Sep 20

Empat Prinsip Etos Kerja Islami

Peranan Ilmu Geodesi di Dunia Tambang - Ilmu Tambang

Bekerja merupakan keniscayaan dalam hidup. Dalam suasana zaman yang semakin sulit, kaum beriman dituntut mampu survive dan bangkit membangun peradaban seperti sedia kala. Syarat untuk itu tidak cukup lagi ditempuh dengan kerja keras, tetapi harus kerja cerdas.

Tidak ada lain bagi kaum beriman kecuali harus mengkaji pandangan Islam tentang etos kerja. Meski makhluk hidup di bumi sudah mendapat jaminan rezeki dari Allah, namun kemalasan tidak punya tempat dalam Islam. Fatalisme atau paham nasib tidak dikenal dalam Islam. Firman Allah, “…maka carilah rezeki di sisi Allah, kemudian beribadah dan bersyukurlah kepada Allah. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan” (Qs Al-Ankabut: 17).

Menurut ayat itu, rezeki harus diusahakan. Dan seakan mengonfirmasi ayat di atas, firman Allah di ayat lain tegas menyatakan, cara mendapat rezeki adalah dengan bekerja. “Jika shalat telah ditunaikan, maka menyebarlah kalian di muka bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung” (Qs Al-Jumu’ah: 10).

Ayat lain bahkan menyatakan, dijadikannya siang terang agar manusia mencari rezeki dari Allah (Qs Al-Isra: 12), terlihatnya bahtera berlayar di lautan agar manusia mencari karunia Allah (Qs An-Nahl: 14), adanya malam dan siang agar manusia beristirahat pada waktu malam dan bekerja pada waktu siang (Qs Al-Qashash: 73).

Masih banyak ayat serupa. Intinya, rezeki Allah hanya akan diperoleh dengan etos kerja tinggi. Bagaimana teknis pelaksanaan etos kerja sebagaimana perintah Allah di atas?

Menurut riwayat Al-Baihaqi dalam ‘Syu’bul Iman’ ada empat prinsip etos kerja yang diajarkan Rasulullah. Keempat prinsip itu harus dimiliki kaum beriman jika ingin menghadap Allah dengan wajah berseri bak bulan purnama.

Pertama, bekerja secara halal (thalaba ad-dunya halalan). Halal dari segi jenis pekerjaan sekaligus cara menjalankannya. Antitesa dari halal adalah haram, yang dalam terminologi fiqih terbagi menjadi ‘haram lighairihi’ dan ‘haram lidzatihi’.

Analoginya, menjadi anggota DPR adalah halal. Tetapi jika jabatan DPR digunakan mengkorupsi uang rakyat, status hukumnya jelas menjadi haram. Jabatan yang semula halal menjadi haram karena ada faktor penyebabnya. Itulah ‘haram lighairihi’. Berbeda dengan preman. Dimodifikasi bagaimanapun ia tetap haram. Keharamannya bukan karena faktor dari luar, melainkan jenis pekerjaan itu memang ‘haram lidzatihi’.

Kedua, bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain (ta’affufan an al-mas’alah). Kaum beriman dilarang menjadi benalu bagi orang lain. Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang muda dan kuat tetapi pekerjaannya mengemis. Beliau kemudian bersabda, “Sungguh orang yang mau membawa tali atau kapak kemudian mengambil kayu bakar dan memikulnya di atas punggung lebih baik dari orang yang mengemis kepada orang kaya, diberi atau ditolak” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, setiap pekerjaan asal halal adalah mulia dan terhormat dalam Islam. Lucu jika masih ada orang yang merendahkan jenis pekerjaan tertentu karena dipandang remeh dan hina. Padahal pekerjaan demikian justru lebih mulia dan terhormat di mata Allah ketimbang meminta-minta.

Ketiga, bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga (sa’yan ala iyalihi). Mencukupi kebutuhan keluarga hukumnya fardlu ain. Tidak dapat diwakilkan, dan menunaikannya termasuk kategori jihad. Hadis Rasulullah yang cukup populer, “Tidaklah seseorang memperoleh hasil terbaik melebihi yang dihasilkan tangannya. Dan tidaklah sesuatu yang dinafkahkan seseorang kepada diri, keluarga, anak, dan pembantunya kecuali dihitung sebagai sedekah” (HR Ibnu Majah).

Tegasnya, seseorang yang memerah keringat dan membanting tulang demi keluarga akan dicintai Allah dan Rasulullah. Ketika berjabat tangan dengan Muadz bin Jabal, Rasulullah bertanya soal tangan Muadz yang kasar. Setelah dijawab bahwa itu akibat setiap hari dipakai bekerja untuk keluarga, Rasulullah memuji tangan Muadz seraya bersabda, “Tangan seperti inilah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”.

Keempat, bekerja untuk meringankan beban hidup tetangga (ta’aththufan ala jarihi). Penting dicatat, Islam mendorong kerja keras untuk kebutuhan diri dan keluarga, tetapi Islam melarang kaum beriman bersikap egois. Islam menganjurkan solidaritas sosial, dan mengecam keras sikap tutup mata dan telinga dari jerit tangis lingkungan sekitar. “Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian harta yang Allah telah menjadikanmu berkuasa atasnya.” (Qs Al-Hadid: 7).

Lebih tegas, Allah bahkan menyebut orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan nasib kaum miskin dan yatim sebagai pendusta-pendusta agama (Qs Al-Ma’un: 1-3). Itu karena tidak dikenal istilah kepemilikan harta secara mutlak dalam Islam. Dari setiap harta yang Allah titipkan kepada manusia, selalu menyisakan hak kaum lemah dan papa.

Demikianlah, dan sekali lagi, kemuliaan pekerjaan sungguh tidak bisa dilihat dari jenisnya. Setelah memenuhi empat prinsip di atas, nilai sebuah pekerjaan akan diukur dari kualitas niat (shahihatun fi an-niyat) dan pelaksanaannya (shahihatun fi at-tahshil). Itulah pekerjaan yang bernilai ibadah dan kelak akan mengantarkan pelakunya ke pintu surga.

sumber: republika.co.id

Sep 16

Imam Al Ghazali Kisahkan Ahli Ibadah yang ‘Dicuekin’ Allah SWT, Ini Penyebabnya

Kisah ini diceritakan Imam Al Ghazali di dalam kitabnya ‘Mukasyafatul Qulub‘. Dalam kitab itu, disebutkan seorang yang bernama Abu bin Hisyam. Ia orang yang rajin bangun malam untuk salat tahajud.

Pada suatu malam, saat hendak mengambil wudlu, Abu bin Hisyam kaget dengan kedatangan sesosok makhluk. Makhluk itu tepat berada di bibir sumur.

“Wahai hamba Allah, siapakah engkau?” tanya Abu bin Hisyam. “Aku adalah Malaikat utusan Allah SWT,” jawab makhluk itu.

Jawaban itu membuat Abu bin Hisyam semakin kaget sekaligus bangga lantaran ia merasa dirinya ahli ibadah. Dia lalu bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku diperintahkan untuk mencari hamba pecinta Allah SWT,” jawab si malaikat.

Melihat Malaikat memegang buku catatan amal perbuatan yang tebal, maka Abu bin Hisyam buru-buru bertanya.

“Wahai Malaikat, buku apakah yang engkau bawa?,” tanya Abu Hisyam

“Ini adalah buku kumpulan nama-nama hamba pencinta Allah,” jawab malaikat.

Mendengar jawaban Malaikat tersebut, Abu bin Hisyam berharap namanya tercantum dalam buku catatan amal tersebut. Lalu ia kembali bertanya.

“Wahai Malaikat, adakah namaku di situ?” tanya Abu bin Hasyim

Abu bin Hisyam menduga dan meyakini namanya ada di buku itu, mengingat amal ibadahnya yang tidak kenal putusnya. Selalu mengerjakan salat tahajud setiap malam, berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT di sepertiga malam.

“Baiklah, biar aku lihat,” jawab malaikat, sembari membuka buku tebalnya. Sungguh tak disangka, ternyata nama Abu bin Hisyam, yang ahli ibadah itu, tak ada dalam daftar catatan buku tersebut.

Penyebab Allah Melarang Mencatat Amal Baik Abu Hisyam

Saking kagetnya, seketika itu juga tubuh Abu bin Hisyam gemetar dan jatuh tersungkur, lalu menangis sejadi-jadinya.

“Betapa ruginya aku yang di setiap malam selalu melaksanan shalat tahajud dan bermunajat, tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pecinta Allah SWT,” kata Abu bin Hisyam dalam tangisannya.

Lalu malaikat menjelaskan perihal ketiadaan Namanya dalam buku catatannya bukan sebab kealpaannya, namun memang Allah melarang mencatat namanya.

“Wahai Abu bin Hasyim, bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur, mengambil air wudlu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dalam buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allah SWT menulis namamu,” kata Malaikat.

Ucapan tersebut membuat Abu bin Hisyam penasaran. Dia kemudian bertanya mengapa Allah SWT sampai melarang malaikat mencatat namanya.

“Apa gerangan yang menjadi penyebabnya?”, kata Abu bin Hisyam.

“Engkau memang bermunajat kepada Allah SWT, tapi engkau memamerkan dengan rasa bangga hal tersebut kepada siapaun juga serta asyik beribadah memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain”, kata Malaikat menjelaskan.

“Di kanan kirimu ada orang sakit dan lapar, tidak engkau jenguk dan beri makan. Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah SWT dan dicintai oleh-Nya, kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allah SWT?” imbuh Malaikat.

Semoga qta semua menjadi Hamba yang di CINTAI Alloh SWT. Selamat Dunia dan Akhirat. Masuk kedalam Jannatul Firdausi Nuzula TANPA HISAB Bersama keluarga dan orang-orang yang dicintai. Aamiin 🤲🏻🤲🏻

Older posts «

1 visitors online now
0 guests, 1 bots, 0 members
Max visitors today: 2 at 01:12 am UTC
This month: 3 at 10-02-2022 02:56 am UTC
This year: 20 at 03-27-2022 05:10 am UTC
All time: 25 at 12-09-2021 12:30 am UTC