu khawatir karena ini bukan akhir segalanya. Maksudnya adalah meskipun kita berada di satu jurusan tertentu tetapi kita bisa mengambil kuliah-kuliah dari jurusan lain. Demikian pula nanti lapangan pekerjaan juga masih bisa bervariasi, meskipun seharusnya tidak boleh.

Pemilihan jurusan terkait dengan kuliah wajib yang harus diambil. Kuliah-kuliah ini memberikan warna kompetensi kepada mahasiswa yang bersangkutan. Maka dari itu, pilihlah jurusan yang kuliahnya paling Anda sukai. Maksudnya supaya kuliahnya menyenangkan. (Tapi yang namanya kuliah biasanya membosankan ya?)

Pemilihan jurusan juga dapat dilandasi oleh keinginan setelah lulus. Mau apa kita setelah lulus? Mau bekerja di bidang apa? Kemampuan atau kompetensi apa yang diinginkan. Begitu. Ini tidak harus terkait dengan aspek finansial lho.

Kalau dahulu pilihan jurusan sering dilandasi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Ini masih tetap berlaku, meskipun sekarang kecenderungannya adalah bukan karena faktor finansial.

Semoga tulisan ini membantu Anda dalam memilih jurusan atau prodi.

 
 

Bahasa Dalam Karya Ilmiah

30 Jul

Tadi pagi saya menguji mahasiswa S3 (ujian kualifikasi). Ternyata masalah bahasa dalam proposal penelitiannya sulit saya mengerti. Kalimat-kalimat yang digunakannya terlalu panjang dan kurang langsung pada permasalahannya (tidak to the point). Kesannya muter-muter. Saya rasa ini bukan disengaja tetapi karena ketidaktahuan atau karena tidak biasa.

Itulah sebabnya saya sering memaksa mahasiswa saya untuk sering menulis. Salah satu caranya ya menulis di blog. Ini adalah media latihan menulis yang cukup efektif. Kita dipaksa untuk menyampaikan pesan atau ide kita secara ringkas. Meskipun kita dapat menulis yang panjang di blog, tetapi orang tidak akan menyukai tulisan yang panjang-panjang. Tulisan kita harus singkat tetapi cukup untuk menyampaikan pesan.

Kemampuan menulis bukan sesuatu yang dapat diperoleh begitu saja. Dia harus dilatih, dilatih, dan dilatih. Mari berlatih. Apakah Anda sudah memiliki blog? Kalau belum punya, buatlah blog. Kalau sudah punya, sudahkah (mampukah) Anda menulis *setiap hari*?

 
 

Komentar Tentang OSKM

29 Jul

Hari Sabtu kemarin saya ada di kampus ITB untuk mengikuti acara dan pada sore harinya melihat (sebagian) dari OSKM. Pada waktu itu mahasiswa dikumpulkan di lapangan basket dan lapangan sebelahnya. Sementara pimpinan OSKM (atau bahkan KM sendiri) berada di atas panggung memberikan orasi. Yang ingin saya komentari adalah soal teknik orasi yang digunakan.

Saya asumsikan pimpinan OSKM yang berada di panggung memberikan orasi dengan cara berbicara yang “marah-marah” dengan kalimat yang kata-katanya dipenggal-penggal. Hmm… Ini teknik orasi macam mana ya? Saya kok belum pernah melihat mendengar great leaders / orators yang berbicara dengan cara ini. Pesan (message) yang ingin disampaikan dan cara menyampaikannya clash. Jadi lucu.

Ini mengingatkan saya kepada mbak-mbak yang memberikan pengumuman di mall-mall. Cara mereka berbicara aneh.

Kepada … [jeda] … para pengunjung … [jeda] … yang berada … [jeda] di mall … [jeda]. Kami beritahukan … [jeda] …

he he he. Aneh. Dibuat-buat dan tidak pas. Sama seperti yang dilakuan oleh mahasiswa.

Saya tidak tahu dari mana mereka mendapatkan style ini. Sinetron? Teater mana yang mengajarkan ini ya? Mungkin dalam perjalanan hidup mereka, mereka sering dimarah-marahi. Misalnya ketika SMA mereka sudah diospek dengan cara seperti ini. Tidak sadarkah mereka bahwa cara ini tidak efektif. Tujuan kaderisasi malah pergi jauh.

Coba pelajari orator besar seperti Bung Karno. Dia tidak menggunakan teknik marah-marah 🙂  tapi *semua orang Indonesia* mendengarkan dengan seksama. Ingin mendengarkan BK. Oh ya, … Steve Jobs juga demikian. Tidak ada teknik marah-marah di panggung. Marah-marah itu tidak inspiring. Don’t you want to inspire your younger brothers and sisters?

Oh ya, sebagai latar belakang kemahasiswaan, saya dulu pernah menjabat jadi ketua Himpunan Mahasiswa. Bagaimana pendapat Anda?

 

Tata Cara Menulis Makalah / TA / Thesis / Disertasi

20 Jun

Baru saja saya beres memeriksa tugas mahasiswa dalam bentuk makalah. Hal yang tetap menjadi masalah adalah, mahasiswa tidak tahu tata cara penulisan makalah yang benar. Lebih spesifik lagi adalah tata cara mengutip dan menuliskan referensi.

Yang membuat saya sedih adalah mahasiswa ini adalah mahasiswa tingkat akhir, yang sebentar lagi lulus. Lebih sedih lagi saya sudah cerita di kelas tentang tata caranya. Sebagian (besar) tidak mendengarkan atau bagaimana ya? hik hik hik

Kok jadi curhat begini …

 

Unit Pelayanan Karya Ilmiah

27 Apr

Disadari bahwa jumlah karya ilmiah (dalam bentuk makalah) kita masih sangat kurang. Ada usulan untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah. Bahkan ada aturan yang mewajibkan penulisan karya ilmiah. Hal-hal ini semua berorientasi kepada hasil, yaitu jumlah karya ilmiah, tetapi tidak memperhatikan prosesnya. Tulisan ini mengusulkan sebuah ide untuk mendukung proses pembuatan karya ilmiah.

Idenya adalah adanya sebuah unit yang memberikan layanan untuk membantu pengembangan karya ilmiah. Unit ini seyogyanya dimiliki oleh setiap perguruan tinggi. Unit ini memberikan beberapa layanan.

Layanan Infrastruktur

  1. Menyediakan template untuk berbagai wordprocessor (MS Word, OpenOffice, LibreOffice) and text processing (lyx, latex) untuk berbagai jurnal populer dan jurnal setempat.
  2. Menyediakan buku-buku / referensi tentamg tata cara penulisan karya ilmiah dan tentang tata cara mengutip.

Layanan Pelatihan

  1. Menyediakan pelatihan penulisan karya ilmiah
  2. Menyediakan pelatihan Bahasa Indonesia untuk penulisan karya ilmiah
  3. Menyediakan pelatihan Bahasa Inggris untuk penulisan karya ilmiah

Layanan Konsultasi

  1. Menyediakan layanan review makalah (dari sisi struktur dan bahasa)
  2. Menyediakan layanan pencarian referensi (dengan bantuan pustakawan)

Unit ini dibuat secara permanen oleh pihak perguruan tinggi dengan pekerja yang profesional dan full time.

Adanya unit yang diusulkan di atas sangat membantu mahasiswa, dosen, dan perguruan tinggi dalam menghasilkan karya ilmiah. Harapannya adalah rintangan-rintangan yang ditemui dalam pembuatan makalah dapat dihindari sehingga civitas dapat lebih cepat menghasilkan karya ilmiah. Secara tidak langsung hal ini juga dapat meningkatkan jumlah karya ilmiah.

 

Apa Kata Facebook Tentang Anda?

26 Apr

Menurut http://apps.facebook.com/xcgqdmzab/ hasil saya adalah …

hi hi hi … untung pas 🙂

Bagaimana dengan Anda?