Archive for Burung Kampus ITB

Tangkapan II

Today, let’s catch the birds again.

Saatnya walet dan burung layang-layang sekitar kampus.

Sepintas, anggota kedua bangsa ini serupa. Hanya, jika diperhatikan lebih detail, ternyata bangsa layang-layang lebih sering bertengger dan biasanya tekukan sayap lebih tajam dari walet. Bangsa walet biasanya merentang sayap hingga penuh.

Di sekitar kampus, setidaknya trdapat walet dari jenis Collocalia esculenta (358), Collocalia fuciphaga (354), Collocalia maxima (355), Apus affinis (365) dan Hydrochous gigas (353). Pusing??? Lihat gambar di bawah ini, sesuaikan nomor pada gambar dengan nomor dalam tanda kurung. Biasa … sumbernya dari MacKinnon dkk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saat pengamatan, gampangnya, kalo yang ukurannya besar warna hitam kecoklatan, itu si gigas. Kalo perut coklat pantat putih, itu si fuciphaga. Kalo kecil, coklat-hitam semua itu si maxima. Kalo warna hitam perut putih itu si Apus affinis. Kalo dagu dan pantat putih, itu si esculenta. 

Kalo layang-layang kampus, setidaknya ada Hirunc rustica (473) dan Delichon dasypus (477).

Burung Tangkapan Hari Ini

Suatu hari di salah satu grup yang saya buat di jejaring FB, ada yang bilang bakal bagus kalo ada tulisan-tulisan berisi deskripsi burung-burung yang ada di Kampus Ganesha. Ya … maksudnya tak sekedar list, soalnya kalo buat orang awam, mana tau lah gimana caranya ngebedain pipit dari burung gereja … atau kalo ditulis suatu nama, belum tentu juga ngeuh wujudnya kayak apa. So … well, hayu mari kita coba saja sekarang. Mumpung pas masuk kuliah semester ini institut bikin fasilitas blog buat mahasiswa. Sekalian kembali bernostalgia dengan kawan-kawan lama.

Mari awali perjumpaan kita dengan 3 spesies burung yang cukup khas di kampus ini.

Psittacula alexandri (Betet Biasa, Red-Breasted Parakeet, Betet)

Burung betet biasa dalam kampus biasa ditemukan di daerah gerbang depan, lapangan SR, lapangan sipil, Salman dan Taman Ganesha. Gak susah nemuinnya, serius. Cukup pasang telinga dan carilah suara-suara bawel sang burung di sekitar kita. Kalo udah dapet, coba cek aja. Jika burung itu berukuran sedang, warna hijau dada merah atau jingga, paruh khas nuri-nurian (Psittacidae) dan ekornya panjang lancip … maka CONGRATZ!!! Itu burung yang kita cari.

Morfologi

Berukuran sedang (34 cm), warna kehijauan dengan dada merah jambu hingga jingga. Dewasa: mahkota dan pipi abu-abu-ungu dengan kekang hitam, tengkuk, punggung, sayap, dan ekor hijau. Kumis hitam jelas, dada merah jambu hingga kejinggaan, paha dan perut hijau pucat. Juvenil: kepala coklat-kuning tua, kumis hitam kurang jelas. Iris kuning, paruh merah, kaki abu.

Betet Biasa

Suara

Seruan tajam berulang “kekekek”, teriakan parau seperti terompet.

Kebiasaan

Beraktivitas, beristirahat dan bersarang dalam kelompok. Terbang bising-mencolok, terbang redah-cepat melalui tempat terbuka. Hinggap dengan kepakan sayap ribut. Makan dan beristirahat sambil berteriak. In short, OBVIOUSLY BERISIK.

Di Taman Ganesha, biasanya kelompok betet menghuni pucuk-pucuk pohon tinggi. Cemara udang, ganitri … jadi tempat favorit mereka. Di Gerbang depan, Lapangan SR dan Sipil mereka sering terlihat terbang bergerombol di atas kanopi formasi mahoni dan damar. Di lapangan sipil, mereka sering bertengger di pohon besar Ki Acret. Beberapa bahkan bersarang di pohon tersebut.

Untuk spesies ini, dengan atau tanpa binok, insyaAllah kita tetap bisa menikmati tingkah mereka dengan jelas.

 

Pycnonotus aurigaster (Cucak Kutilang, Sooty-headed Bulbul, Cangkurileung)

Jenis ini merupakan anggota Famili Picnonotidae (cucak-cucakan). Sama seperti si betet, dijamin tak susah untuk mengamati kutilang di kampus Ganesha. Jenis ini sering beraktivitas di lokasi yang sangat mudah dijangjau mata. Tak jarang, berdekatan dengan manusia.

Morfologi

Ukuran sedang (20 cm) dengan topi hitam, tungir keputih-putihan dan tungging jingga-kuning. Dagu dan kepala atas hitam. Kerah, dada, perut putih. Sayap hitam ekor coklat. Iris merah. paruh dan kaki hitam.

Kutilang

Suara

Merdu dan nyaring “cuk-cuk” dan “cang-kur” yang diulang cepat.

Kebiasaan

Hidup berkelompok, aktif dan ribut. Menyukai tempat terbuka, di perkotaan biasa di taman, pekarangan, perdu dan semak. Di kampus bisa dijumpai di mana pun. Dari taman rumput hingga atap PAU. Termasuk jenis yang melimpah. Tak jarang bertengger dan berbunyi di pucuk pohon cemara … Sering terlihat ber”kelahi” atau ber-“cumbu” di perdu-perdu sekitar kita. Best friends di saat suntuk dan butuh senyam-senyum sendiri.

 

Megalaima haemacephala (Takur Ungkut-Ungkut, Coppersmith Barbet, Ungkut-Ungkut)

Pernah dengan suara “kut-kut-kut” atau “tuk-tuk-tuk bergaung di sekitar kampus??? That’s it. Ungkut-ungkut. Ukurannya cukup kecil, tapi suaranya cukup nyaring untuk diandalkan sebagai bahan utama identifikasi ungkut-ungkut.

Morfologi

Berukuran kecil (15 cm). Mahkota, alis, pipi, tenggorokan, dada atas merah padam. Punggung, sayap, ekor hijau kebiruan. Tubuh bawah putih kotor dengan coretan hitam. Iris coklat, paruh hitam, kaki merah.

Ungkut-Ungkut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suara

Monoton, bergaung metaoik “kut-kut-kut” (tuk-tuk-tuk) selama beberapa menit dengan tempo tetap sekitar 110 nada per menit. Ekor menjentik ke depan setiap ritme. Suara lain lebih lambat dilakukan dengan kepala menyentak dan ekor diam.

Kebiasaan

Menyukai daerah terbuka, biasa menghuni kanopi teratas. Di kampus dengan mudah bisa ditemukan di puncak formasi pohon kenari di boulevard, cemara udang Taman Ganesha, hingga akasia Labtek Biru. In short, dimana pun bunyi khas ungkut-ungkut bisa muncul. Bunyi yang sangat khas di kampus hingga ia bisa diidentifikasi hanya lewat bunyi.

 

Those are … tiga spesies yang sangat umum di kampus ITB. Ulasan selanjutnya akan menyajikan spesies lain di kampus ini. Untuk segala info deskripsi per spesies, bersumber dari Field Guide SKJB Pak MacKinnon. Datanglah ke Lab Eko untuk meminjam atau sekedar baca-baca … Sangat berguna, untuk yang betulan birder maupun pemula.

See you …

Daftar Spesies Burung Kampus ITB

 

Pernah merasa bahwa kampus ITB sangat indah? Harusnya pernah lah ya … Dengan salah satu yang istimewa adalah keragaman spesies burung yang dimiliki lokasi ini.

Berikut adalah daftar spesies burung kampus ITB dan Taman Ganesha yang ada dan/atau pernah ada. Well, sama seperti kebanyakan lokasi di negeri tercinta ini, kampus ITB tak terkecuali juga mengalami kerusakan habitat (ini kalo kita lihat dari kacamata ekologi ya … soalnya kalo versi manusia metropolitan mah bisa jadi dianggap makin “rapi”, “seragam” dan makin “nyaman”).

  1. Acridotheres javanicus | Kerak kerbau
  2. Acridotheres tristis | Kerak ungu
  3. Aegithina tiphia | Cipoh Kacat
  4. Alcedo meninting |  Raja udang meninting
  5. Amandava amandava | Pipit merah
  6. Aplonis minor | Perling kecil
  7. Apus affinis | Kapinis rumah
  8. Cacomantis merulinus |  Wiwik kelabu
  9. Cacomantis sepulcralis | Wiwik incuing
  10. Caprimulgus affinis | Cabak kota
  11. Cinnyris jugularis | Burung madu sriganti
  12. Collocalia esculenta | Walet sapi
  13. Collocalia fuciphaga | Walet sarang-putih
  14. Collocalia maxima | Walet sarang-hitam
  15. Columba livia | Merpati batu
  16. Cyanoptila cyanomelana | Sikatan biru putih (migran)
  17. Delichon dasypus | Layang-layang rumah
  18. Dendrocopos macei | Caladi Ulam
  19. Dendrocopos moluccensis | Caladi tilik
  20. Dicaeum trochileum | Cabe jawa
  21. Halcyon cyanoventris | Cekakak jawa
  22. Hirundo rustica | Layang-layang asia
  23. Hydrochous gigas | Walet raksasa
  24. Lonchura leucogastroides | Bondol jawa
  25. Loriculus galgulus | Serindit Melayu
  26. Loriculus pusillus | Serindit jawa
  27. Megalaima haemacephala | Takur ungkut-ungkut
  28. Nycticorax nycticorax | Kowak malam kelabu (ex)
  29. Orthotomus sepium | Cinenen jawa (legenda)
  30. Orthotomus sutorius | Cinenen pisang
  31. Othotomus ruficeps | Cinenen kelabu
  32. Parus major | Gelatik batu
  33. Passer montanus | Gereja eurasia
  34. Phylloscopus borealis | Cikrak kutub (migarn)
  35. Prinia flaviventris | Perenjak
  36. Psittacula alexandri | Betet biasa
  37. Pycnonotus aurigaster | Kutilang
  38. Streptopelia chinensis | Tekukur biasa
  39. Sturnus contra | Jalak suren (legenda)
  40. Sturnus melanopterus | Jalak putih (legenda)
  41. Treron curvirostra | Punai lengguak
  42. Treron griseicauda | Punai penganten
  43. Treron oxyura | Punai salung
  44. Tyto alba | Serak jawa
  45. Zosterops palpebrosus | Kacamata biasa

Well, meski sebagian spesies sudah berubah menjadi “legenda”, kita bisa cukup terhibur dengan masih ditemukannya spesies-spesies baru yang belum tercatat di lokasi kampus gajah duduk ini.

Maka berjuanglah KPB “Nymphaea” … ayo kita lengkapi daftarnya. Buat yang punya tambahan, mangga sharing disini.