Tugas 9 PRD : Tinkercad

Treatstock on Twitter: "We are now a proud printing partner of @tinkercad . Tinker with your favorite designs and get them 3D printed on @Treatstock #Tinkercad #Treatstock #3DPrinting #Autodesk… https://t.co/1gTlIfCnuH"Tinkercad adalah program website gratis yang digunakan untuk mensimulasikan desain 3d, rangakain elektronik dan codeblock. Program ini sangat membantu kita dalam proses pembelajaran karena betapa mudahnya Tinkercad ini digunakan. User interface yang disediakan pun sangat mudah dimengerti.

Pada pertemuan minggu ke-9 kemarin, kita diajarkan untuk membuat akun Tinkercad serta cara menggunakannya. Pada pertemuan kemarin, pembelajaran penggunaan Tinkercad dibatasi hanya untuk rangkaian elektronik saja. Dari Tinkercad sendiri sudah menyediakan 4 lessons di rangkaian elektronik untuk pemula yang baru saja menggunakan Tinkercad. Empat lessons itu adalah adding components, wiring components, editing components, dan start simulating. Keempat lessons ini memperkenalkan kita dengan basic penggunaan Tinkercad.

Setelah itu, pehamaman kita tentang rangkaian listrik bertambah dengan adanya lesson skill builders. Lessons ini  juga sudah disediakan oleh Tinkercad sendiri. Terdapat 3 lessons, yaitu introduction to breadboard, Ohm’s Law, sirkuit seri dan paralel.
Ketiga lessons tersebut ialah konsep-konsep dasar dalam rangkaian listrik.

Tugas 8 PRD : Introduction to GIT

Dari video Kak Baha, saya belajar dari apa itu git dan kegunaannya hingga cara menggunakan git dan github. Secara umum, git adalah sistem pengontrol versi, yang akan sangat membantu kita dalam pengerjaan kelompok.

Cara menggunakan git sebenarnya tidak terlalu sulit, hanya perlu terbiasa dengan command- command yang ada. Beberapa command penting yang saya dapat dari video Kak Baha, yaitu:
1. mkdir -> untuk membuat folder
2. git init -> untuk inisialisasi (jika di dalam folder belum ada /.git berarti belum di-inisialisasi)
3. echo -> untuk memasukan sesuatu ke dalam file
4. cat -> untuk mencek isi file
5. git status -> untuk mencek status branch
6. git add -> agar file yang kita buat ter-track
7. git commit -> meng-commit file untuk memulai tracking
8. git log -> untuk melihat perubahn-perubahan yang terjadi
9. git remote add origin -> untuk menambahkan link repository yang kita buat di github
10. git remote verbose -> memverifikasi link
11. git push origin master -> mem-push origin di branch master ke repository github yang sudah kita add link nya.

Sebetulnya masih banyak lagi command-command lain dalam video Kak Baha, namun command-command diatas adalah command yang saya gunakan dalam pengerjaan Latihan 1.

Berikut link hasil pengerjaan saya :
https://github.com/mochdhany25/ku1202-percobaan2

Standar yang Digunakan dalam Drone Penanam

Sejauh yang saya ketahui, standar untuk bahan / material yang digunakan dalam pembuatan drone belum diatur dalam International Organization for Standards (ISO). Namun, dalam ISO 21384-3:2019 Unmanned aircraft systems, terdapat aturan standar operator, zona penerbangan, serta keamanan privasi publik.

Seperti yang kita ketahui dari post blog sebelumnya, mobilitas  serta rute yang akan dilewati drone penanam, diatur oleh program khusus. Oleh karena itu, standar-standar yang sudah dijabarkan oleh ISO akan diimplementasikan dalam program tersebut. Teknologi seperti geo-fencing yang berfungsi untuk mencegah drone memasuki area berbahaya dan No Fly Zone akan sangat baik untuk diimplementasikan. Operator yang akan menentukan rute drone penanam ini juga wajib untuk mengetahui zona-zona yang akan drone ini lewati. Jangan sampai drone penanam ini memasuki daerah privasi publik.

Solusi Untuk Meningkatkan Lahan Terbuka Hijau – Drone Penanam

DRONE PENANAM

original idea : droneseed.com

Salah satu cara untuk meningkatkan lahan terbuka hijau adalah dengan mengadakan penanaman massal. Penanaman massal harus direncanakan secara lengkap. Dengan kata lain, aspek-aspek yang akan mendukung maupun merugikan operasi, seperti jenis tanah area penanaman, harus dipikirkan dalam perencanaan.

Pada post kali ini, saya akan mencurahkan inovasi untuk mengurangi beban manusia yang dibutuhkan untuk menanam tanaman-tanaman ini. Inovasi yang saya bahas adalah dengan menggunakan drone penanam.

Drone penanam ini memiliki tugas untuk menjatuhkan biji-biji ke tanah dan secara tidak langsung menanam tanaman tersebut.

Drone penanam ini terdiri atas 3 bagian penting, yaitu drone carrier, seed storer, dan seed pod. Drone carrier adalah drone yang membawa biji-biji itu sendiri. Besar drone dapat bervariasi, namun semakin besar, semakin efektif proses penanamannya. Mengapa? karena jumlah pod biji yang dibawa bisa lebih banyak. Seed storer adalah wadah untuk menyimpan pod biji yang akan dijatuhkan ke tanah. Di bagian bawah wadah ini, terdapat sekat yang membuka dan menutup (diatur oleh user) untuk menjatuhkan pod biji-biji tersebut. Seed pod adalah sebuah pod yang terdiri atas biji-bijian tanaman yang akan ditanam dan pupuk kompos yang terhidrasi. Biji-bijian dan kompos disatukan dan dibentuk seperti sebuah pod. Tujuan pencampuran kompos dengan biji-bijian adalah agar biji-biji tersebut memiliki wadah untuk tumbuh sehingga tidak terlalu bergantung dengan tanah sekitarnya, walaupun tanah area penanaman juga termasuk aspek penting demi keberhasilan penanaman. Oleh karena itu, diperlukan survey area penanaman sebelum melakukan operasi.

Berikut diagram alir cara kerja drone penanam:

Dengan diterapkan penggunaan drone penanam ini, proses penanaman massal akan berlangsung lebih efektif serta mengurangi tenaga manusia yang dibutuhkan. Jika drone ini digunakan secara massal, maka luas lahan terbuka hijau akan mengalami peningkatan sehingga membantu menyelesaikan masalah kurangnya lahan terbuka hijau di daerah yang dibutuhkan.

Berkurangnya Lahan Terbuka Hijau di Kota – Kota Besar

Ruang Terbuka Hijau yang Tak Lagi Menghijau Halaman all - Kompasiana.com

(sumber : kompasiana.com)

Penyebab Berkurangnya Lahan Hijau di Kota-Kota Besar

Dari tahun ke tahun lahan terbuka hijau terus berkurang di kota – kota besar. Hal ini bisa kita rasakan dari polusi udara yang meningkat, tidak hanya itu, lahan-lahan hijau disekitar kita yang pada waktu kecil masih ada sekarang sudah berubah menjadi gedung-gedung. Tentu saja hal ini mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatan penduduknya. Menurut data dari Kementerian PUPR, sampai saat ini, baru 13 dari 174 kota di Indonesia yang memiliki porsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) 30 persen atau lebih. UU Penataan Ruang juga menyebut harus ada minimal 20 persen RTH dari luas wilayah kota yang tersedia. Misalnya saja DKI Jakarta hanya memiliki 9.8 persen RTH. Sangat jauh dari targetnya yaitu 30 persen.

Pengurangan lahan tebuka hijau ini tentunya tidak terjadi begitu saja. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya pengurangan lahan terbuka hijau ini. Berikut beberapa penyebab dari berkurangnya lahan terbuka hijau di kota-kota besar di Indonesia.

1. Pertumbuhan Penduduk

Tentu saja salah satu faktor utama dalam pengurangan lahan hijau ini adalah pertumbuhan penduduk. Secara simpelnya, pertumbuhan penduduk yang tinggi akan membutuhkan permukiman yang banyak. Tentu saja hal ini akan menguras lahan hijau yang ada untuk dijadikan tempat permukiman pendduk. Tidak hanya itu, belum lagi kebutuhan untuk lapangan pekerjaan yang tinggi, untuk membuka lapangan kerja dibutuhkan tempat untuk bekerja itu sendiri sehingga lahan terbuka hijau akan dibangun untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, pertumbuhan penduduk yang tinggi pada suatu wilayah akan berdampak pada pengurangan lahan hijau secara signifikan. 

2. Kurangnya Lahan

Faktor lain yang menyebabkan kurangnya lahan terbuka hijau di kota-kota besar ialah kurangnya lahan untuk dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Jika memang lahan hijau sudah sedikit, tentu saja salah satu alternatif adalah untuk membuka lahan hijau tersebut kembali. Namun, karena lahan yang tersedia sudah semakin dikit, hal ini menjadi salah satu kesulitan dalam mengelola lahan tersebut menjadi Ruang Terbuka Hijau. 

3. Keterbatasan Dana

Pembukaan lahan hijau kembali tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit. Keterbatasan dana ini menjadi penghambat dalam minimnya lahan terbuka hijau yang ada di kota besar. Penambahan ruang terbuka untuk lahan hijau serta pengelolaannya membutuhkan dana yang tidak sedikit, dimana pemerintah perlu mengeluarkan perhatian lebih terhadap pembukaan dan pengelolaan lahan terbuka hijau ini.

4. Kurangnya Pengawasan

Kurangnya pengawasan ini juga tentu saja berperan penting dalam mempertahankan lahan terbuka hijau di kota-kota besar. Misalnya saja, menurut Dinas Penataan Kota DKI Jakarta, pengurangan lahan terbuka hijau di Jakarta banyak disebabkan oleh pemanfaatan oleh masyarakat tanpa izin. Contohnya seperti pembangunan permukiman liar. 

 

Bukan hanya hal-hal diatas yang menyebabkan berkurangnya lahan terbuka hijau, masih banyak lagi faktor-faktor lain yang menyebabkan berkurangnya lahan terbuka hijau. Contohnya seperti pengelolaan kota yang kurang baik, pembangunan yang mendesak dan tanpa rencana yang matang, banyak orang yang tidak memperhatikan dampak dari pengurangan RTH itu sendiri, dan lain sebagainya. 

 

 

 

Dampak Berkurangnya Lahan Hijau di Kota-Kota Besar

Nyatanya, untuk sebagian orang belum mengenal pentingnya sebuah lahan terbuka hijau. Hal ini disebabkan karena sebagian orang masih berpikir kalau infrastruktur yang maju itu dinilai berdasarkan banyaknya gedung pencakar langit di kota tersebut. Namun, sebuah kota atau daerah yang maju akan “menyisihkan” tanah mereka untuk membuat suatu lahan terbuka hijau.

Lalu, apa aja sih hal-hal yang akan timbul jika suatu wilayah kekurangan lahan terbuka hijau?

1      Kurangnya tingkat kenyamanan suatu kota

Mungkin bisa dibilang skala nyaman setiap orang mungkin berbeda-beda. Namun, rata-rata orang bakal nyaman untuk berada di suatu ruang terbuka hijau seperti taman di kota-kota. Hal ini disebabkan oleh keberadaan taman di kota-kota bakal menjadikan kota tersebut memiliki suatu tempat untuk menghabiskan waktu bersantai dan menghabiskan waktu senggang dengan nyaman.

Selain itu, dengan adanya ruang terbuka hijau, membuat kota tersebut ramah untuk semua umur. Jika kota tersebut terlalu padat dan hanya memiliki tempat-tempat hiburan seperti mall, kafe, atau bioskop membuat kota tersebut cocok untuk sebagian tingkatan umur saja. Bisa kita ambil contoh kalau rata-rata anak-anak lebih suka bermain di area terbuka daripada ruang yang lebih tertutup. Selain itu, ruang terbuka juga membuat anak-anak lebih aktif dan dekat dengan alam mereka.

    Di sisi lain, bukan berarti infrastruktur lain seperti mall dan tempat hiburan lain tersebut tidak bagus. Namun, terdapat beberapa hal yang tidak dapat dipenuhi oleh infrastruktur tersebut.

2      Mengurangi tingkat polusi CO2

    Seperti yang sudah kita pelajari dari sejak SD bahwa tanaman membutuhkan CO2 untuk memproduksi makanan mereka atau yang biasa kita sebut fotosintesis. Dengan adanya ruang terbuka hijau, maka semakin banyak pula tumbuhan-tumbuhan hijau di setiap kota. Maka emisi gas CO2 di udara semakin berkurang dan mem”perbersih” udara kita.

3      Sebagai Sarana Interaksi Sosial

Ruang terbuka hijau akan manarik perhatian masyarakat untuk berdatangan baik itu untuk olahraga atau sekedar bersantai dan bercengkrama dengan sesama. Hal ini akan meningkatkan interaksi sosial di masyarakat. Dengan hal tersebut, anak-anak kecil akan mendapat tempat untuk berinteraksi dengan teman sebaya mereka.

Walaupun yang kita tahu, di pandemi ini kita perlu membatasi interaksi secara fisik dengan orang lain. Oleh sebab itu perlu adanya protokol kesehatan agar kita tetap dapat menikmati ruang terbuka hijau dan menjaga kesehatan dari pandemi ini.

4      Membuka lapangan kerja

Sebuah ruang terbuka hijau perlu diberi perawatan agar dapat terjaga kebersihannya. Oleh sebab itu, akan dibutuhkan tenaga kerja dari masyarakat, yang akan mengurangi tingkat pengangguran. Selain itu, dengan adanya ruang terbuka hijau, akan menjadi tempat keramaian baru dan menjadikan tempat tersebut tempat jualan bagi sebagian pedagang. Dengan tetap mematuhi protokol yang ada, secara tidak langsung ruang terbuka hijau akan memperlancar ekonomi pedagang.

Di lain sisi, ruang terbuka hijau juga memiliki beberapa poin negatif dari ruang terbuka hijau,

5      Menimbulkan keramaian

Memang ruang terbuka hijau akan memancing keramaian masyarakat pada waktu-waktu tertentu. Keramaian jika tidak dikontrol dengan baik akan menyebabkan kemacetan di sekita ruang terbuka hijau. Selain itu, keramaian akan mendesak pemerintah perlu mencipatkan tempat parkir lebih, yang mana hal tersebut akan menghabis dana lebih untuk membangun tempat parkir baru.

Terutama pada masa pandemi ini, kata “keramaian” sedikit sensitif untuk sebagian orang. Keramaian dapat meningkatkan resiko parahnya pandemi covid-19 ini.

6      Meningkatkan anggaran pemerintah

Ruang terbuka hijau memang memilki segudang manfaat, namun jika tidak dirawat dengan baik manfaat tersebut tidak akan bertahan lama. Perlu adanya perawatan khusus untuk ruang terbuka hijau ini, yang mana akan menambah anggaran pemerintah setempat untuk hal tersebut. Hal ini akan enjadi pertimbangan dalam pembangunan ruang terbuka hijau, apakah membangun ruang terbuka hijau dengan anggaran sekian atau membangun infrastruktur lain yang dapat mengningkatkan pendapat daerah setempat.

 

Poin-poin di atas adalah beberapa dampak dari adanya ruang terbuka hijau. Namun, jika dianalisis dengan baik poin positif dari adanya ruang terbuka hijau lebih mendominasi daripada sebalikny. Hal ini disebabkan karena dampak negatif dari dibangunnya ruang terbuka hijau dapat diantisipasi dengan kebijakan-kebijakan dari pemerintah setempat.

Selanjutnya kita akan bahas mengenai solusi terkait kurangnya lahan terbuka hijau di berbagai daerah.

 

Solusi dari Pengurangan Lahan Terbuka Hijau

Solusi yang akan dijabarkan selanjutnya akan bersifat konseptual, dalam kata lain penjelasannya solusi yang kami dapat setelah berdiskusi hanya membahas ide-ide secara kasar.

Ada berbagai macam cara untuk meningkatkan ruang terbuka hijau yang ada di suatu lingkup lingkungan (dalam hal ini lingkupnya adalah kota). Mulai dari regulasi yang dibuat oleh pemerintah sekitar hingga kegiatan yang dilakukan secara masif oleh pemerintah maupun masyarakat. 

Regulasi yang dapat meningkatkan ruang terbuka hijau sepertinya bukanlah hal asing lagi bagi kita. Pemerintah kita pun sudah menetapkan nominal ideal untuk luas ruang terbuka hijau di daerah perkotaan. Contoh dari regulasi ini adalah Pasal Ayat 2 dan 3 UU No. 26 tahun 2007 tentang ruang terbuka hijau. Pasal tersebut mengatakan bahwa proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota, sedangkan proporsi ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20 (dua puluh) persen dari luas wilayah kota. Namun, menurut Anggia Murni, Core Founder Green Building Council Indonesia (GBCI) & Principal of Tropica Greeneries, pada tahun 2019, ruang terbuka hijau di Jakarta tidak mencapai 30%. Oleh karena itu, regulasi-regulasi tentang ruang terbuka hijau harus lebih diperketat lagi oleh pemerintah.

Ide lain dalam membantu proses peningkatan lahan terbuka hijau adalah dengan pembuatan software yang dapat menentukan apakah wilayah tertentu memiliki kekurangan lahan terbuka hijau. Software ini akan mengambil variabel-variabel yang relevan, seperti tingkat oksigen di atmosfer, kepadatan penduduk, luas ruang terbuka hijau, dan tingkat polusi udara (variabel sangat mungkin untuk bertambah demi akurasi hasil yang lebih teliti). Kemudian, dari variabel-variabel ini ditentukan apakah suatu wilayah kekurangan ruang terbuka hijau atau tidak.Tentu saja perhitungan ini akan membutuhkan tenaga ahli agar hasil yang didapat valid,

Sebelumnya sudah disinggung tentang kegiatan masif yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah. Kegiatan masif dalam rangka peningkatan ruang terbuka hijau pernah dilakukan sebelumnya oleh dua orang YouTuber bernama MrBeast dan Mark Rober. Mereka menggalang dana dimana setiap 1 USD yang didonasi, satu pohon akan ditanam. Pada akhirnya mereka pun berhasil menggalang dana sebesar 20 juta USD dan menanam 20 juta pohon. Tentu saja menanam 20 juta pohon bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu mereka memanfaatkan teknologi drone. Drone-drone ini diprogram untuk menjatuhkan biji-biji pohon ke lahan yang luas secara teratur. Dengan memanfaatkan teknologi, mereka pun berhasil menanam 20 juta pohon.

Penanaman pohon secara masif juga harus dilakukan di kota kita. Kita tidak perlu bersaing dengan MrBeast dan Mark Rober. Penanaman satu pohon untuk satu keluarga pun akan sangat membantu dalam proses peningkatan ruang terbuka hijau. Kegiatan masif seperti yang dilakukan MrBeast dan Mark Rober pun terbukti dapat dilakukan. Maka dari itu semua hanya perihal masyarakat yang harus memiliki niat serta tekad yang bulat dan satu, yaitu demi lingkungan masa depan yang lebih baik.

 

 

 

 

Ditulis oleh :

  • Muhammad Fajar Ramadhan / 16520106
  • Farhan Afif / 16520016
  • Mochammad Ramadhany / 16520286

 

Resume Kuliah Publik : Inovasi IoT untuk Pengembangan Ekonomi Digital

Kuliah publik ini diisi oleh Dr. Fadhil Hidayat. Beliau membicarakan tentang pengaruh-pengaruh IoT yang sangat signifikan di sebuah barang atau produk. Bahkan, jika suatu produk diintegrasikan dengan IoT, nilai mutu dan harganya akan meningkat. Oleh karena itu, inovasi-inovasi IoT akan sangat membantu dalam proses pengembangan ekonomi di bidang digital.

Tentu saja inovasi-inovasi ini tidak akan muncul dengan sendirinya. Kita sebagai mahasiswa memiliki peran penting dalam hal ini. Kita adalah “alat penggerak” yang akan memunculkan inovasi-inovasi ini. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa jangan hanya tinggal diam.  Marilah kita menjadi mahasiswa yang aktif, kreatif, dan inovatif.

Tugas Pengantar Rekayasa Desain : Problem 3

NEED : Mengetahui jumlah kios cukur rambut pria di kota Bandung.

KNOW : 

Jumlah penduduk kota Bandung sekitar 2,5 juta jiwa

Luas wilayah kota Bandung adalah 167,7 km²

(sumber : ppid.bandung.go.id)

Diasumsikan setiap 1 km², terdapat 2 kios potong rambut pria

HOW: Mengalikan luas wilayah kota Bandung dengan asumsi 2 kios potong rambut per 1 km².

SOLVE : 

167,7 km² x 2 kios / 1 km² = 335,4 ≈ 336 kios potong rambut pria.

Tugas Pengantar Rekayasa Desain : Problem 2

NEED : Mengetahui pertambahan panjang yang terjadi jika panjang kabel vertikal yang digunakan untuk menyangga beban 20 ton adalah 8 m.

KNOW : Ketika panjang kabel vertikal nya 4 m, kabel tersebut bertambah 20 cm.

HOW : Menggunakan rumus modulus Young untuk mendapatkan korelasi antara panjang mula-mula kabel dengan perubahan panjang kabel.

Rumus dari Modulus Young ini adalah : E = (F. LO) / (A. ΔL), dimana:

E = modulus Young (modulus elastisitas)

F = gaya bekerja (dalam satuan Newton)

A = luas penampang benda (dalam satuan m²)

ΔL = perubahan panjang benda (dalam satuan meter)

LO = panjang awal benda (dalam satuan meter)

Karena di problem ini hanya panjangnya yang diubah, maka besar E, F, dan A di kedua kabel adalah  sama sehingga tersisa 2 variabel (ΔL dan LO) yang dapat dihubungkan atau dapat dirumuskan sebagai berikut:

Aa. Ea/Fa = Ab. Eb/Fb

LOa/ΔLa = LOb/ΔLb

dimana:

a = kabel dengan panjang 4 meter

b = kabel dengan panjang 8 meter

SOLVE :

Diketahui : LOa = 4 m ; ΔLa = 20 cm = 0.2 m ; LOb = 8 meter

Ditanya :  ΔLb (perubahan panjang kabel b (8 meter)

Jawab :

LOa/ΔLa = LOb/ΔLb

4 / 0.2 = 8 / ΔLb

ΔLb = 8 . 0,2 / 4 = 0.4 m = 40 cm

Maka, besar pertambahan panjang pada kabel b (kabel dengan panjang 8 m) adalah 40 cm.

Berkurangnya Lahan Terbuka Hijau di Pangkalan Jati Baru

Hasil gambar untuk tol andarasumber : detik.com

Foto diatas adalah kondisi terkini di daerah Pangkalan Jati Baru. Dengan dibangunnya Tol Desari, banyak daerah di Pangkalan Jati Baru, terutama di Jalan Raya Andara, yang tergusur termasuk lahan hijau yang ada di sekitaran Jalan Raya Andara. Pemerintah memang sudah berusaha menanggulangi hilangnya lahan hijau dengan membuat sebuah taman yang bernama Taman Kiara Payung. Namun, menurut saya satu buah taman tidak cukup untuk menggantikan lahan-lahan hijau yang digusur. Dampak-dampak negatifnya pun dapat dirasakan secara langsung, seperti suhu lingkungan dan kuantitas debu yang meningkat.

Masalah ini bukanlah hanya tentang kenyamanan warga yang mendapat lingkungan sejuk. Berkurangnya lahan hijau dapat meningkatkan pemanasan global yang mengancam keselamatan manusia. Jika di daerah kecil, seperti Pangkalan Jati Baru, masalah berkurangnya lahan hijau ini dianggap remeh, apalagi dengan lingkup yang lebih besar?  Untuk mengatasi masalah besar, harus dimulai dari hal-hal yang kecil. Oleh karena itu, saya berharap pemerintah akan menganggap permasalahan ini dengan serius.

Resume Kuliah Publik : Sistem Cerdas untuk Peningkatan Kualitas Hidup

Kuliah publik yang bertemakan Sistem Cerdas untuk Peningkatan Kualitas Hidup ini. diisi oleh Prof. Suhono Harso Supangkat.  Beliau menerangkan konsep-konsep tentang sistem cerdas dan betapa pentingnya implementasi sistem cerdas ini kedalam kehidupan kita.

Sistem Cerdas atau Smart System dapat diartikan sebagai generasi terbaru sistem komputasi yang ketika digabungkan dengan artificial intelligence, machine learning, dan teknologi IoT, akan dapat mengintegrasikan sistem-sistem yang sudah ada dengan jaringan dan data dari berbagai macam sumber sehingga sistem ini akan menjadi bagian penting dari semua sistem informasi.

Dengan diintegrasikan sistem cerdas ini,  kita mengharapkan  terwujudnya Smart City, yaitu kota yang dapat memanfaatkan sumber dayanya secara efektif dan efisien  untuk menyelesaikan berbagai masalah kota menggunakan solusi cerdas dengan menyediakan infrastruktur dan memberikan layanan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.

Beliau melanjutkan dengan berbagai macam hadangan atau masalah yang ada dalam mewujudkan sistem cerdas ini. Oleh karena itu, peran kita sebagai mahasiswa sangat dibutuhkan untuk memunculkan inovasi-inovasi baru yang dapat mendorong kemajuan masyarakat di semua aspek.

Dengan kata lain, konsep sistem cerdas ini penting untuk diwujudkan demi kemakmuran masyarakat Indonesia dan kita memiliki peran yang krusial dalam mewujudkan konsep ini.