NILAI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE

Oleh: Arni Rahmawati Fahmi Sholihah

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan perhitungan para ahli, rata-rata nilai tahunan pelayanan ekonomi oleh alam adalah l.k. 33 trilyun USD, atau nyaris dua kali GNP dunia (18 trilyun USD) (Constanza R. dkk., 1997). Nilai setinggi itu menunjukkan bahwa peran yang dijalankan oleh alam tidaklah main-main. Kita dapat menyatakan bahwa pada dasarnya, semua segi kehidupan manusia, termasuk masalah ekonomi, sangat bergantung kepada biosfer (alam). Karena itu, apapun kebijakan yang diambil haruslah sejalan dengan kepentingan dalam menjaga alam. Sayangnya, di lain pihak, kini pun manusia masih cenderung meremehkan hal tersebut dan masih banyak membuat kebijakan yang tidak sejalan dengan hal ini.

Kecenderungan tersebut menunjukkan bahwa mengkaji kembali nilai ekonomi ekosistem merupakan hal yang penting. Dalam makalah ini sendiri, pembahasan mengenai nilai ekonomi ekosistem akan difokuskan pada nilai ekonomi ekosistem mangrove. Ekosistem yang merupakan salah satu jenis ekosistem lahan basah ini kini luas wilayahnya semakin berkurang. Kerusakan mangrove terus terjadi akibat tekanan pembangunan pemukiman dan eksploitasi berlebihan. Penghitungan terakhir menunjukkan bahwa total luas mangrove di Indonesia adalah sekitar 9,2 juta ha dengan tingkat kerusakan mencapai 57,6% atau seluas 5,3 juta ha (Dephut, 2002).

Banyak ancaman yang menghalangi kelestarian mangrove. Secara umum, isu yang berkaitan dengan pengelolaan mangrove saat ini adalah mengenai distribusi wewenang pengelolaan, pesatnya pembangunan pemukiman, fragmentasi kawasan, pencemaran, dan pertambakan.

Dengan adanya pemetaan nilai ekonomi ekosistem ini, diharapkan kita dapat memiliki kesadaran dan penghargaan yang lebih pada ekosistem hutan mangrove. Lebih jauh lagi, hal ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan dan pemanfaataan sumber daya alam ini sehingga dapat dilakukan secara optimal tanpa membahayakan kelestarian hutan mangrove itu sendiri.

 

1.2 Tujuan

Makalah ini disusun untuk memberikan gambaran nilai-nilai ekonomi yang dimiliki oleh lahan basah hutan mangrove.

 

 

BAB II

NILAI EKONOMI HUTAN MANGROVE

 

2.1 Hutan Mangrove

Secara etimologis, mangrove berasal dai kata Portugis “mangue” yang berarti pohon dan “grove” yang berarti tegakan. Dari istilahnya, mangrove merupakan suatu bentuk ekosistem pantai tropis dan subtropis yang didominasi oleh pohon, perdu, semak dan tumbuhan lain yang semua bersifat halofilik yang tumbuh di wilayah air payau hingga air asin di zona pasang-surut (Mitsch dan Gosselink, 2000). Dalam hal ini, mangrove mengacu pada ekosistem. Meskipun begitu, kata “mangrove” juga mengacu pada beragam pohon dan perdu yang mendominasi tipe lahan basah ini (Mitsch dan Gosselink, 2000).

Mangrove merupakan salah satu jenis lahan basah pesisir yang tersebar sepanjang pantai tropis-subtropis di seluruh dunia, biasanya terdapat di antara 25o LU s.d. 25o LS. Secara kasar, terdapat setidaknya 240.000 km2 hutan mangrove yang ½ diantaranya terdapat di sekitar lintang 0o-10o (Mitsch dan Gosselink, 2000). Dari luas itu, luas hutan mangrove di Indonesia pada awalnya adalah 9.248.038 ha dan tersisa 5.326.870 ha dengan 3.720.187 ha diantaranya merupakan wilayah yang dilindungi.

Gambar 1. Peta distribusi hutan mangrove di dunia (Jochem, 2007).

Dilihat dari keragaman jenisnya, mangrove terdiri atas 12 genus dan 60 spesies. Ciri utama kelompok mangrove adalah merupakan pohon atau semak tersetrial, halofilik, memiliki modifikasi akar dan batang untuk membantu respirasi dalam sedimen anoksik, biji mengalami pertumbuhan vivivar. Di antaranya, terdapat genus-genus terkenal seperti Rhizophora, Avicennia, Bruguiera.

Gambar 2. Vegetasi dan struktur ekosistem hutan mangrove (Jochem, 2007)

 

Cintron dkk. (1985) mengelompokkan hutan mangrove kedalam 4 (empat) jenis berdasarkan kondisi hidrodinamikanya, yaitu fringe, riverine, basin dan dwarf mangrove. Fringe mangrove dapat ditemukan di sepanjang garis pantai terlindung, kanal, sungai dan laguna. Riverine mangrove dapat ditemukan di sepanjang sungai sekitar pesisir hingga beberapa mil dari pantai. Basine mangrove terdapat di daerah depresi daratan, basin, biasanya di belakang barisan fringe mangrove, di lokasi dimana air menggenang atau mengalir lambat. Dwarf mangrove didominasi oleh mangrove semak (tinggi < 2 m) yang terpencar-pencar, biasa tumbuh di tempat miskin nutrisi, kurang asupan air tawar, memiliki produtivitas rendah.

 

2.2 Nilai Ekonomi Hutan Mangrove

Bahasan mengenai “nilai” muncul sebagai sebuah orientasi antroposentrik. Nilai didefinisikan sebagai sesuatu yang berharga, penting, diharapkan atau bermanfaat bagi manusia (Mitsch dan Gosselink, 2000). Dalam bahasan ini, keberadaan dan besar dari nilai ini dipengaruhi oleh seberapa penting proses ekologis yang berlangsung di hutan mangrove, bagaimana persepsi manusia terhadap hutan mangrove, lokasi hutan mangrove, tekanan populasi manusia pada hutan mangrove dan seberapa besar sumber daya yang terdapat di dalamnya.

Berikut akan dijelaskan mengenai nilai langsung (nilai konsumtif, fungsional dan jaminan massa depan) dan nilai tidak langsung (keberadaan dan kebakaan) dari ekosistem hutan mangrove.

Nilai langsung merupakan nilai ekonomi yang secara langsung mempengaruhi kehidupan manusia, baik yang langsung berhubungan dengan pasar, pelayanan ekologis maupun jaminan masa depan.

Nilai konsumtif  merupakan nilai yang berhubungan dengan harga pasar dari suatu produk. Dalam hal ini, pada dasarnya kita melihat nilai mangrove yang berhubungan dengan “ekonomi” dalam pandangan umum. Nilai konsumtif terdiri atas nilai material dan immaterial. Berikut adalah penjelasannya.

Nilai material, secara umum biasa berhubungan dengan kebutuhan manusia atas sandang, pangan dan papan. Dengan begitu, nilai ini berhubungan dengan kebutuhan dasar ekonomi manusia. Tingginya nilai material hutan mangrove akan mengindikasikan kecenderungan yang tinggi eksploitasi manusia atas ekosistem ini. Hal ini terjadi karena upaya manusia memenuhi kebutuhan dasarnya merupakan hal yang umum dilakukan, dan kadang tanpa memperhatikan resiko kerusakan yang diakibatkannya.

Hutan mangrove merupakan komponen yang penting dalam menjaga kelestarian sumber daya ikan di wilayah pantai maupun laut lepas. Hal ini berhubungan dengan pemasokan cadangan nutrisi dari sedimen serta penyediaan habitat yang cocok bagi ikan, udang, kepiting, dll. Ketersediaan habitat ini juga terutama berhubungan dengan penggunaan hutan mangrove sebagai area pemijahan biota tersebut. Selain biota air, kini mangrove juga dimanfaatkan untuk membuat sirup buah mangrove. Ini merupakan salah satu bentuk penambahan nilai pada hasil hutan mangrove.

Hutan mangrove juga merupakan sumber kayu yang bermanfaat. Penggunaan kayu mangrove sebagai bahan bakar dapur telah dilakukan sejak lama oleh masyarakat tradisional di China, Hong Kong, India, Thailand, Bangladesh, Filipina, Malaysia dan Indonesia. Selain itu, dengan didasarkan pada kekerasan kayu, penghasilan panas tinggi dan rendahnya asap yang dihasilkan selama pembakaran, kayu mangrove juga banyak digunakan sebagai bahan baku arang. Hal ini populer dilakukan di Thailand dan Malaysia (Anonim 1, 2010).

Nilai immaterial berkaitan dengan sisi keindahan alam, ekoturisme dan rekreasi. Hal ini merupakan nilai yang penting karena manusia merupakan makhluk yang menaruh penghargaan tinggi pada sesuatu yang indah. Selain itu, ekoturisme juga merupakan suatu tren dunia yang bisa jadi besar pengaruhnya terhadap perekonomian suatu wilayah atau negara.

Hutan mangrove merupakan suatu lingkungan yang indah. Lingkungan ini merupakan habitat bagi kehidupan berbagai vegetasi dan satwa liar. Lingkungan ini juga merupakan lingkungan yang dapat dipergunakan sebagai lokasi budidaya perikanan, agrikultur, pendidikan lapangan, dan sebagainya yang mampu memberikan input finansial bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya (Anonim 1, 2010).

Dalam dunia pendidikan, terdapat istilah pendidikan berbasis lingkungan. Hal ini didefisikan sebagai suatu bentuk pendekatan baru dalam pendidikan yang melibatkan keastuan antara perilaku individu dengan lingkungannya, termasuk di dalamnya adalah budaya asli dan komponen alam. Bukan hanya materinya yang berlandaskan pada nilai-nilai lingkungan, dalam prosesnya, pendekatan ini juga banyak melibatkan alam secara langsung, misal: sebagai lokasi pembelajaran. Dengan begitu, peserta didik memiliki pengalaman langsung bersentuhan dengan alam.

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem yang penting untuk sarana pendidikan lingkungan. Ekosistem ini merupakan laboratorium alam yang terbuka dan sumber pembelajaran yang pening. Meskipun begitu, pendidikan lingkungan menuju pada bentuk kesadaran ekologis dan penghargaan terhadap alam yang bersifat kualitatif dan tidak dihargakan. Karena itu, dalam menentukan seberapa besar nilai ekonomi dari hutan mangrove sebagai sarana pendidikan dapat dilihat dari biaya perjalanan menuju lokasi; biaya masuk (jika ada tarif masuk); omzet penjualan souvenir, makanan, dll.

Gambar 3. Ekoturisme hutan mangrove (Arset, 2009 dan Kementerian Lingkungan Hidup, 2004).

 

Gambar di atas diambil dari menara pengintai burung di PIM Denpasar. Jenis ekoturisme mangrove ini merupakan salah satu upaya pemerintah dan lembaga internasional untuk melakukan konservasi mangrove sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat umum dengan cara yang menyenangkan. Meskipun tidak secara formal, ekoturisme mangrove memiliki andil dalam pendidikan berbasis lingkungan yang telah disampaikan sebelumnya.

Nilai fungsional biasa dihubungkan dengan pelayanan ekosistem yang merupakan semua fungsi lingkungan yang secara langsung menyediakan manfaat bagi kehidupan manusia dengan mempertahankan lingkungan alami yang sehat.

Hal yang paling mendasar yang merupakan nilai ekologis suatu vegetasi adalah sebagai agen fotosintesis penghasil oksigen dan produktivitas primer. Di hutan mangrove, fotosintesis dapat dilakukan baik oleh vegetasi mangrove itu sendiri maupun oleh mikroalga. Kegiatan fotosintesis ini merupakan fondasi yang menyokong kehidupan biota lain sekaligus mempengaruhi peran hutan mangrove sebagai penyimpan cadangan karbon.

Mangrove sebagai salah satu jenis lahan basah yang paling produktif dapat berperan sebagai carbon sink yang sangat besar. Karbon disimpan dalam vegetasi, detritus maupun di dalam tanah (substrat). Sebagaimana yang dinyatakan dalam Protokol Kyoto, keberadaan dan kelestarian karbon sink, dalam hal ini hutan mangrove, merupakan salah satu hal penting yang mendukung mitigasi pemanasan global (Hopkinson dan Stern, 2002). Karena itu, keberadaan cadangan karbon di dalam mangrove sangatlah penting.

Dari sisi ekonomi, kini terdapat isu program perdagangan emisi. Bank Dunia menghargai l.k. 5-40 USD per ton untuk cadangan karbon (Hopkinson dan Stern, 2002).. Meskipun harga ini masih jauh dari nilai seharusnya, namun jika dikali jumlah total mangrove yang ada, tentu akan menjadi jumlah yang sangat besar.

Mangrove juga merupakan habitat bagi beragam jenis ikan, udang, kepiting, dll. Diantaranya, banyak yang menggunakan mangrove sebagai wilayah pemijahan dan nursery. Itu artinya, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian biota tersebut. Jika hutan mangrove rusak, maka kemungkinan akan terjadi penurunan populasi beragam jenis ikan, udan dan kepiting. Bagi manusia, secara ekonomis hal tersebut akan mengancam kondisi perikanan laut dan tambak yang lebih jauh lagi akan mengganggu kestabilan harga pasar komoditas tersebut.

Burung, merupakan satu-satunya penghubung evolusioner yang masih tersisa dengan dinosaurus, kemungkinan besar dapat bertahan pada masa kepunahan dinosaurus akibat adanya lahan basah (Gibbons, 1997 dan Weller, 1999 dalam Mitsch dan Gosselink, 2000). Meskipun tidak semua jenis burung yang ada saat ini merupakan burung lahan basah, sebagian besar diantaranya adalah demikian. Berdasarkan sebuah data, diketahui bahwa sekitar 80% populasi burung di Amerika dan lebih dari 50% dari 800 spesies burung migratori bergantung kepada lahan basah (Wharton dkk., 1982 dalam Mitsch dan Gosselink, 2000).

Di Indonesia, sangat banyak spesies burung yang hidup di hutan mangrove dan wilayah sekitarnya. Diantaranya adalah anggota dari famili Phalacrocoracidae, Sulidae, Ciconiiformes, Ciconiidae, Threskiornithidae, Accipitridae, Falconidae, Anatidae, Rallidae, Charadriidae, Scolopacidae, Columbidae, Alcedinidae, Meropidae, Pittidae, Motacillidae, Aegithinidae, Acanthizidae, dll. Burung yang bergantung kepada hutan mangrove tersebut ada yang bersifat tinggal menetap, ada yang merupakan burung migran. Bagi burung migran, hutan mangrove merupakan tempat singgah yang penting. Karena itu, jika hutan mangrove rusak, akan banyak jenis burung migran yang mengalami kesulitan atau bahkan gagal migrasi.

Secara ekologis, hutan mangrove juga berperan dalam menjaga kualitas air di wilayah pesisir. Sebagaimana yang kita ketahui, di wilayah pantai terdapat pertemuan antara air laut (asin) dengan air tanah (tawar). Kesimbangan diantara keduanya bergantung pada seberapa besar jumlah air tawar yang ada. Meskipun terdapat air laut yang meresap ke wilayah air tanah (tawar), selama jumlahnya masih seimbang, air laut dengan massa jenis lebih tinggi akan berada di bawah permukaan air tawar. Dengan kondisi vegetasi pesisir, termasuk mangrove yang baik, hal ini dapat dipertahankan. Namun, jika hutan mangrove tersebut rusak, tidak ada daerah resapan air yang cukup untuk menahan air tawar di pesisir dan menahan intrusi air laut jauh lebih dalam ke daratan. Akibatnya, air tanah (tawar) akan sulit didapatkan di daerah pesisir.

Kesulitan mendapatkan air tawar merupakan masalah yang besar bagi masyarakat. Membeli air tawar akan membawa masalah baru dari segi finansial. Jika memaksakan mengkonsumsi air asin atau payau, kesehatan masyarakat akan rentan gangguan. Dalm hal ini, nilai ekonomi yang terukur setidaknya mencakup nilai ekonomi dari pembelian air tawar pengganti suplai dari alam dan atau harga pengobatan penyakit akibat pengonsumsian air payau atau air asin.

Masih berhubungan dengan kualitas air, hutan mangrove juga dapat berperan sebagai ekosistem lahan basah tansformer yang mengurangi tingkat polusi perairan. Sistem perakaran spesies-spesies mangrove dapat menyerap polutan. Melalui aktivitas metabolisme oleh mikroorganisme dan tumbuhan, penyerapan oleh permukaan tanah dan sedimentasi, jumlah partikel terlarut (nitrogen, fosfor, logam, dll.) dapat dikurangi (Mitsch dan Gosselink, 2000).

Tabel 1 Kapasitas Penyerapan Polutan oleh Mangrove (Hopkinson dan Stern, 2002)

Tabel 2 Kuantitas pengurangan nutrisi di wilayah terpolusi oleh mangrove (Hopkinson dan Stern, 2002)

Berkaitan dengan aktivitas sedimentasinya, air yang berasal dari sungai akan menjadi jauh lebih jernih saat mencapai laut. Hal ini sangat bermanfaat terutama bagi biota laut yang sensitif terhadap partikel pengotor, seperti terumbu karang. Selain itu, sedimen yang berada di hutan mangrove mengandung nutrisi yang penting bagi beragam biota yang hidup di dalamnya, termasuk akhirnya bagi vegetasi mangrove itu sendiri.

Salah satu fungsi ekologis lain yang juga penting dari hutan mangrove adalah sebagai barrier fisik bagi daratan dari kenaikan permukaan laut akibat abrasi dan kerusakan fisik akibat badai. Dalam berbagai kasus yang terjadi, contohnya di pantai utara pulau Jawa, abrasi menjadi fenomena yang kentara. Wilayah yang beberapa dekade atau bahkan beberapa tahun lalu merupakan daratan, kini telah menjadi laut. Abrasi yang tidak terkendali ini terjadi akibat kerusakan parah pada vegetasi mangrove yang pada awalnya menutup nyaris semua garis pantai. Dari sisi badai, badai merupakan fenomena alam yang tidak asing di wilayah pesisir. Namun, selagi masih terdapat vegetasi yang menjadi barrier, kecepatan angin yang bertiup dari arah laut akan berkurang karena tertahan oleh vegetasi tersebut. Jika vegetasi (misal: mangrove) hilang, angin kencang akan menerpa hingga jarak yang cukup jauh dari pantai. Kerusakan yang diakibatkan oleh hal ini mencakup kerusakan pemukiman, infrastruktur (jalan, jaringan listrik, dll.) termasuk wilayah pertanian. Dari pemaparan itu, nilai ekonomi hutan mangrove setidaknya sebanding dengan harga wilayah yang terkena abrasi (produktif atau tidak produktif) serta harga pengganti kerusakan pemukiman, infrastruktur dan lahan pertanian.

Nilai jaminan masa depan dari hutan mangrove terutama berkaitan dengan fungsinya sebagai habitat beragam makhluk hidup. Dalam hal ini, hutan mangrove menyimpan keragaman hayati dan genetis yang berlimpah. Mulai dari keragaman vegetasi mangrovenya itu sendiri, keragaman jenis burung, ikan, udang, kepiting, mikroalga, dll. Ekosistem mangrove Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, yaitu sebanyak 202 jenis yang terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis epifit, dan 1 jenis sikas. Sekitar 47 jenis diantaranya merupakan tumbuhan spesifik hutan mangrove (Noor dkk., 1999). Rawa nipah merupakan salah satu jenis ekosistem mangrove. Rawa nipah biasanya terbentuk di daerah payau sepanjang aliran sungai, laguna, dan (kadang-kadang) di garis pantai (Kementerian Lingkungan Hidup, 2004).

Mikroalga merupakan salah satu komponen penting dalam ekosistem hutan mangrove. Mikroalga disini bersifat epifit dan biasa tumbuh pada akar udara vegetasi maupun pada sedimen (substrat). Mikroalga yang hidup berasal dari kelompok Chlorophyta, Phaeophyceae, Rhodophyta dan Cyanophyta.

Invertebrata banyak ditemukan di wilayah mangrove. Contoh makrobentos yang bersifat umum adalah kepiting bakau, misalnya dari spesies Uca lacteal. Spesies ini merupakan spesies batu kunci (keystone species) sehingga keberadaannya, meskipun dalam jumlah sedikit akan mempengaruhi struktur komunitas secara umum. Kepiting bakau menjalani masa larva di perairan bawah mangrove dan ketika dewasa mulai naik ke atas mangrove serta hidup dengan memakan daunnya. Dalam hal ini, kepiting bakau dewasa memainkan peran krusial dalam penghasilan serasah. Selain menghasilkan serasah, kepiting bakau juga berperan karena aktivitasnya melubangi sedimen. Modifikasi topografi mikro di dasar hutan mangrove akan menyebabkan terbentuknya pola aerasi substrat. Hal tersebut mampu menurunkan kadar senyawa sulfida sedimen dan memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan vegetasi mangrove di atasnya.

Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak kekayaan spesies, dan dengan sendirinya kekayaan genetis suatu spesies, yang terdapat di hutan mangrove. Pada saat ini, mungkin belum semua dimanfaatkan secara optimal. Meskipun begitu, mangrove memiliki nilai opsi dan nilai quasi-opsi. Nilai opsi adalah nilai yang berlandaskan bahwa tidak ada sesuatu yang pasti, semua masih mungkin terjadi. Potensi mangrove yang saat ini belum dimanfaatkan, suatu saat bisa saja menjadi sangat penting. Hal ini berkaitan juga dengan nilai quasi-opsi yang berlandaskan kepada nosi bahwa pengetahuan terkini manusia masihlah terbatas. Di saat pengetahuan dan kemajuan teknologi yang dicapai telah lebih tinggi, manusia tentu akan mampu memanfaatkan potensi mangrove dengan lebih optimal (Hopkinson dan Stern, 2002).

Nilai tidak langsung didefinisikan sebagai nilai ekosistem, dalam hal ini hutan mangrove, yang tidak secara langsung berpengaruh pada kesejahteraan kehidupan manusia. Nilai tidak langsung mencakup nilai ekosistem ini karena keberadaan dan kelestariannya.

Dalam pandangan nilai keberadaan, dinyatakan bahwa masyarakat (manusia) mengapresiasi fakta keberadaan suatu hal, meskipun tidak secara langsung menggunakan atau memanfaatkannya dalam kehidupan. Dengan begitu, keberadaan hutan mangove, terlepas akan sadar atau tidaknya manusia akan nilai langsung yang diberikan ekosistem ini, tetap merupakan hal yang penting. Karena keberadaan ekosistem ini memberikan efek psikologis berupa kelegaan tersendisi pada manusia. Dalam kasus di Indonesia, dengan tingkat kerusakan 57%, luas lahan mangrove yang tersisa tinggal l.k. 5.3 juta ha. Hilangnya lahan mangrove, tanpa melihat nilai lain yang ikut hilang, tetap dianggap sebagai sebuah kerugian yang besar.

Keberadaan hutan mangrove juga penting bagi kelangsungan hidup spesies-spesies di dalamnya. Jenis-jenis burung lahan basah pesisir banyak yang sangat bergantung pada keberadaan ekosistem ini. Jika ekosistem ini hilang, maka banyak diantara spesies-spesies tersebut yang akan mengalami penurunan populasi secara drastis.

Di lain pihak, upaya konservasi tehadap hutan mangrove dengan sendirinya tidak hanya bermanfaat bagi konservasi vegetasi mangrove, melainkan juga bagi biota lain yang berasosiasi di dalamnya. Secara ekonomis, pendanaan konservasi mangrove dapat dimanfaatkan secara efektif untuk mendanai konservasi biota lain.

Dari sisi politis perundangan, keberadaan hutan mangrove merupakan aspek penting dalam upaya konservasi pesisir. Sejak tahun 1986, pemerintah telah melakukan kerjasama dengan pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) mendirikan Mangrove Information Center atau Pusat Informasi Mangrove (PIM) di Denpasar, Bali. Tujuan dari PIM adalah mewujudkan pengelolaan hutan mangrove in-situ yang berdasarkan kepada prinsip keberlanjutan. Bentuk-bentuk kerjasama lain yang didasarkan pada keberadaan mangrove juga ada dan disesuaikan dengan tujuan masing-masing.

Nilai kelestarian atau biasa disebut bequets value merupakan nilai tidak langsung yang berkaitan dengan kemungkinan untuk mempertahankan ekosistem, dalam hal ini mangrove, dan mewariskannya pada generasi selanjutnya (Hopkinson dan Stern, 2002). Nilai ini sangat penting atas isinya yang berkaitan dengan kesadaran untuk berupaya mempertahankan ekosistem mangrove. Artinya, jika manusia telah memiliki kesadaran akan nilai ini, diharapkan akan muncul suatu dorongan untuk melakukan upaya mempertahankan kelestariannya sehingga nilai lain yang dimiliki mangrove akan ikut lestari.

Sayangnya, tidak semua dari yang menyadari pentingnya hutan mangrove memiliki kemauan, apalagi dapat berupaya untuk menjaga kelestariannya.

“Nature’s services have always been there, free for the taking, and our expectations – and economies – are based on the premise that they always will be. We are like young children who think that food comes from the refrigerator, and who do not yet understand that what now seems free is not.” (Abramovitz, 1998 dalam Hopkinson dan Stern, 2002).

Berdasarkan pada pendapat Abramovitz tersebut, kita sebagai manusia seharusnya dapat berpikir dewasa untuk dapat memperlakukan alam, dalam hal ini hutan mangrove dengan semestinya sehingga manfaatnnya dapat diambil dan kelestariannya tetap terjaga.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Nilai ekonomi yang dimiliki hutan mangrove terdiri atas nilai langsung (nilai konsumtif: materil dan imateril, nilai fungsional: ekologis, jaminan masa depan) dan nilai tidak langsung (keberadaan dan kelestarian). Nilai-nilai yang dimiliki hutan mangrove, jika dikonversikan ke dalam nilai pasar (uang), sangatlah besar. Selain itu, pengaruhnya juga sangat luas terhadap kelangsungan hidup manusia. Karenanya, tidak berlebihan jika upaya konservasi untuk kelestarian hutan mangrove harus dilakukan secara optimal.

 

3.2 Saran

Ekosistem hutan mangrove merupakan ekosistem yang memiliki beragam nilai. Kelestariannya berkaitan erat dengan kelestarian nilai-nilai yang dikandungnya, yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Karena itu, pengelolaan mangrove harus dijalankan dengan berlandaskan pada pemanfaatan nilai-nilai yang dimilikinya tanpa merusak ekosistem mangrove itu sendiri.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1. 2010. Diunduh dari http://www.conservancy.org.hk/conser/Ramsar/mangrove04E.htm

Arset. 2009. Diunduh dari http://fotokita.net/browse/photo/261238662421_6347742/member/1/5405

Constanza R. dkk.. 1997. The Value of The World’s Ecosystem Services and Natural Capital. Nature. Vol 387 pp 253-260.

Departemen Kehutanan. 2002. Statistik Kehutanan Indonesia 2000/2001. Biro Perencanaan Departemen Kehutanan. Jakarta.

Hopkinson, Lisa dan Rachel Stern. 2002. Wild but Not Free: An Economic Valuation of the Benefits of Nature Conservation in Hong Kong. Hong Kong: Civic Exchange.

Kementerian Lingkungan Hidup. 2004. Strategi Nasional dan Rencana Aksi Pengelolaan Lahan Basah. Jakarta: Komite Nasional Pengelolaan Ekosistem Lahan Basah.

Noor, Y.R, M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: Wetlands International – Indonesia Programme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *