Pada era  1970-an, seorang pakar kecantikan asal Indonesia, Endang W. Puspoyo berminat dan gemar dengan keindahan layang-layang yang disaksikannya waktu sedang berkunjung ke Amerika Serikat.

Pertemuan dengan layang-layang itu menjadikannya sangat tertarik untuk memboyong cenderamata tersebut ke Indonesia. Sejak saat itu, Endang menyelami sejarah serta jenis layang-layang yang terdapat di dunia.

Hingga akhirnya, pada jaman di 1985 Endang membuka Merindo Kites and Gallery sebagai wadah para pelayang yang kerap membuat acara festival layang-layang. Tak berselang lama, diselenggarakan Festival Layang-layang Internasional pertama tahun 1993 di Bumi Serpong Damai-Tangerang yang didatangi  oleh ribuan pelayang dari daerah hingga pada mancanegara.

Terpikatnya Endang W. Puspoyo terhadap kesenian layang-layang membuat jiwanya tergugah untuk membeli sepetak lahan di area Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Lahan tersebut dipakai oleh Endang untuk mendirikan Museum Layang-layang yang diresmikannya di 21 Maret 2003 lalu. Museum ini menggunakan konsep Jawa dalam tiap senti bangunannya. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa bangunan yaitu beberapa pendopo yang ada mengitari areal museum.

Museum Layang-layang Jakarta ada di Jalan H. Kamang No.38, Pondok Labu, Jakarta Selatan serta buka setiap hari (kecuali hari libur nasional), mulai pukul 09.00-16.00. Museum ini juga terdapat beberapa kursus seni menggambar layang-layang, membatik serta beragam aktivitas seni lainnya yang sayang untuk tidak disaksikan.

Selain membuka kursus seni, museum ini juga terdapat jasa pesanan layang-layang besar untuk festival maupun koleksi pribadi. Aneka pesanan ini bahkan diantarkan langsung menuju Malaysia, Singapura, Taiwan, bahkan Inggris dan Jerman juga ikut menjadi jangkauan fansnya.

Pengunjung yang berkunjung bisa memulai tur keliling museum dengan membayar tiket masuk sebesar Rp.15.000,00/orang di loket pada area kiri bangunan museum. Tak jauh dari loket pembayaran, ada juga sebuah ruang audio visual.

Ruang ini dapat muat hingga kurang lebih 35 anak untuk menyaksikan video sejarah dan festival layang-layang yang pernah digelar. Di hadapan ruang audio visual, ada sebuah pendopo terbuka berlantai putih yang digunakan sebagai ruangan untuk membuat layang-layang, batik, pesta hingga pada perayaan tertentu. Ruang ini adalah sebuah ruangan serbaguna dari museum layang-layang Indonesia.

Pada sisi luar, berdiri sebuah bangunan memanjang yang dibuat dari bata merah. Bangunan ini difungsikan sebagai kantor dan ruang penerimaan tamu. Tak jauh dari area kantor tersebut, berdiri sebuah pendopo berlantai merah yang cukup luas. Pendopo ini dapat memuat kurang  lebih 70 anak untuk melakukan beragam kegiatan.

Pada bagian dalam pendopo, ada aneka koleksi layang-layang dari daerah di Indonesia hingga pada mancanegara. Tepat di sebelah pondopo, ada juga ruangan untuk aktivitas pembuatan keramik dari tanah liat, dan dua unit oven yang merupakan dapur untuk membakar keramik. Bagi yang mau melakukan kegiatan beribadah, ada musholla di pojok depan pendopo utama.

Koleksi Layang-layang di museum ini sudah menyentuh angka 600 (enam ratus). Layang-layang ini umumnya adalah bentuk sumbangan dari para pelayang yang a dida  seluruh penjuru dunia. Di dalam ruang pameran dapat ditemui beragam jenis layang-layang tradisional, seperti Angso Duo, Patah Siku dan Langlang Macho yang ada dari Sumatera.

Terdapat juga Dandang Laki dan Dandang Bini yang berasal dari game judi pulsa Kalimantan. Pengunjung juga dapat merasakan berminat datang ke Museum Layang-layang Jakarta di libur tahun ini. Nah, bagi Anda yang mau melihat setiap sudut kota Jakarta, tak ada salahnya datang dan rencanakan waktu liburan Anda bersama agen yang memang terpercaya.