Hati Wanita

Seorang teman pernah bertanya …

“Jika kalian menjadi saya, apa yang akan kalian pilih? Pertama, memilih cinta. Ataukah kedua, mencintai pilihan?”

FYI, konteks pertanyaan ini terkait dengan sifat dasar manusia yang memiliki keragu-raguan dan mudah terjebak dilema. Pertanyaan ini tidak hanya terkait dengan pilihan pasangan hidup, tentu saja. Pada dasarnya, pertanyaan ini akan mengikuti kita, kemana pun kita pergi, dalam jenis keputusan apapun yang akan kita ambil. Entah itu tentang memilih jalur/jenjang/bidang pendidikan, jenis pekerjaan, atau bahkan saat memilih rumah baru yang akan ditinggali.

Adalah manusiawi saat kita bertanya-tanya, menjadi ragu dan berpikir keras dalam memilih salah satu jalan yang akan kita lalui.

Kebanyakan orang, yang katanya penuh komitmen dan tanggungjawab, lebih senang memilih nomor 2. Alasannya, karena mencintai pilihan adalah suatu kewajiban, konsekuensi logis dari suatu pengambilan keputusan. Pun, seringkali mereka menggunakan dalih bahwa belum tentu apa yang kita sukai, adalah hal yang baik untuk kita.

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui..” (Qs.Al-Baqarah:216)

Padahal, menurut saya, pendapat ini tak juga 100% valid. Pihak macam ini melupakan bahwa KEPUTUSAN BELUM DIAMBIL, kita belum menerima konsekuensi untuk HARUS MENCINTAI PILIHAN. Pun, tidak semua yang kita sukai adalah hal yang buruk untuk kita. Who knows

Sebagian yang lain, the mohabbattein, memilih nomor 1. Well, it’s not necessarily bad. Yet, meski tidak ada jaminan bahwa sesuatu yang kita sukai/cintai itu buruk, kemungkinan bahwa itu buruk tentu masih tetap ada.

Jadi, HARUS PILIH YANG MANA???

Bingung? Sama. Pertanyaan ini memang membuat bingung. Dan seringkali, pertanyaan yang membuat bingung, menyebabkan dilema yang lebih besar dari dilema dalam realita yang ada.

Jadi?

 

Menurut saya, saat suatu pertanyaan menjadi dilematik, sulit dijawab, bisa jadi bukan kita yang salah berpikir. Bisa jadi, mungkin kita memang harus mengubah pertanyaan menjadi sesuatu yang lebih rasional, yang dapat dijawab.

Perhaps it’s not an occasion for you to learn how to answer. Perhaps it’s time for you to learn making appropriate question. 

Melihat pertanyaan awal yang disampaikan teman saya tersebut, saya berpendapat bahwa yang bersangkutan melewatkan beberapa hal. Yang terpenting adalah tentang dimensi waktu. Akan lebih mudah dijawab apabila kita bisa mempertimbangkan, kapankah pertanyaan tersebut muncul. Sebelum, ataukah sesudah pilihan diambil.

Jika pertanyaan ini muncul setelah pengambilan keputusan, maka tentu adalah wajib untuk mencintai pilihan. Itu adalah suatu konsekuensi logis dari pengambilan keputusan memang. Adalah hal yang tidak bertanggungjawab apabila kita telah memilih sesuatu untuk dijalani, namun malah berpaling hati ke tempat lain. Jika pertanyaan muncul sebelum pengambilan keputusan, maka sebaiknya pertanyaan tersebut diubah. Kenapa? Karena di dalamnya terdapat bias.

Pertama, ada asumsi yang kurang tepat dimana “cinta” dan “pilihan” dianggap dua hal yang dikotomi, berbeda arah. Padahal, siapa yang menjamin bahwa “pilihan” adalah objek yang terpisah seutuhnya dari “cinta”?

Kedua, dengan memisahkan “cinta” dan “pilihan”, maka poin “mencintai pilihan” menjadi sesuatu yang nyaris musykil. Bagaimana ceritanya menyatukan kedua aspek tersebut sedangkan keduanya telah dijadikan dikotomi sejak awal? Hal inilah yang sebenarnya membawa dilema.

 

Sebetulnya, jika memang keputusan belum diambil, maka sebaiknya tidak usah ada dikotomi generalisasi seperti itu. Cukup secara objektif dinilai saja dua “hal” tersebut, mana yang lebih banyak nilai kebaikannya. Dengan melepaskan terlebih dulu predikat “cinta” dan “tidak cinta”.

Pertanyaanya jadi sesimpel ini …

“Lebih milih mana??? Yang A atau B?”

Kalau yang dinilai lebih baik adalah “ternyata”, hal yang kita cintai … maka alhamdulillaah …

Kalau yang dinilai lebih baik adalah bukan hal yang kita cintai … maka menurut saya lebih baik ambil saja … karena kita masih bisa mencoba untuk mencintainya.

Namun tentu, dalam konteks tertentu, hal ini jadi sulit karena bisa jadi mengambil pilihan ini mengharuskan kita untuk berhenti atau setidaknya mengubur cinta pada “hal” yang tidak kita pilih. Misal: saat memilih pasangan hidup.

Maka, akan menjadi hal yang penting untuk selalu meluruskan niat, untuk faham atas tujuan hidup kita itu apa …, untuk selalu menyadari “cinta hakiki itu milik Siapa …?”

Karena sesulit apapun, itu bukanlah hal yang mustahil.

Demikian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *