Archive for November 30, 2011

EMBRYO YATIM PIATU

Arni Rahmawati Fahmi Sholihah

***

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bioetika merupakan kajian etika yang penting dalam pengambilan keputusan terkait aplikasi ilmu dan teknologi hayati. Dengan adanya kajian bioetika, diharapkan dampak negatif dari aplikasi teknologi hayati, terutama yang langsung tertuju kepada manusia dapat diminimalisir, bahkan ditiadakan. Hal ini, terjadi karena manusia menyadari bahwa perkembangan ilmu dan teknologi hayati yang semakin maju merupakan pisau bermata ganda yang dapat memberi manfaat serta keburukan bagi manusia. Meski terkesan antroposentris, hal ini penting dalam menjaga integritas dan kelestarian hidup manusia.

Salah satu isu yang berkembang dalam kajian bioetika adalah mengenai status dan penggunaan teknologi sel punca yang berasal dari manusia. Sel punca embrionik atau Embryonic Stem Cell (ESC) merupakan salah satu alternatif pengobatan dengan kemungkinan sukses tinggi yang sangat kontroversial. Di Indonesia, meski telah mendapat banyak perhatian, aturan hukum mengenai ESC belum ditetapkan secara tegas.

Makalah ini disusun sebagai analisis terhadap suatu kasus yang melibatkan masalah status dan penggunaan HESC hasil fertilisasi in vitro. Model kasus yang digunakan merupakan adaptasi dari The Orphan Embryos: A Case Study in Bioethics (Iowa State University, Amerika Serikat). Kajian dalam makalah ini diawali dengan pengenalan ulang mengenai bioetika, prinsip bioetika dan konsep-konsep biologi yang terkait dengan fertilisasi in vitro dan ESC manusia. Setelah itu, dilanjutkan dengan analisis dan sintesis terkait kasus yang diambil untuk mencapai kesimpulan yang menjawab tujuan penulisan makalah.

 

Tujuan

  • Menentukan status moral embryo yatim piatu.
  • Menentukan status pertanggungjawaban atas embryo yatim piatu.
  • Menentukan tindak lanjut penggunaan embryo yatim piatu.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bioetika

“Apa itu Bioetika?”, mungkin itu adalah pertanyaan yang sering muncul dalam benak kita. Suatu konsep yang kadang menjadi semakin rumit saat kita lebih dalam memikirkannya.

Secara harfiah, istilah ini muncul dari bahasa Yunani, bios (hidup) dan ethike (apa yang seharusnya dilakukan manusia). Istilah ini sendiri diartikan sebagai kajian etika mengenai isu sosial dan moral yang muncul akibat aplikasi bioteknologi dan medis (Lim dan Ho, 2003). Bioetika muncul sebagai respon atas semakin berkembangnya ilmu dan teknologi hayati, utamanya di bidang medis yang berhubungan erat dan/atau menjadikan manusia sebagai objeknya.

Konsep ini memiliki landasan utama berupa asas otonomi. Otonomi dimaknai sebagai hak setiap individu untuk menentukan nasib secara pribadi karena sifatnya yang berkehendak dan kemampuannya untuk berpikir dan bertindak. Dalam Bioetika, biasanya diungkapkan melalui frasa respect to autonomy. Selain itu, terdapat tiga kaidah lain yang menjadi petunjuk dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan Bioetika sebagai berikut (Steinbock, 2007).

  1. Beneficence atau tindakan berbuat baik.
  2. Non-maleficence atau tindakan yang tidak merugikan.
  3. Justice atau keadilan.

Mengapa Bioetika dianggap penting? Mengapa kita mempermasalahkan dampak penerapan ilmu dan teknologi hayati, terutama medis, saat  ia bersentuhan dengan manusia dan memiliki kecenderungan untuk mengabaikannya saat menjadikan makhluk selain manusia sebagai objek?

Pada hewan lain, insting untuk bertahan hidup dan melestarikan jenis berlangsung lebih sederhana dibanding pada manusia. Manusia dengan akal, pikiran dan keyakinan (yang beragam) memiliki kompleksitas sangat tinggi dalam reaksinya menghadapi sesuatu, termasuk menghadapi teknologi yang ia ciptakan sendiri. Bioetika muncul sebagai kajian yang bertujuan agar penerapan ilmu dan teknologi hayati memberi dampak buruk sekecil mungkin pada manusia. Mengapa? Karena objek aplikasi ini adalah manusia sendiri sehingga segala pengaruhnya secara langsung akan sampai pada manusia sedangkan manusia memiliki kepentingan yang sama dengan makhluk hidup lain. Bertahan hidup dan mempertahankan kelestarian jenisnya.

 

Fertilisasi In Vitro

Dalam bidang perkembangan hewan, fertilisasi merupakan istilah yang mengacu pada proses meleburnya pronukleus jantan dengan pronukleus betina (karyogami). Fertilisasi berfungsi sebagai pembauran materi genetis maternal dan fraternal dan menciptakan diploiditas keturunan hewan. Selain itu, fertilisasi juga menentukan determinasi jenis kelamin dan aktivator pembelahan sel telur.

Secara umum, proses fertilisasi dapat berlangsung secara internal (di bagian anterior oviduct) maupun eksternal. Fertilisasi eksternal secara alami berlangsung di lingkungan air pada hewan dari kelompok ikan dan amfibi. Fertilisasi eksternal buatan berlangsung secara in vitro dalam medium menyerupai lingkungan fertilisasi internal atau eksternal alami yang dilakukan dengan campur tangan manusia. Fertilisasi in vitro telah dilakukan pada beragam hewan, termasuk manusia.

Fertilisasi in vitro pada manusia (Gambar 2.1) merupakan bagian dari upaya penanganan dan/atau pengobatan infertilitas. Dalam hal ini, infertilitas dianggap sebagai sebuah penyakit atau cacat sistem reproduksi yang mana setiap manusia yang mengidapnya memiliki hak untuk sembuh dari penyakit tersebut (konsep The Sick Role, Talcott Parsons) sehingga hak reproduksinya terpenuhi. Di dunia, 10% dari pasangan yang ada memiliki ketidakmampuan reproduktif tanpa bantuan fertilisasi buatan.

Gambar 2.1 Proses fertilisasi in vitro (Hoog, 2010).

Etika fertilisasi buatan belum dicantumkan secara eksplisit dalam Buku Etik Kedokteran Indonesia. Meskipun begitu, dalam aturan yang bersifat lebih umum teknik fertilisasi in vitro pada manusia telah diatur dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 20009 pasal 127 yang merupakan revisi dari Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 sebagai berikut.

Ayat 1   Upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan:

a.    hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal;

b.    dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu; dan

c.    pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.

Ayat 2   Ketentuan mengenai persyaratan kehamilan di luar cara alamiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 39 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Teknologi Reproduksi Berbantu telah diatur ketentuan umum, ruang lingkup, persyaratan, izin penyelenggaraan, tata laksana perizinan, pencatatan dan pelaporan, pembinaan dan pengawasan, penelitian dan pengembangan, ketentuan peralihan dan ketentuan penutup fertilisasi in vitro. Berdasarkan aturan ini, disusunlah Pedoman Pelayanan Bayi Tabung di Rumah Sakit oleh Direktorat Rumah Sakit Khusus dan Swasta, Departemen Kesehatan RI yang secara singkat memiliki isi sebagai berikut.

  1. Pelayanan fertilisasi in vitro hanya dapat dilakukan dengan menggunakan sel telur dan sperma dari suami-isteri yang bersangkutan.
  2. Pelayanan ini merupakan bagian pelayanan infertilitas sehingga kerangka pelayanannya merupakan bagian pengelolaan pelayanan infertilitas secara keseluruhan.
  3. Embryo yang dapat dipindahkan ke dalam rahim dalam satu waktu tidak lebih dari tiga. Pemindahan empat embryo dapat dilakukan jika memenuhi satu dari tiga keadaan sebagai berikut.
    1. Rumah sakit memiliki tiga tingkat perawatan intensif bagi bayi yang baru lahir.
    2. Pasangan suami-isteri sebelumnya telah mengalami minimal dua kali kegagalan prosedur fertilisasi in vitro.
    3. Usia isteri lebih dari 35 tahun.
  4. Surogasi dalam bentuk apapun dilarang dilakukan.
  5. Jual beli embryo, sel telur dan spermatozoa dilarang dilakukan.
  6. Dilarang menghasilkan embryo manusia semata-mata untuk tujuan penelitian. Penelitian mengenai embryo manusia hanya dilakukan setelah tujuan penelitian dirumuskan dengan sangat jelas.
  7. Dilarang melakukan penelitian terhadap dan/atau dengan menggunakan embryo manusia yang berumur lebih dari 14 hari sejak tanggal fertilisasi.
  8. Kultur in vitro embryo tidak boleh dilakukan lebih dari 14 hari sejak fertilisasi (tidak termasuk cryopreservation).
  9. Dilarang melakukan penelitian dan/atau percobaan terhadap atau dengan menggunakan embryo, sel telur atau spermatozoa manusia tanpa ijin khusus dari siapa ia berasal.
  10. Dilarang melakukan fertilisasi antar-spesies kecuali jika digunakan sebagai metode mengatasi atau mendiagnosis infertilitas manusia. Setiap hibrid trans-spesies harus diakhiri pertumbuhannya pada tahap dua sel.

Sesuai dengan poin 8 dan 9, penelitian terkait embryo hasil fertilisasi in vitro harus dilakukan dengan ijin pemilik/penanggungjawab dan menggunakan embryo dengan usia paling tua 14 hari setelah fertilisasi. Poin ini penting, terutama terkait dengan penelitian dan aplikasi teknologi human Embryonic Stem Cells (hESC) yang akan dijelaskan di bawah ini.

 

Human Embryonic Stem Cells

Sel punca atau stem cells adalah jenis sel yang belum berdiferensiasi secara penuh sehingga dapat diinduksi untuk membentuk jaringan/organ tertentu sesuai dengan yang dibutuhkan. Stem cells berguna dalam bidang kedokteran dan menarik untuk diteliti karena dapat dimanfaatkan dalam beberapa hal sebagai berikut (Center for Genetics and Society).

  1. Pengobatan jaringan tubuh yang rusak.
  2. Objek penelitian penyakit genetis secara lebih mudah.
  3. Objek pengganti uji coba obat sebelum diujikan pada manusia.
  4. Objek eksperimentasi penelitian mengenai perkembangan manusia.

Stem cells dapat bersifat multipoten maupun pluripten (Gambar 2.2). Stem cells yang berasal dari plasenta, tali pusar dan sumsum tulang belakang bersifat multipoten. Artinya, ia dapat bersiferensiasi menjadi beberapa jenis sel, namun tidak semuanya. Stem cells yang berasal dari embryo (biasanya diambil pada usia 5 sampai 7 hari) (Gambar 2.3) (Fadel, 2007) bersifat pluripoten sehingga bisa bersiferensiasi menjadi semua jenis sel dari tiga jenis lapisan primer embryo (Gambar 2.2). Karena itulah, embryonic stem cells menjadi sangat berharga.

Gambar 2.2 Hirarki Embryonic Stem Cells (Fadel, 2007)

Human Embryonic Stem Cells (hESC) project merupakan penelitian yang ditujukan untuk melakukan duplikasi sel blastokistat sehingga dapat digunakan dalam pengobatan sel (therapeutic cloning). Sumber embryo pada penelitian ini biasanya adalah embryo sisa prosedur fertilisasi in vitro pada proses reproduksi buatan (bayi tabung).

Gambar 2.3 Kultur inner cell mass blastokista manusia (Fadel, 2007).

Mengapa demikian? Hal ini semata terjadi karena biasanya prosedur fertilisasi in vitro menghasilkan lebih banyak embryo daripada yang dibutuhkan. Misal, dari sepuluh embryo yang dihasilkan, hanya lima embryo yang diimplantasi ke dalam rahim ibu. Sisanya, diawetkan menggunakan teknik cryopreservation. Selain itu, terdapat peraturan yang menyatakan bahwa embryo tidak boleh secara sengaja dihasilkan semata untuk digunakan dalam penelitian hESC. Terlepas dari hal itu, penelitian mengenai hESC masih merupakan isu dalam debat panjang Bioetika.

 

Isu Etika mengenai Human Embryonic Stem Cells

Isu etika hESC muncul karena sumbernya adalah inner cell mass (ICM) dari blastokista embryo. Artinya, penelitian  hESC tidak dapat dilakukan tanpa terlebih dulu merusak embryo. Padahal, embryo memiliki potensi untuk hidup jika diimplantasikan pada rahim perempuan dengan fase hormonal yang tepat. Dengan demikian, status moral embryo menjadi bahan perdebatan sengit.

Perbedaan pendapat mengenai kapan embryo memiliki posisi moral sulit untuk dikerucutkan menjadi satu kesimpulan karena tidak satupun percobaan telah membuktikan kapan nyawa embryo mulai ada. Perbedaan pendapat ini, utamanya berasal dari perbedaan keyakinan agama.

Gereja Katolik dengan tegas menyatakan penolakan terhadap penelitian hESC. Menurut pendapat mereka, embryo merupakan manusia penuh yang memiliki status moral sebagaimana manusia dewasa. Kaum Protestan menolak embryo yang berasal dari sisa fertilisasi buatan dan janin hasil aborsi meski sebagian berpendapat bahwa penelitian ini boleh dilakukan untuk kepentingan medis (Jordan; Lim dan Ho, 2003).

Di lain sisi, umat Budha mendukung penelitian hESC yang dapat menguntungkan umat manusia. Begitu pula dengan umat Hindu. Dalam ajaran Hindu,  membunuh janin merupakan dosa, karena itulah aborsi dilarang. Meskipun begitu, embryo dibawah 14 hari tidak dianggap manusia yang utuh sehingga tidak ada larangan penggunaannya untk penelitian hESC (Lim dan Ho, 2003).

Kepercayaan Yahudi akan kewajiban untuk menjaga kehidupan dan kesehatan membuatnya menjadi pendukung utama penelitian hESC. Sumber hESC yang diusulkan adalah janin hasil aborsi dengan alasan kesehatan dan sisa embryo dari klinik fertilisasi buatan (Jordan). Umat Yahudi juga berpendapat bahwa janin mulai memiliki nyawa setelah berusia 40 hari, sehingga penggunaan embryo untuk hESC yang biasanya pada usia lima sampai 7 hari diperbolehkan (Lim dan Ho, 2003).

Gereja Ortodoks mengijinkan penelitian hESC sejauh sumber yang digunakan bukanlah janin hasil aborsi atau embryo yang sengaja dihasilkan untuk penelitian; serta ditujukan untuk kepentingan medis (Jordan).

Islam memandang bahwa penelitian hESC dapat dilakukan dengan embryo yang berasal dari sisa fertilisasi buatan, aborsi maupun yang dihasilkan secara sengaja untuk penelitian. Dalam Islam, yang terpenting embryo belum memiliki nyawa, atau dengan kata lain belum berusia 120 hari kehamilan (Lim dan Ho, 2003).

 

 

BAB III KASUS EMBRYO YATIM PIATU

Asep Jatnika dan Shinta Bella adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama 8 tahun dan belum dikaruniai anak. Pada tahun 2004, pasangan suami istri ini mendatangi Klinik Bunda Ceria dan meminta jasa klinik tersebut untuk bisa mendapatkan anak melalui teknik in vitro fertilization (IVF). Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya diperoleh delapan embryo yang siap diimplantasikan. Empat dari delapan embryo yang diperoleh kemudian diimplantasikan kedalam kandungan Ny. Shinta Bella, sementara empat embryo lainnya, atas permintaan suami istri tersebut, disimpan dalam keadaan beku untuk digunakan dikemudian hari.

Delapan bulan kemudian, Ny. Shinta Bella melahirkan dua orang bayi kembar laki-laki dan tumbuh menjadi anak yang sehat. Tahun ke tiga setelah kehamilannya (2007), pasangan tersebut berencana untuk memiliki anak ketiga dengan menggunakan embryo mereka yang tersimpan di Klinik Bunda Ceria. Namun, sebelum niat itu terlaksana, keluarga ini mengalami kecelakaan tragis yang mengakibatkan seluruh anggota keluarga Asep Jatnika (suami, istri dan kedua anak mereka) meninggal dunia. Keadaan ini baru diketahui tiga tahun kemudian oleh Klinik Bunda Ceria, ketika mereka berusaha menghubungi (alm.) Bapak Asep Jatnika untuk meminta ijin penggunaan embryo keluarga tersebut pada penelitian sel punca embryonic (embryonic stem cell) oleh sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung. Penelitian tersebut telah mendapatkan ijin dari pihak yang berwenang dan para peneliti berharap dapat menggunakan embryo milik keluarga Asep Jatnika pada penelitian mereka.

Berdasarkan kasus tersebut, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Apakah klinik IVF memiliki wewenang untuk menyerahkan embryo “yatim-piatu” keluarga Asep Jatnika kepada tim peneliti sel punca? Menurut pertimbangan saudara siapa yang berhak terhadap embryo “yatim-piatu” keluarga Asep Jatnika?
  2. Jika saudara merupakan orang yang berhak untuk menerima embryo “yatim-piatu tersebut” apa yang akan saudara lakukan terhadap embryo tersebut?
    1. Memperbolehkan embryo tersebut digunakan untuk penelitian sel punca.
    2. Terus menyimpan embryo tersebut.
    3. Memusnahkan embryo tersebut.
    4. Menawarkan embryo tersebut untuk diadopsi oleh keluarga lain.
    5. Menjual embryo tersebut kepada pihak pihak yang membutuhkan.

Urutkan dari yang menurut saudara paling boleh dilakukan hingga yang paling tidak boleh dilakukan oleh orang/institusi yang berhak terhadap embryo tersebut. Berikan alasan etika untuk urutan pertama dan yang terakhir.

 

 

BAB IV PEMBAHASAN

 

Status Moral Embryo Yatim Piatu

Di Indonesia, terdapat aturan bahwa embryo hasil fertilisasi buatan tidak boleh ditumbuhan secara in vitro melebihi usia 14 hari sejak fertilisasi. Artinya, dalam kondisi embryo milik (alm.) Bapak Asep dan Ibu Shinta mengalami proses cryopreservation, usia perkembangan embryo mereka maksimal adalah 14 hari. Dalam kondisi ini, biasanya embryo berada dalam tahap blastokista (Gambar 4.1).

Gambar 4.1 Blastokista manusia.

Pada periode ini, diferensiasi terjadi dalam tingkat sangat terbatas dan sel (embryoblas) masih bersifat pluripoten (mampu berdiferensiasi menjadi semua jenis sel). Secara umum, sel telah memenuhi syarat makhluk hidup secara biologis seperti bernafas, membutuhkan sumber energi, melakukan metabolisme, bergerak, iritabilitas dan melakukan proses reproduksi. Meskipun begitu, untuk menentukan apakah embryo 14 hari memiliki posisi dalam moral, kita harus merujuk pada definisi “hidup” yang terikat konsep moral dalam etika. Hal ini, dapat diawali dengan melihat prinsip utama dari Bioetika yaitu otonomi.

Dalam pandangan etika dan moral (antroposentris), hanya manusia yang dianggap memiliki hak dan tanggungjawab moral serta hanya manusia yang memiliki nilai dan mendapat perhatian (Steinbock, 2007). Kehidupan manusia dalam kerangka Bioetika dimulai saat ia memiliki kehendak, kemampuan dan wewenang untuk memutuskan nasibnya sendiri sesuai dengan konsep respect to autonomy. Dalam bahasa lain, manusia seutuhnya terbentuk saat ia berwujud organisme dengan kesatuan kemampuan untuk menentukan perkembangannya sendiri (Steinbock, 2007).

Penentuan kapan hal ini terjadi dalam perkembangan manusia penting dilakukan dan disepakati karena ini merupakan bata dimana kerangka sesuai moral atau melanggar moral dapat diterapkan. Dalam bahasa lain, batasan ini yang akan menentukan apakah suatu hal boleh atau tidak boleh dilakukan atas manusia. Salah satu hal yang bisa dijadikan rujukan (sesuai prinsip otonomi)  adalah dengan menjawab kapan organ yang berfungsi dalam pembentukan kehendak dan kemampuan berpikir terbentuk.

Organ yang memiliki porsi terbesar dalam pembentukan kehendak dan kemampuan berpikir manusia adalah otak. Otak pada manusia merupakan bagian dari Central Neural System (CNS) yang mulai terbentuk semenjak usia 3 minggu dalam tahap neurulasi. Meskipun CNS mulai terbentuk setelah 3 minggu, otak sendiri dibentuk mulai minggu ke-9 dan berfungsi setelah minggu ke-16 (Gambar 2.2). Setelah tahap itu, terutama setelah usia minggu ke-20, fetus telah memiliki rasa sakit dan pengaturan kesadaran.

Gambar 4.2 Perkembangan embryo manusia (University of Pennsylvania, 2010).

Merujuk pada pertimbangan di atas, dapat dikatakan bahwa secara moral, embryo dinyatakan hidup dan memiliki status moral sebagaimana manusia dewasa setelah berusia 16 minggu atau sekitar empat bulan. Meskipun begitu, tahap perkembangan fetus ini belum memungkinkannya untuk mempertanggungjawabkan hak dan tanggungjawab moral yang dimilikinya, pun untuk mempertahankan dan memperjuangkannya jika ia secara moral berada dalam kondisi terancam. Dengan begitu, manusia dewasa lah yang memiliki tanggungjawab untuk melindungi dan dan menjaga hak moral yang dimilikinya.

Dalam pandangan agama Islam, ruh ditiupkan ke dalam janin pada usia 120 hari. Hal ini sesuai dengan dalil naqli sebagai berikut.

“Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk ‘nuthfah’, kemudian dalam bentuk alaqah’ selama itu pula, kemudian dalam bentuk ‘mudghah’ selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh kepadanya” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi).

Artinya, dalam pandangan moral Islam, janin di bawah usia 120 hari belum memiliki status moral. Setelah usia ini, janin tidak lagi dianggap memiliki potensi hidup melainkan memiliki kehidupan itu sendiri. Segala bentuk gangguan yang menyebabkan kehidupan itu lepas dari janin dianggap sebagai pembunuhan yang setara dengan pembunuhan pada manusia dewasa.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu” (Qs. al-Isra`: 31).

Adapun penolakan sesuai dengan pandangan Gereja Katolik dirumuskan dalam pernyataan berikut.

“Berdasarkan analisis biologi yang menyeluruh, embryo manusia yang hidup merupakan manusia seutuhnya. Bersadarkan hal ini, dapat dikatakan bahwa embryo merupakan individu manusia yang memiliki hak atas kehidupannya. Dengan begitu, perusakan ICM blastokista merupakan tindakan immoral yang dilarang keras. Tidak ada hal baik yang dapat diharapkan untuk menentukan bahwa tindakan perusakan ini merupakan hal yang adil. Untuk umat Katolik, pernyataan ini secara eksplisit disampaikan oleh Magisterium Gereja.”(Jordan).

Pernyataan di atas sebetulnya tidak benar-benar terbukti secara biologis. Secara biologis, pada tahap awal perkembangan ini justru embryo belum menunjukkan sifat-sifat sebagai satu individu tunggal. Sebagai contoh, embryo masih memiliki kemungkinan mengalami pembelahan spontan membentuk dua individu kembar identik. Bahkan, secara tegas di awal telah dinyatakan bahwa sel embryo bersifat pluripoten dengan tingkat diferensiasi sangat rendah. Hal ini secara esensial berbeda dengan janin pada level perkembangan lanjut atau pada individu dewasa yang sudah terdiferensiasi.

Dengan begitu, pernyataan bahwa analisis biologi sifat  manusia utuh pada embryo sejak awal menjadi terbantahkan. Dan dengan sendirinya, pernyataan-pernyataan setelah itu turut terbantahkan. Penggunaan embryo pada penelitian hESC tidak bersifat immoral dan tidak terlarang melainkan bersifat amoral, dalam hal ini di luar ketentuan moral yang mengatur larangan penghilangan nyawa manusia. Adapun ketentuan lainnya dapat merujuk pada pertimbangan lain seperti sifat membahayakan, sifat kebermanfaatan, keadilan, dsb.

Berdasarkan pandangan di atas, maka status embryo dalam usia perkembangan 14 hari dianggap belum belum bernyawa. Artinya, embryo milik suami-isteri Asep Jatnika dan Shinta Bella merupakan makhluk hidup secara biologi, namun bukan manusia (hidup) yang memiliki posisi moral.

 

Status Pertanggungjawaban Embryo Yatim Piatu

Berdasarkan Pedoman Pelayanan Bayi Tabung di Rumah Sakit, dinyatakan bahwa penelitian dan/atau percobaan terhadap atau dengan menggunakan embryo, sel telur atau spermatozoa manusia tanpa ijin khusus dari siapa ia berasal tidak boleh dilakukan. Karena itulah, Klinik Bunda Ceria tidak memiliki wewenang untuk menyerahkan embryo tersebut tanpa lebih dulu meminta ijin pada penanggungjawabnya.

Sesuai dengan kesimpulan pada pembahasan sebelumnya, embryo Bapak Asep dan Ibu Shinta yang disimpan di Klinik Bunda Ceria merupakan entitas yang tidak memiliki posisi moral. Artinya, ia dianggap sebagai benda hidup yang jika Bapak Asep dan Ibu Shinta meninggal, maka embryo diwariskan kepada ahli warisnya yang berhak.

Meskipun begitu, masih tersisa pertanyaan dalam kasus ini. Peraturan menyatakan dengan jelas bahwa penelitian dan/atau percobaan terhadap atau dengan menggunakan embryo, sel telur atau spermatozoa manusia tanpa ijin khusus dari siapa ia berasal tidak boleh dilakukan. Dalam kondisi sumber embryo tidak lagi hidup, tidak jelas apakah ahli warisnya memiliki hak untuk memberikan atau tidak memberikan ijin penggunaan embryo dalam penelitian. Bagaimanapun, tidak ada jaminan bahwa ahli waris memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup mengenai mengapa Bapak Asep dan Ibu Shinta melakukan prosedur fertilisasi in vitro dan apa yang diniatkan keduanya untuk masa depan embryo tersebut.

Dengan asumsi ahli waris memiliki hak untuk menggantikan sumber embryo dalam penentuan nasib embryo, maka ahli waris berhak untuk menolak atau menerima tawaran dari Klinik Bunda Ceria untuk memanfaatkan embryo tersebut dalam penelitian Embryonic Stem Cells.

 

Tindak Lanjut Penggunaan Embryo Yatim Piatu
Ketika saya menjadi ahli waris yang secara hukum memiliki wewenang dalam menentukan masa depan embryo ini, maka saya akan berpegang pada tiga hal berikut secara berturut-turut dalam mengambil keputusan.
  1. Hukum Islam. Sebagai Muslim, ini adalah landasan pertama tindakan saya.
  2. Prinsip dasar yang melandasi pemikiran Bioetika.
  3. Hukum Republik Indonesia. Pada dasarnya, hukum merupakan perangkat yang diturunkan dari aturan moral dan nilai-nilai yang dikandungnya. Hukum dapat berubah ketika pemikiran etika berkembang sehingga mengubah moral serta pandangan apa yang baik-salah di masyarakat. Karena itulah, hukum saya simpan di urutan ketiga setelah prinsip Bioetika.

Pandangan sosial dan biologi-medis tidak saya masukan ke dalam dasar pengambilan keputusan secara terpisah. Saya berpendapat bahwa dalam kasus ini, pada dasarnya pandangan sosial dihasilkan dari efek bola salju akan adanya keyakinan dan moral agama, pemikiran etika serta penenatapan suatu aturan hukum oleh negara. Karena itu, pandangan sosial telah tercakup dalam hal yang lain. Adapun pandangan biologis-medis tidak saya masukan karena justru kajian ini dilakukan untuk menilai keabsahan tekonologi dan aplikasi keilmuan biologi-medis. Karenanya, dibanding menjadi dasar, saya berpendapat bahwa aspek ini bisa menjadi perangkat penjelas dalam argumentasi dari ketiga dasar pertimbangan tadi.

Berikut adalah urutan pilihan yang gambaran kemungkinan pengambilan keputusan pada kondisi yang berbeda, dari yang paling ideal hingga paling tidak ideal.

 

  1. 1.         Memperbolehkan embryo tersebut digunakan untuk penelitian human Embryonic Stem Cells.

Terlepas dari segala kontroversinya, saya berpendapat bahwa penelitian hESC tidak seharusnya dilarang. Hal yang perlu dilakukan adalah mempertegas peraturan dan batasan penelitian serta penggunaannya. Berikut adalah beberapa pandangan yang memilih saya untuk mengambil penelitian hESC sebagai pilihan utama.

Pertama, saya berpendapat bahwa baik secara biologi maupun berdasarkan moral agama (Islam), embryo berusia maksimum 14 hari belum memiliki nyawa (pre-ensoulment). Dengan begitu, penggunaan sebagian atau seluruhnya dalam penelitian tidak termasuk ke dalam penghilangan nyawa atau pembunuhan.

Bersadarkan pandangan ajaran Islam, masuknya nyawa pada janin terjadi setelah usia 120 hari. Hal ini sesuai dengan hadits sebagai berikut.

“Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk ‘nuthfah’, kemudian dalam bentuk alaqah’ selama itu pula, kemudian dalam bentuk ‘mudghah’ selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh kepadanya” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi).

Secara biologis, pada dasarnya saya berpendapat bahwa ada dua kemungkinan kapan nyawa sudah ke dalam tubuh janin, yaitu setelah pembentukan jantung atau pembentukan otak.  Hal ini didasarkan ada pandangan bahwa untuk menentukan kematian manusia, biasanya digunakan acuan kematian organ jantung (berhenti berdetak) atau kematian otak (biasanya setelah kematian jantung) (Steinbock, 2007).

Pembentukan organ jantung pada manusia terjadi mulai usia janin tiga minggu setelah proses gastrulasi selesai, seiring dengan dimulainya proses neurulasi. Jantung sendiri pada tahap tersebut belum sempurna sehingga merupakan organ yang belum berfungsi. Fungsi jantung dapat diatur ketika otak telah terbentuk. Sedangkan, pada tahap tersebut, sistem saraf pusat masih dalam proses pembentukan dan otak bahkan belum nampak. Karena itulah, kemungkinan terdapatnya nyawa beserta sifat otonomi manusia dianggap belum ada.

Menurut pilihan kedua, nyawa dan otonomi (prinsip dasar Bioetika) mulai masuk pada tahap pembentukan organ otak. Berdasarkan paparan sebelumnya, nampak bahwa otak merupakan pusat pengaturan kerja jantung. Selain itu, otak juga merupakan pusat kesadaran dan kehendak pada manusia. Sehingga secara biologis, sangat masuk akal untuk berpendapat bahwa nyawa dan kesadaran muncul seiring dibentuknya organ ini. Pembentukan otak sendiri dilakukan jauh setelah usia 14 hari, yaitu pada usia sembilan hingga 16 minggu. Dan baru setelah itu, janin memiliki pengaturan kesadaran, bisa merasakan sakit dan memberi respon atas rangsang yang diberikan secara otonom. Utamanya, setelah janin mencapai usia 20 minggu.

Dengan begitu, telah terdapat dalil naqli dan aqli serta pandangan etika terkait keabsahan penggunaan embryo dalam penelitian hHESC. Namun, terdapat hal lain yang menyebabkan saya bukan saja memperbolehkan embryo tersebut digunakan, melainkan juga menyimpannya sebagai pilihan pertama.

Alasan kedua saya terkait pilihan ini adalah mengenai asas kebermanfaatan (prinsip beneficence). Kita tahu pasti bahwa memang terdapat beragam manfaat penelitian dan penggunaan hHESC ini (Shapiro, 1999).

  1. Penggunaan hESC untuk mengganti organ yang rusak (transplantasi).
  2. Objek penelitian perkembangan dan reproduksi manusia.
  3. Pennunaan hESC dalam menurunkan kadar racun yang dialami jaringan selama pengobatan kanker.
  4. Terapi penyakit syaraf (terkait sifat sel saraf yang tidak dapat diperbaiki jika rusak).
  5. Terapi penyakit tulang dan kartilago.
  6. Terapi kelainan darah.
  7. Objek pengganti uji coba obat sebelum diujikan pada manusia sehingga dapat meminimalkan galat reaksi obat jika dibandingkan dengan penggunaan hewan uji.

Dengan banyaknya manfaat terkait medis terapa maupun perkembangan ilmu pengetahuan secara umum, maka saya berpendapat bahwa penelitian ini seharusnya didukung. Adapun kecenderungan negatif (prinsip non-maleficence) dari adanya penelitian ini dapat direduksi dengan adanya aturan yang jelas. Dan saya cukup diyakinkan dengan pernyataan bahwa penelitian ini telah mendapat ijin dari pemerintah berwenang. Dengan demikian, saya pikir pastinya penelitian ini telah dirumuskan dengan sangat cermat sehingga tidak memiliki kecenderungan yang merusak).

Alasan ketiga dari pilihan ini adalah bahwa saya tidak menemukan kecacatan hukum pada penggunaan embryo tersebut dalam penelitian yang diusulkan Klinik Bunda Ceria. Secara hukum, saya telah diberi hak penuh untuk memberikan ijin penggunaan dengan meninggalnya Bapak Asep dan Ibu Shinta. Embryo ini juga tidak dihasilkan semata untuk penelitian tersebut; bukan hasil persilangan antar spesies; tidak mengandung unsur jual beli dan berusia maksimum 14 hari sesuai aturan cryopreservation.

Prinsip keadilan (justice) dalam Bioetika terpenuhi dengan telah dipikirkannya terlebih dulu status moral embryo dan dirumuskannya keabsahan tersebut melalui berbagai cara pandang. Dan berrdasarkan pertimbangan di atas, penggunaan embryo pada penelitian saya anggap sebagai pilihan terbaik.

 

  1. 2.         Meneruskan penyimpanan embryo.

Dalam kondisi terdapat cacat dalam penelitian sehingga hal tersebut tidak dapa dilakukan, saya memilih untuk meminta Klinik Bunda Ceria terus menyimpan embryo tersebut. Hal ini saya landaskan pada pemikiran sebagai berikut.

Pertama, embryo tersebut diwariskan dari orang terdekat/keluarga saya sehingga saya memiliki kewajiban untuk menjaganya. Saya menolak untuk mengganggu, merusak atau memusnahkannya tanpa adanya alasan keamanan yang benar (prinsip justice, non-maleficence). Kedua, meskipun penelitian kini tidak dapat dilakukan, bisa jadi embryo tersebut dapat bermanfaat dalam kesempatan yang lain (prinsip beneficence). Ketiga, saya tidak menemukan alasan etika maupun hukum yang melarang saya meminta Klinik Bunda Ceria untuk tetap menyimpan embryo tersebut.

 

  1. 3.         Memusnahkan embryo.

Dalam kondisi embryo tersebut mengalami kerusakan, cacat dan/atau memiliki masalah keamanan yang mengancam keselamatan sekitarnya sehingga menyimpannya memiliki lebih banyak keburukan dibanding manfaat, maka saya memilih untuk memusnahkannya (beneficence, non-maleficence, justice). Meski terkesan buruk, pilihan ini dalam suatu kondisi bisa jadi merupakan pilihan terbaik. Embryo yang kondisinya membahayakan tidak akan saya ijinkan untuk digunakan dalam penelitian. Saya memiliki kewajiban moral kepada orang yang mewariskannya (meski telah meninggal) untuk mempertanggungjawabkan nasib embryo tersebut.

 

  1. 4.         Menawarkan embryo untuk diadopsi keluarga lain.

Pilihan ini sebetulnya berada di luar kategori yang saya anggap benar. Dalam pandangan Islam, embryo hasil fertilisasi buatan tidak dapat ditumbuhkan dalam janin wanita selain ibunya (sumber sel telur) (justice, non-maleficence). Hal ini dianggap dapat merusak kejelasan nasab dari anak yang dilahirkan kemudian. Hal ini dapat memicu masalah terkait status mahram, pernikahan hingga waris yang sangat esensial dalam hukum Islam (bertentangan dengan prinsip beneficence). Selain itu, dalam hukum konvensional jelas dinyatakan dalam peraturan mengenai fertilisasi buatan bahwa surogasi dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan.

Meskipun begitu, karena pilihan ini tidak melibatkan jual beli, saya menyimpannya dalam pilihan keempat.

 

  1. 5.         Menjual embryo kepada pihak yang membutuhkan.

Selain melanggar kaidah Islam terkait nasab dan larangan surogasi dalam hukum konvensional, pilihan ini ditempatkan pada posisi terakhir karena melanggar larangan jual beli embryo. Pilihan ini merupakan pilihan terburuk dibanding pilihan-pilihan sebelumnya.

Dari sisi etika, jelas bahwa menjual embryo merupakan tindakan yang cacat. Petama, dengan melihat prinsip beneficence, dapat disimpulkan bahwa hal ini bermanfaat namun bersifat jangka pendek dan oportunistik. Proses ini menghasilkan uang di pihak ahli waris (misal: saya) sehingga manfaatnya bersifat material yang periodenya singkat. Bagi pembeli sendiri, jika embryo tersebut diimplantasikan, maka anak yang lahir akan mengalami permasalahan nasab, mahram, dsb. Jika digunakan untuk penelitian, maka tidak ada jaminan bahwa penelitian itu memberi manfaat.

Sifat oportunistik muncul sebagai bentuk pemanfaatan peluang tanpa memegang prinsip yang benar untuk keuntungan personal. Dalam hal ini, penjual mendapat uang dengan memanfaatkan peluang yang diberikan oleh pembeli dengan melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk kepentinggannya sendiri.

Kedua, dari sisi non-maleficence kita dapat melihat bahwa menjual embryo merupakan tindakan yang berbahaya. Penjualan embryo bersifat melanggar hukum sehingga pembelinya, siapapun itu, merupakan pihak yang tidak dapat dianggap bertanggungjawab. Bisa jadi embryo digunakan untuk hal-hal yang melanggar hukum dan melanggar kode etik. Ketiga, dari paparan sebelumnya kita dapat melihat bahwa penjualan embryo, untuk tujuan apapun, merupakan penyalahgunaan aplikasi bioteknologi yang bersifat tidak adil (injustice).

Berdasarkan paparan di atas, jelas bahwa pilihan ini merupakan pilihan terburuk yang melanggar kaidah Islam, prinsip-prinsip etika, aturan hukum konvensional dan bersifat materialistik-oportunistik.

 

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

  1. Embryo yatim-piatu Bapak Asep dan Ibu Shinta tidak memiliki status moral karena dianggap belum memiliki nyawa dan menjadi manusia yang utuh.
  2. Hak pertanggungjawaban embryo dimiliki oleh ahli waris Keluarga Asep Jatnika sehingga Klinik Bunda Ceria tidak memiliki kewenangan untuk menyerahkan embryo tersebut pada tim peneliti hESC.
  3. Berdasarkan beberapa pertimbangan (hukum Islam, prinsip dasar Bioetika dan hukum RI), berikut adalah urutan pilihan keputusan tindak lanjut atas embryo yatim-piatu Keluarga Asep Jatnika.
    1. Memperbolehkan penggunaan embryo dalam penelitian hESC.
    2. Meneruskan penyimpanan embryo.
    3. Memusnahkan embryo.
    4. Menawarkan embryo untuk diadopsi keluarga lain.
    5. Menjual embryo kepada pihak yang membutuhkan.
Saran

Penggunaan asumsi dalam kasus ini dilakukan karena penulis belum menemukan keterangan eksplisit yang menyatakan bahwa ahli waris atau penanggungjawab pengganti sumber embryo memiliki hak menentukan nasib embryo. Dengan begitu, disarankan agar hal ini dapat diperbaiki dengan mencari aturan yang lebih detail terkai hak pertanggungjawaban embryo yatim-piatu. Jika tidak, maka terbuka kemungkinan ketidaktahuan atau pengetahuan akan hESC yang minim dari ahli waris dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Center for Genetics and Society. 2009. Human Embryonic Stem Cell Research Frequently Asked Questions and Fact Sheet. Oackland: CGS.

Fadel, H.E. 2007. Prospects and Ethics of Stem Cell Research: An Islamic Perspective. Journal of Islamic Medical Association : vol. 39 hlm.73.

Hoog, C. 2010. Human In Vitro Fertilization. Stockholm: Karolinska Institute.

Jordan, G. ____. The Embryonic Stem Cell Debate: A Brief Review. Belfast: The Queen’s University of Belfast.

Lim, S. Dan Ho, C. 2003. The Ethical Position os Singapore on Embryonic Stem Cell Research. SMA News vol. 35 hlm. 14.

Shapiro, H.T. dkk. 1999. Ethical Issues in Human Stem Cell Research Volume 1: Report and Recommendations of the National Bioethics Advisory Commision. Maryland: National Bioethics Advisory Commision.

Steinbock, B. 2007. “Autonomy”. The Oxford Handbook o Bioethics. New York: Oxford University Press Inc.

Steinbock, B. 2007. “Moral Status, Moral Value, and Human Embryo: Implications for Stem Cell Research”. The Oxford Handbook o Bioethics.  New York: Oxford University Press Inc.

Steinbock, B. 2007. “The Definition of Death”.  The Oxford Handbook o Bioethics. New York: Oxford University Press Inc.

University of Pennsylvania. 2010. Critical Periods of Human Development [online]. Diunduh dari http://www.med.upenn.edu/meded/public/berp/overview/BV_1.html tanggal 19 September 2010

 

ECOTECH-VILLAGE: Alternatif Pembangunan Ekonomi Pedesaan di Jawa Barat

Dalam menghadapi pasar bebas, hanya negara yang memiliki spesifikasi produk yang akan mampu memimpin pasar. Indonesia, dalam hal ini secara khusus Jawa Barat, akan bertahan jika berhasil mengelola dengan baik potensi sumber daya hayati yang dimilikinya. Salah satu kunci pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hayati adalah dengan penguasaan dan aplikasi bioteknologi. Suatu  isu penting yang menjadi fokus utama di dunia abad ini.

Jawa Barat merupakan salah satu surga sumber daya hayati (SDH) di Indonesia. Tercatat dalam sejarahnya, ekosploitasi SDH ini telah dilakukan secara besar-besaran, sejak tahun 1823. Tidak tanggung-tanggung, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Van Der Cappelen, memerintahkan eksploitasi hingga didapat dana > 900 juta gulden. Lebih dari cukup untuk menutupi hutang Hindia Belanda yang mencapai 600 juta gulden. Eksploitasi melalui perambahan hutan ini kemudian dilanjutkan dengan pengembangan perkebunan tanaman industri yang saat itu sangat laku di pasar dunia. Teh, kina, karet, kopi, cokelat, kelapa sawit dan jenis tanaman perkebunan lainnya menghiasi bentang alam perbukitan Jawa Barat.

Tak ayal, hal yang telah disebutkan di atas merupakan salah satu bentuk awal alih guna lahan pegunungan Jawa Barat yang menghasilkan banyak keuntungan finansial. Hingga saat ini, hal yang serupa masih terus terjadi. Lahan pegunungan yang merupakan daerah tangkapan air hujan, sumber mata air dan sumber air sungai semakin tergedradasi. Erosi, banjir, tanah longsor, bahkan putting beliung menjadi bencana alam yang tidak jarang terjadi di wilayah ini. Keuntungan finansial dari tipe eksploitasi SDH ini bukanlah hal yang bisa didapat dengan cuma-cuma.

Lantas, hal apa kiranya yang dapat dilakukan dalam pengelolaan dan pemanfaatan SDH Jawa Barat secara berkelanjutan? Bagaimanapun, adalah tidak adil bagi masyarakat Jawa Barat, jika SDH yang melimpah ini tidak diperkenankan untuk diambil manfaatnya secara ekonomi dengan alasan pelestarian alam dan lingkungan. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah melalui pengembangan ekowisata.

Seperti yang kita ketahui, konsep ekowisata merupakan salah satu primadona dalam pemanfaatan sumber daya hayati belakangan ini. Sebagai salah satu program yang mendukung konservasi lingkungan, konsep ini telah dikembangkan di berbagai belahan dunia. Bahkan, sejalan dengan pergerakan konservasi, konsep ekowisata juga  difasilitasi oleh World Tourism Organization (WTO). Meskipun begitu, masih kurang rasanya jika konsep yang mampu mensinergiskan kepentingan ekonomi dan ekologi ini tidak mampu menjawab kepentingan sosial.

Secara ekologi, ekowisata jelas memiliki nilai penting. Kegiatan kepariwisataan mampu menjual daya tarik, keunikan bentuk dan bentang alam, tanpa mengurangi atau mengambil secara “nyata” apa yang terdapat di dalamnya. Artinya, manusia dapat menghasilkan uang dari alam, tanpa mengganggu kelestariannya. Secara sosial, adalah benar bahwa usaha ekowisata, apalagi jika dilakukan dalam skala besar, dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah tinggi. Namun, keuntungan ekonomi masyarakat tetap tidak akan optimal selama pemegang kepentingan usaha tidak menerapkan basis pemberdayaan masyarakat lokal. Belum lagi, bahwa pengelolaan dan pemanfaatan SDH tidak akan memberi dampak sosial-ekonomi yang memadai dan berkelanjutan tanpa penguasaan dan penerapan aspek bioteknologi secara mendasar dalam kehidupan masyarakat.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka muncullah ide dan  inovasi untuk memadukan konsep ekowisata dan bioteknologi berbasis masyarakat pedesaan. Dalam  konsep ini, diharapkan  pembangunan ekonomi secara berkelanjutan dapat dicapai dengan memaksimalkan keuntungan ekonomi masyarakat lokal, memperkecil ongkos lingkungan dan  mengurangi resiko sosial. Dengan konsep ini pula, sistem masyarakat agraris-pedesaan yang umum terdapat di Jawa Barat dapat diberdayakan secara optimal.

EcoTech Village merupakan kawasan penerapan bioteknologi berbasis pengembangan masyarakat pedesaan, agribisnis dan konservasi ekologis. Berbeda dengan konsep ekowisata yang hanya mengintegrasikan sisi wisata dan konservasi, konsep EcoTech Village dapat berfungsi sebagai kawasan wisata, agribisnis dan konservasi dalam waktu bersamaan. Secara mendalam dan konseptual, kawasan ini memfasilitasi integrasi antara konsep ekologi dan kepentingan ekonomi serta mengandalkan pemberdayaan masyarakat lokal.

Lingkungan pedesaan Jawa Barat secara umum terletak di daerah perbukitan dan berdampingan dengan kawasan alami. Hal ini merupakan kekayaan-keindahan bentang alam yang sangat berharga. Penjagaan keseimbangan komponen ekosistem buatan dan ekosistem alami merupakan upaya untuk mempertahankan lestarinya keindahan ini.

Dalam upaya pelestarian keragaman jenis, dapat diupayakan pembangunan kawasan pelestarian spesies lokal. Secara sekilas, sebetulnya serupa dengan membuat kebun campuran dengan lebih banyak sentuhan estetika dan aplikasi konsep ekologi di dalamnya. Melalui penataan yang apik, kawasan ini akan menjadi aset wisata dan pelestarian hayati yang berharga. Penanaman vegetasi dengan komposisi yang tepat akan mampu melestarikan, tidak saja spesies tanaman, melainkan juga spesies hewan yang berasosiasi dengannya. Baik itu jenis-jenis serangga, burung, mamalia, dll. Akan lebih baik lagi jika upaya ini dilengkapi inventarisasi biota. Pengaturan lokasi penanaman juga dapat dibentuk menjadi lokasi wisata alam.

Sebagai tambahan potensi rekreasi, kita dapat memasang berbagai sarana yang banyak diminati. Keberadaan sungai dengan arus yang cukup deras dapat dimanfaatkan untuk fasilitas arung jeram. Sungai dengan arus tenang dapat digunakan untuk arena berperahu yang bernuansa lebih santai. Penggunaan sungai sebagai sarana rekreasi tentu harus dibarengi upaya pelestarian daerah bantaran sungai. Secara sederhana, harus dijaga agar vegetasi riparian tetap dalam kondisi baik. Keberadaan tegakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas yang menantang adrenalin, misal untuk pemasangan flying fox.

Dari sisi bioteknologi, kita dapat menerapkan berbagai bentuk teknologi tepat guna yang mudah dan memungkinkan untuk diaplikasikan di lingkungan masyarakat umum. Potensi ternak mamalia besar (sapi atau kerbau) dapat dilengkapi dengan instalasi biogas kotoran ternak untuk mendukung kemandirian energi. Pakan ternak sendiri dapat diupayakan dengan penanaman rumput gajah yang juga dapat berfungsi sebagai vegetasi riparian penjaga bantaran sungai dari kerusakan.

Konsep bioteknologi yang juga dapat diterapkan adalah lahan basah buatan untuk pengolahan limbah organik. Limbah pertanian dan peternakan dapat dialirkan ke dalam sistem sub-surface flow constructed wetland (SSFCW) yang memanfaatkan jenis tanaman lahan basah yang banyak terdapat di lingkungan pedesaan, misalnya adalah ganyol (Canna edulis). Selain Canna edulis, akan lebih menarik jika digunakan Canna hibrida yang dikenal umum sebagai tanaman hias. Instalasi ini dapat diatur sedemikian rupa sehingga tampak sebagai sebuah taman. Air yang telah lebih bersih dapat dialirkan ke dalam kolam ikan atau empang yang ditanami teratai. Setelah itu, baru air dapat dilepas ke lingkungan perairan alami. Kolam atau empang ini pada dasarnya merupakan surface flow constructed wetland (SFCW). Dengan sistem pengolahan ini, kita dapat menciptakan taman dan kolam pengolahan limbah serta menghasilkan produk (ikan) secara bersamaan.

Dari sisi yang lain, kita dapat membuat kumbung produksi jamur tiram yang kini banyak digeluti masyarakat pedesaan. Produksi bibit dan medium tumbuh dapat dikelola oleh masyarakat. Pemerintah desa dapat membangun tempat khusus untuk kultur jaringan dan inokulasi bibit jamur. Produk jamur tiram dapat dipasarkan dalam bentuk segar, di dalam dan di luar desa. Produk kualitas 2 yang berukuran kecil dapat dijadikan jamur awetan yang dikemas dalam wadah (gelas) plastik. Dengan begitu, jamur dapat dijual dalam bentuk produk yang nilai gizinya tetap terjaga.

Pemberdayaan masyarakat diawali dengan inisiasi oleh pemerintah setempat. Penjelasan dan pengarahan awal dimaksudkan agar masyarakat mampu memahami keuntungan dari sistem ini. Setelah disepakati aplikasi apa saja yang akan dilaksanakan oleh masyarakat, dilakukan pelatihan untuk meningkatkan skill masyarakat sesuai dengan interest dan kebutuhannya. Untuk hal-hal yang sederhana dan tidak membutuhkan banyak pelatihan, dapat dilakukan bersamaan dengan masa pelatihan.

Dalam keberjalanannya, pemerintah tetap melakukan pembimbingan untuk menjaga keberlangsungan pengelolaan program ini. Selain pembimbingan untuk keberjalanan program, pemerintah juga dapat membantu dalam hal publikasi, pemasaran, inovasi dan pengembangan program. Dengan begitu, program ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan menguntungkan secara ekonomi. Namun, tentu saja pemerintah harus dapat menempatkan diri dengan baik. Dengan begitu, tidak akan ada ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pemerintah dan pemerintah dapat melepas keberjalanan program ini secara penuh ketika kesiapan masyarakat telah dicapai.

Salah satu contoh wilayah yang memiliki konsep mirip seperti ini adalah Desa Cilembu yang terletak di Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Kampung Teknologi Hayati Pangjugjugan dibentuk sebagai daerah wisata yang diinisiasi secara personal. Kawasan ini juga tidak secara langsung menjadi milik masyarakat yang berada dalam wilayah administratif Desa Cilembu. Meskipun begitu, kawasan wisata ini memiliki basis bioteknologi dan konservasi dan dikembangkan dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Bahkan, direncanakan bahwa sentra ubi Cilembu pun akan dibangun di kawasan ekowisata ini.

Melalui aplikasi konsep ini, sifat mata percaharian agraris pedesaan dapat tetap dipertahankan. Dengan kata lain, kita tidak perlu meningkatkan pendapatan lokal melalui pengubahan kultur masyarakat dan mengurangi resiko sosial. Kelestarian alam pun dapat tetap dipertahankan sedang keuntungan ekonomi dapat dihasilkan dengan lebih optimal. EcoTech Village, suatu alternatif pemberdayaan masyarakat lokal dalam rangka pembangunan ekonomi pedesaan yang layak dipertimbangkan dan dikembangkan di Jawa Barat.