Archive for August 24, 2011

Burung Tangkapan Hari Ini

Suatu hari di salah satu grup yang saya buat di jejaring FB, ada yang bilang bakal bagus kalo ada tulisan-tulisan berisi deskripsi burung-burung yang ada di Kampus Ganesha. Ya … maksudnya tak sekedar list, soalnya kalo buat orang awam, mana tau lah gimana caranya ngebedain pipit dari burung gereja … atau kalo ditulis suatu nama, belum tentu juga ngeuh wujudnya kayak apa. So … well, hayu mari kita coba saja sekarang. Mumpung pas masuk kuliah semester ini institut bikin fasilitas blog buat mahasiswa. Sekalian kembali bernostalgia dengan kawan-kawan lama.

Mari awali perjumpaan kita dengan 3 spesies burung yang cukup khas di kampus ini.

Psittacula alexandri (Betet Biasa, Red-Breasted Parakeet, Betet)

Burung betet biasa dalam kampus biasa ditemukan di daerah gerbang depan, lapangan SR, lapangan sipil, Salman dan Taman Ganesha. Gak susah nemuinnya, serius. Cukup pasang telinga dan carilah suara-suara bawel sang burung di sekitar kita. Kalo udah dapet, coba cek aja. Jika burung itu berukuran sedang, warna hijau dada merah atau jingga, paruh khas nuri-nurian (Psittacidae) dan ekornya panjang lancip … maka CONGRATZ!!! Itu burung yang kita cari.

Morfologi

Berukuran sedang (34 cm), warna kehijauan dengan dada merah jambu hingga jingga. Dewasa: mahkota dan pipi abu-abu-ungu dengan kekang hitam, tengkuk, punggung, sayap, dan ekor hijau. Kumis hitam jelas, dada merah jambu hingga kejinggaan, paha dan perut hijau pucat. Juvenil: kepala coklat-kuning tua, kumis hitam kurang jelas. Iris kuning, paruh merah, kaki abu.

Betet Biasa

Suara

Seruan tajam berulang “kekekek”, teriakan parau seperti terompet.

Kebiasaan

Beraktivitas, beristirahat dan bersarang dalam kelompok. Terbang bising-mencolok, terbang redah-cepat melalui tempat terbuka. Hinggap dengan kepakan sayap ribut. Makan dan beristirahat sambil berteriak. In short, OBVIOUSLY BERISIK.

Di Taman Ganesha, biasanya kelompok betet menghuni pucuk-pucuk pohon tinggi. Cemara udang, ganitri … jadi tempat favorit mereka. Di Gerbang depan, Lapangan SR dan Sipil mereka sering terlihat terbang bergerombol di atas kanopi formasi mahoni dan damar. Di lapangan sipil, mereka sering bertengger di pohon besar Ki Acret. Beberapa bahkan bersarang di pohon tersebut.

Untuk spesies ini, dengan atau tanpa binok, insyaAllah kita tetap bisa menikmati tingkah mereka dengan jelas.

 

Pycnonotus aurigaster (Cucak Kutilang, Sooty-headed Bulbul, Cangkurileung)

Jenis ini merupakan anggota Famili Picnonotidae (cucak-cucakan). Sama seperti si betet, dijamin tak susah untuk mengamati kutilang di kampus Ganesha. Jenis ini sering beraktivitas di lokasi yang sangat mudah dijangjau mata. Tak jarang, berdekatan dengan manusia.

Morfologi

Ukuran sedang (20 cm) dengan topi hitam, tungir keputih-putihan dan tungging jingga-kuning. Dagu dan kepala atas hitam. Kerah, dada, perut putih. Sayap hitam ekor coklat. Iris merah. paruh dan kaki hitam.

Kutilang

Suara

Merdu dan nyaring “cuk-cuk” dan “cang-kur” yang diulang cepat.

Kebiasaan

Hidup berkelompok, aktif dan ribut. Menyukai tempat terbuka, di perkotaan biasa di taman, pekarangan, perdu dan semak. Di kampus bisa dijumpai di mana pun. Dari taman rumput hingga atap PAU. Termasuk jenis yang melimpah. Tak jarang bertengger dan berbunyi di pucuk pohon cemara … Sering terlihat ber”kelahi” atau ber-“cumbu” di perdu-perdu sekitar kita. Best friends di saat suntuk dan butuh senyam-senyum sendiri.

 

Megalaima haemacephala (Takur Ungkut-Ungkut, Coppersmith Barbet, Ungkut-Ungkut)

Pernah dengan suara “kut-kut-kut” atau “tuk-tuk-tuk bergaung di sekitar kampus??? That’s it. Ungkut-ungkut. Ukurannya cukup kecil, tapi suaranya cukup nyaring untuk diandalkan sebagai bahan utama identifikasi ungkut-ungkut.

Morfologi

Berukuran kecil (15 cm). Mahkota, alis, pipi, tenggorokan, dada atas merah padam. Punggung, sayap, ekor hijau kebiruan. Tubuh bawah putih kotor dengan coretan hitam. Iris coklat, paruh hitam, kaki merah.

Ungkut-Ungkut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suara

Monoton, bergaung metaoik “kut-kut-kut” (tuk-tuk-tuk) selama beberapa menit dengan tempo tetap sekitar 110 nada per menit. Ekor menjentik ke depan setiap ritme. Suara lain lebih lambat dilakukan dengan kepala menyentak dan ekor diam.

Kebiasaan

Menyukai daerah terbuka, biasa menghuni kanopi teratas. Di kampus dengan mudah bisa ditemukan di puncak formasi pohon kenari di boulevard, cemara udang Taman Ganesha, hingga akasia Labtek Biru. In short, dimana pun bunyi khas ungkut-ungkut bisa muncul. Bunyi yang sangat khas di kampus hingga ia bisa diidentifikasi hanya lewat bunyi.

 

Those are … tiga spesies yang sangat umum di kampus ITB. Ulasan selanjutnya akan menyajikan spesies lain di kampus ini. Untuk segala info deskripsi per spesies, bersumber dari Field Guide SKJB Pak MacKinnon. Datanglah ke Lab Eko untuk meminjam atau sekedar baca-baca … Sangat berguna, untuk yang betulan birder maupun pemula.

See you …

Daftar Spesies Burung Kampus ITB

 

Pernah merasa bahwa kampus ITB sangat indah? Harusnya pernah lah ya … Dengan salah satu yang istimewa adalah keragaman spesies burung yang dimiliki lokasi ini.

Berikut adalah daftar spesies burung kampus ITB dan Taman Ganesha yang ada dan/atau pernah ada. Well, sama seperti kebanyakan lokasi di negeri tercinta ini, kampus ITB tak terkecuali juga mengalami kerusakan habitat (ini kalo kita lihat dari kacamata ekologi ya … soalnya kalo versi manusia metropolitan mah bisa jadi dianggap makin “rapi”, “seragam” dan makin “nyaman”).

  1. Acridotheres javanicus | Kerak kerbau
  2. Acridotheres tristis | Kerak ungu
  3. Aegithina tiphia | Cipoh Kacat
  4. Alcedo meninting |  Raja udang meninting
  5. Amandava amandava | Pipit merah
  6. Aplonis minor | Perling kecil
  7. Apus affinis | Kapinis rumah
  8. Cacomantis merulinus |  Wiwik kelabu
  9. Cacomantis sepulcralis | Wiwik incuing
  10. Caprimulgus affinis | Cabak kota
  11. Cinnyris jugularis | Burung madu sriganti
  12. Collocalia esculenta | Walet sapi
  13. Collocalia fuciphaga | Walet sarang-putih
  14. Collocalia maxima | Walet sarang-hitam
  15. Columba livia | Merpati batu
  16. Cyanoptila cyanomelana | Sikatan biru putih (migran)
  17. Delichon dasypus | Layang-layang rumah
  18. Dendrocopos macei | Caladi Ulam
  19. Dendrocopos moluccensis | Caladi tilik
  20. Dicaeum trochileum | Cabe jawa
  21. Halcyon cyanoventris | Cekakak jawa
  22. Hirundo rustica | Layang-layang asia
  23. Hydrochous gigas | Walet raksasa
  24. Lonchura leucogastroides | Bondol jawa
  25. Loriculus galgulus | Serindit Melayu
  26. Loriculus pusillus | Serindit jawa
  27. Megalaima haemacephala | Takur ungkut-ungkut
  28. Nycticorax nycticorax | Kowak malam kelabu (ex)
  29. Orthotomus sepium | Cinenen jawa (legenda)
  30. Orthotomus sutorius | Cinenen pisang
  31. Othotomus ruficeps | Cinenen kelabu
  32. Parus major | Gelatik batu
  33. Passer montanus | Gereja eurasia
  34. Phylloscopus borealis | Cikrak kutub (migarn)
  35. Prinia flaviventris | Perenjak
  36. Psittacula alexandri | Betet biasa
  37. Pycnonotus aurigaster | Kutilang
  38. Streptopelia chinensis | Tekukur biasa
  39. Sturnus contra | Jalak suren (legenda)
  40. Sturnus melanopterus | Jalak putih (legenda)
  41. Treron curvirostra | Punai lengguak
  42. Treron griseicauda | Punai penganten
  43. Treron oxyura | Punai salung
  44. Tyto alba | Serak jawa
  45. Zosterops palpebrosus | Kacamata biasa

Well, meski sebagian spesies sudah berubah menjadi “legenda”, kita bisa cukup terhibur dengan masih ditemukannya spesies-spesies baru yang belum tercatat di lokasi kampus gajah duduk ini.

Maka berjuanglah KPB “Nymphaea” … ayo kita lengkapi daftarnya. Buat yang punya tambahan, mangga sharing disini.

LEMBAH SANGKURIANG: Antara Surga dan Neraka

Lembah Sangkuriang adalah sebutan terhadap sebidang tanah di wilayah Cisitu-Sangkuriang, tepat di tepi timur Sungai Cikapundung. Dengan tipe asli vegetasi pegunungan yang sudah  hilang, wilayah ini kini berupa lahan rumput-semak dengan sedikit tegakan perdu-pohon. Selain itu, kondisi musim penghujan beberapa waktu lalu dan lokasinya yang berada di tepian sungai, membuat wilayah ini pernah menjelma sebagai sepetak lahan basah di tengah Kota Bandung.

 

"Lembah Sangkuriang"

Lembah Sangkuriang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sedikitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam kota Bandung membuat keberadaan Lembah Sangkuriang menjadi sangat bernilai karena seakan merupakan surga bagi berbagai jenis burung. Terutama untuk jenis yang tidak mampu berkompetisi di kawasan taman kota, lembah ini menjanjikan tempat tinggal dan makanan yang cukup berlimpah. Tidak hanya bagi burung lahan tertutup dan perdu-semak, lokasi ini juga digemari oleh beragam jenis burung lahan basah. Berikut adalah daftar burung yang terdapat di lokasi ini.

  1. Accipiter sp. | Elang
  2. Acridotheres javanicus | Kerak kerbau
  3. Alcedo meninting | Raja Udang Meninting
  4. Amaurornis phoenicurus | Kareo padi
  5. Apus affinis | Kapinis rumah
  6. Bradypterus sebohni | Ceret kuning
  7. Cacomantis merulinus | Wiwik kelabu
  8. Cacomantis sepulcralis | Wiwik incuing
  9. Centropus sp. | Bubut
  10. Collocalia esculenta | Walet sapi
  11. Collocalia maxima | Walet sarang-hitam
  12. Delichon dasypus | Layang-layang rumah
  13. Dicaeum trochileum | Cabe jawa
  14. Dicrurus leucophaeus | Srigunting kelabu
  15. Halcyon chloris | Cekakak sungai
  16. Halcyon cyanoventris | Cekakak jawa
  17. Hydrochous gigas | Walet raksasa
  18. Ixobrychus cinnamomeus | Bambangan merah
  19. Lonchura leucogastroides | Bondol jawa
  20. Cinnyris jugularis | Burung madu sriganti
  21. Orthotomus sutorius | Cinenen pisang
  22. Passer montanus | Gereja eurasia
  23. Picoides moluccensis | Caladi tilik
  24. Prinia polychroa | Perenjak coklat
  25. Pycnonotus aurigaster | Kutilang
  26. Streptopelia chinensis | Tekukur biasa
  27. Zosterops palpebrosus | Kacamata biasa

Daftar di atas memperlihatkan bahwa komposisi komunitas burung di lokasi ini cukup kompleks. Dari burung granivora, frugivora, insektivora, piscivora hingga jenis raptor-predator dapat diamati di lokasi ini. Menilik kekayaan spesies yang sebetulnya dalam kondisi nyata (dengan frekuensi dan intensitas pengamatan lebih tinggi) lebih besar lagi, dapat dikatakan bahwa wilayah Lembah Sangkuriang merupakan surga bagi komunitas burung di area urban Kota Bandung.

Salah satu yang menjadi istimewa adalah dengan adanya jenis burung lahan basah. Bambangan merah (Ixobrychus cinnamomeus) dan kareo padi (Amaurornis phoenicurus) yang kini tidak umum ditemukan di kawasan Kota Bandung dapat ditemukan di lokasi ini. Selain kedua spesies itu, kita juga dengan mudah dapat menemukan jenis cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) dan cekakak sungai (Todirhamphus chloris). Jenis ini biasanya ditemukan bertengger atau terbang di antara tegakan pohon di bantaran sungai dan mengeluarkan bunyinya yang khas.

Hanya saja, terlepas dari keunikan spesies burung yang dimilikinya, wilayah ini tak kurang juga merupakan neraka perangkap burung komersial yang mengkhawatirkan. Praktek penangkapan dilakukan secara terbuka nyaris di setiap titik dalam wilayah lembah secara bergantian. Perangkap yang biasa digunakan adalah mist net (jaring kabut) dengan pancingan berupa burung yang sudah tertangkap. Berikut adalah gambar yang diambil di lokasi ini.

 

"Mist Net"

 

 

 

 

 

 

 

 

Praktek penangkapan burung di lokasi ini sungguh menyedihkan. Di saat burung-burung tersebut kalah berkompetisi di lingkungan Taman Kota dimana ia dilindungi dan memang dilarang untuk diganggu, spesies-spesies tersebut justru lebih memilih hidup di lokasi yang rentan terhadap perburuan. Selain surga, Lembah Sangkuriang tak kurang juga merupakan bentukan “indah” dari neraka.

Dalam tataran antroposentrisme, manusia menekankan fungsi dan pemanfaatan lingkungan sebagai sarana penyelenggaraan kepentingan manusia. Dalam hal ini, alam diperlakukan  hanya sebagai pemenuh kebutuhan hidup manusia. Berikut adalah beberapa poin dari antroposentrisme yang berlaku  pada kasus penangkapan burung di Lembah Sangkuriang.

 

  • Mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung jawab manusia.

Dalam hal ini, masyarakat sekitar melihat bahwa keberadaan spesies-spesies komersial seperti kutilang dan perenjak jawa merupakan aset ekonomi yang berhak mereka manfaatkan. Terutama untuk perenjak jawa, jenis ini tidak lagi umum ditemukan di seputar RTH Kota Bandung dalam jumlah besar. Karena itulah, keberadaannya di sekitar tempat tinggal mereka menjadi sangat penting. Di sisi lain, perlindungan terhadap burung kawasan urban seharusnya juga merupakan tanggungjawab dari masyarakat. Sayangnya, dalam antroposentrisme hal ini belum dianggap penting.

  • Mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya.

Masyarakat, dan mungkin sebagian dari kita, akan lebih prihatin pada kondisi masyarakat dengan kebutuhan finansialnya daripada pada kehidupan komunitas burung kawasan urban. Terlepas dari apakah penangkapan burung untuk komersialisasi merupakan mata pencaharian utama atau bukan, kebanyakan dari kita akan merasa ragu untuk melarang penangkapan burung di lokasi ini.

  • Norma utama yang berlaku adalah untung rugi.

Bagi masyarakat dengan orientasi finansial dan kesadaran lingkungan yang belum memadai, untung rugi usaha penangkapan adalah hal yang utama. Masyarakat antroposentris tidak memperhitungkan kerugian ekologis bila terjadi kepunahan lokal di Lembah Sangkuriang.

  • Mengutamakan rencana jangka pendek.

Masyarakat pada dasarnya bisa jadi memahami bahwa ada kemungkinan populasi burung komersial di lokasi ini habis. Namun, bagi mereka hal ini tidak menjadi masalah. Yang penting adalah dalam jangka waktu pendek (sekarang), mereka dapat meraup keuntungan sebanyak mungkin.

 

Di lain sisi, dalam UU No. 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dinyatakan bahwa bahwa “sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari, selaras, serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, baik masa kini maupun masa depan”. Dengan begitu, secara jelas terdapat keharusan bagi kita untuk memikirkan bagaimana caranya agar spesies burung kawasan urban ini dapat dipertahankan kelestariannya. Berikut adalah beberapa hal yang penulis pikir dapat dilakukan.

  • Melakukan pengamatan dan inventarisasi kekayaan spesies secara lebih sistematik.

Hal ini menjadi penting mengingat bahwa upaya apapun yang kita lakukan kemudian untuk mengubah kondisi ini, haruslah didasarkan pada data lapangan yang valid. Pengamatan yang telah dilakukan selama ini belum cukup kuat sebagai dasar karena tidak menggunakan metode pengamatan standar. Data yang diambil seharusnya dapat menggambarkan struktur komunitas burung dan kelimpahannya. Inventarisasi harus dilakukan dengan segera untuk mencegah keterlambatan akibat kepunahan lokal.

"KPB"

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Melakukan pendekatan kepada masyarakat.

Berdasarkan konsep yang berlaku, program perlindungan Sumber Daya Hayati tidak dapat dilepaskan dari peran serta masyarakat. Secara resmi, pasal 37 UU No. 5/1990 menyatakan bahwa:

(1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna.

(2) Dalam mengembangkan peranserta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan.

Meskipun begitu, kita juga termasuk ke dalam masyarakat. Kepemilikan kesadaran berlebih pada akademisi seperti kita haruslah dimanfaatkan dan ditindaklanjuti, dengan atau tanpa terlebih dulu ada insisiasi dari pemerintah. Bahkan, seharusnya kita yang dapat mengupayakan agar pemerintah turut serta dalam usaha ini.

  • Melakukan pendekatan pada pemerintah.

Berdasarkan penjelasan pasal 57 ayat 1 UU No. 32 tahun 2009 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pemerintah kota dapat melakukan pencadangan sumber daya alam melalui pencanangan RTH (minimal 30% dari luas kawasan). Dalam  hal ini, meski kita biasanya langsung merujuk RTH kepada taman kota, sebetulnya RTH bukan hanya itu.

Jika kita melihat lahan terbuka hijau di lingkungan perkotaan, berupa taman atau bukan, itu adalah RTH. Masalahnya adalah, RTH yang secara tegas merupakan  taman kota saja banyak yang terbengkalai, apalagi yang bukan.

Selain itu, pemerintah hanya mencangkan sebagian kecil dari lingkungan RTH yang dimilikinya dalam  upaya perlindungan burung kawasan urban. Dalam contoh taman kota misalnya adalah Taman Ganesha, Taman Maluku, dll. Padahal, lingkungan taman kota adalah lingkungan buatan dengan tipe ekosistem dan  vegetasi yang nyaris seragam. Karena itulah, pada akhirnya banyak spesies yang justru tidak dapat terfasilitasi. Misal: spesies burung lahan basah dan granivora.

  • Melakukan pendekatan pada pemilik lahan.

Pada dasarnya, adalah tidak sehat untuk membangun pemukiman atau bangunan apapun di kawasan bantaran sungai. Namun, nampaknya lokasi pengamatan Lembah Sangkuriang ini tidak kurang juga sudah dicanangkan untuk dibangun. Hal ini nampak dari terdapatnya saluran air dan petak-petak kapling lahan, meski dalam keadaan tidak terurus. Konfirmasi kepada pemilik lahan akan sangat membantu upaya perlindungan. Bagaimanapun, pemilik lahan adalah pihak yang berkuasa penuh atas penggunaan lahan tersebut.

Berdasarkan  paparan  tersebut, kita dapat melihat bahwa sejelek apapun antroposenstrisme dalam  pikiran kita, pada kenyataannya hal tersebut masih terjadi. Tidak jauh-jauh, hal ini terjadi di sekitar lingkungan kampus dan tempat tinggal kita sendiri. Padahal, manusia merupakan salah satu bagian yang terintegrasi dengan lingkungan. Sebagai makhluk hidup yang membutuhkan lingkungan, manusia memiliki kewajiban untuk menghormati, menghargai dan menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalam lingkungan.

Manusia itu temasuk kita. Perilaku positif kita sebagai manusia dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari, termasuk lingkungan  urban kota kita ini. Karena itulah, mulai saat ini juga kita harus bergerak sesuai dengan kemampuan dan keterampilan kita masing-masing. Dengan begitu, meski sedikit, kita dapat berkontribusi dan mempertanggungjawabkan ilmu yang kita miliki.