HAK UNTUK MENULIS ARTIKEL ILMIAH DARI HASIL PENELITIAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Hak atas Kekayaan Intektual (HaKI) merupakan bahasan yang penting untuk dipahami baik oleh akademisi, maupun oleh pihak yang berkecimpung dalam dunia industri. Aplikasi dari konsep ini menjadi lebih dari sekedar trend dimana HaKI bahkan merupakan salah satu hal yang bisa dijadikan sebagai senjata dalam menguasai sistem perdagangan dunia. Sebagai pedang bermata ganda, penguasaan atas HaKI dapat menentukan tingkat kemajuan industri perdagangan suatu negara.

Dalam tataran yang lebih ilmiah, HaKI juga mencakup hak atas data suatu penelitian. Hak atas data ini mencakup hak untuk mempublikasikan maupun untuk melepaskannya ke dala suatu industri komersial.

Dalam dunia pendidikan, hal ini ada kalanya menjadi lebih rumit saat penelitian dilakukan sebagai syarat kelulusan mahasiswa. Dalam contoh kasus ini, mahasiswa yang melakukan penelitian berada di bawah bimbingan seorang dosen dengan kapasitas keilmuan relatif lebih tinggi di antara tidak adanya peraturan yang jelas mengenai hak atas penelitian dari institusi terkait. Kerumitan ini kadang berujung insiden tidak menyenangkan jika data penelitian tersebut hendak dipublikasikan, terutama terkait penentuan peneliti utama yang ditulis dalam penelitian.

Makalah ini disusun sebagai sebuah pendekatan dalam menentukan status kepemilikan data penelitian atas tugas akhir mahasiswa. Dalam hal ini, penentuan status akan melibatkan pandangan umum atas HaKI serta tata aturan terkait di institusi serupa.

 

1.2         Tujuan

  1. Menentukan status kepemilikan data penelitian tugas akhir.
  2. Menentukan status kepemilikan hak sebagai peneliti utama dalam penulisan artikel hasil penelitian tugas akhir.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1     Sikap Ilmiah dan Metode Ilmiah

Sikap ilmiah merupakan moral ilmuan yang penting untuk dimiliki untuk mencapai ilmu pengetahuan yang objektif (universal, komunal), rasional, dapat dipertanggungjawabkan baik secara sosial maupun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Sikap ini mendorong ilmuan untuk selalu melakukan penyelidikan, percobaan dan mempertahankan kerendahan hatinya di hadapan fakta-fakta. Terkait hal ini, terdapat setidaknya enam  hal yang merupakan sikap ilmiah dari ilmuan (Hamami, 1996).

  1.       Ketiadaan rasa pamrih dan kesenangan pribadi (disinterstedness).
  2.       Selektif, dimana ilmuan diarahkan untuk mampu memilah dan memilih fakta (kondisi) dan/atau yang dihadapi.
  3.       Kepercayaan terhadap fakta dan alat indera (mind). Ilmuan harus mampu membedakan apa yang mereka lihat dan apa yang mereka ingin lihat. Terkait hal ini, ilmuan harus mampu mempertahankan kejujuran yang merupakan pangkal dari kemampuan ilmu pengetahuan untuk bisa diuji dan diverifikasi.
  4.       Sikap mendasarkan diri pada suatu kepercayaan (belief) dan kepastian (conviction) bahwa pendapat/teori terdahulu telah mencapai kepastian.
  5.       Tidak merasa puas terhadap suatu level ilmu pengetahuan sehingga memiliki motivasi untuk melakukan penelitian sebagai aktivitas yang menonjol dalam hidupnya.
  6.       Memiliki etika yang selalu berkeinginan mengembangkan keilmuannya untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan manusia secara keseluruhan. Ilmuan harus mampu mengubah pikiran di saat yang seharusnya (open minded) sehingga memiliki kemampuan untuk selalu memperbaiki diri.

Sikap ilmiah merupakan suatu hal yang seharusnya bersifat inherent bagi seorang ilmuwan (peneliti). Sikap ini bukan hanya tergambar dalam penelitian yang dilakukan, melainkan nampak dalam kesehariannya.

Sikap ilmiah tergambarkan dalam metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prinsip dan proses empiris penemuan dan peragaan terkait karakteristik penyelidikan ilmiah yang melibatkan pengamatan fenomena, formulasi hipotesis, ekperimentasi dan penarikan kesimpulan. Metode ilmiah berbeda dengan metode tidak ilmiah dari sisi presisi, reduplikasi, generalitas dan pengujian statistika. Selain itu, metode ilmiah berbeda dengan penelitian ilmiah dimana penelitian dilakukan secara formal dan tahapan-tahapannya nampak secara lebih distinctive satu setelah yang lain (Kumar, 2005).

 

2.2     Pendidikan Formal

Pendidikan formal merupakan tipe pendidikan yang bersifat sistematik, memiliki model yang terorganisir, terstruktur, dan teradministrasi sesuai dengan perangkat hukum dan norma yang berlaku serta dilaksanakan dalam bentuk kurikulum yang kaku mencakup tujuan, isi dan metode yang digunakan di dalamnya (Dib, 1988). Universitas merupakan salah satu bentuk pendidikan tinggi formal yang umum terdapat di Indonesia. Berkaitan dengan sisi penelitian, universitas biasanya merupakan lembaga pendidikan yang fokus pada penelitian, seringkali menggunakan penelitian terbimbing sebagai syarat kelulusan mahasiswa.

 

2.3     Penelitian dan Penelitian Tugas Akhir

Penelitian merupakan salah satu cara untuk mendapatkan sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kita miliki. Penelitian merupakan sebuah proses yang menggambarkan hal-hal berikut (Kumar, 2005).

Dilaksanakan dalam suatu framework yang merupakan set dari pemikiran filosofis.

Menggunakan prosedur, metode, teknik yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.

Dirancang untuk menghilangkan bias dan bersifat objektif.

Dalam pelaksanaannya, penelitian memiliki sifat terkontrol, teliti, sistematik, valid dan dapat diuji, empiris, kritis (Kumar, 2005). Selain itu, terdapat etika penelitian yang diturunkan dari sikap ilmiah berupa kejujuran, objektivitas, integritas, ketelitian, keterbukaan, penghargaan atas HaKI, penghargaan atas kerahasiaan, publikasi yang terpercaya, pembinaan yang konstruktif, penghargaan terhadap kolega, tanggungjawab sosial, tidak diskriminatif, kompetensi, legalitas, penghargaan terhadap hak hidup binatang, mengutamakan keselamatan manusia (Shamoo dan Resnik, 2003).

Penelitian tugas akhir merupakan salah satu tipe penelitian terbimbing yang biasa dilakukan di tingkat universitas, baik dalam tingkat sarjana maupun pascasarjana. Pada beberapa universitas, penelitian tugas akhir bersifat wajib dimana penyerahan laporan penelitian tersebut merupakan syarat dari kelulusan mahasiswa (misal: thesis untuk magister). Pelaksanaan tugas akhir biasanya dibimbing oleh dosen tertentu yang memiliki kapasitas keilmuan yang memadai  sesuai dengan cakupan penelitian mahasiswa bersangkutan. Menerima bimbingan merupakan hak mahasiswa yang berada dalam tahap belajar untuk meneliti sesuai metode ilmiah.

 

2.4     Hak atas Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) merupakan suatu konsep yang sulit untuk didefinisikan. Berdasarkan salah satu pendekatan, kita dapat menyatakan bahwa HaKI adalah  hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada seseorang atau sekelompok orang untuk memegang monopoli dalam menggunakan dan mendapatkan manfaat dari kekayaan intelektual, terutama berkaitan dengan manfaat komersial dari kekayaan intelektual.

Meskipun terutama mencakup kekayaan intelektual yang berhubungan dengan komersialitas, pada dasarnya HaKI merupakan perlindungan terhadap hasil pemikiran itu sendiri. Dengan begitu, hak atas data peelitianjga termasuk di dalamnya.


 

BAB III

KASUS HAK UNTUK MENULIS ARTIKEL ILMIAH DARI HASIL PENELITIAN

 

Atikah Marianti adalah seorang mahasiswa program magister di Sekolah Teknologi dan Ilmu Biologi, Institut Teknologi Banten. Untuk tugas akhirnya, ia melakukan penelitian tentang isolasi dan karakterisasi gen MgK-cP, gen yang mengekspresikan suatu protein yang diduga memiliki peran yang sangat penting pada proses kram otot akibat kelelahan. Untuk penelitiannya ini Atikah dibimbing oleh Dr. Gayus Tampan, yang selama penelitian memberikan bimbingan yang sangat baik, sehingga Atikah dapat menyelesaikan penelitiannya tepat waktu.

Ketika Atikah sedang menyelesaikan Tesis-nya, Dr. Gayus Tampan mengatakan bahwa hasil penelitian Atikah sangat baik dan layak untuk diterbitkan pada jurnal internasional. Permasalahan muncul ketika Atikah mencari tahu siapa yang paling berhak menjadi penulis pertama artikel ilmiah yang akan diterbitkan tersebut. Pencarian informasi mengenai hal ini memberikan hasil yang membingungkan. Hingga saat ini Sekolah Teknologi dan Ilmu Biologi, Institut Teknologi Banten belum memiliki aturan yang jelas mengenai hak kepemilikian data penelitian. Aturan yang mengatur kepemilikan data ini hanya berupa Surat Keputusan Senat Akademik yang menyatakan bahwa data yang diperoleh dari hasil penelitian dimiliki oleh peneliti dan pembimbingnya. Selanjutnya, kebiasaan yang dilakukan di institusi ini juga tidak bisa digunakan sebagai acuan, karena sebagian artikel ilmiah yang diterbitkan, mencantumkan mahasiswa sebagai penulis pertama dan sebagian lagi mencantumkan dosen pembimbingnya sebagai penulis pertama.

Sebagai mahasiswa pada kelas Etika Profesi, saudara diminta memberikan kajian tentang hak kepemilikan data ini dan menentukan siapa yang paling berhak untuk dicantumkan namanya sebagai penulis pertama pada artikel ilmiah.

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

 

Untuk menentukan status kepemilikan hak atas hasil penelitian, kita dapat meninjau beberapa sisi secara terpisah, satu demi satu. Mulai dari kewajiban penelitian mahasiswa hingga hak itu sendiri.

 

Kewajiban Penelitian

Melakukan penelitian terbimbing merupakan salah satu kewajiban pendidikan formal magister yang umum di Indonesia. Penelitian tugas akhir merupakan rangkaian pelaksanaan rencana penelitian dengan mengerjakan penelitian meliputi pengamatan, pencatatan, pengelolaan dan analisis data sebagai bahan penyusunan hasil penelitian yang dilaporkan secara lisan (seminar) maupun tulisan (tesis, skripsi) (Kurikulum ITB). Sebagai contoh, di Institut Teknologi Bandung, dalam  Peraturan Akademik 2010 dinyatakan bahwa salah satu syarat agar seorang mahasiswa dapat dinyatakan lulus adalah jika telah menyerahkan tesis magister yang telah disetujui pembimbing.

Salah satu alasan mengapa perguruan tinggi mewajibkan mahasiswanya melaksanakan penelitian terbimbing adalah agar lulusannya dapat menjadi ilmuwan cendekia yang berperan sebagai panutan di tengah masyarakat (Ketetapan Senat ITB tahun 1978). Kata kunci dalam hal ini adalah ilmuwan yang sudah sepatutnya memiliki dan menjalankan sikap dan metode ilmiah dalam melakukan penelitian ilmiah. Bukan hanya itu, sebagai anggota masyarakat terdidik dengan bidang keilmuan tertentu, lulusan perguruan tinggi dituntut bersikap dan menjalankan metode ilmiah, bukan hanya dalam penelitian formal, melainkan dalam keseharian. Dengan begitu, lulusan dapat benar-benar menjadi panutan yang diharapkan.

Dengan jatuhnya kewajiban penelitian terbimbing kepada mahasiswa, kita dapat melihat bahwa mahasiswa lah yang menjadi subjek utama dalam pelaksanaan penelitian. Mahasiswa yang dituntut untuk menjadi seorang peneliti. Karena itulah, idealnya mahasiswa lah yang menjadi tokoh peneliti utama dalam penelitian. Hal ini berlaku baik selama proses penelitian (perumusan, pengajuan, pelaksanaan, pengambilan dan analisis data, pelaporan dan publikasi).

 

Hak Menerima Bimbingan

Dalam melaksanakan penelitian tugas akhirnya, mahasiswa memiliki hak untuk mendapatkan pembimbingan dari dosen yang memiliki kapabilitas dalam tema penelitian yang dilaksanakannya. Tugas pembimbingan in juga tertulis sebagai tugas utama dosen dalam pengajaran di perguruan tinggi.

Sebagai pembimbing tugas akhir dan penulisan tesis, dosen memiliki tanggungjawab untuk mengarahkan mahasiswa dalam (1) menulis usulan tugas akhir; (2) melakukan penelitian terbimbing dan (3) menulis laporan (tesis) sesuai prosedur yang ditetapkan. Hal ini salah satunya tercantum dalam Etika Mahasiswa Universitas Negeri Semarang.

Dalam contoh lain, di Institut Teknologi Bandung, dalam Kode Etik Kemahasiswaan pasal 4 ayat (b) dinyatakan bahwa mahasiswa ITB memiliki hak untuk mendapatkan bimbingan dari dosen pembimbing dalam menyelesaikan studinya.

Berdasarkan paparan di atas, maka kita dapat melihat bahwa sebagai peneliti utama, mahasiswa berhak mendapat bimbingan dari pihak lain yang memiliki kapabilitas lebih tinggi (dosen) sehingga penelitiannya dapat berjalan sesuai dengan metode ilmiah. Meskipun begitu, hal ini tidak menyebabkan dosen pembimbing menjadi memiliki hak dominansi atas penelitian. Karena seharusnya mahasiswa lah yang diarahkan untuk dapat menguasai penelitian yang dilaksanakannya. Dengan begitu, mahasiswa dapat mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya secara utuh.

 

Penelitian Kerjasama

Dalam pembangunan sebuah knowledge based society, adalah umum bahwa harus dibangun kerjasama antara industri, pemerintah dan instansi pendidikan (universitas). Dalam konteks interaksi antara universitas dan industri, biasanya dilakukan penelitian kerjasama yang seringkali melibatkan dosen dan mahasiswa. Tidak hanya itu, seringkali mahasiswa yang terlibat dalam penelitian menjadikan tema penelitian kerjasama sebagai tema tugas akhir yang dilaksanakannya.

Dalam kasus penelitian kerjasama seperti ini, perlu diingat bahwa sebaiknya tetap dibedakan desain penelitian antara penelitian proyek dengan penelitian tugas akhir. Bagaimanapun juga, penelitian proyek dari industri merupakan suatu penelitian dengan orientasi hasil untuk komersialisasi (orientasi hasil). Di lain sisi, penelitian tugas akhir, merupakan proses pembelajaran bagi mahasiswa agar dapat melakukan metode ilmiah (orientasi proses).

Desain penelitian proyek tidak dapat ditelan mentah-mentah. Bukan hanya karena memiliki orientasi yang berbeda, melainkan juga karena akses proyek penelitian biasanya melalui dosen dan peran mahasiswa hanya sebagai asisten penelitian. Dari sini, kita dapat melihat adanya pergeseran posisi subjek penelitian utama dari mahasiswa menjadi dosen.

Tentunya ini akan berbahaya karena jika diterapkan tanpa adanya kejelasan pemisahan proyek dan tugas akhir. Mahasiswa biasanya menjadi ikut berorientasi hanya pada hasil, melupakan esensi penelitian tugas akhir, dan cenderung menjadi “kacung” penelitian. Dalam kondisi ini, mahasiswa tidak dapat mengklaim sebagai peneliti utama dalam penelitian yang dilakukannya.

Jika penggunaan penelitian proyek sebagai penelitian tugas akhir secara utuh  tidak dapat dihindari, maka harus terdapat kejelasan berupa perjanjian atas hak terhadap hasil penelitian, siapa peneliti utama, pendanaan, tenggat waktu penelitian, dsb. (misal: dalam  bentuk MoU). Dengan begitu, kemungkinan kebingungan di akhir dapat diminimalkan.

 

Berdasarkan paparan di atas, kita dapat melihat lebih dalam kepada kasus yang dialami oleh Nona Marianti dengan tugas akhir berupa penelitian tentang isolasi dan karakterisasi gen MgK-cP dengan pembimbing Dr. Gayus Tampan. Dalam kasus ini kita dapat melihat bahwa.

  1. Nona Marianti telah melaksanakan tugas akhir sebagaimana kewajibannya dalam penyelesaian studi di Sekolah Teknologi dan Ilmu Biologi, Intitut Teknologi Banten.
  2. Dr. Gayus Tampan telah menunaikan kewajibannya dengan memberikan bimbingan yang baik sehingga penelitian tersebut berjalan lancar, dalam artian dosen pembimbing mampu mengarahkan mahasiswanya untuk melaksanakan penelitian sesuai dengan metode ilmiah yang seharusnya.
  3. Hasil penelitian sangat baik dan layak diterbitkan pada jurnal internasional menunjukkan bahwa selama penelitian, Nona Marianti telah mampu menerapkan sikap dan metode ilmiah secara benar. Dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa yang bersangkutan mampu menguasai penelitian yang dilaksanakannya.
  4. Tidak adanya pembicaraan mengenai publikasi hasil penelitian di luar dalam bentuk tesis sebelum hasil penelitian didapatkan. Proses bimbingan yang baik dan dilaksanakannya tugas akhir sesuai metode ilmiah dapat dikatakan semata merupakan bentuk penunaian keharusan (baik bagi Nona Marianti, maupun Dr. Gayus). Artinya, hak kepemilikan data jatuh kepada Nona Marianti dan Dr. Gayus sedangkan hak untuk diakui sebagai peneliti utama jatuh kepada Nona Marianti. Hal ini sesuai dengan kaidah umum dari pelaksanaan penelitian tugas akhir dimana mahasiswa sebagai peneliti utama yang belum berpengalaman melaksanakan penelitian di bawah bimbingan dosen sesuai dengan peraturan yang berlaku. Meskipun begitu, karena Dr. Gayus merupakan dosen pembimbing yang tanpa bimbingannya penelitian ini belum tentu berjalan semestinya, maka ia tetap memiliki hak atas data penelitian.
  5. Publikasi dalam jurnal internasional terkait hasil yang memuaskan dapat dilakukan dengan mencantumkan Nona Marianti sebagai peneliti pertama dan Dr. Gayus sebagai expertise. sebagai contoh, hal ini terjadi dalam publikasi hasil penelitian atas spesies ular yang baru dari famili Colubridae yang secara morfologi mirip dengan Boiga cynodon (Ramadhan dkk., 2010). Publikasi ini melibatkan Gilang Ramadhan sebagai peneliti pertama dengan Prof. Dr. Djoko T. Iskandar sebagai dosen pembimbing dan Dadang R. Subasri sebagai kolega peneliti ahli dari LIPI. Sebagai tugas akhir yang sama-sama memuaskan secara ilmiah dan tidak terikat proyek serta diluncurkan dalam jurnal internasional, penelitian pembanding ini merupakan salah satu contoh yang ideal dimana mahasiswa diarahkan untuk menjadi peneliti pertama dalam tugas akhirnya. Dalam hal ini, tentunya hak penulisan artikel untuk jurnal diserahkan kepada peneliti pertaman, yaitu dalam kasus adalah Nona Marianti. Dr. Gayus, tentunya tetap memiliki wewenang untuk melakukan pembimbingan penulisan dan koreksi terhadap isi artikel untuk jurnal terkait statusnya sebagai pembimbing, pemilik data maupun sebagai ahli yang memahami penelitian tersebut dengan baik.

 

 

 

 

.


 

BAB V

PENUTUP

 

 

5.1     Kesimpulan

  1. Data hasil penelitian tugas akhir merupakan milik dari Nona Marianti sebagai peneliti pertama dan Dr. Gayus sebagai pembimbing.
  2. Penulisan artikel untuk jurnal ilmiah dapat dilakukan dengan Nona Marianti sebagai peneliti utama (ditulis pertama) dan Dr. Gayus sebagai peneliti ahli.

 

5.2     Saran

  1. Pelaksanaan penelitian dalam bentuk kerjasama harus selalu disertai perjanjian yang tegas.
  2. Hal yang paling tepat untuk dilakukan dalam institusi adalah dengan menetapkan ketentuan-ketentuan terkait publikasi ilmiah hasil penelitian. Pernyataan bahwa publikasi tanpa ijin institusi saja tidak cukup karena secara nyata, di lapangan baik mahasiswa maupun dosen seringkali masih bingung mengenai hal ini.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Dib, C. Z. 1988. “Formal, Non-Formal and Informal Education: Concepts/Applicability”. Cooperative Networks in Physics Education – Conference Proceedings 173, American Institute of Physics. Halaman  300-315. New York.

Hamami, A. M. 1996. “Kebenaran Ilmiah”, dalam Filsafat Ilmu, Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM, Liberty bekerja sama dengan YP Fak. Filsafat UGM, Yogyakarta.

Kumar, R. 2005. Research Methodology Second Edition. London: Sage Publications Ltd.

Ramadhan, G., D.T. Iskadar dan D.R. Subasri. 2010. “A New Species of Cat Snake (Serpentes: Colubridae) Morphologically Similar to Boiga cynodon from the Nusa Tenggara Islands, Indonesia”. Asian Herpetological Research. 1(1): 22-30.

Shamoo A dan Resnik. 2003. Responsible Conduct of Research. New York: Oxford University Press.

 

Sumber Lain

Etika Mahasiswa Universitas Negeri Semarang, antara lain tercantum dalam SK Rektor Nomor 46/O/2004; 127/O/2003; 24/O/2004; dan 25/O/2004.

Ketetapan Senat ITB tahun 1978.

Kode Etik Kemahasiswaan ITB 2010.

Peraturan Akademik ITB 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *