RSS
 

Posts Tagged ‘ITB’

Gagalnya Sebuah Organisasi

31 Dec

Saat ini masa pencarian ketua ikatan alumni ITB (IA-ITB) untuk periode (yang ke berapa ya? saya tidak tahu. hi hi hi). Dari dahulu sampai sekarang saya termasuk yang belum pernah merasakan manfaat dari IA-ITB. Manfaat ini bukan berarti harus “mendapatkan” sesuatu, karena manfaat dapat juga “memberikan” sesuatu.

Tidak hanya IA-ITB, ada banyak organisasi yang menurut saya kurang manfaat. Bukan hanya organisasi alumni saja, tetapi organisasi dalam bentuk instansi pemerintahan sekalipun. Apa penyebabnya?

Salah satu penyebabnya adalah kurang mendengar. Listen.

Kebanyakan orang atau organisasi berjalan dengan kacamata kuda. Ini yang akan kami jalankan. Kemudian muncullah visi, misi, dan seterusnya. Dan tentu saja visi dan misinya tidak ada yang salah. Guyonannya sama seperti kontestan beauty pageant ketika ditanya apa harapannya, jawabannya adalah “world peace”. Atau ketika seseorang ditanya cita-citanya, jawabannya adalah “membahagiakan orang tua”. Tidak ada yang salah. It is as true as motherhood.

Namun sayangnya mereka tidak mau mendengar keinginan konstituen mereka. Apakah mereka tidak belajar dari pengalaman yang baru saja kita lihat. Fenomena blusukan. Sebetulnya apa inti dari blusukan? Melihat dan mendengar. Yang ada saat ini adalah paparan, tetapi kurang mendengarnya. Di jalan teknologi informasi seperti sekarang pun, tidak disediakan forum atau channel untuk mendengar-nya.

Mengapa blusukan ini tidak dilakukan? Salah satu alasannya adalah keterbatasan waktu dan kesibukan. Nah, ini dia. Saya melihat sebagian besar calon-calon ketua IA-ITB saat ini sudah SIBUK. Saya kurang yakin mereka memiliki waktu dan tenaga  untuk serius membenahi dan mengelola sebuah ikatan alumni. Okelah ini hanya sebuah ikatan alumni. Ah, jika demikian, dolanan ternyata. Tidak mengapa juga sih. Ya mari kita perlakukan sebagai dolanan juga.

Hal lain, track record. Boleh jadi track record dalam pekerjaan mereka bagus. Itu pekerjaan. Lah track record organisasi-nya mana? Apakah ini memang menjadi passion mereka? There will be the first one, but of course.

Jadi siapa yang akan saya pilih dalam pemilihan IA-ITB kali ini?

 
1 Comment

Posted in curhat, ITB

 

Mengajari Progressive Rock

07 Mar

Kebiasaan saya adalah datang di kelas sebelum waktunya. Setidaknya, saya berusaha begitu. Kadang gagal juga. Nah, kalau berhasil datang sebelum kelas dimulai, saya biasanya memasang lagu-lagu baik dalam bentuk audio saja atau video. Ini merupakan kesempatan saya untuk mengajari mahasiswa tentang musik-musik yang bagus.

Jenis musik yang paling sering saya putar tentunya adalah rock. Lebih spesifik lagi adalah progressive rock atau classic rock. Ini adalah jenis musik yang penggemarnya tidak terlalu banyak. hi hi hi. Maklum. Kadang lagu progressive rock itu cukup kompleks dan panjang-panjang. Kalau didengarkan sekali saja mungkin belum kena. Setelah didengarkan berulang-ulang barulah dia melekat untuk waktu yang cukup lama. Lagu yang dibuat tahun 70-an pun masih bertahan sampai sekarang. Empat puluh tahun kemudian.

Yang paling sering saya putar saat ini adalah lagu-lagu dari Steven Wilson dan Porcupine Tree. Memang lagu-lagu dari mereka ada yang lebih mudah dicerna. Inilah yang sering saya putar:

  • Porcupine Tree – Trains
  • Porcupine Tree – Prodigal
  • Steven Wilson – Drive Home
  • Porcipine Tree – Way Out Of Here

Untuk yang rock, yang saya putar adalah

  • Heart – Barracuda
  • Toto – Hold the Line

Siapa tahu ada mahasiswa yang kemudian jadi menyukai jenis musik itu. hi hi hi.

Jreng!

 

 
 

Kemampuan Menulis

29 Jan

Baru-baru ini KM ITB menyuarakan opininya – Surat Terbuka untuk Joko Widodo – yang dapat dilihat dari link berikut. Surat tersebut menuai beberapa komentar pro dan kontra. Kali ini saya tidak ingin membahas isinya tetapi mengenai tata cara penulisannya. Mengapa saya tertarik kepada tata caranya? Ini dikarenakan saya mengajari mahasiswa tentang bagaimana menulis karya ilmiah yang baik.

Eh, ternyata sebelum saya menuliskan opini saya sudah ada yang menulis komentar dengan sudut pandang (tata cara penulisan) yang sama. Silahkan baca tulisan tersebut dari link ini (“Web KM ITB Dibajak?“).

Bagaimana komentar Anda?

 
No Comments

Posted in ITB, Menulis

 

Maskot Baru

08 Jan

Setelah kemarin kita menikmati “maskot” dinosaurus di dekat lapangan basket ITB, maka kali ini “maskot”nya berganti menjadi ini.

IMG_7149 ITB

Eh, ini siapa namanya dan maskot untuk acara apa ya? Ada yang sudah berpotret selfie di depan maskot ini? Ayo dong. Postkan di bagian komentar. hi hi hi. Saya lihat sudah ada beberapa orang yang ber-selfie ria di depan ini.

Sebetulnya sih saya lebih suka yang dinosaurus, tapi apa boleh buat. The times they are a changin’. Yang ini belum tahu akan bertahan beberapa lama. Setelah itu nanti akan digantikan dengan apa ya?

 
No Comments

Posted in foto, ITB

 

Dinosaurus ITB

27 Dec

Salah satu sisa dari Pasar Seni ITB 2014 adalah sebuah dinosaurus. Terletak di dekat lapangan basket kampus ITB, dinosaurus ini menjadi atraksi tersendiri bagi banyak orang. Selepas pasar seni, dinosaurus ini masih berada di kampus ITB. Ada banyak orang yang mengambil foto – termasuk selfie – di depan dinosaurus ini.

IMG_6980 dino 1000

Seharusnya ini tetap dipertahankan di ITB ya. Ini menjadi daya tarik tersendiri.

Sayangnya karena memang dia tidak didesain untuk bertahan lama – rangkanya terbuat dari bambu dan bagian luarnya terbuat dari seng(?) – sehingga dinosaurus ini harus dibongkar. hik hik hik …

IMG_7087 dino left

Mungkin di kemudian hari bisa dibuatkan dinosaurus yang lebih tahan lama? Lumayan banyak peminatnya. Atau, sekalian saja patung Ganesha yang menjadi lambang ITB digantikan oleh dinosaurus ini? hi hi hi. Maknanya apa ya? ITB sudah menjadi dinosaurus? ha ha ha

 
No Comments

Posted in ITB

 

Diombang Ambing (Kurikulum)

08 Dec

Tuh kan, kurikulum 2013 tidak jadi digunakan alias dibatalkan. Ubah lagi. Banyak orang yang marah-marah, tetapi banyak juga orang yang senang. Bagaimana dengan ITB? Saya sendiri tidak tahu. hi hi hi.

Menurut saya, yang menjadi masalah adalah kita tidak tahu maunya kita itu apa. Sehingga kita ikut (manut) saja kepada “atasan”. Akibatnya, kita bagaikan perahu yang diombang-ambing di samudera. Masih untung tidak ada topan badai. Wogh.

Jika kita tahu yang kita maui, maka akan lebih mudah menerima atau tidak menerima sebuah kurikulum. Perubahan kurikulum tentu saja akan berpengaruh, tetapi kita akan tetap konsisten dengan arah tujuan kita.

Sementara itu sekarang kita terapung-apung. Yang penting selamat lah. Entah sampai ke pulau apa. Sekarang cari selamat dulu. Eh, jangan-jangan kita memang cari selamat terus ya?

 
 

Internet Kampus Lambat

01 May

Sudah beberapa minggu ini internet kampus kita lambat sekali. Ada beberapa alasan:

  1. Ditemukan virus yang menghabiskan bandwidth. Nah, saya berharap rekan-rekan selalu melakukan update anti virus untuk komputer-komputer di lingkungan unit kerja masing-masing. Tolong bantu rekan-rekannya sehingga virus tidak menghabiskan bandwidth.
  2. Terlalu banyak akses ke YouTube. Oke ini masalah yang berbeda. Saya pikir akses ke YouTube adalah hal yang wajar. Banyak materi pelajaran yang dapat kita peroleh dari sana. Hanya saja memang penggunaan bandwidthnya cukup besar. Untuk itu bagi yang mendengarkan lagu, misalnya, tidak usah dari youtube. Mungkin untuk yang seperti ini kita buat Radio Kampus saja ya? (Yang bisa request lagu – dibroadcast / unicast?)
  3. Apa lagi ya?

Sementara ini saya hanya dapat menggerutu karena tidak dapat akses internet. Salah satu cara untuk menghilangkan kekesalan adalah dengan menulis di blog ini, yang notabene dapat diakses di internal kampus ITB 🙂  Lumayan kalau ada banyak tulisan di kampus ITB. Ketika akses internet sedang down, kita masih bisa baca-baca.

 
 

DIES ITB

03 Mar

Ada yang tahu acara DIES ITB apa yang menarik?

Nampaknya tahun ini acara DIES tidak tersosialisasikan dengan baik atau memang tidak ada acara yang menarik. hi hi hi. Atau bahkan ada yang tidak tahu bahwa weekend ini adalah DIES-nya ITB. waks.

 
No Comments

Posted in curhat, ITB

 

Galau …

28 Feb

Tahukah Anda bahwa ITB akan membuka tempat di Padalarang (tempat teh Walini)? Melihat peta (maket) ITB Walini membuat saya melihat-lihat peta NUS (National University of Singapore). Baru saja saya kembali dari sana. U-town-nya menarik. Iri amat sangat …

Di kelas beberapa hari yang lalu saya mencoba menanyakan kepada mahasiswa siapa saja yang pernah compile kernel Linux, tidak ada satupun tangan yang terangkat. Okelah. Maybe I am asking too much. Tanya lebih jauh lagi (mengenai beberapa hal dasar tentang teori bahasa, compiler construction, lex, yacc, dan lain-lain.) membuat saya tersadar bahwa nampaknya tukang ngoprek seperti saya ini adalah dinosaurus. How do I explain to them excitement I got when reading classic papers like “trusting the trust” where the main foundation is based on playing with codes? Playing. Doing what you love. Students these days just want to get the degree.

Mendengarkan sedikit diskusi mengenaik kenaikan pangkat / jabatan dosen ITB beberapa waktu yang lalu membuat saya juga tersadar, we are talking to people who don’t understand (that we have problems). Ha!

Koran Kompas menampilkan universitas baru. Smack on our face? You don’t think so, do you?

Where are we taking ITB to? Complacency …

 
No Comments

Posted in curhat, ITB

 

Lapak PKL Gerbang Utara ITB

22 Jan

Beberapa waktu yang lalu saya melihat lapak-lapak PKL di gerbang Utara ITB dibongkar. Saya mengira ini ada kaitannya dengan pembangunan gedung di bekas tempat GSG dulu (dan juga mungkin membongkar & bangun gedung LAPI?). Mestinya itu kaitannya, tetapi saya tidak tahu ceritanya. Yang saya tahu lapak-lapak itu sudah dibongkar. Penghuni lapak-lapak tersebut protes dengan membuat tenda di lapangan dekat situ.

Kemarin saya lihat lapak-lapak tersebut dibangun kembali. Pembangunannya dibuat dengan menggunakan bambu. Seragam dari ujung ke ujung. Kalau dulunya sih beda-beda karena ada yang warung nasi, ada yang tempat nge-print  dan terjadinya juga secara bertahap.  Maka lapaknya beda-beda. Yang ini, setidaknya kerangka bambunya sama. Tadinya saya mengira sudah ada kesepakatan atau keputusan, tetapi ternyata pembangunan ulang lapak tersebut tanpa ijin. Jadi ingin tahu juga bagaimana ceritanya?

Ada beberapa cerita yang beredar, seperti misalnya pembangunan ulang tersebut dimotori oleh mahasiswa ITB. Nah jadi bingung. Apa sang mahasiswa ini tidak berkordinasi dengan pimpinan ITB ya? Bagaimana kalau nanti setelah dibangun ternyata pagar di situ harus dirubuhkan untuk keluar masuknya truk proyek? Kan sia-sia pekerjaan dan uang yang sudah diinvestasikan di pembangunan ulang itu.

Masalah PKL ini bukan hal yang mudah dipecahkan. Sulit bukan berarti tidak bisa kan? Pendekatannya juga harus manusiawi. Tidak bisa asal main gusur aja dan berharap penghuninya tidak kembali lagi. Ada yang mau repot mengurusi ini? Saya kok tidak yakin.

Bagaimana menurut Anda? (Dan adakah info terbaru tentang hal ini?)

 
4 Comments

Posted in ITB