Archive for Burung Sangkuriang

LEMBAH SANGKURIANG: Antara Surga dan Neraka

Lembah Sangkuriang adalah sebutan terhadap sebidang tanah di wilayah Cisitu-Sangkuriang, tepat di tepi timur Sungai Cikapundung. Dengan tipe asli vegetasi pegunungan yang sudah  hilang, wilayah ini kini berupa lahan rumput-semak dengan sedikit tegakan perdu-pohon. Selain itu, kondisi musim penghujan beberapa waktu lalu dan lokasinya yang berada di tepian sungai, membuat wilayah ini pernah menjelma sebagai sepetak lahan basah di tengah Kota Bandung.

 

"Lembah Sangkuriang"

Lembah Sangkuriang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sedikitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam kota Bandung membuat keberadaan Lembah Sangkuriang menjadi sangat bernilai karena seakan merupakan surga bagi berbagai jenis burung. Terutama untuk jenis yang tidak mampu berkompetisi di kawasan taman kota, lembah ini menjanjikan tempat tinggal dan makanan yang cukup berlimpah. Tidak hanya bagi burung lahan tertutup dan perdu-semak, lokasi ini juga digemari oleh beragam jenis burung lahan basah. Berikut adalah daftar burung yang terdapat di lokasi ini.

  1. Accipiter sp. | Elang
  2. Acridotheres javanicus | Kerak kerbau
  3. Alcedo meninting | Raja Udang Meninting
  4. Amaurornis phoenicurus | Kareo padi
  5. Apus affinis | Kapinis rumah
  6. Bradypterus sebohni | Ceret kuning
  7. Cacomantis merulinus | Wiwik kelabu
  8. Cacomantis sepulcralis | Wiwik incuing
  9. Centropus sp. | Bubut
  10. Collocalia esculenta | Walet sapi
  11. Collocalia maxima | Walet sarang-hitam
  12. Delichon dasypus | Layang-layang rumah
  13. Dicaeum trochileum | Cabe jawa
  14. Dicrurus leucophaeus | Srigunting kelabu
  15. Halcyon chloris | Cekakak sungai
  16. Halcyon cyanoventris | Cekakak jawa
  17. Hydrochous gigas | Walet raksasa
  18. Ixobrychus cinnamomeus | Bambangan merah
  19. Lonchura leucogastroides | Bondol jawa
  20. Cinnyris jugularis | Burung madu sriganti
  21. Orthotomus sutorius | Cinenen pisang
  22. Passer montanus | Gereja eurasia
  23. Picoides moluccensis | Caladi tilik
  24. Prinia polychroa | Perenjak coklat
  25. Pycnonotus aurigaster | Kutilang
  26. Streptopelia chinensis | Tekukur biasa
  27. Zosterops palpebrosus | Kacamata biasa

Daftar di atas memperlihatkan bahwa komposisi komunitas burung di lokasi ini cukup kompleks. Dari burung granivora, frugivora, insektivora, piscivora hingga jenis raptor-predator dapat diamati di lokasi ini. Menilik kekayaan spesies yang sebetulnya dalam kondisi nyata (dengan frekuensi dan intensitas pengamatan lebih tinggi) lebih besar lagi, dapat dikatakan bahwa wilayah Lembah Sangkuriang merupakan surga bagi komunitas burung di area urban Kota Bandung.

Salah satu yang menjadi istimewa adalah dengan adanya jenis burung lahan basah. Bambangan merah (Ixobrychus cinnamomeus) dan kareo padi (Amaurornis phoenicurus) yang kini tidak umum ditemukan di kawasan Kota Bandung dapat ditemukan di lokasi ini. Selain kedua spesies itu, kita juga dengan mudah dapat menemukan jenis cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) dan cekakak sungai (Todirhamphus chloris). Jenis ini biasanya ditemukan bertengger atau terbang di antara tegakan pohon di bantaran sungai dan mengeluarkan bunyinya yang khas.

Hanya saja, terlepas dari keunikan spesies burung yang dimilikinya, wilayah ini tak kurang juga merupakan neraka perangkap burung komersial yang mengkhawatirkan. Praktek penangkapan dilakukan secara terbuka nyaris di setiap titik dalam wilayah lembah secara bergantian. Perangkap yang biasa digunakan adalah mist net (jaring kabut) dengan pancingan berupa burung yang sudah tertangkap. Berikut adalah gambar yang diambil di lokasi ini.

 

"Mist Net"

 

 

 

 

 

 

 

 

Praktek penangkapan burung di lokasi ini sungguh menyedihkan. Di saat burung-burung tersebut kalah berkompetisi di lingkungan Taman Kota dimana ia dilindungi dan memang dilarang untuk diganggu, spesies-spesies tersebut justru lebih memilih hidup di lokasi yang rentan terhadap perburuan. Selain surga, Lembah Sangkuriang tak kurang juga merupakan bentukan “indah” dari neraka.

Dalam tataran antroposentrisme, manusia menekankan fungsi dan pemanfaatan lingkungan sebagai sarana penyelenggaraan kepentingan manusia. Dalam hal ini, alam diperlakukan  hanya sebagai pemenuh kebutuhan hidup manusia. Berikut adalah beberapa poin dari antroposentrisme yang berlaku  pada kasus penangkapan burung di Lembah Sangkuriang.

 

  • Mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung jawab manusia.

Dalam hal ini, masyarakat sekitar melihat bahwa keberadaan spesies-spesies komersial seperti kutilang dan perenjak jawa merupakan aset ekonomi yang berhak mereka manfaatkan. Terutama untuk perenjak jawa, jenis ini tidak lagi umum ditemukan di seputar RTH Kota Bandung dalam jumlah besar. Karena itulah, keberadaannya di sekitar tempat tinggal mereka menjadi sangat penting. Di sisi lain, perlindungan terhadap burung kawasan urban seharusnya juga merupakan tanggungjawab dari masyarakat. Sayangnya, dalam antroposentrisme hal ini belum dianggap penting.

  • Mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya.

Masyarakat, dan mungkin sebagian dari kita, akan lebih prihatin pada kondisi masyarakat dengan kebutuhan finansialnya daripada pada kehidupan komunitas burung kawasan urban. Terlepas dari apakah penangkapan burung untuk komersialisasi merupakan mata pencaharian utama atau bukan, kebanyakan dari kita akan merasa ragu untuk melarang penangkapan burung di lokasi ini.

  • Norma utama yang berlaku adalah untung rugi.

Bagi masyarakat dengan orientasi finansial dan kesadaran lingkungan yang belum memadai, untung rugi usaha penangkapan adalah hal yang utama. Masyarakat antroposentris tidak memperhitungkan kerugian ekologis bila terjadi kepunahan lokal di Lembah Sangkuriang.

  • Mengutamakan rencana jangka pendek.

Masyarakat pada dasarnya bisa jadi memahami bahwa ada kemungkinan populasi burung komersial di lokasi ini habis. Namun, bagi mereka hal ini tidak menjadi masalah. Yang penting adalah dalam jangka waktu pendek (sekarang), mereka dapat meraup keuntungan sebanyak mungkin.

 

Di lain sisi, dalam UU No. 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dinyatakan bahwa bahwa “sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari, selaras, serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, baik masa kini maupun masa depan”. Dengan begitu, secara jelas terdapat keharusan bagi kita untuk memikirkan bagaimana caranya agar spesies burung kawasan urban ini dapat dipertahankan kelestariannya. Berikut adalah beberapa hal yang penulis pikir dapat dilakukan.

  • Melakukan pengamatan dan inventarisasi kekayaan spesies secara lebih sistematik.

Hal ini menjadi penting mengingat bahwa upaya apapun yang kita lakukan kemudian untuk mengubah kondisi ini, haruslah didasarkan pada data lapangan yang valid. Pengamatan yang telah dilakukan selama ini belum cukup kuat sebagai dasar karena tidak menggunakan metode pengamatan standar. Data yang diambil seharusnya dapat menggambarkan struktur komunitas burung dan kelimpahannya. Inventarisasi harus dilakukan dengan segera untuk mencegah keterlambatan akibat kepunahan lokal.

"KPB"

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Melakukan pendekatan kepada masyarakat.

Berdasarkan konsep yang berlaku, program perlindungan Sumber Daya Hayati tidak dapat dilepaskan dari peran serta masyarakat. Secara resmi, pasal 37 UU No. 5/1990 menyatakan bahwa:

(1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna.

(2) Dalam mengembangkan peranserta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan.

Meskipun begitu, kita juga termasuk ke dalam masyarakat. Kepemilikan kesadaran berlebih pada akademisi seperti kita haruslah dimanfaatkan dan ditindaklanjuti, dengan atau tanpa terlebih dulu ada insisiasi dari pemerintah. Bahkan, seharusnya kita yang dapat mengupayakan agar pemerintah turut serta dalam usaha ini.

  • Melakukan pendekatan pada pemerintah.

Berdasarkan penjelasan pasal 57 ayat 1 UU No. 32 tahun 2009 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pemerintah kota dapat melakukan pencadangan sumber daya alam melalui pencanangan RTH (minimal 30% dari luas kawasan). Dalam  hal ini, meski kita biasanya langsung merujuk RTH kepada taman kota, sebetulnya RTH bukan hanya itu.

Jika kita melihat lahan terbuka hijau di lingkungan perkotaan, berupa taman atau bukan, itu adalah RTH. Masalahnya adalah, RTH yang secara tegas merupakan  taman kota saja banyak yang terbengkalai, apalagi yang bukan.

Selain itu, pemerintah hanya mencangkan sebagian kecil dari lingkungan RTH yang dimilikinya dalam  upaya perlindungan burung kawasan urban. Dalam contoh taman kota misalnya adalah Taman Ganesha, Taman Maluku, dll. Padahal, lingkungan taman kota adalah lingkungan buatan dengan tipe ekosistem dan  vegetasi yang nyaris seragam. Karena itulah, pada akhirnya banyak spesies yang justru tidak dapat terfasilitasi. Misal: spesies burung lahan basah dan granivora.

  • Melakukan pendekatan pada pemilik lahan.

Pada dasarnya, adalah tidak sehat untuk membangun pemukiman atau bangunan apapun di kawasan bantaran sungai. Namun, nampaknya lokasi pengamatan Lembah Sangkuriang ini tidak kurang juga sudah dicanangkan untuk dibangun. Hal ini nampak dari terdapatnya saluran air dan petak-petak kapling lahan, meski dalam keadaan tidak terurus. Konfirmasi kepada pemilik lahan akan sangat membantu upaya perlindungan. Bagaimanapun, pemilik lahan adalah pihak yang berkuasa penuh atas penggunaan lahan tersebut.

Berdasarkan  paparan  tersebut, kita dapat melihat bahwa sejelek apapun antroposenstrisme dalam  pikiran kita, pada kenyataannya hal tersebut masih terjadi. Tidak jauh-jauh, hal ini terjadi di sekitar lingkungan kampus dan tempat tinggal kita sendiri. Padahal, manusia merupakan salah satu bagian yang terintegrasi dengan lingkungan. Sebagai makhluk hidup yang membutuhkan lingkungan, manusia memiliki kewajiban untuk menghormati, menghargai dan menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalam lingkungan.

Manusia itu temasuk kita. Perilaku positif kita sebagai manusia dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari, termasuk lingkungan  urban kota kita ini. Karena itulah, mulai saat ini juga kita harus bergerak sesuai dengan kemampuan dan keterampilan kita masing-masing. Dengan begitu, meski sedikit, kita dapat berkontribusi dan mempertanggungjawabkan ilmu yang kita miliki.