Archive for August 30, 2011

Annual …

You were my best friend. Never even once in my life, a man was so close to me. Except, you. My old fellow, an ordinary man.

You were my best friend. Even without being sure what I was for you. Still, you used to be the first one, came, crossed in my mind. Anytime, anything happened, in our very short time.

You were my best friend, Dear. And we were so close together. ‘Till one single word changed our whole world. And turned the color of the sky awkwardly. Without even single notice, except the “word” itself.

The blue sky … becoming so bright I couldn’t even keep standing straight. Then it was quickly becoming gold, orange … red. And in a blink, without I realized, the twilight arrived within its bitter-sweet deep violet color. The end of our day came earlier than I thought it should.

I lost my best friend to get another “mean” of you. Yet, I’d lost the whole of you, as well. Leaving nothing but pain.

And these days, each time we meet, anytime you have a chance, you’ll say another single word, “sorry…”. Push me down, again, with another “holy” word.

Regret. Regret you say??? Of course. You have to. As I do.

For being so stupid to trade friendship off with the word of … something I don’t want to say.

Yes, as well as you, I feel sorry. But please stop to say it. The more you say “sorry”, the more our past comes and crosses my mind. Creating more and more pain in my present, and more fear for me to face my future.

You were my best friend, and I’m not giving up yet to make you my friend. An ordinary man as an ordinary friend.

With a single wish, please stop saying “sorry…” awkwardly.

High Foods Prices

Pagi ini iseng-iseng nonton “Today’s Close Up” di NHK TV. And that’s true, harga bahan makanan di seluruh dunia lagi soaring …. Gandum, kedelai, minyak goreng, beras (kali ya … kalo di Indonesia). Yang jadi penyebab? Mulai masalah cuaca, krisis ekonomi dunia sampai peningkatan konsumsi di China, India dan negara berkembang lain yang sedang memacu standar hidupnya. Sampai dibilang, krisis ini bakal bertahan mungkin sepanjang dekade ini. Aigoo

Well, sempat salah satu anggota kabinet Indonesia bilang (kira-kira kayak gini): “Gak masalah ngimpor bahan pangan. Yang penting kita bisa beli”.

Yakin? Sedangkan Jepang pun sampai mikir jungkir balik untuk mengakali situasi ini. Kita, yang mulut yang harus disuapi nya lebih banyak, could we take it that simple???

Kata saya mah nggak da. Kalo ngeliat kondisi Indonesia dibanding kedua negara berpenduduk super banyak yang sempat disebutkan di atas, kita tau lah posisi kita dimana. Ibaratnya lagi jadi penjual, pastinya kita bakal ngejual ke pihak yang bisa beli produk kita dengan harga paling tinggi, kan. Apakah pihak itu Indonesia?

Kedua, kalo pun akhirnya kita aman saja mendapatkan pangan impor, itu teh sampai kapan? Produksi pangan dunia wajib diwaspadai. Sampai suatu saat ketika krisis yang lebih besar datang, setiap negara (harusnya) akan mendahulukan kepentingan dan ketahanan pangan dalam negeri mereka. Yakin, mereka masih menyisakan untuk dijual ke Indonesia?

Ketiga ya … kalo suatu hari nanti, saat Indonesia lagi krisis pangan, trus datanglah Sang Hero berniat membantu, but with conditions … misal: satu pulau Indonesia jadi pangkalan militer dia, atau Indonesia bersedia ganti presiden. Ahey, mana yang mau dipilih? Nyelametin perut “bangsa” atau integritas “bangsa”? As it said, Bro … kebutuhan akan pangan itu kebutuhan primer, hal yang paling awal harus dipenuhi. Kalo urusan integritas, saat kita lapar, kayaknya bisa jadi gak kepikiran dah. Apalagi kalo yang lapar teh lebih dari 200 juta orang.

Makanya, kalo buat saya sendiri sih jadi makin yakin bahwa Indonesia mesti kembali ke Ibu Pertiwi nya. Jujur saya bukan orang yang nasionalis, saya bahkan bisa dibilang tak banyak setuju dengan nasionalisme. Tapi kita tau pasti dimana kita hidup, dimanapun itu, harusnya kita bisa berdikari.

Produksi pangan kita mesti digenjot. Saya gak lagi bilang hutan mesti dibalak buat jadi lahan pertanian ya … Itu urusan yang beda. Tapi yang jelas, arah pertanian, peternakan, perikanan Indonesia mesti diperjelas. Dan diperjelas itu bukan cuma ditunjuk arahnya ya, atau targetan taunan, 5 taunan, 10 taunan harus udah sampe mana. Tapi dari mulai konsep, pilihan strategi sampai manajemennya terkait kepentingan-kepentingan lain di negeri ini. Jangan cuma bisa nambang sama ngebolongin lantai tanah air Bro … Barangnya bisa dijual jadi duit emang. Tapi, apa duit bisa dimakan? (Bisa sih, cuma yakin deh, bakal membawa malnutrisi)

Pokoknya saya mah makin yakin pengen bikin perkebunan, mesti punya sawah, punya peternakan sendiri. Kalo bisa, punya sebagian lahan yang dihutankan. Bisi we, kawan-kawan saya yang sebangsa dan setanah air cukup gegabah menghabisi seluruh hutan Ibu Pertiwi. Mau nyari emas, batubara sama minyak bumi cenah … Hehehehe …

Da saya mah ngerasa gak bakal mampu hidup dilepas di gudang batubara … meski dikasih emas satu ton juga, kalo gak ada makanan, saya mau ngapain? emas emang alat tukar universal, tapi dituker sama apa-nya itu yang jadi poin. Masa dituker sama emas lagi? Saya belum ber-evolusi sejauh itu … sampe bisa mengambil energi dari metabolisme emas. Hahahaha …

Seminar Kelompok Keahlian Ekologi dan Biosistematika

Seminar ini merupakan ajang temu kangen penghuni EB … Buat controlling kualitas juga bro … Ini detailnya.

Tujuan:

  1. Meningkatkan academic atmosfer.
  2. Meningkatkan kualitas risetdan komunikasi ilmiah.
  3. Koordinasi dan pertukaran informasi.

Bentuk:

  1. Presentasi (kemajuan riset, kunjungan, film/foto,dsb).
  2. Diskusi (issue, bedah buku, dsb).
  3. Kerja kelompok/workshop kecil.

Operasional:

  1. Swakarsa
  2. Swadaya
  3. Swasembada

WAJIB BUAT CIVITAS ACADEMICA EKOLOGI DAN BIOSISTEMATIKA …!!!