Video Pendek Workshop Raspberry Pi di ICrOSS

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti workshop Raspberry Pi di ICrOSS.

Pandangan dari belakang

Workshop ini bersifat pengantar. Jadi sebenarnya tak terlalu banyak juga yang dieksplorasi. Dari workshop ini diharapkan para peserta kemudian bisa mengeksplorasi sendiri dengan raspberry pi. Pada bagian awal workshop, diperlihatkan bagaimana mematikan-manyalakan lampu menggunakan raspberry pi yang ditambahkan dengan z-wave.

Yang menjadi pemateri dalam workshop ini adalah: Bob Hardian sebagai kepala tim, lalu Tonny Adhy Sabastian sebagai kepala instruktur, lalu dibantu oleh Adin, JP, Abi, Ramot, dan JP.

Materi yang diperkenalkan dalam workshop ini adalah bagaimana menjadikan raspberry pi sebagai perangkat TV pintar yang mampu memainkan video. Secara garis besar, langkahnya terbagi dua, yaitu:

1. Bagaimana mengkonfigurasi raspberry pi agar bisa mengakses file server.
2. Meng-install media center.

Media center dapat berupa XBMC atau OpenELEC. Beberapa asisten workshop ini kemudian menunjukkan fitur remote control menggunakan perangkat Android dan iOS.

Berikut saya sematkan lima video pendek dari workshop ini (Sayangnya saya tak sempat merekam saat demo mematikan/menyalakan lampu ini).

Saya sendiri sudah ada beberapa ide untuk eksperimen dengan raspberry pi ini. Salah satunya adalah mirip dengan menyalakan/mematikan lampu, yang sudah ditunjukkan dalam workshop ini. Bedanya, saya ingin menyalakan/mematikan magic jar. Hihihi…

Ide-ide lain, saya ingin belajar lebih banyak soal GPIO (General Purpose Input/Output). Masih harus banyak baca-baca dulu sih.

Selain itu, karena saya bekerja dalam bidang keamanan informasi, saya berencana untuk eksplorasi dengan Kali linux pada raspberry pi. Langkah pertama instalasi raspberry pi untuk kali linux sudah saya selesaikan. Sekarang saatnya mencari ide-ide untuk dieksplorasi.

Untuk belajar Python pun raspberry pi sepertinya menarik sekali. Dalam distro Debian untuk raspberry pi, yang dinamakan raspbian, sudah dimuat program menarik untuk dieksplorasi oleh anak-anak. Ada contoh games dengan bahasa pemrograman Python di dalamnya.

Bob Hardian?

Oh ya, saya sempat sedikit kaget saat mengetahui port video raspberry pi adalah HDMI.

Saya takut rencana eksperimen saya terhambat karena kebetulan saya tidak punya layar dengan port HDMI. Ternyata, instalasi kali linux untuk raspberry pi pun bisa sukses tanpa harus tersambung dengan monitor HDMI. Yang dibutuhkan adalah kabel LAN dan dhcp server. Lalu untuk mencari pada port berapa raspberry pi tersambung, saya melakukan ping scan pada satu segmen jaringan.

Terakhir, ini perlu diingat juga. Workshop hanya bersifat membantu atau mengakselerasi. Pada praktiknya kegiatan belajar sesungguhnya ada di meja sendiri.

Blankon Bukan Hanya BlankonLinux

Kemarin, saya turut berpartisipasi dalam sesi komunitas di acara ICrOSS (Indonesia Creative Open Source Software). Bagi saya, sesi ini cukup seru dan menyenangkan karena saya bertemu beberapa teman lama dan banyak orang-orang baru.

ICrOSS

Yang menjadi panelis pada sesi komunitas ini ternyata lebih banyak dari yang tertulis pada halaman ICrOSS. Tapi ada juga yang tidak hadir. Seingat saya yang tak bisa hadir adalah Santoso Serat (BP3TI). Yang menjadi moderator pun bukan Teddy Sukardi, melainkan Didik Partono Rudiarto.

Sebelum saya mulai cerita detail bagaimana sesi komunitas ini, saya ingin kutip perkataan MDAMT, Direktur Eksekutif Blankon,

“Blankon bukan hanya BlankonLinux. BlankonLinux hanyalah salah satu produk dari proyek Blankon dalam mengembangkan ekosistem F/OSS di Indonesia”

Dalam juga kan filosofinya.

Pengembangan F/OSS tidak bisa hanya dengan mengembangkan suatu distro, tapi banyak cara yang perlu ditempuh. Yang semuanya dibutuhkan untuk membentuk ekosistem.

Panelists

Lalu, sekarang saya coba ceritakan detail yang menarik dalam sesi komunitas ini. Ini bukan tulisan reportase, jadi tulisan ini akan sangat subjektif.

Bagi saya, yang membuat sesi ini hidup tak bisa lepas dari peranan moderator, Didik Partono Rudiarto. Didik sangat lihai membawa flow sesi ini. Jika Didik tak memahami topik F/OSS, takkan mungkin ia bisa sebagus ini memoderatori acara.

Lihat saja keragaman panelis yang ada. Selain yang sudah tertulis di laman ICrOSS, belakangan hadir dari FreeBSD Indonesia, CentOS, Hamdhani dari Backtrack Indonesia, Heriyadi Janwar dari Microsoft Indonesia, dan Hiskia dari Blender Indonesia.

Oh ya jika di laman ICrOSS tertulis Gary Dean bertindak sebagai moderator, pada praktiknya, Gary Dean ikut sebagai salah satu panelis, mewakili Forum Ubuntu Indonesia.

Hiskia, dari Blender Indonesia, menyampaikan paparannya dengan sedikit provokatif. Ia cerita kapan ia mendirikan komunitas Blender Indonesia ini, lalu tepat setelah 5 tahun berdiri, ia akan membubarkan komunitas ini. Ia tidak ingin Blender Indonesia menjadi agama baru.

Hiskia juga cenderung tidak suka dengan sikap fanatis, atau yang ia sebut fan boy. Bahkan pada dunia Linux pun juga ada fan boy.

Pendapat Hiskia yang menarik adalah, seringkali kita tidak membawa otak atau ide. Yang kita bawa setiap hari hanyalah hardware dan software yang canggih. Tapi kita lupa satu hal yang paling penting itu, yaitu ide.

Kota Jogja memang mampu menghadirkan atmosfer yang kreatif bagi para penduduknya. Oh ya, Hiskia ini asalnya dari Jogja.

Lalu ada Noor Azzam dari KLAS (Klub Linux Arek Suroboyo). KLAS saya lihat bisa cukup konsisten dalam mengadakan acara kumpul-kumpul. Dengan memanfaatkan kearifan lokal, KLAS menamakan acara kumpulnya sebagai Cangkru’an. Saat server repositori KLAS membutuhkan sumber daya tambahan, Noor Azzam membuka jalur donasi. Sungguh praktik gotong-royong.

Jauh-jauh datang dari Banjar – Jawa Barat, Andi Sugandi dari Open SuSE Indonesia, cerita pengalamannya di dunia pendidikan TIK, khususnya di SMK TKJ Banjar. Andi berangkat Selasa dini hari hanya untuk datang ke acara ini. Sungguh militansi yang luar biasa. Andi merupakan teman lama saya di Bandung. Momen yang paling saya ingat adalah di tahun 2007, saat pesta rilis Ubuntu 7.04 Feisty Fawn di Common Room, Kyai Gede Utama.

Banyak hal menarik lain saat sesi tanya jawab, tapi untuk tulisan kali ini saya berhenti sampai sini dulu.

Eits, masih teringat satu-dua hal lagi.

Mic Stand

Saat Hamdhani cerita komunitas Backtrack Indonesia, Didik dengan pintar bertanya, “Bagaimana caranya agar yang muda-muda, yang aktif di Backtrack ini, tidak sembarangan men-deface web orang lain?”. Didik seolah paham betul bahwa yang suka men-deface ini cenderung anak-anak muda yang butuh pengakuan.

Saya sendiri cerita soal OWASP, dan Didik heran, melihat bidang yang menarik namun belum banyak yang menekuni.

Sebelum sesi berakhir, ada seorang penonton, yang mengaku sebagai pengembang, dan bercerita bagaimana pilihan jalan hidup sebagai pengembang merupakan jalan hidup yang sepi dan tak bergelimang dengan uang.

Beberapa pengurus AOSI berusaha membesarkan hati. Salah satunya Widjaja (?) pendiri Gudang Linux bahwa orang akan melihat portofolio Anda di github dan lantas merekrut Anda.

Namun, MDAMT tidak setuju. Ia mengamini pendapat penonton ini. Menurut MDAMT, ekosistem di Indonesia, belum mendukung untuk itu. MDAMT cerita bagaimana perusahaannya bangkrut di tahun 2004, lalu ia hengkang ke luar negeri selama 7.5 tahun, lalu akhirnya kembali lagi ke Indonesia.

Cerita dari Traceroute Party

Traceroute Party sudah usai. Berikut cerita saya…

Saya sendiri hadir di traceroute party hanya di hari pertama, yaitu di hari Jum’at. Kebetulan kantor ikut buka gerai pameran dalam acara ini, dan saya turut menjaga gerai bergantian bersama dengan rekan.

Saya tak menyempatkan hadir di hari Sabtu dan Minggu-nya. Padahal masih ada pagelaran workshop yang menarik. Seperti misalnya workshop yang diisi oleh Affan Basalamah.

Acara ini dikemas menarik. Mulai dari interior, dekorasi, hingga susunan acara. Coba lihat foto di bawah ini.

Offline tweet, nice idea #tracerouteparty

Biarpun acara ini acara internet, tapi bagi para pengunjung disediakan kanvas untuk melakukan offline twit. Menarik kan? 😉

Saya lihat konsep acara ini bukan seperti acara pameran teknologi informasi biasanya. Konsep acara ini jadi sedikit-banyak menyerempet ke seni juga (atau hobi?). Jadi tak murni bisnis atau cari untung semata.

Di beberapa sudut disediakan panggung musik. Di panggung utama, tentu untuk band/musisi ternama. Tapi bukan berarti tidak ada ruang untuk musisi indie. Musisi indie pun disediakan panggung tersendiri. Baru di luar ada panggung untuk klien korporat besar.

Berikut oleh-oleh salah satu workshop yang sempat saya ikuti. Andika Triwidada berbicara mengenai seni dari DDoS (Distributed Denial of Service).

Catatan Python 101 oleh Jessica McKellar

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan ini.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempatkan untuk menyimak pengenalan Python aka Python 101 yang disampaikan oleh Jessica McKellar dalam acara PyCon 2013. Tautan video ini bisa ditemukan di tulisan sebelumnya.

Berikut catatan saya.

Awalnya saya sudah meluangkan waktu selama 3 jam. Durasi video ini terlihat mencapai 3:54:44. Wow, panjang sekali. Ternyata saya temukan ada bagian yang kosong. Video hanya menampilkan latar PyCon 2013. Yaitu dari 46:43 – 2:48:30 Wah hampir 2 jam ternyata.

Jadi bagi yang ingin menonton juga, tak perlu meluangkan waktu selama 3 jam.

Jessica mampu menyampaikan materi pengenalan Python ini dengan menarik. Ia pun membuka dengan cara yang benar, menurut saya. Yaitu dengan cara memotivasi.

Jessica cerita, bahwa banyak karya di dunia ini yang dibuat menggunakan Python. Ia menyebutkan beberapa situs terkenal: Pinterest, youtube, mozilla, dan banyak lagi. Lalu, banyak hal yang bisa dilakukan dengan Python. Visualisasi data, analisis data, hingga bermain musik; semuanya dilakukan dengan Python.

Motivasi menurut saya sangat penting disampaikan. Tujuannya agar kita memiliki kemampuan belajar mandiri dan kemauan yang kuat. Kan tidak bisa selamanya menggantungkan pada orang lain untuk belajar sesuatu hal yang baru.

Selesai dengan motivasi, Jessica memulai dengan perkenalan tipe data: string, list, integer dan float. Kemudian dilanjutkan dengan splice, memilih data yang ingin ditampilkan.

Konsep ini dijelaskan dengan cara yang sederhana dan menarik. Peserta diajak untuk ikut mencoba. Misal, bagaimana mengambil kata yang diawali dengan huruf vokal saja dari sebuah dict. Bagaimana operasi slice digunakan, bagaimana kondisi if digunakan, dst.

Pokoknya asyik deh. Lebih detailnya lagi silakan tonton sendiri. Bagi yang bosan belajar dengan membaca buku, menonton video ini bisa jadi alternatif cara belajar.

Yang lebih asyik lagi adalah disediakan soal-soal untuk latihan. Belajar tidak bisa dengan hanya menonton, tapi harus dicoba sendiri. Latihan ini disediakan di codecademy.

Saya hampir bisa menyelesaikan semua soal di latihan ini kecuali satu soal terakhir di pelajaran kedua. Untungnya ada komunitas Python Indonesia yang bisa menjadi teman berdiskusi hingga saya pun tercerahkan.

Cat untuk Menggabungkan Beberapa Berkas

Perkakas cat, lebih umum diketahui sebagai perkakas yang berguna untuk menampilkan isi berkas.

$ cat /etc/apt/sources.list

Ini saya yang kuper, atau bagaimana? Ternyata cat bisa juga digunakan untuk menggabungkan beberapa files (merge files).

Pertama buat tiga berkas txt dengan isi pada setiap baris yang berbeda.


$ vim ab-1.txt
1. ab


$ vim ab-2.txt

2. ab


$ vim ab-3.txt

3. ab

Sekarang saatnya menggabungkan (merge) menggunakan cat.


$ cat ab-* > ab.txt

Yuk sekarang coba lihat isi berkas ab.txt


$ cat ab.txt
1. ab
2. ab
3. ab

Ikut Agregasi di Planet

Saya suka membaca blog. Blog orang lain. Bagi saya membaca blog lebih menarik dibandingkan membuka situs berita macam detik.com atau kompas.com Membaca blog orang lain membuat saya mengetahui pengalaman-pengalaman menarik yang orang lain alami.

Hingga kemudian pada suatu hari saya mengenal planet. Planet adalah situs agregasi blog. Penghuni adalah sebutan orang yang menghuni planet.

Planet terasi.net menjadi planet pertama yang saya minati. Kemudian belakangan saya mengetahui ada serambi BlankOn, planet Ubuntu Indonesia hingga komunitas GNU/Linux di Jogja pun punya planet-nya sendiri.

Lantas, saya pun tertarik untuk ikut menjadi penghuni di beberapa planet. Pertanyaannya sekarang, kapankah tulisan saya perlu saya ikutkan dalam feed planet?

Hal ini dapat dengan mudah dilakukan berkat sistem tag dalam penulisan blog. Saya bisa memilih, tulisan mana yang ingin saya ikutkan dalam feed suatu planet dengan memberikan tag tertentu.

Perlukah saya mengikutkan tulisan seperti ini dalam planet Ubuntu Indonesia? Tulisan yang sama sekali tidak menyebut Ubuntu. Perlukah ikut dalam serambi BlankOn? Dan hal yang sama berlaku untuk planet lainnya.

Satu hal yang membuat blog menarik bagi saya adalah perspektif personal-nya. Bagi saya, sebenarnya tidak masalah jika sesekali tulisan personal yang tidak berkaitan dengan tema planet muncul. Karena seperti sudah saya sebutkan tadi, sisi personal lah yang membuat blog menarik. Tapi ya jangan sering-sering juga dimunculkan di planet kali ya. Hihihi.

Karena belakangan, saya lihat, yang lebih sulit adalah menemukan penulis blog yang terus konsisten menulis, dan berkontribusi pada planet.

Belakangan ini, saya baru saja selesai menyiapkan planet bagi komunitas Python Indonesia. Penghuninya masih sedikit. Baru 6 orang. Tampilannya juga masih seadanya. Saya juga belum tahu, apakah bisa konsisten juga menulis soal Python.

Jadi sekalian deh, tulisan ini jadi promosi. Siapa yang tertarik untuk bergabung menjadi penghuni planet Python Indonesia, silakan kontak saya. Dan bagi yang tertarik mengetahui atmosfer Python di Indonesia, bisa mengunjungi planpin aka Planet Python Indonesia.

Selamat ber-planet-ria!

Disebut di Debian News

Belakangan ini saya baru tahu kalau nama saya disebut dalam Debian News. Woow! Senangnya masuk Debian News. Halah 😛

Yang lebih penting tentu adalah kontribusi dan konsistensi.

Berikut tautan Debian News. Saya baru mengetahui beberapa hari lalu padahal ini merupakan berita mingguan Debian, bulan Desember 2012 🙂

Yah tapi tak apalah. Saat itu saya merilis terjemahan video keynote Stefano Zacchiroli dalam DebConf12.