Archive for Another Time

Burned down!

Bagi sebagian besar penghuni hutan, api akan membawa kematian. Namun bagi yang lain, api adalah kehidupan.

Meruntuhkan yang bobrok, menghilangkan yang rusak.

Memberikan jalan bagi yang murni untuk tumbuh sekarang. Meski dengan bernafas abu berbalut arang …

Seorang Teman, dan Sebuah Ketertutupan

Seseorang yang saya anggap teman menyatakan bahwa, “Saya tidak akan membantu Anda tidak meminta bantuan”, dengan indikasi bahwa bahkan saat dia tahu pun bahwa sesuatu berjalan tidak sebagaimana mestinya … dia diam. Baru mengatakannya sebagai teguran keras di akhir cerita.

Sejujurnya, pertama-tama saya kecewa karena kami bekerja dalam tim, kami satu perahu, dan dia membiarkan perahu nyaris karam karena kekhilafan saya. Dia berkata-kata seolah dia dan saya adalah berbeda, kami tidak berada di perahu yang sama.

Tapi kemudian, saya kecewa karena saya yang “kaku” ini, tidak mampu mengungkapkan bahwa saya butuh bantuan. Mungkin karena egois, mungkin karena tidak enak hati, atau memang saya total khilaf sampai tidak menyadari ada suatu kekurangan yang terjadi. Saya harap saya adalah orang yang lebih terbuka … yang lebih fleksibel seperti yang dia kata.

Di akhir, saya menyadari bahwa tidak ada perahu yang nyaris karam. Yang ada adalah dua pihak yang berbeda titik berat cara memandang suatu keadaan. Perahunya baik-baik saja. Hanya lautan memang beriak bergelombang membuat bahtera selalu terayun di sekitar kesetimbangan. Dalam beberapa poin pemikiran dia benar, tapi saya sadari sekarang kata-kata menyakitkan yang dia sampaikan sama sekali tidak konsisten, dan tidak berdasar. Pun, jika ada konsistensi di dalamnya, itu adalah karena pernyataan-pernyataan itu … menyakitkan.

Dan saya, dalam beberapa poin saya salah, dalam hal-hal lain, meski orang lain keberatan, jika dipikir, itu adalah hal benar yang paling mungkin dilakukan. Dan jika ada hal yang paling salah yang saya lakukan adalah karena saya menaruh kepercayaan pada pedang yang akhirnya menikam diri saya sendiri. Yet, somehow … saya tidak mati.

Well, setidaknya saya bersyukur saya dibukakan mata bahwa saya mempercayai orang yang kurang tepat di saat yang … jika pun terjadi kekacauan, saya tidak akan hancur total. Dan, saya juga diingatkan bahwa sifat introvert saya, se-terkubur apapun itu, tetap masih jadi bagian jatidiri saya.

 

Ya … saya memahami diri saya sebagai orang yang ternyata, hingga detik ini, masih tertutup. Saya sempat berpikir bahwa ketertutupan saya mulai longgar di tahun-tahun belakangan. Namun, ternyata itu hanya sesuatu yang … semu. Kini, saya memahaminya sebagai “bentuk pemuasan terhadap pihak lain agar tidak meminta lebih”.

Saya menyadari bahwa saya masih sulit tersenyum, dan memuaskan orang-orang sekitar dalam keceriaan tawa, yang kadang palsu tidak terkira.

Saya bersikap ramah, sopan, memberikan apa yang diminta orang sekitar agar mereka tidak perlu berlama-lama bergaul dengan saya hanya untuk menagih sesuatu yang trivial. Saya mengurangi intensitas perjumpaan agar mereka tidak perlu sampai menyadari apa yang benar-benar saya pikirkan.

Saya menyembunyikan kesedihan dalam tawa.

Saya membaurkan air mata dalam hujan.

Saya menyangkal dengan pandangan diam.

Dan seperti sekarang, lebih memilih menuliskan dibanding berbincang tentang sesuatu yang cukup … menyita perasaan.

Dan saat merasakan kecewa atas seseorang yang dipercaya, saya mulai tidak mempercayai orang-orang sekitar, orang-orang terdekat, orang-orang yang selama ini pernah saya anggap sebagai sahabat.

I want to say sorry. Yet I couldn’t say “please forgive me”.

Since it’s yet for me to decide whether or not it’s wrong to doubt.

“Cause it was hard to build such confidence.

Then that blow was hard enough to break it all …

 

Hujan sudah reda beberapa menit yang lalu. Tapi nampaknya jalan untuk kembali “percaya” masih panjang di depan mata.

Sekalipun pathetic, tapi mungkin tawa palsu akan cukup membantu.

Hm, nampaknya harga diri saya terlalu tinggi untuk membiarkan orang menyadari bahwa saya sedang kembali kepayahan berjalan mendaki. Menuju titik awal dimana saya bisa kembali mempercayai.  

Drought

The last time I felt my heart’s dying, it was you who brought it back alive.

I wonder if I could do it my self now.

Since I have no one around.