Burung Tangkapan Hari Ini

Suatu hari di salah satu grup yang saya buat di jejaring FB, ada yang bilang bakal bagus kalo ada tulisan-tulisan berisi deskripsi burung-burung yang ada di Kampus Ganesha. Ya … maksudnya tak sekedar list, soalnya kalo buat orang awam, mana tau lah gimana caranya ngebedain pipit dari burung gereja … atau kalo ditulis suatu nama, belum tentu juga ngeuh wujudnya kayak apa. So … well, hayu mari kita coba saja sekarang. Mumpung pas masuk kuliah semester ini institut bikin fasilitas blog buat mahasiswa. Sekalian kembali bernostalgia dengan kawan-kawan lama.

Mari awali perjumpaan kita dengan 3 spesies burung yang cukup khas di kampus ini.

Psittacula alexandri (Betet Biasa, Red-Breasted Parakeet, Betet)

Burung betet biasa dalam kampus biasa ditemukan di daerah gerbang depan, lapangan SR, lapangan sipil, Salman dan Taman Ganesha. Gak susah nemuinnya, serius. Cukup pasang telinga dan carilah suara-suara bawel sang burung di sekitar kita. Kalo udah dapet, coba cek aja. Jika burung itu berukuran sedang, warna hijau dada merah atau jingga, paruh khas nuri-nurian (Psittacidae) dan ekornya panjang lancip … maka CONGRATZ!!! Itu burung yang kita cari.

Morfologi

Berukuran sedang (34 cm), warna kehijauan dengan dada merah jambu hingga jingga. Dewasa: mahkota dan pipi abu-abu-ungu dengan kekang hitam, tengkuk, punggung, sayap, dan ekor hijau. Kumis hitam jelas, dada merah jambu hingga kejinggaan, paha dan perut hijau pucat. Juvenil: kepala coklat-kuning tua, kumis hitam kurang jelas. Iris kuning, paruh merah, kaki abu.

Betet Biasa

Suara

Seruan tajam berulang “kekekek”, teriakan parau seperti terompet.

Kebiasaan

Beraktivitas, beristirahat dan bersarang dalam kelompok. Terbang bising-mencolok, terbang redah-cepat melalui tempat terbuka. Hinggap dengan kepakan sayap ribut. Makan dan beristirahat sambil berteriak. In short, OBVIOUSLY BERISIK.

Di Taman Ganesha, biasanya kelompok betet menghuni pucuk-pucuk pohon tinggi. Cemara udang, ganitri … jadi tempat favorit mereka. Di Gerbang depan, Lapangan SR dan Sipil mereka sering terlihat terbang bergerombol di atas kanopi formasi mahoni dan damar. Di lapangan sipil, mereka sering bertengger di pohon besar Ki Acret. Beberapa bahkan bersarang di pohon tersebut.

Untuk spesies ini, dengan atau tanpa binok, insyaAllah kita tetap bisa menikmati tingkah mereka dengan jelas.

 

Pycnonotus aurigaster (Cucak Kutilang, Sooty-headed Bulbul, Cangkurileung)

Jenis ini merupakan anggota Famili Picnonotidae (cucak-cucakan). Sama seperti si betet, dijamin tak susah untuk mengamati kutilang di kampus Ganesha. Jenis ini sering beraktivitas di lokasi yang sangat mudah dijangjau mata. Tak jarang, berdekatan dengan manusia.

Morfologi

Ukuran sedang (20 cm) dengan topi hitam, tungir keputih-putihan dan tungging jingga-kuning. Dagu dan kepala atas hitam. Kerah, dada, perut putih. Sayap hitam ekor coklat. Iris merah. paruh dan kaki hitam.

Kutilang

Suara

Merdu dan nyaring “cuk-cuk” dan “cang-kur” yang diulang cepat.

Kebiasaan

Hidup berkelompok, aktif dan ribut. Menyukai tempat terbuka, di perkotaan biasa di taman, pekarangan, perdu dan semak. Di kampus bisa dijumpai di mana pun. Dari taman rumput hingga atap PAU. Termasuk jenis yang melimpah. Tak jarang bertengger dan berbunyi di pucuk pohon cemara … Sering terlihat ber”kelahi” atau ber-“cumbu” di perdu-perdu sekitar kita. Best friends di saat suntuk dan butuh senyam-senyum sendiri.

 

Megalaima haemacephala (Takur Ungkut-Ungkut, Coppersmith Barbet, Ungkut-Ungkut)

Pernah dengan suara “kut-kut-kut” atau “tuk-tuk-tuk bergaung di sekitar kampus??? That’s it. Ungkut-ungkut. Ukurannya cukup kecil, tapi suaranya cukup nyaring untuk diandalkan sebagai bahan utama identifikasi ungkut-ungkut.

Morfologi

Berukuran kecil (15 cm). Mahkota, alis, pipi, tenggorokan, dada atas merah padam. Punggung, sayap, ekor hijau kebiruan. Tubuh bawah putih kotor dengan coretan hitam. Iris coklat, paruh hitam, kaki merah.

Ungkut-Ungkut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suara

Monoton, bergaung metaoik “kut-kut-kut” (tuk-tuk-tuk) selama beberapa menit dengan tempo tetap sekitar 110 nada per menit. Ekor menjentik ke depan setiap ritme. Suara lain lebih lambat dilakukan dengan kepala menyentak dan ekor diam.

Kebiasaan

Menyukai daerah terbuka, biasa menghuni kanopi teratas. Di kampus dengan mudah bisa ditemukan di puncak formasi pohon kenari di boulevard, cemara udang Taman Ganesha, hingga akasia Labtek Biru. In short, dimana pun bunyi khas ungkut-ungkut bisa muncul. Bunyi yang sangat khas di kampus hingga ia bisa diidentifikasi hanya lewat bunyi.

 

Those are … tiga spesies yang sangat umum di kampus ITB. Ulasan selanjutnya akan menyajikan spesies lain di kampus ini. Untuk segala info deskripsi per spesies, bersumber dari Field Guide SKJB Pak MacKinnon. Datanglah ke Lab Eko untuk meminjam atau sekedar baca-baca … Sangat berguna, untuk yang betulan birder maupun pemula.

See you …

One comment

  1. semua gambar berasal dari buku panduan lapangan MacKinnon dkk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *