RSS
 

Guru Besar

20 Jul

Sebetulnya, secara filosofis, apa sih perlunya | manfaat Guru Besar (Profesor)?

Jika dikaitkan dengan industri, apa memang dibutuhkan guru besar? Terlebih lagi di Indonesia nampaknya hampir tidak ada industri yang membutuhkan guru besar. Apakah ini benar?

 

Terpaksa 3G di Kampus

05 Jun

Akhir-akhir ini saya terpaksa menggunakan layanan 3G sendiri untuk akses internet di kampus. Entah kenapa akses menjadi semakin lambat dan semakin tidak reliable. Bisa jadi masalah ada di lingkungan unit tempat saya, tetapi kalau saya baca keluhan di milis nampaknya terjadi di unit-unit lain di kampus ini.

Akses internet sudah merupakan sebuah kebutuhan di kampus ini. Rasanya tidak bisa berkutik kalau internet ngadat. Untuk itulah saya terpaksa harus berlangganan akses 3G. Sayangnya di kampus ada beberapa operator yang sinyalnya juga buruk. Kebetulan justru operator seluler saya yang buruk akses. Jadi akses 3G-nya juga tidak bisa dari satu operator saja.

Akibatnya sebulan saya harus berlangganan 3G dari dua operator, masing-masing Rp 50 ribu. Jadi biaya operasional internetan saja sudah Rp 100 ribu/bulan. Kalau ada 100 orang saja yang seperti saya di kampus ini, maka biaya yang keluar sudah Rp 10 juta/bulan. Padahal jumlah dosen di ITB ini lebih dari 1000 orang dan kalau ditambah mahasiswa maka angka 100 itu tadi merupakan angka yang terlalu kecil. Sayang sekali kalau tidak di-pool di kampus ya?

 
 

Param Kocok?

18 May

Habis futsal tadi terasa kaki agak pegal. Biasanya sih pegal juga tapi kali ini terasa lebih pegal. Pikir-pikir, enak juga kalau dibalur param kocok ya? Masalahnya masih adakah yang namanya param kocok? Ada yang masih pakai?

Pasti ada banyak pembaca yang tidak kenal apa itu param kocok ya? Ini semacam bubuk yang kalau dicampur air dia seperti lumpur. Kemudian dibalurkan di kaki atau tangan dan dibiarkan sampai mengering. Besoknya pegal-pegal jadi hilang. Nah.

 
No Comments

Posted in curhat

 

Internet Kampus Lambat

01 May

Sudah beberapa minggu ini internet kampus kita lambat sekali. Ada beberapa alasan:

  1. Ditemukan virus yang menghabiskan bandwidth. Nah, saya berharap rekan-rekan selalu melakukan update anti virus untuk komputer-komputer di lingkungan unit kerja masing-masing. Tolong bantu rekan-rekannya sehingga virus tidak menghabiskan bandwidth.
  2. Terlalu banyak akses ke YouTube. Oke ini masalah yang berbeda. Saya pikir akses ke YouTube adalah hal yang wajar. Banyak materi pelajaran yang dapat kita peroleh dari sana. Hanya saja memang penggunaan bandwidthnya cukup besar. Untuk itu bagi yang mendengarkan lagu, misalnya, tidak usah dari youtube. Mungkin untuk yang seperti ini kita buat Radio Kampus saja ya? (Yang bisa request lagu – dibroadcast / unicast?)
  3. Apa lagi ya?

Sementara ini saya hanya dapat menggerutu karena tidak dapat akses internet. Salah satu cara untuk menghilangkan kekesalan adalah dengan menulis di blog ini, yang notabene dapat diakses di internal kampus ITB 🙂  Lumayan kalau ada banyak tulisan di kampus ITB. Ketika akses internet sedang down, kita masih bisa baca-baca.

 
 

Prodi Yang Kurang Diminati

29 Mar

Sekarang sedang ramai diskusi tentang prodi di ITB yang kurang diminati. Saya kok berpikiran beda.

Memangnya kenapa kalau ada prodi yang kurang diminati?

Mestinya kan biasa-biasa saja. Biarin saja. Yang lebih penting adalah apakah prodi ini relevan, dalam artian masih diperlukan atau tidak. Kalau memang tidak diperlukan ya ditutup saja. Perlu saya buat catatan besar, bahwa yang dimaksudkan diperlukan di sini bukan berarti populer atau banyak menghasilkan uang atau bagaimana gitu.

 
No Comments

Posted in curhat, ITB

 

DIES ITB

03 Mar

Ada yang tahu acara DIES ITB apa yang menarik?

Nampaknya tahun ini acara DIES tidak tersosialisasikan dengan baik atau memang tidak ada acara yang menarik. hi hi hi. Atau bahkan ada yang tidak tahu bahwa weekend ini adalah DIES-nya ITB. waks.

 
No Comments

Posted in curhat, ITB

 

Galau …

28 Feb

Tahukah Anda bahwa ITB akan membuka tempat di Padalarang (tempat teh Walini)? Melihat peta (maket) ITB Walini membuat saya melihat-lihat peta NUS (National University of Singapore). Baru saja saya kembali dari sana. U-town-nya menarik. Iri amat sangat …

Di kelas beberapa hari yang lalu saya mencoba menanyakan kepada mahasiswa siapa saja yang pernah compile kernel Linux, tidak ada satupun tangan yang terangkat. Okelah. Maybe I am asking too much. Tanya lebih jauh lagi (mengenai beberapa hal dasar tentang teori bahasa, compiler construction, lex, yacc, dan lain-lain.) membuat saya tersadar bahwa nampaknya tukang ngoprek seperti saya ini adalah dinosaurus. How do I explain to them excitement I got when reading classic papers like “trusting the trust” where the main foundation is based on playing with codes? Playing. Doing what you love. Students these days just want to get the degree.

Mendengarkan sedikit diskusi mengenaik kenaikan pangkat / jabatan dosen ITB beberapa waktu yang lalu membuat saya juga tersadar, we are talking to people who don’t understand (that we have problems). Ha!

Koran Kompas menampilkan universitas baru. Smack on our face? You don’t think so, do you?

Where are we taking ITB to? Complacency …

 
No Comments

Posted in curhat, ITB

 

Belajar Untuk Tidak Empati

30 Jan

Kuliah sudah mulai lagi. Kampus mulai padat mahasiswa. “Penyakit” lama kambuh lagi. he he he. Yang saya maksud dengan penyakit di sini adalah kebiasaan mahasiswa untuk berjalan di tengah jalan, berlambat-lambat, bergerombol, tidak memperdulikan lalu lintas atau kendaraan. Apa salahnya berjalan di tempat yang disediakan? Kan sudah ada tempat untuk pejalan kaki. Kalau memang tidak ada tempatnya – dan itu terjadi di banyak tempat di Indonesia, seperti tempat pejalan kaki yang diambil alih oleh PKL – maka dapat dimaklumi kalau terpaksa harus menggunakan jalan. Nah ini kan tidak begitu. Perhatikan lingkungan sedikit kek. Berempatilah.

Foto1686 mhs crop

[Foto di atas hanya sebagai contoh saja. Ini yang kebetulan dapat saya ambil hari ini. ada banyak contoh lain yang lebih ekstrim, tetapi sayangnya tidak sempat saya foto.]

Topik ini saya sampaikan bukan karena saya berkendaraan kemudian ngomel-ngomel seperti ini. Ketika jalan kakipun saya merasa tidak nyaman dengan cara jalan yang seperti itu. Mungkin saya terbiasa berada di tengah-tengah orang yang tergesa-gesa? Entahlah.

Menurut saya, kasus ini merupakan pelajaran untuk tidak berempati. Setelah lulus, maka dia sudah biasa untuk tidak memiliki empati. Lantas kita menyalahkan orang seperti itu di jalan? Dan ini dapat juga merembet ke hal-hal lain yang lebih jauh dari sekedar berjalan kaki saja.

[update]

Dan kalau kita beranggapan bahwa yang melakukan itu hanya mahasiswa saja, salah besar. Lihat foto di bawah ini.

Foto1715 jalan 1000

 
1 Comment

Posted in curhat

 

Minggu Pertama Perkuliahan

25 Jan

Minggu pertama perkuliahan semester ini hampir selesai. Minggu ini jadwal masih tentatif. Banyak yang masih harus diatur. Belum lagi masih ada nilai semester lama yang masih terganjal (dan sudah saya selesaikan – setelah mahasiswa mengirimkan revisi tugas-tugasnya).

Pokoknya minggu ini super sibuk. Ditambah lagi ada hari libur kemarin. Eh, tapi mungkin itu bagus ya. Untuk membuat kita dapat bernafas rileks sejenak. Hari ini, Jum’at, bekerja seperti biasa. Kalau tidak begini, minggu ini pendek sekali. Wuih. Semengat ah.

Minggu depan? Kayaknya sih tetap sibuk. ha!

 
No Comments

Posted in curhat

 

Lapak PKL Gerbang Utara ITB

22 Jan

Beberapa waktu yang lalu saya melihat lapak-lapak PKL di gerbang Utara ITB dibongkar. Saya mengira ini ada kaitannya dengan pembangunan gedung di bekas tempat GSG dulu (dan juga mungkin membongkar & bangun gedung LAPI?). Mestinya itu kaitannya, tetapi saya tidak tahu ceritanya. Yang saya tahu lapak-lapak itu sudah dibongkar. Penghuni lapak-lapak tersebut protes dengan membuat tenda di lapangan dekat situ.

Kemarin saya lihat lapak-lapak tersebut dibangun kembali. Pembangunannya dibuat dengan menggunakan bambu. Seragam dari ujung ke ujung. Kalau dulunya sih beda-beda karena ada yang warung nasi, ada yang tempat nge-print  dan terjadinya juga secara bertahap.  Maka lapaknya beda-beda. Yang ini, setidaknya kerangka bambunya sama. Tadinya saya mengira sudah ada kesepakatan atau keputusan, tetapi ternyata pembangunan ulang lapak tersebut tanpa ijin. Jadi ingin tahu juga bagaimana ceritanya?

Ada beberapa cerita yang beredar, seperti misalnya pembangunan ulang tersebut dimotori oleh mahasiswa ITB. Nah jadi bingung. Apa sang mahasiswa ini tidak berkordinasi dengan pimpinan ITB ya? Bagaimana kalau nanti setelah dibangun ternyata pagar di situ harus dirubuhkan untuk keluar masuknya truk proyek? Kan sia-sia pekerjaan dan uang yang sudah diinvestasikan di pembangunan ulang itu.

Masalah PKL ini bukan hal yang mudah dipecahkan. Sulit bukan berarti tidak bisa kan? Pendekatannya juga harus manusiawi. Tidak bisa asal main gusur aja dan berharap penghuninya tidak kembali lagi. Ada yang mau repot mengurusi ini? Saya kok tidak yakin.

Bagaimana menurut Anda? (Dan adakah info terbaru tentang hal ini?)

 
4 Comments

Posted in ITB