STUDI HUBUNGAN ANTARA STRUKTUR VEGETASI DENGAN KOMPOSISI BURUNG DI TIGA TAMAN KOTA DI KOTA BANDUNG

Disusun oleh :

Arni Rahmawati Fahmi Sholihah  (10607037); Dwita Rezka A (10607008); Muhammad Yogaswara (10607016); Hanna C.R (10607051); Mirna Nadia (10607062); Rizki Putra (10607064)

***

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Taman kota adalah daerah hijau yang berada di dalam kota. Dewasa ini daerah hijau di Kota Bandung semakin menipis. Hal ini teramat disayangkan mengingat taman kota memiliki banyak fungsi yang sangat berguna bagi masyarakat. Fungsi-fungsi taman kota yaitu:

  • Taman kota berperan dalam mengatur siklus hidrorologi, yaitu dalam hal penyerapan air dan mereduksi potensi banjir.
  • Taman kota yang penuh dengan pepohonan berfungsi sebagai paru-paru kota yang merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan fungsinya.
  • Taman kota mempunyai fungsi ekologis, yaitu sebagai penjaga kualitas lingkungan kota. Pepohonan di dalam taman kota merupakan habitat yang baik bagi burung-burung untuk tinggal.
  • Taman kota dapat berfungsi sebagai filter berbagai gas pencemar dan debu, pengikat karbon, pengatur iklim mikro. Pepohonan yang  rimbun, dan rindang, yang terus-menerus menyerap dan mengolah gas karbondioksida (CO2), sulfur oksida (SO2), ozon (O3), nitrogendioksida (NO2), karbon monoksida (CO), dan timbal (Pb) yang merupakan 80 persen pencemar udara kota.
  • Taman kota juga dapat digunakan sebagai tempat berolah raga dan rekreasi yang mempunyai nilai sosial, ekonomi, dan edukatif. Tersedianya lahan yang teduh sejuk dan nyaman, mendorong warga kota dapat memanfaatkan sebagai sarana  berjalan kaki setiap pagi, olah raga dan bermain, dalam lingkungan kota yang benar-benar asri, sejuk, dan segar sehingga dapat menghilangkan rasa capek. Taman kota yang rindang mampu mengurangi suhu lima sampai delapan derajat Celsius, sehingga terasa sejuk.
  • Memiliki nilai estetika. Dengan terpeliharanya dan tertatanya taman kota dengan baik akan meningkatkan kebersihan dan keindahan lingkungan, sehingga akan memiliki nilai estetika. Taman kota yang indah, dapat juga digunakan warga setempat untuk memperoleh sarana rekreasi dan tempat anak-anak bermain dan belajar.

Sangat disayangkan keanekaragaman burung di Kota Bandung semakin lama semakin mengalami penurunan. Perubahan lingkungan di Kota Bandung merupakan salah satu penyebab berkurangnya keanekaragaman jenis burung. Hal ini perlu diperhatikan mengingat kehadiran burung di suatu habitat berkaitan erat dengan faktor-faktor fisik lingkungan seperti air, temperatur, cahaya matahari, serta faktor-faktor biologis lainnya seperti vegetasi dan satwa liar.

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan antara struktur vegetasi dengan komposisi burung di tiga taman kota di Kota Bandung sebagai usaha mempertahanan biodiversitas burung di kawasan Kota Bandung.

1.2  Tujuan

  • Menentukan keragaman burung di tiga  taman kota di Kota Bandung, yaitu Taman Ganesha, Taman Maluku dan Taman Tegallega
  • Menentukan hubungan antara struktur vegetasi dengan komposisi burung di tiga taman kota di Kota Bandung

 

 

BAB II

METODOLOGI

2.1 Deskripsi Area

2.1.1 Taman Ganesha

Taman Ganesha adalah taman yang telah sangat terbuka terhadap aktivitas manusia. Luas taman kota ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan taman kota lainnya. Terdapat beberapa jenis pohon walaupun keanekaragamannya tidak terlalu besar. Taman terbagi-bagi menjadi beberapa petak oleh karena adanya jalan setapak yang memisahkan petak-petak tersebut. Penutupan oleh kanopi pohon tidak terlalu besar, sehingga intensitas cahaya yang masuk ke dalam taman sangat besar. Hanya beberapa petak taman yang terlingkupi oleh kanopi pohon. Mayoritas pohon yang tumbuh di taman ini usianya sudah cukup tua. Hanya terdapat beberapa anakan pohon. Keanekaragaman burung di taman ini masih cukup tinggi, walaupun terdapat beberapa spesies burung yang tidak ditemukan lagi di taman ini.

Selain berfungsi sebagai ruang hijau terbuka, taman ini sangat sering dikunjungi warga sekitar untuk berbagai aktivitas seperti rekreasi, studi, dan lain lain. Hal ini lah yang menyebabkan tingginya aktivitas manusia di taman ini.

2.1.2 Taman Maluku

Taman Maluku adalah taman dengan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Aktivitas manusia di taman ini sangat rendah walaupun taman ini terbuka bagi masyarakat. Penutupan kanopi di taman ini sangat besar, oleh karena itu intensitas cahaya di taman ini tidak terlalu tinggi. Usia pohon-pohon di taman ini sudah cukup tua walaupun terdapat beberapa pohon anakan yang baru ditanam di sekitar kali. Burung yang tinggal di taman ini masih cukup beranekaragam, walaupun hanya beberapa jenis yang jumlahnya masih banyak.

2.1.3 Taman Tegalega

Taman Tegalega adalah taman dengan keanekaragaman hayati yang cukup rendah. Aktivitas manusia di sekitar taman ini sangat tinggi, terutama di hari hari tertentu. Penutupan kanopi pohon di taman ini berbeda-beda, ada daerah yang penutupan kanopinya cukup luas, ada pula daerah yang penutupan kanopinya rendah. Umur pepohonan di daerah ini masih cukup muda, hal ini dikarenakan ratusan pohon di taman ini memang baru ditanam. Hal ini menyebabkan ada daerah yang intensitas cahayanya rendah, namun ada pula daerah yang intensitas cahayanya sangat tinggi. Keanekaragaman burung di taman ini rendah, hanya ditemukan beberapa jenis burung di taman ini. Namun ada beberapa jenis burung yang jumlahnya sangat banyak.

2.2 Metode kerja

2.2.1    Analisis struktur vegetasi

Analisis vegetasi untuk menggambarkan struktur vegetasi di ketiga taman kota dilakukan dengan pembuatan diagram profil. Ukuran plot ditentukan kemudian berdasarkan luas  dan kondisi taman. Pengambilan data yang dilakukan untuk membuat diagram profil meliputi keliling batang pohon (tegakan yang dianggap pohon adalah tegakan dengan diameter lebih dari 10 cm), tinggi cabang pertama, tinggi pohon,dan diameter kanopi. Pengukuran tinggi pohon dan tinggi cabang pertama dilakukan dengan haga meter dan meteran. Pada setiap plot dilakukan identifikasi jenis tumbuhan sedangkan untuk jenis yang tidak dapat diidentifikasi langsung di lapangan, sampel tumbuhan dibawa untuk kemudian diidentifikasi dengan bantuan buku flora untuk sekolah. Setelah dilakukan pengukuran maka hasilnya kemudian diproyeksikan secara horizontal pada kertas dengan ukuran skala tertentu. Posisi pohon dalam plot ditentukan dengan menentukan sumbu x dan y imajiner sepanjang plot dan melakukan pengukuran posisi ordinat dan absis setiap pohon dalam plot.

2.2.2    Pengamatan burung

Pengamatan burung dilakukan dengan bergerak (berjalan) di sekitar tiga tempat, yakni Taman Ganesha ITB, Taman Maluku dan Taman Tegalega dengan waktu pengamatan pukul 06.00 hingga 08.00 pagi untuk masing-masing taman sebanyak 1 kali dan pukul 10.00 hingga 12.00 siang pada masing-masing taman sebanyak tiga kali pengulangan. Dari pengamatan ini dapat diperoleh data mengenai jenis, jumlah dan ketinggian atau perilaku burung saat dilakukan pengamatan. Pangamatan burung ini dilakukan dengan menggunakan binokuler.

2.2.3    Pengukuran parameter fisika-kimia

Pengukuran parameter fisika-kimia dilakukan pada plot untuk analisis vegetasi di ketiga taman kota. Parameter mikroklimat yang diukur adalah temperatur udara (°C), kelembaban udara (%), dan intensitas cahaya (lux). Temperatur udara dan kelembaban udara diukur dengan menggunakan Sling Psychrometer, sedangkan intensitas cahaya diukur dengan Lux meter.

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut (Lab. Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian – IPB).

Berdasarkan bobot kealamiannya, bentuk RTH dapat diklasifikasi menjadi (a) bentuk RTH alami (habitat liar/alami, kawasan lindung) dan (b) bentuk RTH non alami atau RTH binaan (pertanian kota, pertamanan kota, lapangan olah raga, pemakaman, berdasarkan sifat dan karakter ekologisnya diklasi-fikasi menjadi (a) bentuk RTH kawasan (areal, non linear), dan (b) bentuk RTH jalur (koridor, linear), berdasarkan penggunaan lahan atau kawasan fungsionalnya diklasifikasi menjadi (a) RTH kawasan perdagangan, (b) RTH kawasan perindustrian, (c) RTH kawasan permukiman, (d) RTH kawasan per-tanian, dan (e) RTH kawasan-kawasan khusus, seperti pemakaman, hankam, olah raga, alamiah (Lab. Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian – IPB).

Ruang terbuka hijau dapat berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk per-lindungan sumberdaya penyangga kehidupan manusia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar . RTH untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan RTH pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk ke-indahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota (Lab. Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian – IPB).

Taman kota merupakan salah satu jenis ruang hijau terbuka yang terdapat di Kota Bandung. Seperti yang telah disebutkan, bahwa ruang terbuka hijau, termasuk taman kota  memiliki fungsi ekologis. Secara detail, di antara manfaat ekologis taman kota adalah sebagai penurun efek “urban heat island” dan membangun jejaring habitat hidupan liar. Meskipun tidak sealami wilayah lindung, untuk di wilayah perkotaan seperti Bandung yang memiliki ruang terbuka hijau yang rendah, keberadaan taman kota menjadi sangat penting. Hal ini terjadi karena taman kota menyumbang sejumlah besar luasan ruang terbuka hijau itu sendiri.

Setiap taman memiliki jenis dari strata pohon, perdu dan herba yang berbeda sehingga setiap taman memiliki struktur vegetasi yang berbeda. Padahal, struktur vegetasi sangat menentukan kondisi dari fungsi ekologisnya. Karena itulah, fungsi ekologis tanaman setiap taman tidak dapat disamaratakan. Fungsi ekologis yang secara khusus diamati dalam penelitian ini adalah fungsi ekologis taman kota dalam mendukung kehidupan komunitas burung.

Taman kota yang dijadikan lokasi penelitian, sebagaimana yang telah disebutkan dalam deskripsi area, adalah Taman Ganesha, Taman Maluku dan Taman Tegal Lega. Berdasarkan hasil analisis vegetasi yang nampak dalam diagram profil, dapat dilihat bahwa sampel plot di Taman Ganesha memiliki ketinggian kanopi yang paling tinggi. Kemudian, disusul oleh Taman Maluku dan Taman Tegallega.

Jika dilihat dari sisi kompleksitas vegetasi, jumlah vegetasi (pohon, perdu, anakan pohon) yang ada di setiap taman juga berbeda. Di Taman Ganesha, komposisi ketiganya dapat dikatakan merata. Selain itu, jumlah pohon, perdu dan anakan di plot sampel juga merupakan yang paling rendah. Hal ini menyebabkan penetrasi cahaya hingga ke bawah lantai taman cukup bagus. Di Taman Maluku, jumlah anakan jauh lebih banyak. Hal ini terjadi karena memang secara buatan, sedang dilakukan perawatan terhadap berbagai jenis anakan pohon, seperti bintaro, salam, kayu putih, dll. Dalam plot sampel, dapat dilihat terdapat beberapa anakan pohon salam dengan ukuran yang nyaris seragam.

Di Taman Tegallega, kondisinya menjadi sedikit berbeda. Dibandingkan kedua taman kota pertama, taman di Tegallega jauh lebih luas. Selain itu, terdapat wilayah yang sangat terbuka (lapangan dan jogging track) yang nyaris tidak bervegetasi. Karena itu, secara umum di taman ini terdapat zona yang sangat kaya vegetasi dan zona miskin vegetasiervegetasi. Pada zona yang kaya vegetasi, di wilayah tertentu, biasanya memiliki tingkat keseragaman yang tinggi. Misalnya, terdapat zona yang dominan ditanami bintaro, daun kupu-kupu, palm atau mahoni. Di plot yang diambil, secara umum banyak terdapat anakan pohon mahoni dan salam. Ukuran masing-masing jenis anakan dapat dikatakan nyaris seragam. Selain itu, secara umum, layer kanopinya berada pada ketinggian yang paling rendah dibanding ketiga taman dan nyaris lebih seragam. Pada zona miskin vegetasi, dalam hal ini diwakili oleh bagian plot berukuran 10 x 15 m, dapat dilihat bahwa tidak terdapat pohon, dan hanya ditanami herba. Meskipun begitu, lantai wilayah ini sebagian juga dihuni oleh berbagai jenis rumput-rumputan. Berbeda dengan kedua taman yang dibahas sebelumnya, luasan lahan terbuka yang memaparkan wilayah berrumput di Taman Tegallega jauh lebih banyak. Hal ini juga mendukung keberadaan spesies burung tertentu yang hanya ditemukan di wilayah ini selama pengamatan dilakukan.

Berikut adalah tabel umum keragaman spesies burung di masing-masing taman.

Tabel 3.1 Keragaman burung Taman Ganesha (TG), Taman Maluku (TM) dan Taman Tegallega (TL)

Nama Latin

Nama Lokal

TG

TM

TL

Acridotheres javanicus Kerak

v

v

v

Apus affinis Kapinis Rumah

v

v

v

Cacomantis merulinus Wiwik kelabu

v

v

v

Collocalia esculenta linchi Walet Linci

v

v

v

Collocalia fuciphaga Walet Sarang Putih

v

v

v

Columba livia Merpati Batu

v

Delichon dasypus Layang-layang rumah

v

v

Dendrocopos macei Caladi Ulam

v

v

Dicaeum trochileum Cabe Jawa

v

v

v

Hirundo rustica Layang-layang api

v

v

Lonchura leucogastroides Bondol Jawa

v

Loriculus galgulus Serindit Melayu

v

v

Megalaima haemacephala Ungkut-ungkut

v

v

v

Nectarinia jugularis Madu Sriganti

v

v

v

Othotomus ruficeps Cinenen kelabu

v

v

v

Passer montanus Gereja

v

v

v

Probosciger aterrimus Kakatua Raja

v

Psittacula alexandri Betet

v

v

Pycnonotus aurigaster Kutilang

v

v

v

Streptopelia chinensis Tekukur

v

v

v

Zosterops palpebrosus Kacamata

v

v

v

Sebagian besar (13) spesies dapat ditemukan di ketiga wilayah. Untuk anggota Apodidae (kapinis rumah, walet linci dan walet sarang putih), hal ini terjadi karena memang ketiganya bersifat kosmopolitan, umum di nyaris semua wilayah ketinggian (MacKinnon dkk., 2000). Selagi terdapat tempat bersarang dan cukup sumber makanan, ketiganya dapat hidup di suatu wilayah. Untuk 10 spesies lainnya, meski memiliki komposisi kelimpahan yang berbeda (akan dibahas kemudian), namun secara umum, kondisi vegetasi di ketiga taman masih dapat mendukung kehidupan komunitas spesies-spesies tersebut.Adanya burung di taman kota berkaitan dengan struktur vegetasi berkaitan dengan struktur dan jenis tumbuhan yang ada didalam taman sebagai sumber dayanya (Setiawati, 1997). Dalam sumber lain, disebutkan bahwa vegetasi telah lama dianggap sebagai faktor utama yang menentukan komunitas burung (Terborgh et al., 1990). Berdasarkan tabel tersebut, dapat dinyatakan bahwa keragaman burung di taman Ganesha paling tinggi, yaitu terdapat 18 spesies yang teramati. Kemudian, disusul oleh kedua taman yang lain dengan jumlah spesies yang sama yaitu 17 spesies. Secara keseluruhan, jumlah spesies yang teramati adalah 21 spesies.

Kedua jenis layang-layang hanya teramati di taman Ganesha dan Tegallega. Hal ini berkaitan dengan proporsi lahan terbuka yang sangat rendah di taman Maluku. Layang-layang yang biasa terbang rendah tidak banyak teramati di wilayah yang kaya vegetasi dengan ketinggian yang rendah pula. Meskipun begitu, tidak berarti bahwa di Taman Maluku memang sama sekali tidak terdapat jenis layang-layang.

Untuk jenis caladi ulam, serindit melayu dan betet, hanya teramati di Taman Maluku dan Ganesha. Secara mencolok, betet (Psittacula alexandri) nampak sangat terasosiasi dengan Casuarina equisetifolia. Runjung vegetasi ini merupakan makanan bagi betet. Di kedua taman, kelompok vegetasi ini, meskipun hanya beberapa pohon, memiliki pengaruh yang besar karena ukurannya yang cukup mendominasi. Di Taman Tegallega, vegetasi ini tidak ditemukan. Ketiadaan vegetasi pendukung inilah yang diprediksi sebagai alasan ketiadaan spesies Psittacula alexandri di Taman Tegallega.

Caladi ulam juga menunjukkan kecenderungan yang hampir sama. Dibanding betet, ia memang jauh lebih jarang ditemukan. Namun, dalam setiap kali perjumpaan dengan spesies ini, ia selalu berada di vegetasi C. equisetifolia. Meskipun begitu, jika dilihat, lubang hasil patukannya memang tidak hanya terdapat di vegetasi tersebut. Tetapi nyaris dapat dipastikan bahwa spesies ini lebih banyak berasosiasi dengan vegetasi yang cenderung berusia tua. Baik dari segi vegetasi C. equisetifolia maupun dari sisi usia vegetasi secara umum, kedua hal ini memang tidak banyak didukung di Taman Tegallega. Karena itu, wajar jika selama pengamatan, spesies ini tidak teramati.

Jenis merpati batu dan bondol jawa hanya teramati di Taman Tegallega. Luasnya lahan terbuka beralas rumput di wilayah ini menyebabkan bondol jawa lebih umum ditemukan di wilayah ini. Bondol jawa ditemukan dalam kelompok kecil (3 ekor) sedang melakukan aktivitas makan di wilayah herba hias yang berselang-seling dengan rumput yang cukup tinggi. Di taman maluku, dengan wilayah taman yang tidak cukup terbuka, jenis burung lahan terbuka ini tidak ditemukan. Sedangkan di taman ganesha, berdasarkan data Dinas Pertamanan, bondol jawa merupakan salah satu spesies yang dapat ditemukan di taman tersebut. Ketiadaannya selama pengamatan kemungkinan diakibatkan oleh perbedaan kondisi lantai rumput di taman Ganesha dan Tegallega.

Di Taman Ganesha, rumput yang dimaksud berada di wilayah terbuka yang sering dilalui dan diinjak oleh manusia dan binatang lain. Selain itu, rumputnya juga secara rutin dipotong agar tidak terlalu tinggi. Sedangkan di Tegallega, rumput yang dimaksud bukanlah rumput yang bisa dilalui oleh manusia atau binatang lain dengan bebas. Rumput yang cukup tinggi yang didatangi bondol jawa adalah rumput yang berselang-seling dengan herba hias dan berada di tengah jogging track. Wilayah itu tidak dapat sembarang diinjak karena memang tidak dialokasikan untuk pejalan kaki.

Untuk jenis merpati batu, jenis ini hanya ditemukan satu kali dengan jumlah satu individu. Disinyalir bahwa jenis ini beraktivitas di wilayah taman dan wilayah pemukiman sekitar taman.

Dari 20 spesies yang telah disebutkan di atas, semua merupakan spesies yang wajar ditemukan di wilayah taman kota. Satu spesies yang tersisa, merupakan spesies pendatang yang diprediksi merupakan burung peliharaan pada awalnya. Probosciger aterrimus atau kakatua raja bukanlah merupakan spesies yang terdapat secara alami di Pulau Jawa. Spesies ini endemik di wilayah Papua dan Australia. Meskipun begitu, spesies ini dapat bertahan di wilayah taman Maluku karena kebutuhannya akan makanan dapat terpenuhi. Pakannya berupa biji-bijian dapat dipenuhi dari pohon-pohon yang membangun vegetasi taman tersebut. Dari pengamatan yang dilakukan, spesies ini sering ditemukan di pohon Ki Acret, Kayu Putih dan sering ditemukan melakukan aktivitas makan di sekitar pohon palm. Hanya saja, meskipun spesies ini dapat bertahan, jumlahnya yang hanya satu tidak memungkinkan terjadinya proses reproduksi. Karena itu, tidak dapat banyak diharapkan jika dalam jangka waktu panjang spesies ini masih berada di wilayah Taman Maluku.

Jika dilihat dari struktur vertikal (lampiran diagram profil), persebaran vertikal burung tidaklah merata. Contohnya adalah ungkut-ungkut yang sering ditemukan di puncak kanopi; bondol jawa yang hanya ditemukan pada ketinggian 0-1 m sehingga masuk ke selang 0-10 m; burung gereja yang lebih dominan pada ketinggian 0-10 m; serta cinenen kelabu yang banyak ditemukan pada ketinggian 0-10 m, lebih sedikit ditemukan di ketinggian 11-20 m dan tidak ditemukan pada selang selanjutnya.

Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa meskipun ada overlapping (lampiran diagram profil) keberadaan suatu spesies dalam selang tertentu, namun proporsinya tetap berbeda. Itu artinya, overlapping-nya ketinggian tetap menunjukkan bahwa relung masing-masing spesies tetap memiliki perbedaan. Hal ini sesuai dengan teori competitive exclusion yang menyatakan bahwa spesies dengan relung yang sama tidak dapat eksis di waktu dan tempat yang sama (Molles, 2010).

Berdasarkan hasil pengamatan, berikut ini dapat disampaikan beberapa faktor yang mempengaruhi persebaran vertikal burung.

Jenis dan Tinggi Vegetasi

Jenis dan tinggi vegetasi merupakan hal pertama yang dapat mempengaruhi sebaran vertikal burung. Dari hasil pengamatan nampak bahwa beberapa spesies lebih suka berada di bagian tertentu dari kanopi. Pada ungkut-ungkut, spesies ini sering berada dari bagian tengah hingga ke puncak kanopi. Maka, dengan kecenderungan itu, semakin tinggi kanopi suatu vegetasi, spesies ini juga akan tersebar pada ketinggian yang lebih tinggi.

Pada contoh kasus di taman Ganesha, burung madu sriganti teramati mengunjungi vegetasi yang sedang berbunga meskipun jenis dan ketinggiannya berbeda. Dalam hal ini, pada saat pengamatan, burung madu sriganti sering ditemukan di pohon Ganitri yang sedang berbunga dengan ketinggian 20-30 m. selain itu, penemuan jumlah kedua tertinggi justru di 0-10 m, yaitu di sekitar vegetasi ki merak dan kaliandra (perdu).

Selain itu, terdapat juga spesies burung yang telah lebih teradaptasikan dengan jenis vegetasi tertentu. Sebagai contoh, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, betet lebih banyak teradaptasi dengan Casuarina equisetifolia.

Lebar Kanopi

Lebar kanopi juga turut mempengaruhi sebaran spesies burung. Sebagai contoh dalam kasus burung kacamata biasa yang biasa ditemukan dalam kelompok besar (25-40 ekor). Dengan jumlah anggota kelompok yang besar ini, jenis kacamata biasa lebih banyak mengunjungi kanopi yang lebar sehingga mampu menampung semua anggota kelompoknya. Akibatnya, spesies ini lebih banyak mengunjungi pohon-pohon tertentu yang berkanopi lebar meskipun dalam beragam ketinggian.

Musim Reproduksi Seksual Vegetasi

Untuk burung nektivora, kondisi vegetasi yang sedang musim berbunga lebih banyak dikunjungi. Di taman Tegallega, karena paling umum vegetasi yang sedang berbunga berada pada ketinggian 0-10 m, maka burung madu sriganti juga paling banyak ditemukan pada ketinggian ini.

Casuarina equisetifolia yang menghasilkan runjung sepanjang tahun merupakan vegetasi utama dimana betet berasosiasi. Secara umum, betet akan paling banyak berada di kanopi Casuarina equisetifolia  yang paling banyak menghasilkan runjung. Karena itu, meskipun di Taman Ganesha terdapat kasuarina yang berukuran kecil, secara alami betet lebih banyak mengunjungi kasuarina yang lebih tinggi dan lebih besar.

Di taman Tegallega, vegetasi yang sedang berbuah (misal: kersen dan salam) lebih banyak berada pada ketinggian 0-10 m. Hal ini juga terrepresentasikan dalam lebih banyaknya pemakan buah yang ditemukan pada ketinggian tersebut (contoh: cabe jawa). Di Taman Ganesha dan Taman Maluku, vegetasi yang  sedang berbuah berada pada kuantitas yang lebih rendah. Karena itulah, tingkat kebertemuan dengan spesies yang mengkonsumsinya pun lebih rendah.

Jenis Makanan bagi Burung

Berkaitan juga dengan jenis vegetasi yang ada, burung akan lebih sering berada di vegetasi yang menyediakan cukup makanan. Misal, bondol jawa memakan bulir yang dihasilkan oleh anggota family Poaceae. Karena itu, meskipun jika terbang bisa mencapai ketinggian 20 m (seperti contoh di taman Tegallega), namun aktivitas makan tetap dilakukan di lantai taman tempat rumput berada.

Selain itu, bagi burung pemakan serangga misalnya, tentu juga akan beradaptasi dengan di wilayah ketinggian manakah serangga itu berada. Jika itu adalah serangga yang bisa terbang, maka di ketinggian berapa serangga itu bisa ditemukan di udara terbuka, di situlah juga spesies burung tersebut akan melakukan aktivitas makan. Jika serangganya adalah serangga yang berada di lantai taman, maka burung akan di temukan di ketinggian 0 m.

Kebiasaan Lain

Selain aktivitas makan, kebiasaan lain juga mempengaruhi sebaran vertikal burung, misalnya adalah kebiasaan bertengger. Pada burung tekukur biasa (Streptopelia chinensis), aktivitas makan lebih banyak dilakukan di lantai taman. Meskipun ada juga aktivitas makan yang dilakukan di ketinggian, yaitu menyesuaikan dengan ketinggian pohon palm. Hanya saja, secara umum, meski aktivitas makan dilakukan lebih banyak di lantai taman, aktivitas bertengger justru lebih banyak dilakukan pada ketinggian yang jauh di atas lantai taman, bahkan hampir mendekati puncak kanopi (bisa di atas 20 m dpt).

Lain-Lain: Aktivitas Manusia

Burung merupakan kelas yang sensitif terhadap kondisi lingkungan. Kebanyakan anggotanya merupakan jenis yang tidak menyukai gangguan. Meskipun burung yang ditemukan di wilayah taman kota merupakan jenis-jenis burung lahan terganggu, namun aktivitas berlebih dari manusia tetap merupakan gangguan yang bisa mengusir jenis-jenis burung ini. Dalam pengamatan terhadap peningkatan gangguan jangka pendek di Taman Tegallega, hal ini mendapatkan fakta pendukung.

Taman Tegallega biasanya digunakan area pasar minggu. Pada pengamatan ketiga siang dan pengamatan pagi di taman ini, yang dilakukan di hari minggu, dapat dikatakan bahwa tingkat kebertemuan dengan burung menjadi berkurang. Terutama untuk spesies-spesies yang banyak beraktivitas di ketinggian 0-10 m dpt (gereja, cinenen, dll), keberadaan aktivitas tinggi manusia menjadi pengganggu yang sangat berpengaruh. Meskipun begitu, bukan berarti lantas semua jenis burung tersebut pergi. Diantaranya, misal gereja, memilih untuk beraktivitas di ketinggian yang lebih jauh dari aktivitas manusia. Biasanya, spesies ini banyak berada pada ketinggian 0 m (di lapangan terbuka). Namun, karena aktivitas manusia menghabiskan wilayah tersebut, maka burung gereja menjadi lebih banyak terlihat di kanopi rendah perdu dan anakan pohon yang berada di sekitar lapang terbuka.

Taman Ganesha merupakan taman yang banyak digunakan untuk sarana rekreasi, kegiatan pendidikan dan lokasi pelaksanaan kegiatan masyarakat lainnya. Meskipun begitu, tingkat gangguan manusia di taman ini tidak lebih tinggi dibandingkan taman Tegallega, serta cenderung lebih merata. Tidak seperti taman Tegallega yang akan menjadi sangat ramai di akhir pekan dan sepi di hari kerja, tingkat keramaian di taman Ganesha cenderung lebih stabil. Karena itulah, hasil pengamatan juga tidak begitu berbeda.

Hanya saja, bukan berarti di taman ini tidak pernah terjadi gangguan yang menyebabkan burung sulit diamati. Pada kali kedua pengamatan siang, selama 30-45 menit pengamatan sulit dilakukan karena di lokasi ini dilakukan pemotongan rumput. Kebisingan yang tinggi dari mesin pemotong rumput menyebabkan sebagian besar burung menghindar dari lokasi, terutama burung gereja yang biasa ada di lantai taman. Setelah pemotongan rumput selesai, burung-burung kembali berdatangan, baik yang biasa ada di lantai taman (misal: gereja dan tekukur) maupun di atas kanopi (misal: betet dan ungkut-ungkut).

Di bandingkan kedua taman yang lain, taman ini paling jarang dikunjungi dan dimanfaatkan untuk acara-acara tertentu. Karena itulah, tingkat gangguan manusia di lokasi ini nyaris selalu rendah. Selama pengamatan pun, selain akibat gangguan cuaca (hujan), tingkat kebertemuan dengan burung pada setiap pengamatan (pagi maupun siang) tidak berbeda jauh.

Dengan struktur vegetasi dan kondisi lain yang berbeda, maka selain keragaman jenis yang berbeda, kelimpahan burung di ketiga taman pun akan berbeda. Taman Ganesha secara umum menghasilkan kelimpahan burung yang paling tinggi. Selain itu, sebagaimana yang telah disebutkan di awal, keragaman burung di taman ini juga paling tinggi. Karena itulah, bisa dikatakan bahwa di antara ketiga taman kota tersebut, Taman Ganesha lah yang paling baik mendukung kehidupan komunitas burung.

BAB IV

KESIMPULAN

  • Keragaman spesies di Taman Ganesha, Taman Maluku dan Taman Tegallega masing-masing adalah 18, 17 dan 17 spesies.
  • Struktur vegetasi memberikan pengaruh terhadap komposisi burung di Taman Ganesha, Taman Maluku dan Taman Tegallega.


 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1., 2009. Taman Ganesha [online].Diakses dari : http://indonesia.travel/id/gambar/OPPUSAT_FILES/image/0921437852138/image/bandung%20taman%20ganesha.JPG. Diakses tanggal : 16 Desember 2009

Anonim 2. 2009. Foto Taman Maluku [online]. Diakses dari : foto.detik.com/…/2009/07/16/501/taman2.jpg. Diakses Tanggal : 16 Desember 2009

Anonim 3.2009.Taman Tegallega [online]. Diakses dari : http://farm2.static.flickr.com/1437/748617724_3eca93134d.jpg. Diakses tanggal : 16 Desember 2009

Google earth. 2009.  Something [online]. Diakses dari : Http://Googleearth.com. Diakses tanggal 16 Desember 2009

Lab. Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap. ______. Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wilayah Perkotaan. Bogor: Fakultas Pertanian – IPB.

Mills, G.Scott, John B. Dunning, Jr., dan John M. Bates. 1990. The relationship between breeding bird density and vegetation volume. : Wilson Bulletin

Molles, Manuel C. 2010. Ecology Concepts and Applications Fifth Edition. New York: McGraw-Hill.

Setiawati, Francisca Melia. 1997. Evaluasi fungsi ekologis dan fungsi estetis beberapa taman kota di Kotamadya Bandung. Tesis program magister program studi biologi. Institut Teknologi Bandung.

Terborgh, J., S.K. Robinson, T.A.Parker, C.A.Munn,dan N. Pierpont.1990.Structure and organization in Amazonian forest birds community. Ecol monogr. 60:213-238. CrossRef, CSA.

One comment

  1. mohon ijin untuk copy buat referensi, thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *