Manusia Pemimpin

Setiap manusia pemimpin punya hak untuk mengambil keputusan. Karena pada dasarnya yang kita ikuti darinya adalah apa yang dia hasilkan dari proses pengambilan keputusan.

Dan seorang manusia pemimpin sewajarnya melihat hal dengan lebih luas dan mendalam, lebih menyeluruh dan bijaksana, lebih jauh menjangkau masa depan. Karena dengan begitulah dia bisa membawa pengikutnya dalam kemajuan. Bukan sekedar maju mundur berujung di jurang.

Dan setiap manusia pemimpin tak luput dari kelemahan. Kelemahan itu akan menjadi batasan bagi ia dan umatnya, namun juga menjadi kekuatan pemersatu yang tak terelakkan. Karena manusia pemimpin bukanlah Tuhan. Manusia pemimpin adalah sosok yang seharusnya bisa dijangkau oleh pengikutnya. Dan adakah manusia yang dapat mengikuti jejak sosok tanpa cela dengan seutuhnya? Sedangkan manusia ditakdirkan hidup dengan batasan-batasan?

Dan setiap manusia pemimpin memiliki kemungkinan untuk “dipertanyakan”. Tak ada yang salah selagi sang pemimpin dan umat terpimpin bertindak sesuai jalan kebenaran. Karena dari sisi manapun ia dipandang, pada akhirnya yang ada hanyalah satu kebenaran tunggal.

Dan saat semua yang sang umat harapkan berbeda dengan apa yang sang pemimpin putuskan, maka … (saya tidak pernah berpikir akhirnya akan menyebutkan ini) berbaik sangka lah. Karena seorang pemimpin sepatutnya memiliki pertimbangan matang. Yang tak melewatkan apa yang dilewatkan oleh umatnya …

Dan pun selagi kita mengingatkan ia tetap melakukan kesalahan, itu kemudian menjadi tanggungjawabnya. Seutuhnya.

Karena sebagaimana kita tak bisa menjadi dia … sang pemimpin pun tak dapat seutuhnya menjadi kita.

Seorang pemimpin ada, justru karena ia berbeda dari umatnya. Sangat sulit jika kita mengharap 100% harapan kita akan diwujudkan oleh keputusan-keputusannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *