Bash History

Bagi pengguna shell bash, terdapat fitur history yang sangat membantu dalam memberikan perintah ataupun ya sesuai dengan namanya melacak rekam-jejak perintah.

Coba ketik history, lalu akan muncul rekam-jejak perintah.

$ history

Catatan rekam-jejak perintah akan disertai nomor perintah. Misalkan saya ingin mengeksekusi ulang perintah yang terekam ini, saya tidak perlu mengetikkan ulang perintah namun saya cukup mengetik tanda seru diikuti nomor perintah.

Berikut ilustrasinya:

Jelas kan? Semoga membantu! Apakah ada hal lain yang bisa dilakukan dengan bash history?

Rilis Subtitle Indonesia Bit dari DPL dalam DebConf12

Hari ini saya merilis terjemahan subtitle Bahasa Indonesia, Bit dari DPL, DebConf12.

Berikut beberapa kutipan pembicaraan yang menurut saya menarik.

I think we should really stop using the lack of manpower as an excuse

Kita harus berhenti beralasan kurangnya SDM. Mengapa? Ini jawabannya.

we are a volunteer project: we will always lack manpower to do something

Lalu hal lain lagi yang menarik dari pembicaraan Stefano Zacchiroli adalah soal rasa bangga dari apa yang kita lakukan.

like pride in what you do, being recognized for the work you do

Menarik kan isi pembicaraannya? Untuk lengkapnya, silakan coba saksikan sendiri.

Saya sudah menonton ulang satu kali dengan subtitle Bahasa Indonesia saat revisi akhir. Posisi subtitle masih bisa diperbaiki dengan merapikan baris-baru. Bagi yang belum mengetahui soal DebConf, bisa lihat tulisan lama saya soal DebConf.

Subtitle hanya berhenti di [36:04:00], untuk sesi tanya jawab belum dibuat subtitle Bahasa Inggris-nya, jadi saya pun juga berhenti. Membuat waktu yang presisi untuk subtitle ini bukan perkara mudah.

Saya pernah mencoba membuat subtitle video dengan durasi 5 menit saja, memakan waktu yang lama. Pertama menulis Bahasa Inggris-nya. Lalu mencocokkan dengan waktu. Baru langkah terakhir menerjemahkan.

Selamat menonton video ini dengan subtitle. Semoga dengan kontribusi saya ini, Debian bisa lebih dikenal di Indonesia, dan lebih banyak kontributor Debian dari Indonesia.

Oh ya, silakan clone repositori git saya ini, dan jika ada revisi perbaikan silakan ajukan permintaan pull.

Kekuatan VIM

Saya berencana menulis artikel agak panjang mengenai VIM, salah satu penyunting teks yang tersohor sekali kehebatannya. Tapi karena belum juga mulai menulis, saya coba mau mulai menulis saja dengan kebutuhan yang saya temui hari ini.

Necessity is the mother of invention.

Hari ini saya membutuhkan menyunting teks yang kondisinya kurang lebih seperti ini:

Di atas adalah nama-nama halte Transjakarta koridor 6. Ternyata saya baru ingat usai mengetik, bahwa setelah Departemen Pertanian masih ada halte lain yang belum tertulis. Hal ini bisa saja saya modifikasi dengan masuk ke mode insert lalu ketikkan enter pada baris yang ingin ditambahkan. Coba hitung berapa tombol yang perlu saya tekan.

  1. i; untuk masuk mode insert
  2. enter; membuat baris baru
  3. esc; keluar dari mode insert
  4. k; membawa kursor ke atas
  5. i; ketikkan nama halte sebelum Pejaten

Panjang kan. Lalu ternyata ada tombol pintasnya. Yaitu ‘o’ atau ‘O’. Cukup satu tombol lalu mode akan berubah menjadi mode insert.

  • o; akan membuat baris baru di bawah kursor
  • O; akan membuat baris baru di atas kursor

Oh ya, saya dihadapkan pada kondisi harus menyunting ratusan baris seperti ini. Terbayang kan betapa terbantunya hanya dengan menekan ‘o’ atau ‘O’ saja.

TAR: Tape Archive

Pagi ini saat di dalam perjalanan, saya sempatkan sekilas membaca buku Debian Handbook di tablet. Belakangan saya jadi kecanduan baca buku dengan format epub. Hihihi rasanya keren! Tampilannya sangat enak jika dibandingkan dengan format pdf.

Sekarang jadinya saya cerminkan juga format epub buku ini di cindai.

Saya baru tahu kalau tar, program untuk mengkompresi file, adalah kependekan dari Tape Archive.

Lainnya, pada bagian User and Group Database, saya baru tahu perintah:

  • chage change user password expiry information, untuk menset setting kadaluarsa password

Tulisan ini merupakan rangkaian tulisan bedah buku Debian Handbook. Tulisan sebelumnya bisa dibaca di sini.

Pengantar Keamanan Informasi

Kali ini saya ingin memberikan sedikit pengantar mengenai keamanan informasi. Saya akan coba mengambil analogi ke dunia nyata agar konsepnya bisa lebih mudah dipahami. Yah, tentu tidak akan ada analogi sempurna.

Misalkan setiap hari Anda pergi ke kantor menggunakan sepeda motor. Sesuai dengan peraturan sekarang, Anda diharuskan mengenakan helm full-face. Anda boleh saja naik sepeda motor tanpa mengenakan sepatu, tanpa sarung tangan, atau bahkan hanya mengenakan celana pendek. Anda tetap bisa sampai kantor dengan motor walaupun tidak mengenakan sepatu, tanpa sarung tangan dan hanya mengenakan celana pendek.

Risiko kecelakaan tentu akan selalu ada. Yang namanya hidup tentu akan selalu ada risiko.

Biarpun Anda sudah mengenakan helm full-face, sarung tangan, celana panjang dan sepatu, tetap saja ada risiko jatuh dari motor dan terluka. Namun tentu apabila Anda mengenakan semua itu, risiko luka akan lebih kecil dibanding Anda tidak mengenakannya.

Begitupun dengan dunia keamanan informasi.

Anda bisa saja bertransaksi Internet banking dari hotspot yang disediakan cuma-cuma tanpa password dari suatu cafe, misalnya. Anda tidak akan pernah tahu, apa motif penyedia hotspot kafe ini menyediakan akses Internet ini. Apakah jangan-jangan ia mencatat semua aktivitas pengakses hotspot ini.

Pengembang situs bisa saja tetap menggunakan nama session yang umum. Risikonya, penyerang dapat mengidentifikasi framework apa yang digunakan, sebagai langkah awal pengumpulan informasi. Atau contoh lainnya, pengembang bisa saja memperbolehkan seorang pengguna login dari berbagai tempat dengan tidak membuat token unik kombinasi dari IP address, user agent, dan waktu akses. Pengembang boleh saja menyimpan password dalam format clear text. Aplikasi secara fungsional pun tetap berjalan, namun risiko akses tak sah ke database yang mampu mengungkap password harus disadari.

Penutup tulisan, Anda tetap harus pergi ke kantor. Dengan mengenakan helm full-face, sarung tangan, celana panjang, dan sepatu, Anda merasa lebih aman sehingga lebih percaya diri untuk naik motor dengan kecepatan tinggi. Begitupun dengan dunia bisnis. Ketika pengguna percaya bisnisnya dapat berjalan aman, meningkatkan kecepatan bisnis pun tak perlu ragu.

Take a chance, take a risk, make a change.

Menulis Blog dan Kontribusi ke Komunitas

Apa-apa yang kita dapatkan, seharusnya dapat kita kembalikan kepada komunitas. Masyarakat sekitar.

Dahulu saat kuliah, seorang dosen saya pernah komentar bahwa ia lebih menghargai mahasiswa yang aktif, kerja keras, IP cukup namun aktif di lingkungannya. Menghargai di sini tentu di luar konteks akademik ya. Ekstrimnya, mahasiswa yang memang nilai ujiannya bagus namun tidak aktif di lingkungannya, ya tentu tetap harus diberikan nilai A.

Menulis blog merupakan salah satu cara berkontribusi ke komunitas. Komunitas ini umumnya memiliki sumber daya terbatas. Komunitas takkan mampu memasang iklan di halaman depan KOMPAS untuk mengabari bahwa nanti akan ada acara pesta peluncuran Ubuntu atau Konferensi Blankon 2012, misalnya.

Yang saya lihat cukup konsisten menulis adalah Dedi Heriyadi aka Milisdad. Lihat saja misalnya ia bercerita soal peluncuran pesta Ubuntu di Tegal. Lalu soal AutoCAD di Android.

Tulisan-tulisan seperti ini tetap diperlukan tujuannya agar masyarakat tahu. Ya, memang masih perlu banyak usaha yang dilakukan dan itu tidak mudah. Coba saja untuk konsisten. Misal satu minggu menulis satu artikel. Lihat, berapa lama bisa bertahan.

Banyak cara untuk berkontribusi ke dunia Open Source dan salah satunya adalah dengan menulis blog. Cara lainnya ya tentu dengan ikut melakukan pemrograman. Yuk, mulai melihat source code.