CLI vs GUI

Saat ini saya sedang berusaha menyiapkan transparent proxy. Sehari-harinya, saya menggunakan network-manager dalam melakukan konfigurasi perangkat jaringan. Dengan tampilan GUI dan tinggal klak-klik, aktivitas mengkonfigurasi jaringan terlihat lebih mudah.

Tapi…

Saat saya ingin kustomisasi lebih lanjut, dalam hal ini menyiapkan konfigurasi transparent proxy, saya merasa bantuan GUI ini menjadi mengganggu. Entah apakah network-manager ini konflik dengan konfigurasi manual atau bagaimana. Padahal konsep transparent proxy ini sebenarnya kan sederhana saja.

Apa saya butuh GNU/Linux yang hanya menyediakan CLI saja tanpa GUI? Saat ini saya masih menggunakan Kubuntu 11.10 *uhuk-uhuk* Err… atau harusnya saya pilih saat masuk ke mode CLI saja?

Kesulitan Melihat Branch pada Git

Saat ini saya sedang membiasakan diri bekerja menggunakan git. Baik untuk kerja sendiri (hanya memanfaatkan pelacakan (tracking) ataupun kolaborasi. Percayalah, masa depan ada di Git 😉

Saya pun memanfaatkan fitur branch. Nah, dalam perjalanannya, ternyata saya merasa belum pandai betul memanfaatkan branch ini. Saya belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan baik: Kapan saat yang tepat melakukan branch? Lalu kapan saat kembali melakukan merge dengan master? Kapan saya perlu membuat branch dari branch yang sudah ada? Dan seterusnya.

Saya masih harus belajar lagi konsep branch dengan baik.

Satu hal dasar yang jadi kebutuhan saya saat ini adalah melihat pada branch apa saat ini saya bekerja. Memang dengan perintah $ git branch saya bisa tahu. Tapi mengetikkan perintah ini setiap saat, bisa mengganggu konsentrasi. Checkout ke master. Checkout lagi ke branch. Ini jadi tidak praktis. Saya pun bisa salah menyimpan berkas pada branch yang tidak seharusnya. Akibatnya, pembuatan branch menjadi tidak tepat.

Saat ini saya masih menggunakan bash shell. Apakah saatnya sekarang migrasi ke zsh?