ALTRUISME PENGUIN EMPEROR (Aptenodytes fosteri)

Oleh: Arni Rahmawati Fahmi Sholihah

 

Perilaku merupakan bentuk strategi adaptasi bagi keberlangsungan hidup hewan yang meliputi semua gerakan motorik dan semua sensasi yang dialami oleh hewan sebagai respon atas perubahan internal milieu dan lingkungan eksternal (fisik, biotis, sosial). Terdapat beragam jenis perilaku pada hewan. Salah satu bentuk perilaku yang menarik untuk dipelajari adalah perilaku altruisme.

Altruisme merupakan bentuk perilaku yang mengurangi fitness suatu individu sebagai upaya meningkatkan fitness individu lain (Campbell dkk., 2006). Secara umum, perilaku ini dapat berupa suatu tindakan yang justru membahayakan nyawa suatu individu demi menyelamatkan kehidupan individu lain, baik berupa keturunannya, maupun satu koloni yang hidup dengannya.

 

Penguin Emperor (Aptenodytes fosteri)

Penguin emperor (A. fosteri) merupakan salah satu jenis anggota kelas aves yang tidak dapat terbang. Berikut adalah susunan klasifikasi spesies ini.

Kerajaan                            :    Animalia

Filum                                 :    Chordata

Kelas                                 :    Aves

Infrakelas                          :    Neognathae

Ordo                                 :    Sphenisciformes

Famili                                :    Spheniscidae

Genus                               :    Aptenodytes

Spesies                              :    A. forsteri

(Dewey, 1999)

 

Berikut adalah data status konservasi spesies ini.

IUCN Red List                  :    Least Concern.

US Migratory Bird Act       :    Tidak ada status khusus.

US Federal List                 :    Tidak ada status khusus.

CITES                             :    Tidak ada status khusus.

 

Penguin emperor hidup di wilayah perairan dingin Antartika (penghuni asli Antartika secara biogeografi). Habitat terestrialnya terbatas di atas lempeng es, landas kontinen dan pulau-pulau sekitar Antartika di 66-78 derajat lintang selatan (Williams, 1995).

Penguin emperor terbiasa berburu makanan di perairan Antartika yang mana masing-masing individu bisa ditemukan berburu hingga mencapai 65 derajat lintang selatan. Spesies ini bertelur secara khusus pada wilayah pesisir hingga 18 km dari garis pantai. Hanya terdapat 2 (dua) koloni kecil yang diketahui melakukan proses tersebut di daratan yang jauh dari pantai. Proses bertelur dan mengerami telur biasa dilakukan di daerah terlindung dimana tebing atau bongkahan es melindungi wilayah tersebut dari angin kencang (Williams, 1995).

Spesies ini bersifat monogami sepanjang suatu masa kawin. Meskipun, sebagian besar individu memiliki pasangan baru di setiap tahun (musim kawin). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa hanya 14.6% pasangan terbentuk kembali di musim kawin selanjutnya. Di tahun ketiga, hanya 4.9% pasangan yang bertahan (Williams, 1995).

 

Altruisme pada Penguin Emperor (Aptenodytes forsteri)

Film yang digunakan oleh kelompok kami didapatkan dari data film milik Harun Yahya yang berjudul “Altruism in Penguins”. Dalam film ini, kita dapat melihat suatu bentuk altruisme dalam hal parental care sebagai upaya meningkatkan fitness dari offspring (Clutton-Brock dan Godfray, 1991).

Spesies yang istimewa ini melakukan perjalanan lebih dari 100 km menuju sarang koloni untuk kawin sekitar bulan Maret hingga awal April (musim gugur). Pada bulan Mei hingga Juni awal, terjadi masa bertelur dimana telur berukuran 460-470 gram dikeluarkan oleh induk betina dan diserahkan pada induk jantan untuk dierami (l.k. 64 hari). Induk betina kembali ke laut untuk mencai makanan hingga masa mengerami selesai. Selama masa itu, induk jantan sama sekali tidak memakan apapun (Williams, 1995).

Semua telur diletakkan dan ditetaskan dalam koloni yang sangat kompak. Wilayah penetasan biasanya merupakan wilayah berangin besar dan membekukan (>100 km/jam). Selain itu, telur dierami selama waktu musim dingin dimana temperatur lingkungan jatuh hingga -50oC. karena itu, semua induk jantan harus berkumpul dalam koloni besar membentuk gerombolan padat sehingga telur tetap dapat terjaga temperaturnya. Jika telur sampai terpapar apalagi ditetaskan pada suhu dingin, kematian cepat dapat terjadi pada anakan (Williams, 1995).

Segera setelah musim semi tiba, telur penguin menetas. Selama proses penyesuaian, bayi penguin masih diletakkan di bawah kantung perut, di antara kaki induk jantan selama 45-50 hari. Hal ini dilakukan agar bayi penguin tidak secara langsung terpapar pada suhu rendah. Dalam masa ini, induk jantan memberi makan bayinya dengan cairan mirip susu yang dikeluarkan dari bagian dalam rongga mulut. Pemberian makanan ini berresiko karena induk jantan sendiri pun masih belum melakukan aktivitas makan setelah kurang lebih 4 (empat) bulan.

Di masa ini, induk betina kembali dari laut dan menggantikan peran induk jantan untuk menjaga bayi penguin. Induk jantan kemudian perangkat ke laut untuk berburu, makan dan menyimpan cadangan makanan. Setelah dirasa cukup, induk jantan kembali ke lokasi breeding untuk merawat bayi penguin bersama induk betina.

Bayi penguin biasanya tumbuh cepat dan dapat melampaui 50% berat penguin dewasa. Dengan ukuran yang cukup besar (usia l.k. 150 hari) dan kondisi tubuh yang sudah teradaptasi dengan lingkungannya, bayi penguin dapat memulai perjalanan bersama induk jantan. Sebagian besar penguin akan kembali ke lokasi kawin setelah berusia 4 (empat) tahun. Meskipun begitu, usia kawin pertama biasanya berkisar antara 5-6 tahun pada jantan dan 5 tahun pada betina (Williams, 1995).

Terdapat latar belakang altruisme dalam konteks evolusi. Disini, kita mengenal adanya Selfish genes and Altruistic individuals (Sabini, 1995). Selfish genes cenderung menghasilkan sifat-sifat seperti kompetisi, dominansi dan hirarki dalam suatu koloni. Altruisme justru mengarahkan suatu spesies untuk melakukan pengorbanan meskipun dapat membahayakan nyawa sendiri. Dalam contoh ini adalah induk jantan A. forsteri yang berpuasa selama 4 bulan dan masih memberi makan anaknya dengan cadangan makanan yang ia miliki.

Selain itu, altruisme dapat bertahan jika sifat ini (yang cenderung mengorbankan suatu individu) mampu memberi manfaat yang lebih besar pada kelangsungan jenis. Jika dilihat, terdapat kemungkinan individu yang melakukan perilaku altruisme mengalami kematian dan tidak menurunkan gen tersebut kepada keturunannya karena tidak lolos seleksi alam. Namun, nampaknya gen altruisme lebih dipengaruhi oleh seleksi alam yang terjadi pada skala gen, bukan organisme sehingga menghasilkan inclusive fitness (Hamilton, 1964 dalam Sabini, 1995).

Secara umum, bentuk altruisme pada penguin emperor berlaku pada:

  1. Tahap pra-fertilisasi (provisioning dan perlindungan oleh induk betina).
  2. Tahap pra-tetas (provisioning oleh induk betina, perlindungan oleh induk jantan).
  3. Tahap pra-dewasa atau tahap fledging (provisioning dan perlindungan oleh kedua induk).

Aktivitas altruisme ini dipengaruhi oleh hormon oksitosin yang merupakan suatu hormon mamalia dan neurotransmiter yang diketahui berhubungan dengan perilaku maternal dan ikatan, juga modulasi kepercayaan sosial. Secara metabolis yang langsung berhubungan dengan proses puasa induk jantan, diketahui bahwa mekanisme puasa dipertahankan dengan cara mengurangi tingkat metabolisme, menguragi pemanfaatan protein dan pemakaian cadangan lemak.

 

Berdasarkan pemaparan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa altruisme pada Aptenodytes forsteri berlaku sebagai bentuk parental care dan merupakan perilaku yang alami dan inheren. Perilaku ini memiliki latar belakang evolusi berupa pewarisan gen altruisme yang dipertahankan melalui seleksi pada tingkat gen karena meskipun altruisme cenderung merugikan dan membahayakan nyawa suatu individu, altruisme memberikan manfaat yang lebih besar pada kelestarian jenis ini. Seperti halnya bentuk perilaku yang lain, perilaku altruisme (pada A. forsteri) melibatkan proses fisiologis dan psikologis hewan yang bersangkutan.

 

Referensi

Campbell, Neil, Jane B. Reece dan Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Clutton-Brock, Tim dan Charles Godfray. 1991. “Parental Investment” dalam Behavioral Ecology: An Evolutionary Approach. Oxford: Blackwell Scientific Publications.

Dewey, Tanya. 1999. “Aptenodytes forsteri” (On-line), Animal Diversity Web. Accessed February 18, 2010 at http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Aptenodytes_forsteri.html.

Sabini, John. 1995. Social Psychology. New York: Norton & Company, Inc.

Williams, T. 1995. The Penguins. Oxford: Oxford University Press.

One comment

  1. Emelda says:

    I found the info on this blog valuable.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *