Rilis Debian Handbook Bahasa Indonesia: Bab 1

Debian GNU/Linux

Pada hari ini, 1 Maret 2013, saya putuskan untuk merilis terjemahan bahasa Indonesia dari Debian Handbook. Jika meminjam terminologi dan proses kerja Debian, rilis hari ini adalah rilis testing, Bab 1, Debian Handbook bahasa Indonesia.

Buku terjemahan Debian Handbook berbahasa Indonesia ini tersedia dalam format PDF dan epub.

Debian GNU/Linux (untuk selanjutnya disebut Debian saja karena alasan kepraktisan) telah mengukir sejarah yang cukup lama di Indonesia. Debian dibawa masuk ke Indonesia oleh orang-orang dari generasi 80-an. Beberapa diantara mereka ini ada yang menjadi tokoh yang cukup berpengaruh.

Memang pamor Debian tak sepopuler Ubuntu, distro turunan Debian. Bisa jadi pengguna Debian di Indonesia lebih sedikit dibanding pengguna Ubuntu. Tapi kondisi ini tidak mengubah keputusan saya untuk tetap melanjutkan meneruskan menerjemahkan buku ini karena saya beranggapan bahwa orang-orang tetap perlu tahu bagaimana wajah Debian sesungguhnya. Walau tidak dikenal secara langsung, bisa jadi Debian dikenal di Indonesia melalui distribusi turunannya yaitu: BlankOn dan Kuliax.

Menerjemahkan buku Debian Handbook ini membuka mata saya, bahwa banyak pengalaman dalam dunia F/OSS (Free/Open Source Software) yang bisa dieksplorasi. Tentang nilai, tentang prinsip, tentang kontribusi, tentang kolaborasi, dan juga tentang sumber daya yang selalu terbatas.

Memang kondisi di Indonesia tidak akan pernah sama dengan kondisi di luar sana. Untuk apa kontribusi ke F/OSS? Apa untungnya bagi perusahaan? Bisa jadi kondisi di luar sana memang lebih kondusif untuk perkembangan F/OSS tapi saya pikir ini tidak bisa jadi alasan untuk memulai berkontribusi.

Biar bagaimanapun ternyata, masalah yang sama tetap ada. Sumber daya yang selalu terbatas, begitu ujar Stefano Zacchiroli, sang pemimpin proyek Debian (DPL: Debian Project Leader) saat ini. Bagi kalangan awam nama Stefano Zacchiroli ini terdengar asing, karena kebanyakan orang mengetahui Debian adalah Ian Murdock, sang penemu Debian. Stefano Zacchiroli berpendapat bahwa kondisi Debian akan selalu dengan sumber daya yang terbatas karena Debian tidak bersifat mencari keuntungan. Kondisi yang hampir sama bagi semua organisasi nirlaba lainnya. Yang lebih penting bagi Debian saat ini adalah bagaimana memanfaatkan sumber daya yang terbatas ini.

Saya memang memprioritaskan untuk menerjemahkan bab 1 lebih dulu, dengan alasan isinya yang tidak teknikal. Bukankah yang teknikal lebih penting? Bagi saya tidak, karena sudah lebih banyak informasi berbahasa Indonesia mengenai bagaimana menginstall, mengkonfigurasi, hingga membuat paket Debian.

Bab 1 ini bercerita tentang apa itu Debian, sejarah, para pemimpin proyek, hingga pemberian codename Debian dari nama-nama tokoh dalam film Toys Story. Ternyata saya baru tahu belakangan bahwa nama-nama tokoh Toy Story ini diambil karena DPL saat itu, Bruce Perens, bekerja di Pixar Studios, yang memproduksi film Toy Story.

Akhir kata tentang menerjemahkan dan kontribusi. Menerjemahkan ternyata bukan sesuatu hal yang mudah juga. Kecuali jika Anda memang penerjemah profesional. Kesulitan yang utama adalah menerjemahkan sesuai dengan konteks Indonesia. Menerjemahkan bukan berarti sesederhana mengubah kalimat berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Lalu soal kontribusi. Saya harap, langkah awal penerjemahan bab 1 ini bisa mendorong rekan-rekan yang lain untuk turut berkontribusi juga. Entah dengan melanjutkan menerjemahkan bab selanjutnya, atau sebatas menjadi proofreader dari hasil terjemahan saya ini.

Selamat membaca!

Saya ucapkan terima kasih kepada perusahaan tempat saya bekerja yang dengan segala kondisinya: memungkinkan dan mendukung baik secara langsung atau tak langsung saya untuk bisa menerjemahkan buku ini. Bagi yang ingin turut berkontribusi dalam proyek penerjemahan buku ini bisa kirim surel ke za at students.ee.itb.ac.id za at python.or.id, atau bergabung di komunitas Debian Indonesia dengan melanggan milis, atau tinggalkan saja komentar di blog ini…

Share

19 thoughts on “Rilis Debian Handbook Bahasa Indonesia: Bab 1”

  1. Terima kasih, Pak.

    Wow, sungguh 25 MB itu termasuk ebook terbesar dalam simpanan saya. Saya suka sekali ebook yang berukuran besar. Terima kasih Tim Debian Indonesia, saya senang sekali.

    Saya ingin ikut tapi cuma bisa bantu tata bahasa sedikit, Pak. Saya tidak paham RST. Bagaimana?

    1. Penerjemahan tidak menggunakan format rst kok. Paling pertama, butuh menguasai git dasar dulu. Selanjutnya penerjemahan bisa menggunakan penyunting teks biasa atau dengan penyunting berkas po.

  2. Kang Zaki, kedua pranala unduh di atas sama-sama menghasilkan pesan 404.

    “Not Found

    The requested URL /debian/debian-handbook/id/20130301/debian-handbook.pdf was not found on this server.”

    Seorang teman dari kanal #ubuntu-indonesia ingin mengunduh PDF ini. Terima kasih.

    1. Halo Malsasa.

      Wah, sori baru baca komentarnya. 404 ya? Haduh, saya memang baru install ulang server. Nanti saya coba cari lagi dulu berkasnya. Semoga masih ada arsipnya.

  3. Terimakasih pak sebelumnya.
    Apakah diatas sudah bab 2 pak? ini penting sekali untuk membantu memperkenalkan debian pada teman – teman pak. Link download yang anda posting sudah tidak bisa pak.
    Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *