Mengapa Sultan Hasanuddin Melakukan Perlawanan kepada Belanda?

Siapa sih yang tak mengenal pahlawan bernama Sultan Hasanudin yang dikenal pula dengan sebutan Ayam Jantan dari Timur. Ya, memiliki nama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe, gelar nama Sultan Hasanudin sendiri didapatkan ketika beliau menjabat sebagai sultan di Kerajaan Gowa.

Ilustrasi Sultan Hasanuddin

Terlepas dari hal tersebut, salah satu hal yang paling terkenal atas jasanya adalah ketika memerangi Belanda atau VOC. Lalu apa sih alasan Sultan Hasanudin melakukan perlawanan terhadap Belanda atau VOC?

Alasan Sultan Hasanudin Melakukan Perlawanan Terhadap VOC

Sebenarnya, perlawanan Sultan Hasanudin  terhadap VOC ini merupakan lanjutan perlawanan dari sang ayahanda (Sultan Malikussaid). Alasan perlawanan terhadap VOC sendiri, karena VOC melakukan monopoli perdagangan di Indonesia bagian Timur (referensi terkait: Peta Indonesia Terbaru].

Tak hanya itu saja, VOC pun menganggap bahwa orang-orang Makassar, terutama  Kerajaan Gowa menjadi penghalang dan musuh yang sangat berbahaya. Karena hal inilah, peperangan antara rakyat Makassar dengan VOC tak dapat dielakkan.

Ketika Belanda sedang melakukan upaya untuk memonopoli perdagangan dan menguasai hasil rempah-rempah, Sultan Hasanudin melakukan perlawanan dengan cara melarang orang Makassar untuk berdagang dengan orang Belanda. Hal inilah yang membuat Belanda ingin menyingkirkan dan menghancurkan Kerajaan Gowa.

Peperangan Melawan Belanda yang Diakhiri Perjanjian Bongaya

Dalam sejarah, pertempuran melawan Belanda pernah terjadi di Medan, Sulawesi Selatan, dimana rakyat Makassar dipimpin oleh Sultan Hasanudin, sedangkan pasukan VOC di bawah pimpinan Laksamana Speelman.

Dengan berlangsungnya pertempuran tersebut, tentu masih berlanjut ke pertempuran berikutnya, meski telah dilakukan berbagai perjanjian perdamapian ataupun gencatan senjata. Hal itu tentu saja karena pihak VOC selalu melanggar perjanjian, sehingga merugikan Kerajaan Gowa.

Namun sayangnya, peperangan yang berlangsung membuat Kerajaan Gowa semakin terdesak, hingga akhirnya Sultan Hasanudin mau melakukan perjanjian Bongaya yang dilakukan pada 18 November 1667. Tentu saja perjanjian ini sangat merugikan Kerajaan Bongaya, hingga akhirnya pada 12 April 1668 kembali terjadi peperangan.

Sejak saat itu, peperangan terus berlangsung sampai akhirnya pada 14 Juni 1669 Belanda berhasil menerobos benteng Sombaopu Kerajaan Gowa. Hal ini sekaligus membuat Belanda semakin berkuasa, sehingga pembesar Kerajaan Gowa seperti Karaeng Lengkese dan Karaeng Tallo pun menyerah, kecuali Sultan Hasanudin yang tidak akan pernah mau tunduk terhadap Belanda.

Hingga akhirnya, Sultan Hasanudin memilih untuk turun tahta dan perlawanan terhadap Belanda dilanjutkan oleh putranya Sultan Amir Hamzah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *