RSS
 

Posts Tagged ‘curhat’

Mengajari Progressive Rock

07 Mar

Kebiasaan saya adalah datang di kelas sebelum waktunya. Setidaknya, saya berusaha begitu. Kadang gagal juga. Nah, kalau berhasil datang sebelum kelas dimulai, saya biasanya memasang lagu-lagu baik dalam bentuk audio saja atau video. Ini merupakan kesempatan saya untuk mengajari mahasiswa tentang musik-musik yang bagus.

Jenis musik yang paling sering saya putar tentunya adalah rock. Lebih spesifik lagi adalah progressive rock atau classic rock. Ini adalah jenis musik yang penggemarnya tidak terlalu banyak. hi hi hi. Maklum. Kadang lagu progressive rock itu cukup kompleks dan panjang-panjang. Kalau didengarkan sekali saja mungkin belum kena. Setelah didengarkan berulang-ulang barulah dia melekat untuk waktu yang cukup lama. Lagu yang dibuat tahun 70-an pun masih bertahan sampai sekarang. Empat puluh tahun kemudian.

Yang paling sering saya putar saat ini adalah lagu-lagu dari Steven Wilson dan Porcupine Tree. Memang lagu-lagu dari mereka ada yang lebih mudah dicerna. Inilah yang sering saya putar:

  • Porcupine Tree – Trains
  • Porcupine Tree – Prodigal
  • Steven Wilson – Drive Home
  • Porcipine Tree – Way Out Of Here

Untuk yang rock, yang saya putar adalah

  • Heart – Barracuda
  • Toto – Hold the Line

Siapa tahu ada mahasiswa yang kemudian jadi menyukai jenis musik itu. hi hi hi.

Jreng!

 

 
 

Kuliah Tanpa Partisipasi Mahasiswa

15 Feb

Bagi seorang dosen – setidaknya, bagi saya – kuliah yang hanya satu arah dari dosen ke mahasiswa tidak menarik. Sang dosen tidak tahu apakah materi yang diberikannya terlalu mudah atau terlalu susah, menarik atau tidak menarik, terlalu cepat atau terlalu pelan atau pas, dan seterusnya. Tidak ada umpan balik. Partisipasi dari mahasiswa sanga dibutuhkan.

Apa partisipasi dari mahasiswa? Yang paling mudah adalah bertanya. Bertanya tentang apa yang belum dipahami. Boleh juga menyatakan opini. Yang lebih menarik adalah kalau ada diskusi. Nah, itu baru menarik. Kalau tidak, kesannya dosen hanya menyuapi mahasiswa saja.

Mungkin karena kultur pendidikan di Indonesia yang membuat mahasiswa menjadi enggan berpartisipasi. Tapi, apakah ini bukan menjadi alasan yang dicari-cari? Sekedar ada pembenaran. Jika memang benar demikianpun, lantas apa yang harus kita lakukan.

Sementara itu … kuliah besok apa ya? Mungkin gak penting juga. Wong mahasiswanya juga mungkin tidak¬† peduli. Yang penting hadir. Begitu?

 
 

Tak Usah Berbagi (Yang Terlalu Personal)

01 Nov

Kasus-kasus baru terkait dengan media sosial terjadi karena banyak orang yang terlalu bersemangat untuk berbagi. Sedikit-sedikit tekan tombil share. Sedikit-sedikit upload foto-foto pribadi; keluarga, suami, istri, anak, cucu, dan seterusnya. Sedikit-sedikit mengumpat, memaki, menghina, menghasut, dan seterusnya.

Saya usu, kita tak usah berbagi. Apalagi jika itu adalah hal yang terlalu personal.

Saya sudah menghentikan membuat tulisan atau status atau upload foto yang bersifat pribadi. Mungkin karena saya sudah duluan menggunakan media sosial sehingga sudah ketanggor masalah ini duluan. Oleh karena maka daripada itu … daripada Anda juga ketanggor hal yang sama, lebih baik berhati-hati.

Tak usah berbagi …

 
No Comments

Posted in curhat

 

Terpaksa 3G di Kampus

05 Jun

Akhir-akhir ini saya terpaksa menggunakan layanan 3G sendiri untuk akses internet di kampus. Entah kenapa akses menjadi semakin lambat dan semakin tidak reliable. Bisa jadi masalah ada di lingkungan unit tempat saya, tetapi kalau saya baca keluhan di milis nampaknya terjadi di unit-unit lain di kampus ini.

Akses internet sudah merupakan sebuah kebutuhan di kampus ini. Rasanya tidak bisa berkutik kalau internet ngadat. Untuk itulah saya terpaksa harus berlangganan akses 3G. Sayangnya di kampus ada beberapa operator yang sinyalnya juga buruk. Kebetulan justru operator seluler saya yang buruk akses. Jadi akses 3G-nya juga tidak bisa dari satu operator saja.

Akibatnya sebulan saya harus berlangganan 3G dari dua operator, masing-masing Rp 50 ribu. Jadi biaya operasional internetan saja sudah Rp 100 ribu/bulan. Kalau ada 100 orang saja yang seperti saya di kampus ini, maka biaya yang keluar sudah Rp 10 juta/bulan. Padahal jumlah dosen di ITB ini lebih dari 1000 orang dan kalau ditambah mahasiswa maka angka 100 itu tadi merupakan angka yang terlalu kecil. Sayang sekali kalau tidak di-pool di kampus ya?

 
 

Param Kocok?

18 May

Habis futsal tadi terasa kaki agak pegal. Biasanya sih pegal juga tapi kali ini terasa lebih pegal. Pikir-pikir, enak juga kalau dibalur param kocok ya? Masalahnya masih adakah yang namanya param kocok? Ada yang masih pakai?

Pasti ada banyak pembaca yang tidak kenal apa itu param kocok ya? Ini semacam bubuk yang kalau dicampur air dia seperti lumpur. Kemudian dibalurkan di kaki atau tangan dan dibiarkan sampai mengering. Besoknya pegal-pegal jadi hilang. Nah.

 
No Comments

Posted in curhat

 

DIES ITB

03 Mar

Ada yang tahu acara DIES ITB apa yang menarik?

Nampaknya tahun ini acara DIES tidak tersosialisasikan dengan baik atau memang tidak ada acara yang menarik. hi hi hi. Atau bahkan ada yang tidak tahu bahwa weekend ini adalah DIES-nya ITB. waks.

 
No Comments

Posted in curhat, ITB

 

Galau …

28 Feb

Tahukah Anda bahwa ITB akan membuka tempat di Padalarang (tempat teh Walini)? Melihat peta (maket) ITB Walini membuat saya melihat-lihat peta NUS (National University of Singapore). Baru saja saya kembali dari sana. U-town-nya menarik. Iri amat sangat …

Di kelas beberapa hari yang lalu saya mencoba menanyakan kepada mahasiswa siapa saja yang pernah compile kernel Linux, tidak ada satupun tangan yang terangkat. Okelah. Maybe I am asking too much. Tanya lebih jauh lagi (mengenai beberapa hal dasar tentang teori bahasa, compiler construction, lex, yacc, dan lain-lain.) membuat saya tersadar bahwa nampaknya tukang ngoprek seperti saya ini adalah dinosaurus. How do I explain to them excitement I got when reading classic papers like “trusting the trust” where the main foundation is based on playing with codes? Playing. Doing what you love. Students these days just want to get the degree.

Mendengarkan sedikit diskusi mengenaik kenaikan pangkat / jabatan dosen ITB beberapa waktu yang lalu membuat saya juga tersadar, we are talking to people who don’t understand (that we have problems). Ha!

Koran Kompas menampilkan universitas baru. Smack on our face? You don’t think so, do you?

Where are we taking ITB to? Complacency …

 
No Comments

Posted in curhat, ITB

 

Belajar Untuk Tidak Empati

30 Jan

Kuliah sudah mulai lagi. Kampus mulai padat mahasiswa. “Penyakit” lama kambuh lagi. he he he. Yang saya maksud dengan penyakit di sini adalah kebiasaan mahasiswa untuk berjalan di tengah jalan, berlambat-lambat, bergerombol, tidak memperdulikan lalu lintas atau kendaraan. Apa salahnya berjalan di tempat yang disediakan? Kan sudah ada tempat untuk pejalan kaki. Kalau memang tidak ada tempatnya – dan itu terjadi di banyak tempat di Indonesia, seperti tempat pejalan kaki yang diambil alih oleh PKL – maka dapat dimaklumi kalau terpaksa harus menggunakan jalan. Nah ini kan tidak begitu. Perhatikan lingkungan sedikit kek. Berempatilah.

Foto1686 mhs crop

[Foto di atas hanya sebagai contoh saja. Ini yang kebetulan dapat saya ambil hari ini. ada banyak contoh lain yang lebih ekstrim, tetapi sayangnya tidak sempat saya foto.]

Topik ini saya sampaikan bukan karena saya berkendaraan kemudian ngomel-ngomel seperti ini. Ketika jalan kakipun saya merasa tidak nyaman dengan cara jalan yang seperti itu. Mungkin saya terbiasa berada di tengah-tengah orang yang tergesa-gesa? Entahlah.

Menurut saya, kasus ini merupakan pelajaran untuk tidak berempati. Setelah lulus, maka dia sudah biasa untuk tidak memiliki empati. Lantas kita menyalahkan orang seperti itu di jalan? Dan ini dapat juga merembet ke hal-hal lain yang lebih jauh dari sekedar berjalan kaki saja.

[update]

Dan kalau kita beranggapan bahwa yang melakukan itu hanya mahasiswa saja, salah besar. Lihat foto di bawah ini.

Foto1715 jalan 1000

 
1 Comment

Posted in curhat

 

Memeriksa Tugas Mahasiswa

21 Jan

Memeriksa tugas mahasiswa itu pekerjaan yang tidak menyenangkan. Masalahnya adalah kita harus berlaku adil. Kalau ada mahasiswa yang kerja keras dan hasilnya bagus, tentu saja  pantas mendapat nilai A. Kalau ada mahasiswa yang asal-asalan dan hasilnya sangat buruk, nilainya E (tidak lulus). Keduanya gampang dinilainya. Yang repot adalah di antara itu.

Susah membedakan mahasiswa yang kerjanya suka-suka dan hasilnya pas-pasan dengan mahasiswa yang serius, bekerja keras, dan hasilnya juga pas-pasan lebih sedikit. Bagaimana memberi nilainya? Harus adil. Yang repot adalah membacanya. Menilai tugas yang seperti ini jauh lebih susah daripada memeriksa tugas yang bagus sekali dan buruk sekali. Menghabiskan waktu. Kalau sudah begini, penilaian bergantung pada mood. Kalau lagi tidak mood, maka nilai cenderung buruk (C). Kalau mood lagi baik, nilai cenderung B.

Jadi, saya sarankan Anda untuk membuat tugas yang bagus sekali atau buruk sekali – he he he.

 

Ikatan Alumni?

13 Dec

Sebetulnya untuk apa ya Ikatan Alumni? Pasalnya saya tidak merasa ada manfaat yang diperoleh dari Ikatan Alumni ITB secara formal. Sesama almuni memang ada ikatan bathin, tapi dalam bentuk formal seperti IA-ITB ini apa pentingnya dan manfaatnya?

Sekarang bahkan ada ribut-ribut kepemimpinan IA-ITB. Entah apa sih memang hebatnya sebuah ikatan alumni itu?

 
No Comments

Posted in curhat